You Saw Me?!

You Saw Me?!
Menginap



Eps. 74


Clara dengan ganas meneguk air di botolnya. Mereka sedang duduk di pinggir taman diatas rumput, setelah lari beberapa putaran. Reyhan tampak biasa tidak terlihat ngos ngosan, sedangkan Clara seperti hampir kehabisan nafas.


"Ck ck ck, jelek sekali stamina mu. Coba lihat, aku tidak haus sama sekali," ejek Lisya dengan senyum begitu lebar.


"Ha? Kau benar-benar menyebalkan," omel Clara melirik Lisya dari sudut matanya.


"Luruskan kakimu," ucap Reyhan dengan senyum lembutnya.


Clara mengikuti saja ucapan laki-laki di sampingnya. Ia melirik Reyhan sekilas, setelah berlari berkeringat seperti itu, bagaimana mungkin Reyhan masih terlihat berkilau membuat Clara mendengus pelan.


"Apa kau terbiasa berlari?" tanya Clara.


"Ya. Hampir setiap hari aku lari di treadmill setidaknya tiga puluh menit sehari. Paling sedikit dua kali dalam seminggu."


"Pantas saja," ujar Clara kemudian kembali meneguk minumannya.


Lisya tersenyum menatap Clara jahil, kemudian bergerak perlahan memeluk Reyhan dari belakang. Clara yang melihatnya hanya mengikuti pergerakan Lisya membuatnya tidak sengaja bertatapan dengan Reyhan.


Hantu cantik ini memeluk Reyhan dari belakang. "Kau tau, ada alasan kenapa perempuan-perempuan itu mengejar-ngejar kekasih ku kan?" ucap Lisya memeluk Reyhan bangga. Alisnya di naik turunkan beberapa kali.


Clara menghela pelan dan memutar bola matanya malas. Ucapan hantu itu memang tidak bisa dibantah.


"Ya ya," balas Clara malas kemudian kembali minum.


"Apa … Lisya sedang memelukku?" tanya Reyhan penasaran, sepertinya pemuda ini merasakan sentuhan dari Lisya. Clara hanya mengangguk kecil.


"Memangnya apa yang kalian bicarakan?"


Uhuk uhuk uhuk


Pertanyaan Reyhan terlalu mendadak. Clara menepuk dada nya pelan untuk meredakan batuknya.


"Ah … itu, hanya pembicaraan perempuan," kata Clara tersenyum lebar usai membersihkan sisa air di bibir dengan punggung tangannya.


Reyhan tertegun. Ia terlalu sering melihat Lisya yang tersenyum dengan tubuh wanita ini. Melihat gadis di depannya tersenyum seperti itu mengingatkan Reyhan pada Lisya saat sedang meminjam tubuh itu.


.


.


.


Hari masih panas meskipun jam sudah menunjukkan setengah empat sore. Mereka yang akan pergi ke pantai selama dua hari dua malam, sedang berkumpul di sekolah karena titik temu terdekat mereka ada di sekolah.


Clara, Dita dan Alice sedang menunggu di trotoar depan sekolah mereka dengan bawaan yang tidak begitu banyak.


"Apa mereka masih lama?" tanya Dita.


"Reyhan bilang sebentar lagi sampai," ucap Clara setelah melihat ponselnya.


Alis Clara mengerut menatap tingkah keduanya yang terlihat aneh. Alice yang mengalihkan perhatiannya dan Dita yang tersenyum menyebalkan menurut Clara


"Kenapa?" tanya Clara curiga.


"Tidak ada," ucap Dita dengan senyuman lebarnya. Sedangkan Alice hanya berdeham sekali tidak menatap Clara.


"Oh ya? Cepat katakan ada apa?!"


Keduanya tertawa begitu puas melihat Clara yang sangat penasaran. Dita bahkan sampai menghapus air mata yang sempat keluar saat dia tertawa.


Yang ditertawakan hanya mendengus sebal, ia melipat tangannya di depan dada.


"Haha maaf, maaf… kau tahu? kami berpikir mungkin setelah ini kau akan benar-benar dekat dengan Reyhan. Coba lihat, Reyhan yang tidak pernah memberikan nomornya ke sembarang orang sekarang sangat cepat membalas chat mu," ungkap Dita panjang lebar.


"Kalian sudah tahu kenapa Reyhan baik pada ku kan?" omel Clara. Alice menutup mulutnya menahan senyum. Sedangkan Dita tersenyum geli menatap Clara.


Tin Tin


Dua mobil besar datang. Satu mobil berhenti agak jauh dari tempat tiga gadis ini berdiri, sedangkan mobil satunya berhenti tepat di depan mereka.


Reyhan membuka pintu penumpang dan turun dari mobil. Laki-laki ini tersenyum begitu menawan dengan pandangan lurus menatap Clara.


"Hai, Clara," sapanya ramah.


DEG


Lagi. Detakan tidak baik itu membuat Clara merasa tidak nyaman. Sempat pipinya merona karena manusia tampan di hadapannya tersenyum begitu menawan.


Dua orang di dalam mobil dan dua gadis di luar hanya tersenyum geli, sebagian lagi berdehem singkat mengembalikan kesadaran Clara.


Gadis ini juga berdeham dan mengalihkan pandangannya. Saat itulah secara tidak sengaja Clara melihat Lisya yang sedang tersenyum di dalam mobil.


Clara tersenyum kecil menatap ke dalam mobil.


Ah … aku lupa. Perlakuan istimewa ini hanya rasa terima kasih telah membantu menghubungan dia dengan kekasihnya.


Clara menunduk dan tersenyum kecil.


Dan aku harus selalu ingat. Perasaan ini terbentuk karena Lisya yang meninggalkannya. Jadi, tetap sadarkan diri mu Clara. Ini bukan perasaanmu yang sebenarnya.


Setelah meletakkan tas penumpang di bagasi, Eros menutup pintu belakang mobil bersamaan dengan yang lainnya mulai naik ke dalam mobil.


Dita dan Alice sengaja duduk di kursi belakang membiarkan Clara dan Reyhan duduk di kursi tengah. Eros menyetir dan Aldio di sebelahnya.


Suasana di dalam mobil benar-benar canggung, Clara ingin mengumpati dua orang temannya yang sengaja membuat suasana tidak menyenangkan. Karena dua orang di depan tampak tersenyum aneh membuat Clara semakin canggung.


"Hei," sapa Lisya mengembalikan kesadaran Clara yang kini menoleh menatap Lisya. Hantu itu duduk di antara Clara dan Reyhan.


"Ada apa? Apa ada yang tidak nyaman? Tenang mereka berdua teman ku, mereka orang baik," ucap Lisya.


Clara tersenyum. Terima kasih untuk Lisya yang sudah menghilangkan kecanggungannya.


Di luar harapan Clara, ternyata dua orang laki-laki itu memang cukup menyenangkan. Selama perjalanan yang hampir dua jam, mereka bisa ngobrol dengan nyaman tanpa rasa canggung. Clara hanya tersenyum dan sesekali menanggapi pertanyaan yang mereka ajukan.


Dita yang memang gampang berteman, hanya dalam beberapa jam sudah bisa akrab dengan Eros.


Sesampainya di pantai, mereka memasuki penginapan dan meletakkan barang masing-masing. Empat kamar untuk sebelas orang. Lima orang perempuan dan enam laki-laki.


Clara merebahkan tubuhnya di kasur single, membiarkan Alice dan Dita di kasur besar di sebelahnya. Ia memejamkan mata membiarkan kedua temannya sibuk bersiap karena sebentar lagi akan ada acara barbeque.


Mungkin bagi mereka ini adalah liburan yang menyenangkan. Tapi bagi Clara, ini adalah hari-hari terakhir Lisya akan berada bersama mereka. Rasanya begitu sedih mengingat dua hari lagi ia akan berpisah dengan Lisya.


Bagaimana dengan Lisya … apa dia baik-baik saja? Reyhan dan Lisya adalah orang yang paling sedih disini.


Clara membalikkan badannnya memeluk guling. Ia tidak mau memikirkan hal menyedihkan itu lagi meskipun itu tidak dapat dielakkan. Lisya memang tidak bisa selamanya terus gentayangan di alam manusia.


Malam ini Lisya tidak akan meminjam. Karena besok adalah hari meminjam yang paling lama, Clara akan membiarkan Lisya melakukan sesukanya agar teman hantunya itu bisa bahagia di hari terakhirnya.


"Clara … izinkan aku mencium Rey untuk yang terakhir kali. Boleh ya?" pintanya dengan senyum sendu saat di mobil tadi.


Mungkin hantu itu tersenyum, tapi matanya tidak bisa berbohong. Jika Clara di posisi Lisya … ah Clara tidak mau memikirkannya. Tanpa sadar Clara mengangguk di dalam mobil tadi dan anehnya Lisya hanya tersenyum kecil.


"Apa kau tidak masalah jika teman-teman Reyhan salah paham pada mu? Bagaimana jika aku merangkul dan memeluk Reyhan?"


Clara tertunduk memikirkan apa yang akan terjadi padanya. Tapi tidak masalah. Semua akan berakhir saat Lisya sudah pergi dan berpamitan dengan benar.


Hanya merangkul dan memeluk, Reyhan dan Lisya sudah sering melakukan itu sebelumnya. Clara mencoba menerima untuk kali ini. Sebagai hadiah perpisahan untuk Lisya.


"Lakukanlah," bisik Clara, hanya Lisya yang bisa mendengar.