
Eps. 89
Senyuman di wajah Reyhan tak luntur sedari tadi, saat mengingat tingkah Clara yang menurutnya cukup lucu. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan senyum yang terus mengembang.
"Ayolah Rey, dia bukan Lisya," monolognya dengan tersenyum tak habis pikir.
Setelah meletakkan tas nya di atas meja belajar, Reyhan duduk di atas kasur lalu merebahkan tubuhnya di sana. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang.
"Benar, dia bukan Lisya. Lalu kenapa aku begitu nyaman dengannya?" ucapnya lirih, bertanya pada diri sendiri.
"Bagaimana jika Clara menyukaimu?"
Reyhan tersenyum kecil, pertanyaan itu terus saja terngiang di pikirannya. "Biasanya kau selalu kesal saat orang lain terobsesi pada ku. Tapi sampai akhir, kau masih menjodohkanku dengan Clara."
"Lisya … aku sudah memenuhi janji ku untuk menjaganya."
Reyhan berpikir dengan cukup serius. "Hmm … lalu, bagaimana jika Clara menyukai ku?" Wajah Clara saat terkesiap dan tersipu, bahkan saat gadis itu mencoba tenang padahal sedang salah tingkah tiba-tiba muncul di benak Reyhan membuat laki-laki ini terkekeh kecil.
"Itu benar-benar lucu."
.
.
.
Clara mengetuk-ngetukkan pulpen di tangan kanannya dengan tangan kiri menopang dagu. Ia menatap buku tulis yang ada di hadapannya karena sudah buntu mengerjakan soal.
Gadis ini tengah menunggu Reyhan yang baru saja pergi untuk mencari buku di rak belakang. Ya. Mereka sedang di perpustakaan, belajar bersama untuk bahan ujian yang akan datang dua minggu lagi.
Sudah beberapa hari ini mereka berdua belajar di perpustakaan jika ada waktu senggang. Bibir Clara tertarik untuk tersenyum ketika mengingat betapa ramahnya laki-laki itu memperlakukannya. Ia merasa spesial karena Reyhan hanya bersikap seperti itu padanya.
Pangeran es itu bahkan mengajak Clara untuk belajar dirumah miliknya jika di sekolah mereka tidak sempat belajar bersama.
"Sepertinya kau bahagia sekali bersama dengannya?" suara datar seorang laki-laki terdengar tidak suka.
Senyuman Clara menghilang begitu mendengar suara itu. Ia sempat terkesiap dengan tubuh yang sedikit tegang, namun ia mempertahankan posisinya agar tidak menarik perhatian.
Clara yakin bahwa pemilik suara ini kini berada di belakangnya namun ia enggan untuk menoleh.
"Hm?" deham laki-laki itu lagi kini sudah duduk di tempat yang awalnya Reyhan tempati.
Seperti sudah cukup terbiasa, meskipun terkejut melihat Arion yang tiba-tiba saja muncul, Clara sudah tidak terlalu tersentak seperti biasanya
Clara melirik ke sekitar dengan hati-hati, kemudian melihat Arion tidak suka dan menatapnya tajam.
"Itu bukan urusanmu!" bisik Clara sedikit menekan kalimatnya. Untung saja perpustakaan sedang tidak begitu ramai.
Dengan alis yang masih mengernyit, Clara mencoba membuka-buka buku di hadapannya, tidak menghiraukan hantu tampan itu. Suasana hatinya berubah seketika berkat Arion. Dan sekarang, setidaknya Clara harus tetap mengabaikan Arion.
"Ya. Kau benar. Ada orang yang kadang lupa kalau sebenarnya dia dekat karena siapa," sarkas Arion datar. Hantu itu bersandar pada kursi dengan kedua tangan terlipat di dada.
Sekali lagi, terima kasih pada Arion. Berkat komentarnya ia kembali sadar bahwa ia tidak akan dekat dengan Reyhan jika saja bukan karena Lisya.
Sekarang Clara semakin merasa bersalah pada Lisya jika ia menyalah artikan perhatian Reyhan. Ia tidak mau.
"Memangnya kenapa? Aku nyaman dengannya bukan berarti aku menyukainya," balas Clara kembali berbisik. Tangannya menggenggam erat pulpen di tangannya menahan geram, sedangkan tatapannya menatap Arion tidak suka.
Kenapa hantu yang satu ini senang sekali memprovokasi?
Arion tersenyum simpul, membalas tatapan Clara dengan mata setengah menyipit. "Benar," ucapnya menyeringai tipis.
Tidak membantah, Clara hanya mampu terdiam. Tidak ada yang salah dengan ucapan Arion. Terima kasih pada Arion yang sudah mengingatkan Clara pada posisinya.
Setidaknya Clara kembali mengingat jika perasaan senang dengan perlakuan Reyhan adalah hal yang sia-sia.
Menyukai Reyhan hanya akan membuat Lisya kecewa. Karena ia sangat mengerti bagaimana perasaan Lisya dan Reyhan satu sama lain.
Kening Clara mengernyit, tangannya meremas baju di dadanya ketika merasakan nyeri yang tidak biasa disana. Rasa yang begitu sakit persis seperti yang Arion katakan.
Sesaat setelahnya, Clara tersentak tiba-tiba dan memundurkan tubuhnya hingga menyentuh punggung kursi ketika melihat Arion sudah di hadapannya, menyeringai kecil dengan wajah tampan itu.
"Hei! Jaga janjimu, jangan muncul saat Reyhan sedang bersama ku," ucap Clara dingin menatap Arion dengan alis bertaut.
.
.
.
Clara berjalan mengekori Reyhan setelah turun dari mobil bersamanya. Ia tidak mau belajar bersama di rumah Reyhan, jadi lelaki bermanik coklat terang ini membawanya ke cafe dekat rumah.
Laki-laki tampan ini bahkan sempat menjemput Clara di rumahnya kemudian membawa gadis itu mampir ke rumah Reyhan, hanya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.
Clara menghela lelah, respon aneh kedua orang tua Reyhan benar-benar membuatnya semakin canggung.
Saat Clara berjalan bersama Reyhan melewati ruang keluarga, ayah dan ibu nya tiba-tiba saja berhenti mengobrol, dan tercengang menatap Clara seperti melihat sesuatu yang menakjubkan.
Reyhan hanya terkekeh kecil dan masuk ke dalam kamarnya sedangkan Clara disambut antusias oleh ibunya. Sedangkan ayah Reyhan menyambutnya dengan ramah.
Clara duduk di ruang keluarga dengan serangan pertanyaan yang mengenainya bertubi-tubi. Ia hanya bisa tersenyum canggung, duduk dengan kaku di sofa ruang itu.
Ruangan yang awalnya sejuk kini terasa begitu panas untuk Clara, bulir kecil air pun terlihat turun di pelipis Clara.
"Tidak biasanya Reyhan membawa teman perempuannya. Kau adalah wanita yang Reyhan bawa selain Lisya."
DEG!
Perasaan nyeri kembali muncul di dada Clara. Nafasnya terasa sedikit tercekat menahan rasa sakit itu. Ia merasa bersalah pada Lisya karena membuat kedua orang tua Reyhan sudah salah paham dengan hubungan keduanya.
Clara menarik nafas dalam perlahan kemudian menghelanya pelan. Rasa nyeri itu masih tersisa enggan menghilang.
"Hei, mau pesan apa?" tanya Reyhan dengan senyum manisnya, menatap Clara begitu lembut.
Laki-laki itu, begitu terang-terangan memperlakukan Clara begitu spesial. Dan memperlakukan wanita lainnya yang terobsesi padanya seolah hampir tidak terlihat. Bahkan ia bisa bersikap layaknya teman pada teman-temannya yang lain.
Kenapa membuat Clara selalu merasa bersalah dan salah paham?
Clara menarik bibirnya untuk tersenyum kecil. Ia juga akan memperlakukan Reyhan dengan baik, dan tetap akan menjaga jarak untuk Lisya.
"Es teh dan sepotong black forest," ucap Clara tersenyum manis.
Reyhan tidak menjawab, laki-laki itu bahkan hanya mematung menatap Clara aneh.
"Rey?"
"Ah, ya. Tunggulah disini, aku akan memesannya," ucapnya kemudian pergi menuju konter cafe.
Apa itu barusan. Hampir saja aku memeluknya. Ah, ku pikir tadi itu Lisya. Ayolah Rey, bersikaplah biasa sebelum Clara merasa tidak nyaman.