
Eps. 70
"Oh, hai Clara. Sedang apa disini?" tanya Reyhan dengan tersenyum kecil.
"Aku melihat kalian berdua disini, jadi aku mampir. Apa aku mengganggu?"
"Tidak."
"Lisya, kau kenapa?"
"Tidak, kau tidak mengganggu. Eh, es krim nya sepertinya enak," ucap Lisya mengalihkan pertanyaan. Clara pasti melihatnya yang sedang sedih. Apa dia juga melihat Lisya menangis?
"Kau mau?" tanya Clara menatap Lisya.
Reyhan yang paham hanya diam dan melirik ke arah pandangan Clara. Ia baru tahu ternyata Lisya selalu di sampingnya.
"Eh?" Lisya tidak mengerti pertanyaan Clara.
"Kau mau mencicipi es krim ku?" tanya Clara lagi. Es krim coklat bertabur kacang mete yang baru saja Clara gigit.
"E-eh? Bo-boleh saja," ucap Lisya asal. Meskipun ia masih belum paham perkataan Clara.
Gadis dengan es krim ini melihat jam tangannya kemudian menatap ke arah Lisya dan Reyhan.
"Baiklah. Habiskan saja jika kau mau, sebentar lagi bel berbunyi."
Keduanya hanya terdiam mendengar perkataan Clara yang tidak bisa dimengerti. Sesaat setelahnya, Clara berjalan menghampiri Reyhan kemudian duduk tepat di sebelahnya, tepat dimana Lisya duduk.
Lisya yang terkejut hanya menutup mata. Ia tersentak saat tiba-tiba saja dirinya sudah masuk di tubuh Clara.
Lisya menatap es krim yang ada di tangannya. Bukankah ini es krim yang Clara makan? Satu detik dua detik tiga detik, Lisya dan Reyhan masih sama-sama terdiam dan berpikir.
Reyhan yang menatap Clara disebelahnya, dan Lisya yang menatap es krim di hadapannya.
"Astaga Clara, kau meminjamkan tubuh mu pada ku?" heran Lisya. Terkejut dengan tindakan Clara.
"Lisya?"
Lisya menoleh cepat, melihat Reyhan yang berada tepat di sebelahnya. Sedari tadi hantu ini memang ingin berbicara langsung pada kekasihnya, karena sudah empat hari sejak Clara sakit, Lisya tidak meminjam lagi.
Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Lisya menautkan jemarinya pada jemari kekasihnya dengan sangat bahagia.
"Sayang, kita dapat es krim. Mau menghabiskannya dengan ku?" tanya Lisya dengan senyum cerianya.
.
.
.
Clara berjalan hendak ke kelasnya setelah membeli es di gerai dekat sekolahnya. Pandangannya teralih pada dua orang murid yang sedang duduk di taman jauh dari yang lain.
"Wah, siapa itu?" Clara memicingkan mata untuk mempertajam penglihatannya.
"Sepertinya itu Reyhan dan Lisya," monolongnya.
Jam istirahat masih cukup lama, ia berinisiatif berjalan mendekati mereka. Namun tidak lama langkah Clara terhenti, ia melihat Lisya sedang memeluk Reyhan erat.
Hm … sepertinya jika aku kesana, aku hanya akan mengganggu.
Mungkin mereka sangat menikmati saat kebersamaan itu. Clara hendak pergi meninggalkan keduanya namun pandangannya kembali tertuju pada Lisya yang sedang menunduk seperti orang yang bersedih.
Awalnya Clara berpikir akan pergi membiarkan mereka menikmati waktunya. Namun setelah melihat Lisya yang sepertinya sedang bersedih dan Reyhan yang bersikap biasa, apa Reyhan mengerti situasi Lisya saat ini?
Aaahh kapan aku bisa berhenti ikut campur dengan urusan mereka.
Clara memutuskan untuk melangkahkan kakinya menghampiri keduanya.
Gadis bersurai hitam ini menghela pelan. Meminjamkan tubuhnya pada Lisya sebentar saja sudah membuatnya mengantuk, sepertinya tubuh ini memang butuh olahraga. Seperti biasa Clara melipat kedua tangannya diatas bangku dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Sebelum membantu Lisya, perasaannya sedikit penuh dengan pikiran kacau memikirkan Arion. Perasaannya seperti merindukan hantu tampan itu tapi pikirannya tidak ingin menemuinya lagi.
Anehnya, setelah Lisya meminjam, perasaan itu hilang dan digantikan oleh rasa senang berbunga-bunga meskipun ada rasa sedih yang masih Clara rasakan.
Mungkin benar kata Lisya, kami dapat merasakan perasaan satu sama lain dalam tubuh ku.
Biarlah. Setidaknya hati ku baik-baik saja sekarang.
Sebenarnya Clara sempat takut, karena setelah Lisya keluar dari tubuhnya, jantung Clara sempat berdetak untuk Reyhan.
Ini hanya sisa dari perasaan Lisya. Sebentar lagi juga akan hilang, seperti perasaan ku pada Arion yang hilang timbul dengan cepat.
.
.
.
Clara membereskan mejanya dengan cepat dan bergegas keluar setelah berpamitan pada Alice dan Dita.
"Hei, aku duluan."
"Eh, cepat sekali. Mau kemana?" tanya Dita yang masih merapikan bukunya.
"Pulang lah," ucap Clara yang sudah berjalan menuju pintu.
"Mungkin dia ada keperluan," ujar Alice yang dengan santainya hanya melihat kepergian Clara.
Lorong kelas masih belum begitu ramai karena bel baru saja berbunyi. Namun hanya beberapa menit, banyak murid yang sudah keluar memenuhi jalan.
Clara berjalan terburu-buru menuju tempat parkir. Dan belum sampai disana, suara seseorang membuatnya berhenti.
"Clara!"
Gadis ini menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Lisya yang sepertinya sedang mengejarnya.
"Mau kemana terburu-buru?" tanya Lisya di tengah lautan murid yang sedang berjalan di lorong kelas.
"Pulang," ucapnya dengan mulut yang ia tutupi dengan tangannya.
"Tunggulah sebentar, Rey mau kesini," pinta Lisya.
Clara menggaruk rambutnya frustasi dengan perasaaan jengah. Gadis ini merogoh saku rok nya dan mengambil ponsel disana.
"Bisakah lain kali saja? Atau hubungi aku saja nanti. Aku benar-benar ngantuk. Sebelum aku tertidur di jalan, aku harus segera pulang dan sampai di kamar ku!" ucap Clara sengaja di lebih-lebihkan dengan ponsel yang sudah menempel di telinga kanannya.
"Sebentar saja–"
"Clara."
DEG
Eeh??? Deg? Apa-apaan itu!
Clara tahu suara itu. Ia berbalik sembilan puluh derajat menemukan Reyhan yang sedang berjalan ke arahnya.
"Itu dia sudah sampai," ucap Lisya penuh semangat.
Ponsel di telinganya sudah masuk di saku rok nya. "Ada apa Rey?" tanya Clara setelah menguap sebelumnya.
"Oh … kau mengantuk?" tanya Reyhan yang hanya mendapat anggukan singkat dari Clara.
"Apa kau mau kuantar pulang? Aku bawa mobil," ajak Reyhan.
"Aku bawa motor."
"Kau terlihat lelah. Bagaimana jika ku antar, besok aku akan menjemputmu sebelum berangkat sekolah."
"Benar, begitu saja!" sambung Lisya.
"Tidak. Ada apa menemuiku?" tanya Clara dan kini menguap kedua kalinya. Clara yang selalu menutupi mulutnya saat menguap, kini menatap Reyhan dengan mata sayunya.
"Besok ku jemput. Pulang sekolah ikut aku ke supermarket," bujuk Reyhan.
Clara menatap hantu dan manusia di depannya tampak penuh minat menunggu jawaban darinya. Ia sudah sangat mengantuk. Jika Clara menolak jemputan Reyhan, Clara harus pulang dulu dan Reyhan harus menunggu agar bisa pergi bersama.
Tapi jika menerimanya …
"Jangan menjemput ku. Besok sore saja kita ketemuan di supermarket tujuanmu, aku ingin pulang dulu setelah pulang sekolah," kata Clara mantap.
"Apa kau tidak suka ku jemput?"
"Rumah kita berlawanan, aku tidak mau merepotkanmu."
"Aku yang mengajakmu, jadi aku tidak repot."
Keras kepala sekali!
"Baiklah. Begini saja … besok sore aku tunggu dirumah ku. Jadi istirahatlah dulu sepulang sekolah, oke?"
"Baiklah."
Apapun yang membuatnya bisa lebih cepat pulang akan Clara katakan. Sebenarnya, Clara sedang tidak ingin pergi kemana mana, tapi jika terus berdebat disini, Clara tidak akan kunjung pulang.
Besok, terserah apa kata besok.