You Saw Me?!

You Saw Me?!
Selamat tinggal



Eps. 79


Pantai sudah gelap dengan penerangan seadanya, cahaya dari lampu depan penginapan. Namun hari ini terlihat sedikit terang dengan pencahayaan bulan yang sedang full terlihat.


Lisya dan Reyhan bergandengan tangan, berjalan kecil di pinggir pantai tidak jauh dari penginapan. Sebagian muda mudi yang sedang pacaran juga banyak yang duduk atau berjalan di pinggir pantai.


Sesekali Lisya menunduk, mencari batu dan kulit kerang yang terlihat bagus. Keduanya tampak menikmati dan bahagia, dengan bibir tersenyum lebar melupakan saat ini adalah saat terakhir Lisya meminjam.


Beberapa saat setelahnya, mereka berdua duduk di tepi pantai dengan Lisya yang merebahkan kepalanya di bahu kekasihnya. Ia bahkan memainkan jemari laki-laki itu di genggamannya.


Mereka berdua masih fokus menatap kedepan, namun dengan bahu yang bersinggungan.


"Aku penasaran, apa ada murid lain yang bisa melihatmu selain Clara?" tanya Reyhan menoleh menatap Lisya.


Hantu yang sedang meminjam tubuh Clara ini menoleh dan terkekeh geli. Ia lupa apa sudah memberitahunya atau belum.


"Ada beberapa."


Lisya menceritakan saat ia dalam masa pencarian. Suatu ketika saat Lisya sedang mengikuti Reyhan, tiba-tiba saja ada gadis senior yang ketakutan melihatnya.


Dengan semangatnya, Lisya menyeringai menatap gadis itu begitu intens seolah menemukan seseorang untuk membantunya dan memastikan apakah gadis culun itu bisa melihatnya atau tidak.


Hanya beberapa detik saja, Lisya belum menyapa namun gadis itu sudah berlari terbirit-birit.


Kesempatan berikutnya, seorang gadis penyendiri dengan penampilan murung sering sekali melirik Lisya saat berpapasan. Entah karena wanita itu penasaran atau apa.


Melihat reaksi gadis ini yang hanya melirik dan diam, mungkin ini adalah kesempatan. Tapi semua sama saja. Gadis berambut panjang pendiam ini juga lari ketakutan saat Lisya mendekatinya dengan semangat berkobar.


Dan kesempatan berikutnya adalah seorang anak laki-laki kecil yang manis. Dia melihat Lisya sedikit acuh, seolah hantu cantik itu tidak ada.


Lisya berpikir, jika laki-laki manis itu mau membantu Lisya dan tiba-tiba mendekati Reyhan dan ingin menyampaikan sesuatu padanya … bulu kuduk Lisya meremang. Ia mengurungkan niatnya, tidak mau memberikan rumor aneh pada Reyhan.


"Bisa-bisa orang akan berpikir aneh-aneh tentang Reyhan," monolog Lisya menghela pelan.


Siklus terus berlanjut saat Lisya menemui beberapa lagi. Hingga akhirnya Lisya menyerah. Tidak bisa dipungkiri, begitu melihat manusia yang bisa melihatnya, hantu ini memandang manusia itu dengan lapar, ingin segera memasuki tubuh itu untuk menemui kekasihnya.


"Mungkin aku terlalu semangat mendekati mereka. Makanya mereka takut. Jadi aku berusaha mendekati dengan cara yang lebih halus lagi."


Reyhan tersenyum. "Lalu, kapan kau bertemu Clara?"


"Kau ingat saat Clara menabrak mu? Dan itu pertama kali kami bertemu. Tidak seperti yang lainnya, dia tersenyum begitu manis dan ramah," ucap Lisya.


Reyhan mengangguk kecil. "Aku ingat. Ternyata yang waktu itu. Aku pikir dia gila karena bicara seorang diri."


Lisya tertawa cukup keras. "Kau tahu, itu karena dia tidak sadar kalau aku adalah hantu. Dan informasi yang lain, dia adalah wanita paling cantik yang kutemui dan bisa melihat ku," ucap Lisya tersenyum lebar.


"Hmm … lalu?"


"Eemm… mungkin saja kau menyukainya, kupikir," ungkap Lisya salah tingkah.


Laki-laki ini merangkul tubuh itu dan merebahkan kepalanya pada kepala gadisnya.


"Cukup menjodohkan ku dengannya."


"Kau kejam sekali."


"Tidak. Kau akan berterima kasih pada ku. Karena saat aku mendapat penggantimu di surga sana, aku akan melupakanmu," kata Lisya tertawa hambar.


Reyhan membalik tubuh Lisya dan memeluk gadis itu erat. Pertahan kuat yang Lisya jaga selama ini kini runtuh begitu saja.


Wajahnya memanas, air matanya seolah mendesak untuk keluar. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada Reyhan tidak ingin laki-laki itu melihatnya.


"Kau harus bahagia setelah ini, kau juga harus berjanji pada ku," ucap Reyhan tersenyum dengan suara bergetar.


Reyhan sudah berjanji untuk tidak menangis, namun dengan hati yang sangat sakit dan tersayat mengetahui sebentar lagi, hanya beberapa saat lagi gadis di dalam tubuh ini akan pergi, Reyhan menggigit bibirnya agar air matanya tidak jatuh.


Reyhan menunduk merasakan pundak Lisya yang bergetar. Membiarkan saja gadis ini menangis dalam pelukannya.


"Sayang … kau tahu, kau tidak harus pergi jika kau mau," lirih Reyhan beberapa saat setelahnya.


Tidak ada respon dari Lisya. Reyhan membiarkan saja hingga pundak itu berhenti bergetar dan suara isakan semakin tidak terdengar. Namun ia masih memeluk erat, mengelus lembut dan teratur punggung kecil itu.


Lisya mengurai pelukan Reyhan perlahan. Ia menggerakkan tangannya untuk menghapus air matanya. Begitu juga dengan lelaki di hadapannya yang menghapus air mata Lisya dengan ibu jarinya.


"Kau akan semakin terluka … hiks … begitu juga denganku. Kita. Tidak ada hal baik dengan aku tinggal lebih lama. Kau masih muda untuk masa depan mu."


Lisya meraih wajah Reyhan dengan kedua tangannya yang kini sudah meneteskan air mata perlahan. "Aku sangat menyayangimu, karena itu aku harus pergi. Agar kau bisa terus menjalani hidup dengan baik. Jalani dengan bahagia hanya untuk ku. Aku sangat mencintaimu, kau tahu kan?"


"Aku tahu," jawab Reyhan. Laki-laki ini menyentuh tangan Lisya yang ada di wajahnya. Menunduk kecil, ia menutup matanya menikmati hangat tangan itu.


Hari sudah cukup larut, hanya ada sedikit pasangan yang masih bertahan disana. Hanya duduk atau sekedar ngobrol.


Beberapa saat setelahnya, Reyhan menarik tubuh Lisya untuk dipeluk. Reyhan dan Lisya menangis bersamaan. Mereka menangis dan memeluk sepuas mereka karena ini adalah detik-detik akhir pertemuan mereka.


Setelah cukup puas menangis, Reyhan menangkup wajah Lisya dan menciumnya untuk yang terakhir kali. Melum4tnya lembut cukup lama karena itu adalah yang terakhir kali.


Ciuman dengan airmata yang mengalir tanpa henti. Disaat terakhir yang tidak akan bertemu lagi. Tidak bisa berkomunikasi lagi. Tidak akan ada pelepas rindu lagi. Jika boleh, Reyhan akan mengurung gadis ini untuk dirinya. Namun hal itu hanya akan menyakiti keduanya.


Cukup lama bercium4an, perlahan mereka melepaskan pangut4an mereka. Dan menyentuhkan kedua kening mereka dengan tangan saling menggenggam.


"Aku mencintaimu," lirih Reyhan.


"Aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu," jawab Lisya.


"Aku akan mencoba bahagia untukmu tapi kau juga harus bahagia untukku."


"Iya … kau harus," jawab Lisya dengan isakan tersisa.


Sekali lagi, Reyhan menangkup wajah Lisya dan mengecup kening gadis itu lama.


"Aku akan selalu mengenangmu. Dan kau, jangan lupakan aku meskipun malaikat untuk mu sangat tampan," omel Reyhan merajuk.


Lisya tertawa kecil. "Aku tidak akan melupakanmu, Sayang," ucapnya masih dengan air mata yang sesekali keluar. Dan sekali lagi memeluk kekasihnya erat.