You Saw Me?!

You Saw Me?!
Alasan takut hantu



Eps. 24


“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Clara yang sedang duduk di bangku taman bersama Lisya.


Lisya meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Sedikit menunduk, pandangannya terlihat menerawang.


“Kau tahu kan aku begitu terpukul saat melihat Rey yang berubah menjadi seperti ini?” tanya Lisya.


Clara menoleh melihat Lisya yang masih setia menunduk. Namun detik berikutnya, ia kembali mengalihkan pandanganya, menikmati pemandangan hijau yang ada di depannya sebelum akhirnya Lisya kembali bersuara.


“Aku sudah kehabisan akal. Karena tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu Rey, akhirnya... aku… memberikan... sebuah tanda…" ucap Lisya takut-takut.


"Hah?" Clara menoleh, melotot pada Lisya.


"Aku ingin bisa berkomunikasi dengannya, Clara!” cicit Lisya membela diri.


Semua terjawab, kenapa Reyhan bergeming saat Clara menyebutkan kata hantu. Ia hanya mampu menghela pelan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, melihat Lisya yang tertunduk dan menerawang.


“Aku tidak tahan melihatnya terus murung dan bersedih." Lisya mendongak, "saat itu…,” ucap Lisya membawa mereka pada ingatan Lisya enam bulan yang lalu.


Reyhan sedang duduk di atas ranjang, berdiam diri di dalam kamar. Di tangannya terdapat sebuah album yang kemudian ia letakkan di atas ranjang. Reyhan membuka album itu, memandangi setiap foto yang ada di sana. Sebuah album coklat tua persegi panjang yang berisikan foto-foto Reyhan dengan Lisya.


Beberapa kali membuka album, Reyhan sesekali mengelus foto dengan gambar Lisya di dalamnya dengan senyum sendu.


Melihat itu membuat hati Lisya teriris. Belum lagi selama ni Reyhan hanya mengurung diri di kamar, enggan melakukan apapun untuk kelangsungan hidupnya.


Lisya menatap Reyhan sendu. Kemudian dengan sedikit kekuatan nya, ia membalik album menuju halaman dengan foto Lisya dan Reyhan yang sedang tertawa lepas.


Reyhan tersentak sesaat, tubuhnya mematung di tempat begitu melihat album yang terbuka dengan sendirinya.


Lisya bergerak dan duduk di ranjang, bersebelahan dengan Reyhan.


“Rey… seharusnya kau tersenyum seperti foto ini saat mengenang ku,” kata Lisya tersenyum lembut menatap Reyhan.


Reyhan terlihat kaku, ia menegakkan tubuhnya tiba-tiba dan segera menutup album. Tanpa membereskan album itu, Reyhan berdiri dan bergegas keluar begitu saja.


“A-aku haus,” gumam Reyhan pelan sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.


Lisya mencoba meraih Reyhan namun ia urungkan. “Apakah Rey sadar itu adalah aku?” lirih Lisya.


Menunduk dan tersenyum miris, Lisya merasa sedih dengan sikap Reyhan. Apakah Reyhan harus takut jika dia tahu, masih ada hantu kekasihnya yang berada di sisinya?


Di kesempatan lain. Di suatu pagi di meja makan, Reyhan tengah meniup secangkir teh yang ada di tangannya kemudian menyeruputnya pelan. Reyhan mengernyitkan mata dan keningnya begitu merasakan pahitnya teh yang ada di tangannya.


Setelah meletakkan teh nya di atas meja. Tangannya meraih botol bertuliskan ‘gula’ yang ada di depannya, namun gula itu sudah kosong. Reyhan berdiri dan berjalan menuju dapur, membuka-buka lemari mencoba mencari gula.


Tangan Reyhan meraih wadah yang sepertinya adalah gula, namun itu hanyalah tempat kosong saat ia membukanya.


Reyhan menghela pelan. “Sepertinya Mama lupa membeli gula. Apa aku harus keluar ke minimarket untuk membeli gula?” gumam Reyhan.


Tak lama, ia kembali berjalan ke meja tempat dimana teh nya ia letakkan. Pemandangan di depannya membuat mata Reyhan membulat saat ia menemukan tiga potong gula balok di atas piring kecil, sudah berada di sisi cangkir teh milik nya.


Dengan cepat ia menyapukan pandangannya menelusuri seluruh ruangan. “M-ma???” panggil Reyhan ragu.


Tidak ada sahutan dari siapapun, suasana rumah begitu hening. Reyhan adalah anak tunggal, saat ini kedua orang tuanya sedang pergi karena urusan pekerjaan.


“Pa…?” panggil Reyhan lagi belum menyerah.


Karena tidak ada tanggapan sama sekali, tubuh Reyhan mulai menegang. Bulu kuduknya merinding dengan wajah yang kembali memucat. Ia melirik, menoleh perlahan menatap gula di atas meja.


“Se-sepertinya aku harus ke minimarket,” gumamnya kemudian bergegas pergi.


Lisya menghela pelan melihat Reyhan yang seolah lari dari keberadaan Lisya. Apakah dia takut pada Lisya?


Clara mendesah berat, memijat pangkal hidungnya pelan. Hantu cantik itu menoleh mengakhiri kisah masa lalunya.


“Pantas saja dia begitu takut saat aku menyebutkan hantu,” kata Clara maklum.


“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Clara! Bukankah seharusnya dia bahagia kalau tahu aku masih disisinya?” sanggah Lisya.


Clara kembali menyesap minumannya, tidak nikmat sama sekali. Terima kasih untuk Lisya. Kini tugasnya akan semakin berat, ia harus berpikir lebih keras untuk menyampaikan pesan yang sepertinya Reyhan tidak ingin mendengarnya.


Clara menatap Lisya dengan tatapan mencibir, bagaimana bisa hantu yang merupakan mantan siswi pintar seperti Lisya tidak mengerti situasi yang ia alami.


“Jangan memandangku seperti itu Clara!” omel Lisya. “Aku tahu aku salah, aku menyadarinya setelah beberapa kali kejadian itu terulang,” kata Lisya menatap ke arah Clara yang tampak merutuki tindakan Lisya.


“Lagiii???” tanya Clara spontan.


“Iyaa aku tahu aku salah! Aku hanya ingin berkomunikasi dengan Reyhan, itu saja” heboh Lisya mencoba membenarkan tindakannya. Clara menghela berat, menepuk keningnya pelan.


“Saat itu di perpustakaan…”


Clara memilih diam, menatap Lisya, memperhatikannya yang kembali menceritakan tentang kejadian beberapa bulan sebelumnya.


Reyhan sedang berada di perpustakaan, untuk mencari buku yang akan dibuat resensi.


Hampir satu jam ia berkeliling mencari buku, tapi tidak ada yang sesuai. Reyhan menghela pelan. Tidak putus asa, Reyhan kembali mencari berharap sebentar lagi ia akan menemukannya


Saat tengah mencari, padangan Reyhan teralihkan pada sebuah buku kecil berwarna kuning yang terjatuh dari rak yang berjarak satu meter dari tempat ia berdiri.


Reyhan melirik buku itu sekilas, kemudian mengedarkan pandangannya melihat apakah ada yang menjatuhkannya. Namun, tidak ada satu orangpun yang berdiri di sekitarnya.


Kembali menyadari sesuatu tubuh Reyhan mulai menegang, dan membeku seraya menatap buku kecil itu. Ia berpikir untuk mengambil buku itu atau mengabaikannya? Tak lama, ketakutan Reyhan menghilang saat mendengar suara dua orang laki-laki dari arah belakang rak. Mungkin saja buku itu terjatuh karena mereka menyenggol rak, pikir Reyhan.


Reyhan memberanikan diri memungut buku itu kemudian membaca judulnya. Mata Reyhan terbelalak saat melihat kriteria buku itu sesuai dengan buku yang ia cari. Seketika bulu kuduk Reyhan meremang. Ia meletakkan buku itu di sembarang rak, kemudian berlari ke luar perpustakaan. Tidak lagi memperdulikan tugasnya.


Lisya hanya mendesah berat melihat Reyhan yang begitu ketakutan.


“Dasar bodoh!” ejek Clara membangunkan Lisya dari dunia masa lalunya.


"Apa kau bilang?" tanya Lisya tak terima.


"Bodoh!" desis Clara.


"Hei! Aku anak IPA unggulan kalau kau lupa!" sungut Lisya.


“Dihantui seperti itu siapa yang tidak takut? Kau ini pintar atau bodoh sih?” cibir Clara pedas.


Lisya menunduk merasa bersalah, seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya. Clara benar-benar merutuki tindakan Lisya.


“Kau tahu Reyhan begitu ketakutkan tapi kau masih saja menghantuinya. Kau benar-benar tidak berperasaan,” omel Clara lagi.


Lisya tertohok seolah merasakan sebuah panah yang menusuk dirinya dari belakang. Dari sudut matanya, Clara melirik Lisya yang sedang mengerucutkan bibirnya menatap Clara dengan merajuk. Namun Lisya menghela pelan setelahnya.


“Aku baru sadar Rey benar-benar takut hantu setelah beberapa kali aku mencoba berkomunikasi,” jujur Lisya, mengakui kesalahannya.


“Apalagi pacarnya baru saja meninggal, bagaimana dia bisa hidup tenang jika kau terus menerus menghantuinya seperti itu,” tambah Clara tidak berperasaan.


“Clara… rasanya aku ingin mencekik mu sekarang!” geram Lisya.