
Eps. 40
Pagi ini Clara berjalan seorang diri melewati koridor menuju kelasnya. Seperti hari-hari sebelumnya, ia masih bisa melihat berbagai hantu yang berkeliaran di sekolah.
Namun ada sesuatu yang aneh belakangan ini. Karena penasaran dengan sesuatu, Clara menghentikan langkahnya lalu melirik sekeliling mencoba mencarinya.
Ada sesuatu yang berbeda. Tapi apa?
Beberapa saat setelahnya, sebuah suara yang memanggilnya membuat hati Clara berdetak dengan aneh.
"Hai, Sayang."
DEG
Suara yang sudah lama tidak Clara dengar. Ia merinding hingga di tulang belakangnya. Namun bukan karena takut.
Clara terpaku melihat Arion yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya dengan senyum yang menawan.
Pintar sekali dia memakai wajah tampan itu.
Tidak seperti hantu lainnya, Clara tidak begitu risih melihat Arion muncul di hadapannya. Ia juga tidak membencinya, atau lebih tepatnya Clara mencari Arion belakangan ini.
Clara hanya bisa menatap Arion dengan rumit dengan alis yang bertaut. Ada apa dengannya akhir-akhir ini? Rasanya perasaan Clara benar-benar rumit.
Arion terkekeh geli. "Oh ayolah Sayang, ada apa dengan mu?"
Apalagi dengan panggilan itu. Seenaknya saja memanggil Clara dengan sebutan 'Sayang' yang begitu akrab.
Hantu sialan!
Enggan merespon, Clara juga enggan menatap Arion, ia memilih melanjutkan saja langkahnya yang sempat terhenti daripada pusing memikirkan perasaannya yang terasa sesak dan tak nyaman.
Arion bergerak dengan kaki yang melayang sepuluh sentimeter di atas lantai, berjalan menyamai langkah Clara.
"Apa kau merasakan ancaman saat bersama ku? atau justru... kau merasa nyaman saat di dekat ku?" kata Arion tersenyum lembut menatap Clara yang bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arahnya.
Tubuh Clara sempat tersentak sesaat. Namun ia harus menahan ekspresi untuk perasaan yang sedang bergemuruh di hatinya. Ia ingin menatap hantu rupawan itu namun ia mati-matian menahan agar tidak menoleh.
"Aku tahu kau mencari ku, makanya aku menemui mu hari ini," kata Arion berhasil membuat Clara berhenti.
Hanya sedetik, secepat kilat Clara melangkahkah kakinya setengah berlari untuk memasuki kelasnya.
"Panggil aku jika kau merindukan ku, Sayang!"
Bisakah manusia saja yang bersikap manis pada ku? Jangan dia! Tetap kalem Clara, selalu ingat dia adalah hantu!
Clara memasuki kelasnya lalu duduk di kursi setelah meletakkan tas ransel miliknya.
Ada apa dengannya? Kenapa radar hantu Clara tidak berlaku untuk Arion? Dia hampir selalu lupa kalau Arion adalah hantu! Saat Clara berhadapan dengan Arion, aura yang Arion berikan sama seperti aura manusia biasa, bukan hantu pada umumnya.
Berbeda dengan hantu di depan Clara saat ini. Seorang hantu laki-laki di depan papan tulis, dengan pakaian kaos dan celana biasa, tampak seperti manusia namun dengan wajah yang sangat pucat, tengah menatap lurus pada Clara. Menatap sangat lekat membuat Clara tidak nyaman.
Selama jam pelajaran, hantu ini terus menatap Clara seolah tidak berkedip. Clara mencoba fokus tapi ternyata tidak bisa. Beberapa kali Clara mencoba fokus namun ia gagal. Tatapan dingin dan tajam hantu itu lebih menusuk dan meminta perhatian Clara.
"Ck!" Clara berdecak jengah namun dengan suara pelan. Kini hantu lain begitu fokus memperhatikan Clara.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dita tampak khawatir.
Di group call beberapa waktu lalu, Clara sudah menceritakan yang sebenarnya pada Alice dan Dita tentang banyaknya hantu yang dapat Clara lihat. Ia juga sudah menceritakan ada sebagian hantu yang mencoba mengganggu nya seperti saat Clara masih kecil.
Meski mamanya tidak tahu, setidaknya Clara memiliki dua orang teman yang tahu kondisi nya saat ini.
"Aku tidak apa-apa, Dita."
Clara melanjutkan tulisannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru pengajar. Namun entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa tidak nyaman, nafasnya kembali terasa berat dengan detak jantung yang mulai meningkat.
Perasaan Clara sangat gelisah mirip seperti perasaan saat hantu jahat sedang mengincarnya.
Setelah meletakkan pulpennya di meja, Clara memijit pelipisnya perlahan, menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan kegundahannya, namun semua sia-sia.
Perlahan ia melirik hantu di depan kelas, mungkin hantu itu penyebabnya, tapi hantu itu masih berdiri disana, masih setia menatap lurus pada Clara.
Namun detik berikutnya, perasaan Clara tiba-tiba saja menjadi tenang. Clara mendongak sekali lagi menatap hantu papan tulis itu, namun ia masih bisa melihat hantu itu di sana.
"Sudah tenang?"
Clara terkesiap, dan seketika menoleh pada sumber suara. Arion. Sudah berdiri di sampingnya tersenyum lembut menatap Clara.
"Aku merasakan detak jantung mu begitu cepat. Apa yang membuatmu gelisah? Aku mencoba mendekatimu tapi tiba-tiba saja detak jantung mu kembali normal. Apa kau tenang saat aku berada di dekat mu?" tanya Arion tersenyum sangat tampan.
Entah karena apa dada Clara terasa penuh, wajahnya kini juga memanas. Mungkin wajahnya sudah memerah sekarang. Clara menatap lurus pada Arion dengan tatapan tajam, lalu membuang mukanya cepat.
Arion menopang dagunya di atas meja, menatap Clara dengan wajah cerianya. "Tidak masalah jika kau mengakuinya atau tidak, tapi aku suka saat kau tenang," ujar Arion.
Oh Tuhan, jangan tatap aku dengan wajah itu!
"Kau manis sekali saat tersipu seperti itu," goda Arion tersenyum lebar.
Dengan sekuat tenaga Clara menghiraukan hantu ini. Ia menghela berat lalu kembali fokus pada tugasnya. Clara tidak ingin hantu yang satu ini segera pergi, namun ia juga tidak mau berlama-lama bersamanya.
Entahlah, ia tidak paham kenapa perasaannya jadi seperti ini.
Rutinitas seperti biasanya. Clara dan yang lainnya menyerbu kantin saat bel istirahat berbunyi. Pemandangannya juga masih sama, banyak hantu yang hanya sekedar lewat, sekedar melirik Clara atau menatapnya tajam. Arion pun sudah tidak bersamanya lagi.
Setidaknya tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba menakuti ku lagi.
Seketika Clara terdiam dan menghentikan langkahnya. Ia menyapukan pandangannya di seluruh koridor, berbalik sekilas melihat hantu di belakangnya.
Benar, semua hantu yang terlihat sudah berbeda. Tidak ada lagi hantu menyeramkan yang mengganggu ku, tidak ada lagi hantu mengerikan yang sering mengagetkan ku, semua hantu tampak seperti manusia. Ada apa sebenarnya?
"Clara?"
Clara menoleh ke arah temannya yang sudah menunggunya di depan. Ia hanya tersenyum dan menyusul kedua sahabatnya itu.
"Ada apa?"
"Hmm… tidak ada."
Suasana kantin masih ramai seperti biasanya. Bunyi dentingan sendok dan piring, juga dengan ramainya lautan manusia yang sedang berbincang-bincang masih memenuhi ruangan kantin.
Tapi saat ini, rasa bahagianya tadi hilang begitu saja. Clara memakan baksonya dengan malas, ia sudah kehilangan nafsu makannya karena seseorang di sampingnya tak kunjung diam.
"Aku mati gara-gara kecelakaan lalu lintas, maukah kau mengantarku pada keluarga ku untuk menyampaikan pesan pada mereka?" tanya hantu laki-laki ini yang berdiri di sebelah Clara.
Perlahan Clara memijit pelipisnya yang terasa berat, saat tidak ada hantu yang menakutinya, kini giliran hantu-hantu biasa mencoba meminta bantuannya.
"Maaf, cari yang lain saja," ucap Clara dengan alis yang bertaut.
Alice dan Dita menatap Clara bingung, ucapan tiba-tiba Clara membuat mereka bertatapan sekilas lalu kembali menatap Clara yang tampak frustasi.
Kini Clara beralih memijat pangkal hidungnya. Ia sudah lelah menghadapi mereka.
"Clara, apa kau benar-benar baik-baik saja?" tanya Dita, tangannya menyentuh lengan Clara lembut.
Clara mengangguk singkat. "Aku baik-baik saja Dita, jangan khawatir," jawabnya tersenyum lebar dengan jempol yang diacungkan.
Di kesempatan yang lain saat Clara sedang membaca buku di kelasnya.
"Bagaimana jika kau sampaikan saja pesan ku pada kekasih ku?" ucap hantu laki-laki yang lain.
Di kesempatan yang lain saat berjalan di koridor.
"Aku kesepian, maukah kau berteman dengan ku?"
Di kesempatan berikutnya lagi di perpustakaan.
"Perpustakaan terasa sepi jika kau tidak kemari. Tidak banyak yang bisa melihat hantu bla bla bla."
Drama hari ini sungguh melelahkan. Clara menghela berat membuat kedua temannya meliriknya singkat. Ia sedang berjalan dengan teman-temannya menuju kelas. Ia bersyukur tidak ada ancaman lagi baginya meskipun banyak sekali hantu yang mencoba berkomunikasi entah hanya untuk berteman ataupun meminta bantuannya. Seharusnya Clara pura-pura tidak melihat mereka dari awal.
"Apa begitu melelahkan?" tanya seraya berjalan beriringan.
"Ya Alice. Sangat."
Clara mengambil earphone di kantongnya lalu menyumpalkan di telinganya. Ia jarang sekali menggunakan earphone, namun ia rela melakukannya hanya agar dirinya bisa menghindari hantu-hantu yang berbicara padanya. Beruntung mereka hanya berbicara dan tidak memberikan aura jelek pada Clara.
Kenapa mereka keras kepala sekali. Kali ini seorang anak kecil. Clara terus berjalan tidak memperdulikan hantu kecil di sebelahnya yang sedari tadi berbicara padanya.
"Ada lagi?" tanya Alice mengerti apa yang sedang Clara alami.
Dengan wajah yang memelas, Clara menoleh dan mengangguk singkat pada Alice.
Alice menepuk pundak Clara dua kali mencoba memberikan semangat. Sedangkan Dita, merangkul pundak Clara dan sedikit mengusapnya singkat.
Setelah sampai di kelas dan duduk di bangkunya masing-masing. Clara membuka ponselnya mencoba menggulir akun sosial media miliknya. Hingga tiba-tiba lagu di earphonenya berhenti dan berganti dengan suara seseorang.
"Apa kau tidak merindukan ku?"
Sontak Clara mendongak dan menoleh secepat kilat mencari keberadaan suara itu.