You Saw Me?!

You Saw Me?!
Don't care!



Episode 92


Ah... bukan, bukan Reyhan.


Yang ditatap tampak sedikit tersentak dan berjalan perlahan mendekati Clara dengan hati-hati.


"Hei... apa kau baik-baik saja?" tanya Reyhan dengan nada rendah, menatap mata Clara begitu lekat.


Baru kali ini laki-laki itu menatap Clara begitu dekat, matanya seolah menatap lurus ke manik mata Clara, mencari sesuatu di sana.


"Hm, aku baik," jawab Clara spontan, mengalihkan pandangannya dengan perasaan gusar.


Menatap Reyhan seperti itu hanya menimbulkan sakit dan harapan yang seharusnya tidak terjadi.


Setelah itu, gadis itu tidak sadar berjalan meninggalkan Reyhan, bahkan tanpa berpamitan sebelumnya. Perasaannya sudah tumpul dan hambar, ia tidak sadar Reyhan masih terdiam menatap punggungnya yang berjalan menjauh.


*


Clara meringkuk ketakutan dengan tubuh gemetaran, memeluk tubuhnya sendiri. Ia meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Setengah putus asa, gadis kecil yang menenggelamkan kepalanya pada kakinya yang ditekuk itu masih terus berharap akan ada seseorang yang datang dan menemaninya.


Tidak lama kemudian, Clara mendongak saat merasakan seseorang berjongkok di hadapannya.


Clara termangu dengan bingung melihat seorang anak laki-laki tersenyum menatapnya dan membawa Clara dalam pelukannya. Clara hanya bisa tercengang, tetapi rasa nyaman itu segera menyebar ke seluruh tubuh Clara, memberikan perasaan tenang ke relung hatinya.


Perlahan ia menikmati pelukan itu dan membalasnya, memeluk laki-laki itu erat. Ia begitu merindukan laki-laki ini dan sekarang dari sekian lama setelah menunggu, akhirnya Clara bisa menikmati waktu bersamanya.


Gadis bersurai hitam ini merebahkan kepalanya di atas kaki yang ditekuk, terus menatap laki-laki manis itu dengan senyum mengembang. Mendengarkan dia bercerita dengan senyuman di wajah yang begitu manis.


Beberapa kali ia memanggil nama itu, nama yang ia rapalkan terus menerus di dalam kepalanya agar ia tidak melupakan itu lagi.


Dia, ****, begitu manis. Begitu perhatian pada Clara, selalu mengusir ketakutannya.


Clara membuka mata saat bunyi alarm pagi membangunkannya. Gadis ini merengut, begitu kesal. Clara berbalik tidak terima, memeluk gulingnya erat seolah itu adalah laki-laki yang ada di mimpinya, ia menyesal harus terbangun dari mimpi indahnya padahal ia masih ingin bersama laki-laki itu.


"Kenapa selalu saja seperti ini!" gumamnya kesal sambil menutup matanya sangat rapat.


Clara sontak membuka mata saat ia mengingat bahwa dalam mimpinya, dirinya merapalkan nama laki-laki itu. Namun saat mencoba mengingatnya, senyum di bibir Clara memudar karena gadis bersurai hitam ini kembali melupakan namanya.


"Sial! Sial! Sial! Aarrg!" umpat Clara geram tertahan pada guling. Sudah dua minggu lebih laki-laki itu muncul di mimpinya, namun namanya belum bisa Clara kenali.


Clara turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya sedikit kasar, mencoba menenangkan hatinya yang terasa sesak. Ia melihat wajahnya di kaca yang mulai terlihat lusuh, kusut, dan lelah meskipun sebenarnya waktu tidurnya sudah cukup.


Setelah selesai bersiap-siap, Clara turun tangga dengan seragam lengkap. Ia menatap menu makanan di hadapannya tidak berselera, padahal beberapa hari terakhir, Harumi selalu memasakkan makanan kesukaannya.


Clara menyelesaikan makannya hanya dengan beberapa suap karena ia sengaja hanya mengambil sedikit lauk dan nasi, dia sudah kenyang.


"Kenapa makan cuma sedikit? Apa kau sakit, hm?" tanya Harumi. Ibunya merapat ke depan Clara setelah selesai mencuci piring.


"Tidak, Ma, aku hanya sedikit lelah setelah ujian," jawabnya tidak bersemangat. Dilihatnya ayah dan adiknya tidak ada di sana, mungkin mereka sudah berangkat duluan.


"Apa kau ada masalah, Clara?" tanya Harumi khawatir.


"Tidak, Ma, aku baik-baik saja," jawabnya lagi sambil tersenyum kecil. Clara tidak ingin membuat ibunya khawatir.


"Jika ada sesuatu yang mengganggu, ceritakan pada Mama. Biasanya kau selalu begitu."


Ah... Aku benar-benar tidak bersemangat melakukan apapun.


...


Clara masih menatap Arion yang sedang tersenyum teduh, juga menatap Clara.


Pagi ini terasa begitu dingin. Lorong kelas ini juga dilewati hanya beberapa murid yang baru saja sampai di sekolah.


Clara tidak mengerti kenapa hatinya menghangat saat bertemu Arion saat ini. Apakah laki-laki itu yang muncul dalam mimpinya selama ini? Namun, kenapa Clara melupakan nama dan wajahnya?


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau merindukanku?" goda hantu tampan itu dengan senyum ringannya.


Senyuman itu berhasil melelehkan hati Clara, tetapi... ada sesuatu yang berbeda. Arion terasa tidak sama dengan laki-laki dalam mimpinya meskipun perasaannya mirip.


Arion mendekat perlahan dan Clara tidak berniat untuk menghindar. Gadis ini masih diam menatap sendu pada laki-laki bermanik hazel itu, sampai akhirnya Arion berdiri tepat satu langkah di depannya. Clara mendongak karena Arion memang lebih tinggi darinya.


Mencoba menikmati perasaan damai dalam hatinya, ia menatap laki-laki itu dengan lekat, enggan untuk berpaling.


"Aku juga merindukanmu," ucap Arion menatap Clara dengan tatapan cintanya.


Otak Clara sudah buntu. Ia mencoba sekeras tenaga untuk sadar, tetapi kali ini Clara tidak peduli.


Apakah hantu ini benar-benar mencintainya? Lisya bahkan mengatakan bahwa perasaan itu hanya dibuat-buat oleh Arion.


Sama dengan perasaan Clara pada Reyhan. Arion mengatakan bahwa itu adalah perasaan Lisya yang masih tertinggal.


Saat Arion bergerak perlahan untuk memeluk Clara, tidak ada niat untuk menghindar kali ini. Arion semakin mendekat dan akhirnya memeluk Clara begitu erat.


Tidak peduli lagi dengan semua spekulasi, Clara sedikit merebahkan kepalanya pada kepala Arion dan menikmati pelukan itu. Pelukan yang terasa nyaman dan mengobati hati dan pikirannya yang hampir gila.


Clara sudah tidak peduli apakah itu hanya tipuan atau ilusi perasaan yang dibuat oleh Arion. Karena semua orang mengatakan bahwa perasaannya tidak benar. Namun, bagi Reyhan dan Arion, semua itu hanya omong kosong. Bagaimana sebenarnya perasaan yang nyata itu?


Andai saja Clara bisa menikmati mimpinya tanpa harus terbangun, dia tidak akan bangun.


.


.


.


"Jika kamu ingin tahu apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Clara, lihatlah matanya. Pandangannya akan berubah dan terlihat aneh," ucap Lisya.


"Berubah bagaimana? Bagaimana aku bisa tahu?" tanya Reyhan yang belum mengerti.


"Kamu akan tahu saat melihatnya sendiri, Rey. Karena matanya akan berubah dan terlihat aneh. Tidak perlu penjelasan panjang lebar, kamu akan tahu saat melihatnya sendiri."


Mungkin inilah yang dimaksud oleh Lisya, bahwa ada sesuatu yang aneh dengan Clara akhir-akhir ini. Clara terlihat tidak fokus dan sering melamun. Alice dan Dita bahkan mengatakan bahwa Clara terlalu sering tidur di jam istirahat dan tidak mau makan bersama mereka.


Akhir-akhir ini, Clara juga menjadi sensitif dan tidak ceria seperti biasanya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" gumam Reyhan.


"Coba alihkan perhatiannya dan jika Clara terlihat terlalu aneh, mintalah bantuan dari keluarganya," ucap Lisya yang terus mengingatkan Reyhan.