
Eps. 46
"Makanlah," suruh Reyhan.
Clara menatap makanan yang ada di depannya sedikit tidak berselera. Stik ayam di depannya terlihat menggiurkan dengan asap yang masih terlihat mengepul dengan sedikit sayuran di atasnya memang layak segera di santap.
Namun, tatapan tajam yang ada disekitar mereka membuat Clara kehilangan selera makan.
"Em… Reyhan. Aku sedikit tidak nyaman dengan tatapan orang-orang pada kita," bisik Clara sedikit melirik ke sekitar.
Mereka duduk di kafe yang cukup populer, teman-teman sekolah keduanya terlihat banyak mengunjungi kafe bernuansa coklat ini.
"Jangan hiraukan mereka. Makanlah dengan nyaman," suruh Reyhan sekali lagi kemudian mulai memasukkan stik ayam miliknya ke dalam mulut.
Clara menghela lelah dengan alis yang bertaut. "Nanti mereka salah paham."
"Sangat bagus kalau mereka salah paham. Dengan begitu mereka akan berhenti mengganggu kita," jawab laki-laki ini santai.
Sekali lagi Clara menghela kasar. Menurut Reyhan seperti itu, tapi tidak untuk gadis ini. Semakin para fans itu salah paham, semakin sering Clara di labrak oleh mereka.
"Jika terjadi sesuatu pada ku nanti, kau harus bertanggung jawab." Tanpa babibu lagi, Clara memakan makanannya dengan lahap. Namun perkataan Reyhan berikutnya hampir saja membuat Clara tersedak.
"Aku akan bertanggung jawab, kau tenang saja."
Uhuk uhuk uhuk
Clara terbatuk, menatap orang di depannya dengan horor.
Pangeran Es ini berkata dengan lembut dengan senyum manis tercetak di bibirnya tanpa merasa bersalah. Dia bahkan menatap Clara dengan tatapan hangat. Apa dia sengaja?
PRANG
Suara nampan yang terjatuh milik pengunjung yang tidak jauh dari tempat duduk Clara dan Reyhan. Membuat keduanya berjengit kaget.
Keduanya menoleh, ke arah sekumpulan gadis yang terlihat sedang berargumen satu sama lain. Dan benar saja, sebuah nampan dan camilan terjatuh di dekat meja mereka, berserakan di lantai.
Satu gadis cantik berambut gelombang dengan dandanan sedikit menor tampak berlari. Seperti tidak peduli dengan apapun, ia menarik tas jinjingnya dan pergi setelah sedikit mengusap matanya. Apa dia menangis?
Clara sedikit tersentak. Karena sebelum benar-benar pergi, gadis langsing berambut gelombang ini menatap Clara tajam dengan mata yang memerah. Tidak hanya wanita itu, teman-teman wanitanya yang lain juga terlihat menatap Clara tidak bersahabat setelah kejadian itu.
Seketika Clara berbalik, kembali berhadapan dengan Reyhan yang masih terlihat tenang. Ia menunduk dengan tidak tenang.
Aaah perasaan ku tidak nyaman. Sudah kuduga, berhubungan dengan manusia populer itu tidak enak!
TUK TUK
Suara ketukan di meja membuat Clara mendongak, melihat Reyhan dengan senyuman manis yang tidak pernah luntur dari wajah laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya nya lembut.
Clara sudah membuka mulut tapi ia menutupnya lagi. Seperti sebelumnya, berbicara padanya agar tidak memperlakukan Clara berlebih adalah sia-sia.
"Tidak ada." Clara segera meneguk minumannya cepat kemudian memakan stik di hadapannya.
"Apa mereka mengganggumu?"
Aktivitas Clara terhenti, dengan sendok yang masih menetap di mulutnya ia melirik menatap Reyhan.
"Siapa?"
"Mereka," ucap Reyhan memberikan isyarat dengan matanya.
"Saat masih hidup, Lisya juga pernah mengalami apa yang kau rasakan sekarang. Dia sering dilabrak oleh anak perempuan yang mengaku menyukai ku. Diancam, dijelek-jelekkan." Tangan Reyhan terhenti dari aktivitasnya. Ia menatap makanan di depannya datar.
"Aku tidak tahu sudah berapa lama, tapi Lisya menyembunyikannya dari ku."
"Lalu dari mana kau tahu kalau Lisya mendapat perlakuan itu?" tanya Clara penasaran.
Reyhan menghela pelan lalu kembali bercerita. "Aku tidak sengaja menemukannya di belakang gedung lab saat aku sedang mencarinya."
Ternyata ada hal yang selama ini Lisya sembunyikan. Dengan senyuman manis dan aura ceria yang selalu Lisya tampakkan. Ada sebuah cerita yang enggan Lisya ceritakan.
Gara-gara perempuan-perempuan menyebalkan itu, suasana yang tadi cukup nyaman kini berubah menjadi kacau. Clara bahkan sudah tidak berselera, ia tidak bisa memasukkan makanan itu meskipun terpaksa.
"Jadi Clara, ceritakan pada ku jika mereka berani mengganggumu. Aku akan melindungimu," ucap Reyhan dengan senyuman termanisnya. Matanya menyipit terlihat hampir tertutup.
Clara termangu dengan mulut sedikit menganga. Ia sadar mungkin pipinya sudah menunjukkan semburat merah sekarang. Ada apa dengan Pangeran Es di depannya ini? Mood Clara benar-benar dibuat seperti roller coaster, kadang terpuruk dibawah kadang juga melambung hingga ke atas.
"Ayo habiskan makanannya," suruh Reyhan.
Mood yang tadi hilang kini kembali, Clara bisa memakan stiknya dengan tenang setelah melihat suasana hati laki-laki di depannya.
Pantas saja semua iri pada Lisya yang mempunyai pacar setampan dan seperhatian ini, dan sekarang? Mereka iri pada Clara? Selama mereka tidak main fisik, Clara hanya akan diam.
"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau bisa melihat hantu?"
"Sejak SD dulu."
"Hm… ternyata cukup lama juga. Lalu… bagaimana rasanya saat kau punya kemampuan seperti itu?"
Clara terdiam. Ia kembali meletakkan sendoknya lalu mendongak menatap Reyhan yang tengah menopang dagu menatapnya lembut.
"Rasanya tidak nyaman, aku bahkan sudah menutupnya agar tidak bisa melihat mereka lagi," jawab Clara sembari memasukkan suapan berikutnya.
"Menutup?" tanya Reyhan tidak paham.
"Ya. Menutup 'pintu' agar aku tidak bisa melihat mereka lagi. Tapi setelah sekian lama tidak melihat hantu, tiba-tiba saja aku bisa melihat Lisya."
"Kenapa harus kau tutup? Bukankah itu suatu kelebihan?"
Tiba-tiba saja tubuh Clara berhenti, mematung di tempat saat perasaan merinding menjalar keseluruh tubuhnya.
"Ah, Reyhan jangan katakan itu. Kau hanya tidak tahu. Aku benar-benar bisa gila kalau terus-terusan bisa melihat mereka yang seperti itu." Clara mengernyit, lalu meneguk minumannya cepat.
Laki-laki tampan ini hanya tidak tahu apa yang telah Clara alami. Clara masih terdiam saat melihat beberapa hantu yang lewat di sekitar cafe. Meski tidak begitu menyeramkan, pasti cukup mengerikan pada orang yang tidak terbiasa.
Reyhan hanya tersenyum dan makan dengan santai. Clara yang menatap dengan kagum pada pembawaan santai namun menawan yang Reyhan tunjukkan, hanya bisa menelan ludah susah payah. Pantas saja dia menjadi most wanted! Aura manusia populer memang tidak bisa diragukan lagi.
"Memangnya seperti apa mereka? Apa Lisya juga menyeramkan?"
"Lisya masih seperti murid biasa dengan pakaian seragamnya. Dia masih cantik, aku sampai tidak sadar kalau dia adalah hantu. Tapi untuk yang lainnya. Kau bisa membayangkan sendiri sambil menonton film horor," suruh Clara.
Makanan Clara sudah habis, jus nya juga sudah tandas. Apa Reyhan mengajaknya kesini hanya untuk hal ini saja? Dia bahkan meminta Lisya untuk menjauh sementara.
Setelah mengusap mulutnya dengan tissue, Reyhan meneguk minumannya perlahan, meletakkannya di atas meja. Manusia tampan ini menatap kearah Clara dengan wajah serius.
Clara sedikit terkesiap, sikap Reyhan sedikit berbeda dengan sebelumnya. Namun hanya beberapa saat, setelahnya Reyhan kembali menyandarkan punggungnya dan kembali berbicara dengan nada biasa.
"Lalu, kenapa kau bisa berbicara dengan Lisya lagi?"