You Saw Me?!

You Saw Me?!
Surat untuk Reyhan



Eps. 28


“Aku masih bingung, kenapa 'dia' harus lari saat melihat mu? Bukankah yang dia takuti hanya Lisya?” tanya Dita sangat pelan menyebutkan nama Lisya.


Mereka sepakat untuk memanggil Reyhan dengan kata 'dia', dan mengecilkan volume suara pada nama Lisya agar tidak ada seorangpun yang mengerti percakapan mereka.


Selesai dengan makannya, Clara, Dita dan Alice masih berdiskusi di kantin yang sudah mulai sepi. Lisya bahkan ikut mendengarkan diskusi mereka.


“Bisa jadi 'dia' berpikir, di mana ada Clara, di situ ada kekasihnya,” jawab Alice.


"Aku juga berpikir begitu,” gumam Lisya mengangguk pelan. 


Clara menghela berat. "Dia tidak sadar, padahal selama ini Lisya selalu bersamanya, bukan bersama ku,” cicit Clara kesal.


“Oke. Sekarang, apa yang akan kita lakukan?” tanya Alice serius menatap Clara.


“Bantu aku, agar dia mau mendengarkan ku setidaknya lima menit, karena aku akan menyampaikan langsung pesan yang Lisya katakan,” jelas Clara.


Dita berpikir tampak mengerti, sedangkan Alice hanya mengangguk singkat. 


“Jadi, secara tidak langsung kau menjadi seorang ‘penerjemah’?” tanya Dita.


Clara mengangguk. “Benar, anggap saja seperti itu.”


Alice menyandarkan tubuhnya pada kursi, menyilangkan keduanya di depan dada, tampak berpikir. “Lalu… bagaimana caranya dia mendengarkanmu jika melihat mu saja dia sudah lari ketakutan?”


Mendengar pertanyaan Alice, serentak semua terdiam dan mendesah pelan. Itu adalah alasan Clara kesulitan menyampaikan pesan pada Reyhan. Namun beberapa detik berikutnya, Alice menegakkan tubuhnya, dan mendekatkannya pada yang lain. Tanpa diperintah pun, Clara dan Dita serempak mendekat pada Alice. “Aku ada ide.”


“Tujuannya adalah dia tahu pesan itu, bukan?” tanya Alice yang di angguki Lisya dan Clara.


Meskipun Dita dan Alice tidak melihatnya, Lisya tampak antusias mengikuti percakapan mereka.


“Bagaimana kalau kita berikan saja lewat surat? Kalau hanya surat, dia tidak perlu bertemu dengan mu,” jelas Alice.


Mendengar ide yang Alice sampaikan, Clara mengangguk singkat. Tampaknya ide itu patut di coba. Apalagi ia tidak harus bertatapan dengan netra yang dingin itu, Clara berharap ide ini akan berjalan dengan baik.


“Lalu siapa yang akan mengantarkan surat itu?” tanya Clara.


“Dita,” jawab Alice datar.


Dita mengangguk sekilas namun kembali terkesiap. “Hah? Aku?” tanya Dita menunjuk diri nya sendiri, tubuhnya menghadap ke arah Alice.


“Bukankah kau sangat menyukai wajah pria itu?” tanya Alice.


“I-iya tapi kan--”


"Tidak mungkin Clara yang melakukannya. Dia pasti kabur duluan sebelum Clara memberikan suratnya," tutur Alice.


"Aah Baiklah," kata Dita menghela panjang. Pasrah dengan saran Alice.


“Kita akan membuat surat itu terlihat seperti surat cinta. Dengan ekspresi di wajah Dita, mungkin dia akan membacanya,” jelas Alice.


Tentu saja, Alice yang kekurangan ekspresi tidak mungkin memberikannya pada Reyhan. Batin Clara, Dita dan Lisya.


“Apa dia menyukai Reyhan?” tanya Lisya sedikit mencondongkan tubuhnya pada Clara. 


“Tidak, dia hanya penggemarnya,” sahut Clara pelan membuat Alice dan Dita menoleh penuh tanya.


“Aku hanya berbicara dengan Lisya,” ujar Clara santai.


Seketika Dita memucat lalu berbisik pada Clara, “Clara… di-dia dimana?”


Clara menunjuk Lisya yang berada tepat di sisinya membuat Dita semakin memucat. “Um… Li-Lisya… a-aku tidak menyukai dia, tidak seperti yang kau pikirkan.”


Lisya dan Clara terkekeh kecil saling melirik sekilas, membuat Dita semakin terlihat kebingungan. Tidak menyangka Dita masih setakut itu pada Lisya.


“Tenanglah Dita, aku sudah menjelaskannya, dia tersenyum ramah pada mu," kata Clara menunjuk Lisya dengan kepalanya.


“Oh… syukurlah” ujar Dita tersenyum canggung.


.


.


.


Clara sudah selesai menulis surat sesuai dengan panduan dari Lisya. Surat berwarna pink yang berisi tentang keinginan Lisya untuk Reyhan sudah tersegel rapi dengan bentuk hati berwarna maroon.


Setelah mengambil surat itu dari Clara, Dita tampak bersiap memberikan ekspresi penggemar terbaiknya agar drama ini bisa berhasil.


"Semangat Dita."


"Semoga berhasil."


Setelah mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Dita keluar dari balik tembok dan berjalan mendekati Reyhan yang sedang bersama dengan teman-temannya di samping perpustakaan.


Langkah Dita berhenti tepat satu meter di depan Reyhan. Dengan senyum merekah di wajahnya, Dita menyodorkan surat dengan kedua tangannya pada Reyhan.


“Di baca ya,” kata Dita dengan senyum sejuta watt miliknya.


“Ayo di baca,” suruh Eros menyenggol lengan Reyhan.


Teman-teman Reyhan tampak penasaran isi suratnya, meskipun mereka tahu itu pasti surat cinta. Saat mencoba membuka surat, Reyhan mematung dan menghentikan niatnya begitu mendengar perkataan Aldio.


“Sepertinya aku tahu anak itu.”


“Siapa?” tanya Reyhan.


“Dia adalah teman dari anak yang terkena pecahan kaca waktu itu,” jawab Aldio.


“Oh… siapa namanya? Anak yang selalu memperhatikan Reyhan itu kan?” tanya Eros.


“Benar,” jawab Aldio.


Reyhan kembali membuka surat dan membacanya sekilas. Menyembunyikannya dari Eros yang terus menempel ingin ikut membacanya.


To : Reyhan.


Tolong baca surat ini sampai akhir. Agar semua hal yang ingin ku katakan bisa kau mengerti. Kau tidak perlu takut pada Lisya… bla bla bla bla.


Melihat nama Lisya di sana, dengan cepat Reyhan merobek surat itu lalu membuangnya ke tempat sampah.


“Loh? Rey? Hei?! Kenapa di buang?” tanya Eros menyayangkan.


“Bukan apa-apa.”


“Apa itu surat cinta?” tanya Aldio. Reyhan hanya mengedikkan bahunya tidak peduli.


“Aku tidak membaca isinya, sepertinya isi nya tidak penting,” kata Reyhan.


"Tidak biasanya kau seagresif ini, biasanya kau memberikan surat itu pada kami jika kau tak ingin membacanya," sahut Eros masih menyayangkan surat pink itu.


Lisya menghela pelan. Sedari tadi ia berdiri di samping lelaki rupawan itu, sejak Dita sudah memberikan surat itu pada Reyhan. Ia ingin melihat langsung bagaimana reaksi Reyhan setelah membaca surat itu. Berharap Reyhan akan mengerti dan tidak takut lagi padanya.


"Mungkin aku terlalu berharap banyak," gumam Lisya pelan.


Dengan menundukkan kepala, Lisya bergerak dengan gontai, penuh kekecewaan, mendekati Clara dan teman-temannya yang sedang mengintip tidak jauh dari tempat Reyhan berada.


“Kenapa suratnya di robek?” tanya Dita kecewa melihat kejadian itu.


Lisya hanya menghela berat. Tidak memberi jawaban.


“Lisya, apa yang terjadi di sana? Kenapa suratnya di robek?” tanya Clara menatap Lisya. Clara dan yang lainnya hanya bisa melihat Reyhan dari kejauhan tanpa tahu apa yang dibicarakan di sana. 


Melihat Clara yang tampak berbicara pada angin, Dita dan Alice berpandangan sekilas kemudian bersamaan menoleh ke arah pandang Clara yang mereka yakini adalah tempat Lisya berada.


“Rey mulai waspada saat Aldio mengatakan Dita adalah temanmu,” jawab Lisya dengan nada kecewa. “Aldio menyebalkan!” kesal Lisya.


“Rey sempat membacanya sekilas, tapi aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja dia merobeknya. Apa karena ada nama ku di sana?” tanya Lisya.


“Oh… bisa jadi,” ucap Clara kini tampak berpikir.


“Kenapa?” tanya Alice menuntut.


Tentu saja hanya Clara yang mendengar penjelasan hantu cantik itu, kedua temannya tidak akan mengerti jika Clara tidak segera menjelaskannya.


“Reyhan tahu Dita adalah teman ku, jadi sekarang dia lebih waspada. Dan kita harus mengubah bentuk suratnya.”


“Kenapa?” tanya Dita tak kalah penasaran.


“Sepertinya kita harus menghapus nama Lisya disana,” kata Clara.


“Kalau kita menghapusnya, Reyhan tidak akan tahu itu dari siapa,” tutur Alice.


Menulis surat dengan nama Lisya saja Reyhan enggan membacanya, lalu bagaimana lagi agar laki-laki dingin itu mau menerima pesan dari Lisya?


“Bagaimana kalau kita letakkan saja nama ku di bagian akhir surat,” saran Lisya.


“Oh… kita coba yang itu,” kata Clara menanggapi.


“Apa?!” tanya Alice dan Dita serempak, mulai kesal karena tidak paham arah pembicaraan mereka.


Sedikit tersentak, Clara menoleh dan tersenyum canggung, mungkin sebelum menanggapi saran Lisya, Clara harus menyampaikan dulu apa yang diucapkan Lisya pada temannya.


“Lisya memberi saran agar namanya kita letakkan di bagian akhir surat,” kata Clara menjelaskan.


“Kita harus meminta bantuan untuk menyampaikan surat itu,” kata Alice setelah mengiyakan ucapan Clara.


Dita tidak mungkin memberikannya lagi, begitu juga dengan Alice dan Clara. Harus ada orang yang tidak Reyhan kenal agar nanti dia mau membaca surat itu.


“Kita letakkan saja di kolom mejanya Rey,” sahut Lisya.


“Lisya bilang kita letakkan saja di kolom meja Reyhan,” ucap Clara menyampaikan usulan Lisya.


“Setuju!” kompak Alice dan Dita.