
Eps. 100
Arion terdiam dengan senyum tipis tercetak di bibirnya. Ia melihat wanita yang begitu disukainya sejak delapan tahun lalu, kini sedang duduk di pinggir kolam, memberi makan ikan.
Wanita itu terlihat bahagia.
"Apa kau bahagia bersama ku, Clara?" tanya Arion. Clara menoleh dan mendongak menatap Arion yang sudah berdiri tepat di samping Clara.
Gadis itu terdiam beberapa saat, namun detik berikutnya dia tersenyum begitu lebar. "Tentu saja Arion."
Itu sudah cukup membuktikan bahwa Clara bahagia hidup bersama Arion meskipun semuanya hanyalah ilusi. Karena ini adalah alam bawah sadar Clara, gadis kesayangannya hanya bisa menunjukkan apa yang sebenarnya ia inginkan.
Hati Arion begitu damai, karena usahanya tidak sia-sia. Clara bahagia bersamanya.
Namun, tidak berselang lama. Senyuman di bibir hantu tampan ini luntur ketika seseorang datang lagi mencoba mengganggu.
"Arion," panggil Leo dengan wajah iba.
Pak tua itu berdiri tidak jauh dari tempat Arion dan Clara berdiri, namun Clara seolah tidak peduli dengan kedatangan Leo.
Arion juga tidak menjawab panggilan itu. Ia hanya melirik Leo sekilas dari sudut matanya dengan dingin. Paman itu sering menjaga keduanya saat mereka bermain dikala kecil, tapi sekarang Leo hanya datang untuk mengganggu kebahagiaan Arion dan Clara.
"Jika kau benar-benar menyayanginya, biarkanlah dia pergi. Dia punya kehidupan untuk dijalani."
Tidak bergeming sedikitpun dengan ucapan Leo, namun kalimat itu mampu menyayat hati Arion. Semua terasa tidak adil, Arion juga memiliki masa sulit, sangat sulit yang sudah ia lewati.
Delapan tahun Arion menunggu, menjaga Clara dan berusaha keras agar bisa kembali berbicara dengan gadisnya. Lalu, sekarang orang itu mengatakan agar Arion melepas Clara?
Lihatlah, Clara bahkan terlihat bahagia bersama Arion.
"Apa kau tidak melihat, Clara sangat bahagia bersama ku, Paman? Lihatlah baik-baik! Jadi jangan berbicara seenaknya!"
Segera setelah kalimatnya selesai, Arion menghempaskan Leo dengan segenap kekuatannya, membuat laki-laki paruh baya itu menghilang bagaikan asap yang tersapu.
Leo membuka mata sedikit tersentak, kemudian menoleh pada Clara uang masih tertidur dengan wajah tenangnya.
Benar yang Arion katakan, Clara tidak akan terbangun jika gadis itu tidak ingin bagun. Ia ingat saat menemani Clara dan Arion di rumah sakit, mereka sangat menempel satu sama lain. Dan itu membuat ingatan Clara semakin kuat dengan kebahagiaan semu yang Arion buat.
Setelah menghela berat, laki-laki yang duduk di samping ranjang Clara ini memijat pangkal hidungnya pelan.
Ryo dan Harumi yang mengerti bahwa Leo gagal sekali lagi, hanya bisa pasrah dan berharap Clara akan baik-baik saja.
.
.
.
Alam mimpi yang Arion buat sangat nyaman untuk keduanya. Di samping rumah sakit yang megah sesuai dengan ingatan Arion, hantu tampan ini juga membuat gubuk mungil yang begitu indah untuk mereka berdua.
Dengan bunga-bunga warna warni mengelilingi gubuk, rumput yang tertata rapi di sepanjang mata memandang. Semua terasa sempurna.
Arion tersenyum begitu bahagia. Ia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju gubuk kecil mereka sembari bergandengan tangan. Ia membelai lembut wajah Clara yang juga menampakkan senyuman yang jarang sekali luntur.
Semua sempurna sekarang. Kau milikku dan akan bersama ku.
Mereka bermain, mengobrol, masak, makan dan melakukan semua yang bisa mereka lakukan. Dan saat Arion sedang menemani Clara mengumpulkan bunga di dekat gubuk mungil itu, ia kembali mendengar suara yang sangat ia benci.
Kenapa semuanya sangat senang mengusik kedamaian Arion!
"Clara," panggil pria itu. Laki-laki itu berdiri hanya berjarak lima meter di samping Clara.
Arion menatap laki-laki itu sangat marah dan gelisah. Namun seperti sebelumnya, ia percaya bahwa Clara juga tidak akan mengindahkan pria blonde itu, sama halnya dengan saat Leo menemui Clara.
Hal yang tidak terduga terjadi. Arion terpaku di tempat begitu melihat Clara yang berdiri dari jongkoknya dan menoleh dengan ekspresi tidak bermakna mencari sumber suara.
"Tidak, tidak, tidak Clara. Hei, hei, tidak ada apapun." Arion berusaha keras mengalihkan pandangan Clara dengan menangkup wajahnya agar hanya menatap Arion.
"Kau tahu aku sangat menyayangimu kan?" tanyanya khawatir.
Jangan, jangan lagi! Jangan pergi lagi, Clara! Kumohon …
Clara terdiam dengan pandangan sedikit menerawang, menatap Arion. Dan lagi, Clara hanya tersenyum manis menatap hantu itu.
Benar! Benar seperti itu Cla–
"Clara," panggil laki-laki itu lagi.
Wajah Clara berubah datar, dia berbalik menghadap arah suara, menatap laki-laki itu datar. Mulutnya setengah terbuka seperti mencoba mengingat wajah itu.
"Ayo pulang … Clara," imbuhnya lagi.
"Sial! Bisakah kau diam!" umpat Clara. Dan Reyhan seolah tidak peduli, masih menunggu respon Clara.
Arion mulai khawatir. Hatinya bergemuruh sakit. Ia menggerakkan tangannya yang mulai gemetar hendak meraih Clara, dan tiba-tiba ….
"Rey … han."
DEG
AKH
Arion jatuh tiba-tiba bersimpuh pada tanah. Ia memegangi dadanya yang begitu sakit. Clara berontak, ia mencoba untuk sadar.
Setelah usaha bertahun-tahun yang terlihat sempurna, hanya sekejap saja bisa dihancurkan oleh laki-laki itu.
Arion masih menahan sakit di dadanya karena Clara yang terus mencoba bangun. Dengan sekuat tenaga Arion mencoba mendongak, melihat Clara yang berjalan perlahan ke arah laki-laki yang tersenyum teduh menatap gadisnya.
Arion menatap Clara frustasi. Wajahnya begitu kacau, seolah dunianya sudah runtuh. Hantu yang terus bertahan selama bertahun-tahun hanya untuk kembali bertemu dan berbicara dengan wanita kesayangannya kini hancur sia-sia.
Penolakan Clara yang terasa jelas, begitu menyakitkan bagi Arion. Hantu ini melihat dengan jelas punggung Clara yang sedang terpaku, tidak memperdulikan Arion lagi dan menatap manusia brengsek itu di hadapannya.
"Kenapa kau selalu menghancurkan harapan ku, kenapa kau selalu saja merusak perasaan yang sudah dibuat susah payah! Baj**gan!" umpat Arion tertunduk menahan sakit didadanya.
Reyhan. Selalu saja Reyhan. Laki-laki itu sama kurang ajarnya dengan Lisya yang terus mencoba merebut Clara darinya.
Kenapa mereka selalu saja mengacaukan usaha Arion dan dengan seenaknya ingin merebut Clara dari genggaman Arion.
Arion menunduk, menahan sakit akibat Clara yang mencoba bangun dan sakit dari penolak Clara yang terasa begitu jelas.
Sakit! Rasanya benar-benar sakit! Clara … apa semua sudah berakhir …?!
Arion menangis begitu pilu.
.
.
.
Reyhan memperhatikan secara seksama apa yang dijelaskan oleh Leo meskipun rasanya di luar nalar dan sulit di percaya.
Keyakinan Reyhan dibuktikan dengan melihat Clara yang terbaring tidak bergeming dengan respon dan rangsangan apapun membuat hati Reyhan begitu ngilu.
Melihat wanita yang kini ia cintai terbaring seperti itu. Tidak lagi. Setelah Lisya yang pergi meninggalkannya, kini Reyhan tidak mau membiarkan Clara juga pergi meninggalkannya.
"Apa kau siap, Reyhan?" tanya Leo.
Leo meminta bantuan agar Reyhan bisa masuk ke alam bawah sadar Clara dengan bantuannya, dan, mengajak Clara untuk bangun.
Meskipun ragu, karena Clara yang menolak perasaan Reyhan kala itu, namun firasat Reyhan begitu yakin. Clara akan bangun kali ini.
"Saya siap," ucap Reyhan mantap.