You Saw Me?!

You Saw Me?!
Bukan urusan ku!



Eps. 43


Akhir-akhir ini Clara sering sekali melihat Reyhan dan Lisya tersenyum atau tertawa bersama. Apa laki-laki itu bisa melihat Lisya sekarang?


Tidak mungkin!


Bukan hanya saat ini. Sebelumnya di kantin, perpustakaan, di kelasnya. Mereka tampak terlihat tertawa atau tersenyum bersama hanya di tempat-tempat tertentu.


Reyhan tampak sedang menulis sesuatu di buku kecil. Lisya yang ada di belakangnya melihat buku itu lekat, sepertinya membaca apa yang ditulis Reyhan.


Setelahnya, sesekali mereka tersenyum. Dan itu berlangsung cukup lama. Memang tidak saling menatap, hanya tersenyum bersama setelah membaca sesuatu. Apa mereka sedang berkomunikasi?


Clara menghela pelan. Sejujurnya, apapun yang mereka berdua lakukan tetap bukan urusannya. Ia memantapkan hati agar tidak terjatuh terlalu dalam dengan urusan mereka. Karena membantu Lisya sangat melelahkan bagi Clara.


Ingatan Clara tiba-tiba memutar kejadian saat Lisya masuk ke dalam tubuhnya. Keesokan hari setelah kejadian itu, Clara harus mati-matian menjaga matanya agar tetap terbuka. Ia sungguh mengantuk, badannya terasa berat untuk diajak bangun, benar-benar kehabisan tenaga.


Rio bahkan harus membangunkan Clara dengan menggedor pintu kamarnya kuat agar Clara bisa terbagun. Butuh tiga hari agar tubuhnya kembali segar seperti sedia kala.


Clara mengambil minuman dingin dan membayar setelahnya. Hari ini ia tidak makan di kantin, wanita ini hanya membeli minum karena ibunya membawakan bekal.


Kantin sudah mulai sepi, hanya beberapa orang yang terlihat masih makan disana.


Tidak sengaja, Clara melihat Reyhan dan kawan-kawannya mulai berdiri dan pergi meninggalkan kantin. Sebelum pergi Lisya terlihat panik, ia mencoba memanggil Reyhan tapi yang dipanggil seperti biasa tidak mengerti dan terus saja berjalan.


Lisya kembali melihat sesuatu di meja, seperti barang yang tertinggal. Dari bahasa tubuhnya Lisya, barang yang tertinggal itu bisa jadi barang yang cukup penting.


Melihat itu, Clara berjalan mendekat mencoba membantu Lisya. Apa yang membuat hantu cantik itu begitu panik saat barangnya tertinggal? Dilihatnya sebuah note kecil berisi tulisan pendek-pendek yang tidak begitu rapi. Sepertinya bukan catatan sekolah.


Saat akan mengejar, Reyhan dan yang lainnya sudah tak terlihat entah sudah pergi kemana. Clara menghela pelan, sedikit penasaran ia membaca setiap tulisan di catatan kecil itu.


Belum selesai membaca Clara menutup buku kecil itu cepat dan menghela kasar. Ia mengusap wajahnya pelan.


"Seharusnya aku tidak baca ini."


Benar. Mereka berkomunikasi. Dan Clara sudah salah kembali berjalan terlalu dalam dalam hubungan mereka.


"Ah, sudahlah. Ini bukan urusan ku," gumam Clara tak acuh, kemudian berjalan keluar kantin bersama catatan kecil itu di tangannya.


.


.


.


"Hei Clara, apa si hantu tampan masih sering mengganggu mu?" tanya Dita dengan mata berbinar. Kedua tangannya sedang menopang dagu di atas bangku.


Temannya yang satu ini memang sering membuat pertanyaan yang membuat Clara takjub. Ia menaikkan satu alisnya, menatap Dita datar. "Wah wah, semangat sekali membahas Arion," cibir Clara dengan senyum miring.


"Tentu saja! Bisa kau ceritakan pada ku, seperti apa wajah tampannya? apa dia lebih tampan dari Reyhan?" tanya Dita dengan senyum girangnya.


Alice menggeleng takjub sedangkan Clara hanya menatap tidak percaya. Teman berambut dora nya ini memang pecinta cogan, dari oppa hingga cogan gepeng.


Aku akan sangat bangga jika ada manusia setampan itu yang mencoba mendekati ku, tapi masalahnya, dia adalah hantu.


"Oh ayolah Clara ceritakan pada ku," rengek Dita.


"Ceritakanlah Sayang," ucap suara itu.


Sekali lagi Clara terkesiap. Ia melirik sang pemilik suara yang sudah tersenyum begitu menawan di hadapan nya.


Clara menghela berat, setampan apapun hantu tidak akan banyak berguna bagi manusia. Dan sebenarnya, mereka bisa menirukan wajah siapa saja yang mereka mau.


"Dia sama tampannya dengan Reyhan, bisa jadi lebih tampan. Sesuai selera masing-masing," jelas Clara dengan nada malas.


Arion menutup mulutnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri nya menyilang di dadanya. Meski tidak terlihat, hantu jelek ini pasti sedang tersenyum mengejek Clara. Lalu apa-apaan semburat merah di wajahnya itu!


"Namanya saja sudah tampan, apalagi wajahnya. Kyaaa aku ingin bisa melihatnya," seru Dita tertahan.


Melihat Dita yang tersenyum aneh dengan kedua tangan terkepal di bawah dagunya, membuat Clara menghela dan memutar bola matanya malas.


Tidak langsung menjawab, Clara menatap Arion yang tersenyum terlihat tersipu. Jelas itu tipuan. Setelahnya, Clara menarik bibirnya dan tersenyum tipis.


"Tentu saja Reyhan jaauh lebih tampan," ucap Clara mantap. Sedikit melebih lebihkan.


Sejenak, kedua temannya terdiam. Namun detik berikutnya, pertanyaan mereka membuat Clara terpaku di tempat.


"Oh, apa kau menyukai Reyhan?"


Clara masih terdiam mencerna perkataan temannya beberapa detik.


"Eeehhh??!"


Arion di depannya tampak bergetar menahan tawa. Dengan mengalihkan wajahnya yang sedikit menunduk, hantu itu terkikik tertahan.


.


.


.


"Kami duluan ya," pamit Dita dengan senyum curiganya.


Clara hanya menatap Dita sinis. Sedangkan Alice cukup tersenyum dan melambaikan tangan kemudian pergi membawa Dita.


Pulang sekolah ini, Clara menunggu Reyhan di tempat parkir untuk memberikan mininote yang mungkin diperlukan.


Laki-laki yang ia tunggu sudah muncul dengan Lisya dan gerombolan teman baiknya. Clara tersenyum kecil lalu melambaikan tangan menyapa keduanya.


"Hai Clara," sapa Lisya.


"Hei, sedang menunggu siapa?" tanya Reyhan.


"Menunggu kalian," jawab Clara singkat.


Teman-teman Reyhan yang mengerti segera berpamitan dengan senyum yang hampir sama dengan senyuman Dita sebelumnya. Mereka tidak tahu bahwa Clara tidak berdua dengan Reyhan. Masih ada Lisya, kekasih Reyhan yang tidak mereka lihat.


Tapi bukan itu masalahnya. Ada hal yang lebih menyebalkan yang Clara rasakan. Para penggemar Reyhan dan beberapa gadis yang Reyhan tolak sepertinya tidak rela jika Reyhan harus bersama Clara. Perlakuan laki-laki di depannya terlalu kontras bertolak belakang dengan sikapnya terhadap perempuan itu.


Sikap pangeran es yang sangat dingin, berubah menjadi hangat dan penuh senyum pada Clara. Sedangkan ia masih terkesan dingin dengan perempuan yang menyukainya, dan datar pada teman-teman perempuan sekelasnya.


"Ada apa mencari ku?" tanya Reyhan tersenyum manis.


Clara menyodorkan mini note bercorak polos berwarna abu-abu milik Reyhan. "Punyamu kan?"


Reyhan dan Lisya terlihat terkesiap, namun tidak berkomentar.


"Terima kasih Clara. Aku pikir ini hilang," ujar Reyhan kemudian mengambil catatan itu.


"Clara, apa kau membaca isinya?" tanya Lisya.


"Iya sedikit. Maaf ya, aku tidak bermaksud--"


"Oh tidak masalah," potong Lisya.


Reyhan yang mendengar sepotong percakapan dari Clara terlihat mengerti. Ia tersenyum, tidak keberatan meski Clara membacanya.


"Tidak masalah jika kau membacanya. Kau sudah tahu dia masih disini dan kami masih berkomunikasi kan. Terima kasih ya, sudah menyimpannya untuk ku," kata Reyhan menggoyangkan minimote itu di hadapan Clara.


Lagi, Reyhan tersenyum sangat ramah. Matanya bahkan menyipit hampir menutup. Begitu juga dengan Lisya. Namun sayangnya, hanya senyuman Reyhan yang mereka lihat.


Clar menghela lelah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Em… Reyhan… bisakah kau tidak terlalu ramah pada ku? Ah, Maksud ku, jangan tersenyum seperti itu pada ku," ungkap Clara.


"Kenapa Clara?" tanya Lisya.


"Apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Reyhan bersamaan dengan pertanyaan Lisya.