You Saw Me?!

You Saw Me?!
Pertaruhan



Eps. 78


Akh!


Hantu perempuan menyeramkan itu tengah kesakitan karena aura hitam Arion yang mengelilingi tubuhnya.


"Bodoh! Kau hampir melukai milikku!" ujarnya dingin.


Arion sangat kesal karena rencana telah di gagalkan oleh hantu sialan itu. Bukannya menyingkirkan laki-laki pengganggu itu, tapi hubungan keduanya terlihat semakin baik.


"Akh! Kau brengsek! Le–pas!"


Hantu berambut panjang itu terlepas dari lilitan hitam Arion, ia menelengkan kepala tampak menyeramkan menatap Arion marah.


"Aku hampir saja terluka karena mengikuti permintaanmu! Dasar hantu tampan sialan!" umpatnya dengan mata menghitam kelam seperti arang.


"Enyah!"


Dengan sekali sibakkan, hantu perempuan itu menghilang dari hadapan Arion.


"Menyebalkan. Kekasihku semakin dekat dengan laki-laki pengganggu itu."


.


.


"Kita sudah sepakat untuk tidak mengganggu urusan masing-masing. Jadi Bisakah kau menyingkirkan kekasihmu itu agar tidak menyentuh milikku?" ucap Arion dingin, menatap hantu di depannya dengan tatapan tajam.


Lisya tersenyum miring. "Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun pada Clara. Dia yang memang sudah nyaman dengan Rey."


Saat Lisya sedang sedang terdiam di depan pantai, Arion tiba-tiba saja datang dengan wajah tidak ramahnya.


Arion sedikit mendongak menatap Lisya remeh. Setelah mendengar ucapan Lisya, perlahan hantu tampan itu melayang mendekat dengan pandangan yang terus mengunci pada Lisya.


"Apa kau mau laki-laki itu menderita?" ancam Arion dengan nada berat dan rendah miliknya.


Tubuh Lisya menegang sesaat. Ia bergeming dengan kedua tangan terkepal. Tidak akan ada sesuatu yang baik saat mereka bertemu. Tapi ancaman kali ini adalah ancaman yang paling menyebalkan.


"Kau tidak akan bisa menyentuhnya. Lakukan saja jika kau mau, dengan begitu Clara akan melihat sifat mu yang sebenarnya."


Dengan tubuh sedikit gemetar, Lisya memberanikan diri untuk menantang laki-laki di hadapannya itu. Wajahnya memang terlihat tampan, tapi itu hanya trik licik nya agar bisa mengelabui Clara perlahan.


Hantu cantik ini juga belum tahu apakah Reyhan menyukai Clara atau tidak, bahkan Clara terlihat tidak tertarik pada kekasihnya, tapi Arion begitu marah melihat kedekatan mereka.


Apakah Reyhan akan baik-baik saja jika Lisya pergi? Sepertinya Arion tidak akan bertindak gegabah karena hantu jahat itu begitu bernafsu memiliki Clara.


Hantu laki-laki di depannya masih terdiam dengan wajah masamnya. Namun sesaat setelahnya, dia menyeringai.


"Kau benar. Aku tidak akan bisa menyentuh kekasihmu selama milikku masih dekat dengannya. Kalau begitu, mari kita bertaruh," Arion menjeda kalimatnya sejenak, "teruslah kau membuat kekasihmu menyukai milikku. Saat itu terjadi, akan lebih mudah untuk ku membuatnya frustasi."


"Tidak akan kubiarkan itu terjadi," bantah Lisya.


Arion hanya menyeringai, menatap Lisya tajam lalu pergi dengan tawa mengejeknya.


"Kita lihat saja nanti."


Lisya tertunduk dengan pikiran berkecamuk. Untuk membuat kekasihnya kembali tersenyum, ia harus sedikit memaksa Clara agar mau membantunya dengan Reyhan.


Tapi … apa yang terjadi sekarang? Clara begitu diminati oleh hantu jahat dan bisa mengancam keselamatan Reyhan jika kekasihnya itu benar-benar menyukai Clara.


Menurut Lisya, hanya Clara yang cocok untuk Reyhan. Tapi gadis itu juga bisa berbahaya untuk lelaki tersayang nya.


Lisya memejamkan mata dengan kepala menengadah.


Aku tidak akan menjodohkan mereka lagi. Tapi jika Reyhan benar-benar tertarik pada Clara, aku harus memperingatinya dan juga Clara. Aku harap, kekasih ku bisa bahagia saat aku pergi.


.


.


.


Clara menoleh saat menyadari kehadiran Lisya di depan pintu. Clara masih merebahkan tubuhnya yang terasa sedikit berat. Ia tertidur hampir dua jam dan baru terbangun empat puluh menit yang lalu.


"Apa kau baik-baik saja?"


Clara mengangguk kecil. "Ya. Aku baik-baik saja."


Hening. Keduanya tidak ada yang berbicara. Hingga suara Lisya beberapa menit berikutnya berhasil memecah keheningan.


"Maaf karena tidak bisa melindungimu."


Clara menoleh, menatap lurus ke arah temannya itu. "Kenapa kau harus melindungi ku? Alice sudah menceritakan semuanya pada ku. Dia bilang aku bahkan sudah mencelakai Reyhan," ucapnya merasa bersalah.


"Tidak Clara. Itu bukan kau. Hantu itu yang memang sengaja ingin melukai Rey," bantah Lisya.


"Maafkan aku Lisya. Itu karena aku yang terlalu ceroboh. Karena kupikir itu kau, makanya aku kurang berjaga-jaga."


Lisya tersenyum dan duduk di hadapan gadis ini. " Yang penting kita semua baik-baik saja itu sudah cukup. Clara … ada satu hal yang harus aku ingatkan pada mu. Arion, berhati-hatilah padanya. Aku tidak bisa mengatakan semuanya, tapi kau akan sangat menyesal jika jatuh di genggamannya."


Clara terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang enggan Lisya katakan. Dan dari hal itu, Lisya tampak gelisah untuk menutupinya.


"Iya. Akan kuingat kata-kata mu. Meskipun sebenarnya itu cukup sulit bagiku."


"Tidak. Kau kuat, kau pasti bisa," ucap Lisya memberi semangat.


Clara tersenyum. "Hei, apa kau jadi meminjam hari ini?"


Lisya terkejut. Clara seharusnya sedang dalam kondisi tidak baik untuk memberi pinjam saat ini. "Bukankah kau belum pulih?" tanya Lisya khawatir.


Clara menggeleng kecil. "Tidak. Aku cukup baik. Terima kasih untuk paman Leo yang selalu mengingatkan ku pada latihan. Lagipula, pantai adalah tempat yang ingin kau kunjungi dengan Reyhan, kan? Jadi jangan sia-siakan lagi."


Hantu itu termangu. Ia tahu bahwa kondisi Clara sebenarnya cukup sulit, tapi dia begitu memaksakan untuk terus membantu Lisya.


"Baiklah. Mari kita lakukan."


.


.


.


Tok tok


Pintu kamar Clara di ketuk. Gadis ini menapakkan kaki di lantai dan berjalan untuk membuka pintu.


Ada Reyhan dan Alice disana. Keduanya menatap Clara khawatir.


"Aku baik-baik saja," ucap Clara tersenyum kecil.


Clara memundurkan kakinya saat Alice dan Reyhan memasuki kamar itu tanpa menutup pintu kamar.


"Apa kau yakin akan memberi pinjam pada Lisya?" tanya Reyhan yang hanya dijawab anggukan oleh Clara.


"Jangan memaksakan diri Clara," sergah Alice.


"Tidak Alice. Aku baik-baik saja. Jika tidak, aku pasti akan menolak Lisya."


Alice menghela pelan. Ia tahu, ucapannya akans sia-sia. "Baiklah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu," ucap Alice menyentuh pundak Clara.


"Kau tenang aja. Aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu pada Clara," jawab Reyhan.


Clara mengangguk pada Lisya untuk memberikan isyarat. Lisya yang mengerti juga membalas anggukan Clara kemudian mulai memasuki tubuh gadis di hadapannya.


Clara terpejam. Hanya beberapa detik sampai gadis itu kembali membuka mata.


Lisya tersenyum. Ia sudah berada di tubuh Clara.


"Halo Alice. Halo Rey," sapa nya ramah dengan senyum khas Lisya.


"Apa itu kau, Lisya?" tanya Alice sedikit khawatir.


"Iya. Ini aku. Aku akan meminjam tubuh ini sebentar, aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu."


"Semoga tidak terjadi sesuatu."