
Eps. 85
"Tapi … dia tidak akan menyentuhmu, Rey. Dia tidak bisa karena kau tidak punya pintu itu," ungkap Lisya.
"Lalu kenapa kau begitu khawatir?"
Lisya terdiam terlihat memikirkan sesuatu dengan khawatir. "Mungkin kau hanya akan diganggu, itupun juga tidak mudah baginya. Tapi, Clara bisa disakiti."
Lisya menggenggam kedua tangan Reyhan penuh harap. "Jika kau melihat ada sesuatu yang aneh dengan Clara, carilah bantuan pada keluarganya. Itu jalan satu-satunya."
"Apa Arion akan menyakitiku juga aku dekat dengan Clara?"
"Tidak. Tapi Clara bisa. Clara bisa menyakitimu, seperti di pantai waktu dia mencekik mu. Aku tidak memintamu melindunginya sejauh itu, kau cukup perhatikan saja dari jauh. Jika ada sesuatu yang aneh, carilah bantuan."
Reyhan tersenyum kecil. "Kenapa kau begitu memperhatikannya?"
"Aku hanya merasa bersalah karena aku juga ikut andil kondisi Clara yang seperti ini."
"Tidak. Jangan salahkan dirimu sendiri."
"Aku juga mengkhawatirkanmu jika kau terlibat terlalu jauh," ucap Lisya terlihat resah. Ia menatap Reyhan sendu.
"Kau bilang Arion tidak akan menyakiti ku?"
"Tapi Clara bisa!"
"Jadi kau ingin aku membantunya atau tidak?" goda Reyhan.
"Rey!" rengek Lisya merasa kesal.
Reyhan terkekeh kecil dan memeluk Lisya. "Aku sudah pernah melihat Clara yang seperti itu. Jadi aku bisa lebih berhati-hati lagi."
Lisya mengurai pelukan Reyhan dan menatapnya lekat. "Dengar, lihatlah matanya, tatapannya akan berubah jika ada sesuatu yang tidak beres padanya."
.
.
.
Setelah memarkirkan sepedanya, Clara berjalan gontai dengan langkah berat menuju kelasnya. Ia akan berbelok memasuki koridor namun tiba-tiba saja segerombolan gadis yang tidak ia kenal muncul di hadapannya.
"Ini kan jal*ng nya?" tanya cewek berkulit putih menatap Clara remeh.
Pagi ini suasana hati Clara sedang buruk, ditambah para cecunguk ini menambah moodnya semakin buruk. Ia mengernyit menatap empat gadis di hadapannya tidak suka.
Namun, pagi ini masih terlalu awal untuk membuat keributan. Tidak berpikir panjang Clara berjalan menepi akan melewati mereka namun serempak gadis-gadis itu menghadang Clara.
"Heh?! Berani sekali mengabaikan kami!"
"Jal*ng!"
"Sok cantik banget sih!"
Suara umpatan demi umpatan mereka keluarkan bersahutan. Clara mendengus kesal, menatap mereka jengah.
"Mau apa kalian?"
"Kemana kau pergi dengan Reyhan kemarin sepulang sekolah?" tanya wanita kecil dengan rok diatas lutut, wajahnya cukup cantik.
"Itu bukan urusanmu!"
Bukan Clara yang menjawab. Suara laki-laki terdengar dingin dan arogan menyahuti pertanyaan siswi kecil itu.
Serempak semua menoleh ke arah kanan, Reyhan sudah berdiri disana menatap empat gadis itu dingin.
Pangeran es ini berjalan mendekat dengan aura dinginnya membuat segerombolan gadis ini kabur kalang kabut. Clara mendengus menatap mereka yang berlari menjauh saat melihat Reyhan.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya. Terima kasih. Kebetulan sekali kau datang," balas Clara tersenyum kecil.
"Apa ini sering terjadi pada mu?"
"Oh tidak. Kau tidak perlu khawatir. Hanya hari ini saja mereka datang melabrak ku."
"Syukurlah. Aku khawatir," ucap Reyhan dengan senyuman manis yang kini muncul di bibirnya.
Pandangan hantu tampan itu berubah menjadi dingin dan tajam saat beralih menatap Reyhan. Clara hanya bisa menahan nafas dengan detak jantung dua kali lebih cepat dari biasanya, saat Arion mulai mendekat. Ia bahkan sudah tidak memperdulikan apapun yang Reyhan bicarakan.
Aura hitam tipis seperti asap mulai terlihat di sekitar Arion. Saat dia sudah dekat, hantu manis bernetra hazel itu mulai mengulurkan tangannya hendak meraih Reyhan.
Secara reflek, Clara menarik tangan Reyhan dan terus menariknya pergi menjauhi Arion.
"Clara! Ada apa?" tanya Reyhan bingung masih mengikuti tarikan gadis itu.
"Clara! Hei!"
Tidak mendengarkan panggilan Reyhan karena Clara terlalu fokus pada kekhawatirannya akan Arion.
Seberapa jauh ia berlari membawa Reyhan, Arion akan sangat mudah menemukan mereka. Namun rasa takut dan khawatir, setelah perjuangan membuat Reyhan dan Lisya kembali seperti dulu lagi, akan menjadi sia-sia jika Arion–
"Hei!"
Langkah Clara terhenti, saat ia merasakan tarikan di tangannya membawa Clara berhadapan langsung dengan Reyhan. Laki-laki itu bahkan sudah memegang erat kedua bahu Clara.
Clara kembali tersadar dari pikiran kalutnya saat itu, ia menatap wajah Reyhan yang sangat dekat dengan wajahnya. Laki-laki di hadapannya terlihat khawatir.
"Tenang … tenanglah oke?"
Reyhan tidak mengerti. Hanya Clara yang tahu apa yang terjadi saat ini. "Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan!" ungkap Clara dengan kening berkerut.
"Apa Arion mengganggumu?"
Clara termangu. Apakah Reyhan tahu sesuatu?
"Apa– apa kau bisa melihat–"
"Tidak." Ucapan Clara terpotong oleh Reyhan yang terkekeh kecil.
"Aku tidak bisa melihat hantu atau apapun itu. Jadi jangan khawatir oke? Jangan panik, aku ada bersama mu."
Itu tidak membantu. Clara sedikit menundukkan kepalanya mencoba berpikir, di liriknya suasana di sekitar mereka. Arion tidak mengejar.
"Baiklah," jawab Clara mulai tenang.
"Masuklah ke kelasmu, kita bertemu saat jam istirahat," suruh Reyhan.
Clara mengangguk kecil dan Reyhan pergi setelah berpamitan.
"Romantis sekali. Aku cemburu," suara laki-laki yang familiar itu tiba-tiba terdengar.
Clara berbalik cepat melihat Arion yang sedang cemberut bersandar pada dinding dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Hantu tampan itu melepas lipatan tangannya, kemudian berdiri dan berjalan mendekati Clara yang terlihat rumit.
"Apa kau pikir bisa lari dari ku? Kemanapun kau membawanya, aku akan menemukan dan menghancurkannya," ancam Arion.
"Apa maumu?" bisik menatap Arion marah. Deru nafasnya juga meningkat.
"Kau tahu yang ku mau, Sayang."
"Baiklah. Aku tidak akan menutup pintu itu. Tapi berjanjilah kau tidak akan pernah menyentuh Reyhan," final Clara.
"Hmm… penawaran bagus, tapi akan ku pikirkan lagi."
"Arion!" geram Clara menahan marah dan nadanya agar tidak terdengar oleh yang lain.
Arion tersenyum begitu manis berjalan mengikis jarak dengan Clara perlahan. "Aku tidak akan menyentuhnya asal kau tidak menutup pintu itu untukku, dan satu hal lagi… jangan mendorongku untuk menjauh," ucapnya begitu lembut sirat akan kedekatan.
Clara mendengus dan tertawa hambar. "Brengsek!" umpatnya tertahan.
"Jangan membuat ku marah atau kesepakatan ini akan batal, Sayang. Kau tahu aku ingin memiliki mu, dan kau juga menyukai ku, kan? Kenapa kau suka sekali mempersulit?"
Gadis ini sangat tahu bahwa Arion hanya ingin memiliki tubuhnya, dan perasaan Clara bukanlah perasaan yang sebenarnya. Jika saja ia menemui Leo lebih cepat, tentu situasinya tidak akan seperti ini. Clara menyesal, telah menunda datang ke Leo.
"Baik. Aku juga punya satu syarat tambahan. Jangan muncul dihadapan ku saat Reyhan ada di sekitarku," balas Clara dingin.
Arion menatap Clara dingin dan tidak suka. Gadis itu sungguh pandai membuat hantu itu marah.
"Yah. Terserah kau saja," ucapnya datar lalu pergi meninggalkan Clara.
"Clara? Sedang apa disitu?" tanya Alice. Yang baru saja datang.