You Saw Me?!

You Saw Me?!
Kecurigaan



Eps. 20


Satu minggu berlalu. Setelah kejadian itu, Clara kembali mendapat ceramah dari Harumi. Ia harus mengarang sebuah cerita agar Harumi percaya dan tidak mencurigai kejadian aneh yang terjadi karena ulah Lisya.


“Luka nya benar-benar sudah sembuh,” ujar Dita berbinar melihat bekas luka di tangan Clara yang hampir memudar.


“Beruntung luka nya tidak meninggalkan bekas,” tambah Alice.


“Ya, beruntung sekali luka ku tidak meninggalkan bekas,” kata Clara santai namun terkesan mencibir. Lisya hanya tertawa kaku.


Menyadari perubahan nada bicara Clara, Alice dan Dita bertatapan sekilas lalu kembali bertanya, “Kenapa?”


Clara sedikit terkesiap lalu tersenyum hambar. “Tidak."


“Beruntung sekali tante Harumi tidak cerewet, andaikan itu ibu ku, aku pasti mendapat ceramah satu jam penuh,” ujar Dita dengan bertopang dagu menghadap Clara.


Clara mendengus, tersenyum sinis. “Siapa bilang? Ceramah mama memang singkat, tapi bagiku terdengar seperti ancaman, ugh,” sanggah Clara.


“Clara, siapa Harumi? Seperti nama orang jepang,” tanya Lisya di tengah-tengah percakapan mereka.


Mendengar pertanyaan Lisya yang sedang berdiri di sebelahnya, Clara hanya meliriknya sekilas lalu menutupi mulutnya untuk bergumam, “Itu nama ibu ku. Ibu ku berdarah campuran, kakek ku asli Indonesia dan nenek ku keturunan Jepang.”


Clara menjelaskan dengan gumaman yang sangat pelan, yang hanya bisa didengar oleh Lisya dan Clara sendiri. Lisya adalah hantu, gumaman kecil masih bisa ia dengar.


Lisya mengangguk mengerti. “Lalu, apa kau sudah ada rencana untuk berbicara dengan Rey?” tanya Lisya.


Clara menopang dagunya di atas meja kemudian menghela pelan, membuat kedua temannya kembali menoleh serempak menghadap Clara.


Bisakah hantu cantik ini tidak berbicara saat ada orang lain disekitarnya?


Dan pertanyaan Lisya kali ini sudah terlalu sering ia dengar.


“Ada apa?” tanya Dita.


“Hm…? tidak ada…,” jawab Clara lesu.


Memikirkan bagaimana cara berbicara dengan orang yang jelas tidak menyukainya, sungguh menguji mental.


Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana tatapan dingin, marah dan benci yang Reyhan lemparkan padanya. Ia bahkan tidak tahu apa yang membuat manusia es itu tidak menyukainya.


Uuugh menyebalkan! Kenapa malah merepotkan begini!


Apa ku batalkan saja niatku?


Sekali lagi, Clara menghela berat. Clara masih mencoba berbicara, tapi Reyhan sudah melemparkan panah seolah ingin melenyapkan Clara dari hadapannya.


Tapi membatalkan niat untuk membantu Lisya, rasanya akan benar-benar membuat hantu manis itu kecewa.


Rasanya aku ingin menghilang saja!


Clara mendongak, menatap kedua temannya yang sedang berbincang-bincang ringan, mungkin meminta masukan pada mereka akan membantu mengurangi beban di pikirannya.


Namun, saat hendak memanggil keduanya, ingatan Clara saat ia duduk di bangku SD tiba-tiba kembali berputar dibenaknya.


“Apa? Kau bisa melihat hantu?” tanya sinis seorang laki-laki kecil yang duduk di depan bangku Clara.


Clara mengangguk. “Iya, mereka menggangguku!” jawab Clara antusias.


Laki-laki kecil di depan itu tertawa mengejek. “Kau jangan bohong, aku saja tidak pernah melihat hantu. Orang tua ku juga bilang, hantu itu tidak ada!”


“Aku tidak bohong, mereka benar-benar ada!” tegas Clara.


“Tapi di tv, hantu itu ada,” sahut teman perempuan sebangku Clara.


“Kau terlalu banyak melihat tv,” cibir laki-laki kecil tadi.


“Aku juga tidak percaya kalau mereka benar-benar ada,” sambung laki-laki sawo matang, teman sebangku dari laki-laki kecil di depan Clara.


Clara mengernyitkan keningnya, menatap mereka tidak suka. “Aku tidak bohong!”


“Kalau kau benar-benar bisa melihat hantu, bisakah kau tunjukkan pada kami di kelas ini, di mana mereka berada?” tanya laki-laki kecil itu lagi.


Clara memilih diam. Ia bergeming, hanya menatap marah pada kedua teman di depannya.


“Clara, apa mungkin kau terlalu sering melihat film hantu?” ejek mereka.


Teman-teman di sekitar Clara kembali melanjutkan gurauan mereka tentang hantu yang menurut mereka hanya tahayul. Sedangkan Clara mengalihkan fokusnya pada buku yang ada hadapannya. Memang berbicara pada orang yang tidak pernah mengalaminya hanya akan sia-sia saja.


“Kenapa melamun?” tanya Alice membangunkan Clara dari lamunannya.


“Oh… aku haus, ayo ke kantin.” Clara menarik kedua tangan temannya untuk mengikutinya ke kantin.


“Clara, masih pagi!” keluh Dita.


Masih setia menarik tangan Alice dan Dita, Clara tidak memperdulikan protes yang keduanya ajukan. “Sudah, ikut saja sebentar.”


Aku tidak bisa menceritakannya pada mereka. Aku takut mereka akan menolakku.


Setibanya di kantin, Clara meninggalkan kedua temannya yang duduk di meja kantin, sedangkan ia tengah mengambil air mineral dingin yang ada di lemari pendingin.


Setelah membayar minumannya, Clara membuka tutup botol lalu diteguknya air mineral itu dengan gelisah.


“Minumnya pelan-pelan,” kata Lisya mengingatkan.


"Apa yang harus aku lakukan… ayo berpikir Clara, berpikir!!" gumam Clara pelan sedikit menghentak-hentakkan tangannya.


"Hei, santai saja," peringat Lisya mencoba menenangkan.


Seberapa keras Clara berpikir belakangan ini, ide cemerlang enggan muncul di kepalanya.


Memilih menyerah untuk saat ini, Clara berjalan mendekati kedua temannya yang sedang duduk berbincang-bincang.


“Kabarnya… Cici sedang melakukan pendekatan pada Brian di kelas sebelah loh, katanya bla bla bla bla…” Dita melanjutkan info yang dia dengar, membahasnya dengan Alice.


Clara membiarkan saja keduanya membahas gosip tentang Cici yang berusaha mendekati Brian. Sedangkan dirinya sibuk memikirkan bagaimana cara agar Reyhan mau mendengarkan pesan Lisya.


“Memang dengan pendekatan akan lebih baik daripada langsung mengatakannya begitu saja,” gumam Alice menanggapi cerita Dita.


“Itu dia!!” ujar Clara tiba-tiba sedikit menggebrak meja, membuat Dita, Alice dan Lisya menoleh serempak menatapnya.


“Ka-kau benar sekali Alice, pendekatan akan lebih baik daripada langsung menyatakannya, haha,” kata Clara tertawa canggung kala tiga pasang mata menatapnya heran.


“Kau kenapa sih?! ayo kembali ke kelas, sebentar lagi bel masuk berbunyi,” ajak Dita.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Lisya pada Clara yang sudah berjalan bersama Alice dan Dita.


“Hmm… aku sedang memikirkan sesuatu,” gumam Clara pelan.


Berjalan sembari berpikir membuat Clara tidak sadar memelankan langkahnya. Sekarang Ia sedang berjalan di belakang Alice dan Dita.


“Tentang rencana kita berbicara pada Rey?” tanya Lisya memastikan.


Clara menoleh dan memberikan ancungan jempol kanannya pada Lisya. Ia tersenyum dengan mantap bahwa rencananya akan berhasil.


Di sisi lain tanpa Clara sadari, Alice dan Dita sedang membicarakan Clara yang akhir-akhir ini sering bertingkah aneh.


“Apa kau sadar akhir-akhir ini Clara bersikap aneh?” tanya Alice sedikit berbisik.


“Benar kan? Ternyata bukan aku saja yang merasakannya,” sahut Dita.


“Hmm…, lihat saja tingkahnya di kelas dan di kantin,” ujar Alice.


Mereka berdua menghentikan langkah dan memutar tubuhnya, melihat Clara yang sedang tersenyum dan mengacungkan jempolnya semangat, ke arah samping yang tidak ada apapun di sana.


Serempak Alice dan Dita mengangkat sebelah alis mereka.


“Sedang apa?” tanya Alice.


Clara terlonjak dan menormalkan sikapnya menatap keduanya salah tingkah.


“A-aaahh tidak ada, haha… aku sedang berimajinasi,” ucap Clara asal menirukan gerakan Sponge si kuning, “ayo kembali ke kelas,” ajak Clara bersikap senormal mungkin.


Clara berjalan cepat mendahului Alice dan Dita, ia lupa jika berbicara bebas dengan Lisya akan menarik perhatian yang lain. Ia harus lebih hati-hati.


“Kenapa tidak kau beritahu saja keberadaan ku pada mereka, bukankah mereka teman-teman mu?” tanya Lisya yang setia mengekor di sebelah Clara.


“Big No," bisik Clara, “Hei, cepatlah,” ucap Clara pada menoleh kebelakang detik setelah bel jam masuk berbunyi.