
Eps. 105
"Apa kau ingat saat kita bermalam di pantai bersama dengan Reyhan?" tanya Alice yang hanya diangguki oleh Clara dengan wajah penasaran.
"Sebelum Lisya pergi, kami banyak bercerita dengannya. Dia juga menghabiskan banyak waktunya untuk kami, bercerita segala hal tentangnya, kamu dan Reyhan.
Dia bercerita bahwa dia memang tidak menyukai perempuan yang mendekati dan mencoba mengambil Reyhan darinya. Tapi …" ucapan Alice menggantung, gadis ini menerawang kembali pada saat Lisya mencurahkan hatinya kala di pantai saat itu.
"Aku tahu Clara tulus membantuku. Dia bahkan rela membantuku dengan segala resikonya. Aku tidak tahu kalau tubuh Clara disukai begitu banyak hantu jahat. Jika aku tahu itu akan terjadi, aku tidak akan memasuki tubuhnya. Dia bisa saja tidak selamat," ucap Lisya sedikit tertunduk.
Lisya mendongak dan tersenyum kecil. Wajahnya terlihat begitu banyak memikirkan sesuatu.
"Aku tahu Clara menyukai Reyhan, tapi dia pasti akan menolak perasaannya karena dia sungkan pada ku. Bantulah dia, aku tidak masalah jika itu Clara. Aku bisa merasakan semua perasaan Clara dalam tubuhnya, seolah aku sudah mengambil tubuh miliknya," ucap Lisya panjang lebar.
"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Dita terharu.
"Aku? Hei, aku sudah mati. Jika aku terlalu lama disini, aku akan serakah. Dan mungkin tidak akan mau pergi dari sini," ucapnya tersenyum lebar.
Clara tertunduk miris. Ia merasa begitu bodoh setelah mendengar cerita yang Alice katakan.
"Sebenarnya … Reyhan juga mengatakan jika Lisya menginginkan Reyhan bersama ku–"
"Dan kau tidak mempercayainya?" potong Alice datar terkesan mencibir.
"Eemm–"
"Bodoh!" potongnya lagi lebih sarkas.
"Alice–"
"Keras kepala!"
"Itu–"
"Benar-benar gadis bodoh yang keras kepala!"
"Aliice," rengek Clara mencebikkan bibirnya. "Aku tahu aku memang bodoh. Lalu kenapa kau tidak mengatakannya pada ku sedari awal?" omel Clara setengah merengek.
Alice tidak menjawab. Teman baiknya ini hanya menatap datar cenderung sinis pada Clara.
Clara tersentak seolah ada batu yang menimpa kepalanya. Ia ingat saat Alice dan Dita yang terus mencoba mengatakan sesuatu tapi ia tidak mau mendengarkan terlebih dulu dan memilih menutup telinga tentang apapun yang berkaitan dengan Reyhan.
Clara tersenyum canggung menyadari kebodohannya sendiri. Andai saja ia mau membuka pikirannya saat itu, mungkin rasanya tidak akan sesakit yang Clara rasakan.
"Tapi Alice … apa Reyhan masih memikirkan ku?" tanya Clara sedih.
"Aku menyesal tidak percaya padanya karena terlalu memikirkan perasaan Lisya. Aku bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaannya yang juga terluka," sesal Clara.
Alice menghela pelan. "Selesaikan saja skripsimu, lalu ayo pulang setelah wisuda. Kau hanya perlu berusaha. Kita tidak tahu Reyhan sudah memiliki kekasih atau tidak, tapi tidak ada salahnya mencoba."
Clara terdiam menatap Alice, melihat temannya dengan terharu. Ia mengangguk cepat.
Rasa penat dan frustasi karena kurang tidur mengerjakan skripsi, kini hilang begitu saja. Semangat Clara kembali penuh setelah rencana menemui Reyhan sebentar lagi. Dalam hati Clara sangat berharap, semoga Reyhan masih belum memiliki kekasih, dan laki-laki itu masih memiliki perasaan padanya. Semoga saja. Karena jika Reyhan sudah memiliki orang lain dihatinya. Clara tidak tahu bagaimana lagi caranya menyembuhkan hatinya itu.
.
.
.
Pintu sudah tertutup. Clara berdiri di pintu luar dengan wajah senyum berseri. Ia begitu bahagia karena skripsinya sudah selesai disidang. Ia hanya perlu merevisi sedikit dan bisa mengikuti wisuda.
"Yes! Syukurlah!" ucap Clara senang namun masih menahan intonasinya.
Clara melangkah setengah berlari dengan wajah bahagianya. Tidak lama, ia dikejutkan dengan seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya. Hampir saja ia menabraknya.
"Clara," sapa laki-laki bertubuh tinggi proporsional itu. Wajah putih dengan rambut hitam pendek, bulu mata lentik dengan manik mata hitam, tengah tersenyum begitu teduh pada Clara.
"Ah … hai Kak Brian," sapa Clara pada laki-laki putih berhidung mancung itu. Dia begitu tampan, meski Reyhan masih jauh lebih tampan.
Astaga Clara, berhentilah memikirkan Reyhan!
"Hei … apa kau sedang terburu-buru?" tanya Brian dengan senyum manis itu. Laki-laki itu memang manis, berbeda dengan Reyhan yang dingin pada wanita. Brian adalah laki-laki murah senyum yang ramah pada semua orang.
"Tidak Kak, memangnya kenapa?"
"Mau menemaniku makan? Aku yang traktir."
Clara tersenyum lebar. "Tentu."
Clara memang begitu menyukai laki-laki ramah ini. Mereka saling mengenal sejak semester lima saat Brian masuk di kelasnya setelah cuti karena pekerjaan. Keduanya cukup dekat, Brian yang merupakan kapten basket di kampusnya sering membantu Clara dalam banyak hal.
Keduanya sudah duduk di cafe terkenal dekat kampus dan memesan makanan di sana. Brian begitu enak diajak bicara. Pembicaraan dengannya mengalir begitu saja tentang apapun yang mereka bahas.
Clara tak lupa menceritakan skripsinya yang sudah selesai dan menunggu wisuda dengan semangat. Ternyata Brian juga wisuda di waktu yang sama dengan Clara.
"Hei .. Bolehkan aku menanyakan sesuatu?" tanya Brian tiba-tiba serius.
"Tentu, Kak," jawab Clara kemudian memasukkan es krim ke dalam mulutnya.
"Maukah kau menjadi pacarku?"
Uhuk Uhuk
Clara mengelap mulutnya dengan tissue kemudian meneguk air mineralnya cepat.
"Hei, makanlah pelan-pelan," suruh Brian. Clara tersenyum canggung.
Hening. Clara begitu canggung dan juga salah tingkah. Ia tidak tahu kenapa Brian tiba-tiba saja menyatakan perasaannya padahal selama ini sepertinya tidak ada sinyal sama sekali dari laki-laki tampan itu.
"Clara …," panggil Brian membuat Clara mendongak.
Laki-laki itu memandang Clara lekat, seolah meminta jawaban.
Hati Clara begitu ngilu. Ia menatap iba pada laki-laki itu. Kenapa dari sekian banyak wanita cantik yang mendekatinya, ia memilih Clara yang bahkan tidak berniat untuk berdandan karena Reyhan.
Kenangan menolak Reyhan yang begitu menyakitkan kembali Clara ingat. Brian pasti sangat sakit jika Clara tolak. Tapi apa boleh buat, senior nya itu pantas mendapat wanita yang lebih baik.
"Maaf Kak … aku sudah punya orang yang ku suka."