
Eps. 29
Reyhan berjalan di koridor menuju kelasnya. Entah ada apa hari ini ia berangkat lebih pagi dari biasanya. Suasana sekolah masih cukup sepi, hanya segelintir murid yang terlihat datang memasuki sekolah.
Semilir angin masih terasa dingin, cahaya matahari masih belum sepenuhnya terlihat karena tertutup oleh gedung sekolah.
Reyhan melangkahkan kakinya memasuki kelas, hanya tiga orang yang terlihat sudah berada di dalam kelas. Ia menduduki kursi nya setelah meletakkan tas ransel nya di atas bangku.
Seperti biasanya, ia merogoh kolong bangku, mendapatkan sebuah surat berwarna orange pudar. Hari ini tumben hanya satu, selama ini setiap kali Reyhan mengecek kolong mejanya, minimal ada beberapa surat tergeletak disana.
Kadang ada bunga atau coklat yang bertumpuk. Reyhan tidak akan memakannya, ia hanya akan memberikan benda tidak berguna itu pada teman-temannya.
Tidak begitu penasaran, Reyhan membaca identitas pengirim surat, ‘Penggemar Rahasia’ membuatnya tersenyum sinis.
Kepada : Reyhan.
Halo Rey, mungkin kau tidak mengenalku… tapi aku sudah cukup lama memperhatikanmu. Aku hanya ingin menyampaikan, anak perempuan yang selalu memperhatikan mu itu ingin melihat mu bahagia… dan melihatmu tersenyum. Semua kejadian bukan hanya karena kesalahan… bla bla bla
Bla bla bla
Belum habis membaca, Reyhan sudah melipat dan memasukkan kembali surat itu pada amplopnya. Ia berjalan menuju tempat sampah lalu membuangnya setelah menyobeknya menjadi bagian-bagian kecil, agar tidak ada yang membacanya.
“Aku tidak suka puisi,” gumam Reyhan datar kemudian kembali berjalan menuju bangkunya.
.
.
.
“Dibuang lagi?” tanya Clara setelah mendengar penuturan Lisya. Lisya mengangguk putus asa.
“Di buang?”
“Apanya di buang?”
Tanya Alice dan Dita bergantian. Clara menoleh ke arah Dita dan Alice, ”Reyhan pikir surat itu hanya puisi,” kata Clara tak habis pikir.
“Kita tulis langsung pada intinya, dia tidak mau membaca. Kita tulis mencoba menyembunyikan Lisya, dia juga tidak mau membacanya. Kita harus membuat dia mendengarkanmu Clara, itu jalan satu-satunya,” final Alice.
“Apa kita coba saja mengubah isi nya sekali lagi, lalu meminta bantuan orang lain untuk memberikannya pada Reyhan,” ujar Dita memberi saran.
“Mungkin surat itu akan sampai pada Reyhan, tapi tetap saja dia tidak akan mau membacanya,” sanggah Alice.
Alice dan Dita meneruskan perbincangannya saling bertukar pendapat, sedangkan Lisya dan Clara hanya diam memperhatikan mereka berdua.
“Ada apa Lisya?” lirih Clara saat melihat perubahan ekspresi pada Lisya.
Lisya menggeleng singkat dengan tersenyum lemah. “Aku tidak tahu ternyata kau memiliki teman-teman yang sangat baik,” kata Lisya menatap Dita dan Alice yang masih tampak serius berpikir. Clara mengalihkan pandangannya, menatap kedua sahabatnya.
“Mereka benar-benar memikirkan bagaimana cara menolong ku, padahal mereka tidak begitu mengenal ku,” gumam Lisya tersenyum sendu.
“Kita culik saja dia, kita dudukkan dia di kursi lalu ikat dia kuat-kuat agar tidak melarikan diri. Kita juga harus menutup mulutnya agar tidak berisik dan mau mendengarkan Lisya dan Clara selama lima menit,” tutur Dita tiba-tiba mengurangi suasana tegang yang ada.
Alice, Clara dan Lisya terkekeh kecil. “Kenapa? Hanya lima menit saja kan? Itu sangat singkat dan semua akan selesai,” tambah Dita, membuat yang lain semakin terkekeh keras.
Dita mendengus. “Apanya yang lucu!” kesal Dita.
“Hahaha, maaf, maaf…,” ucap Clara menormalkan ekspresinya.
“Bagaimana kalau kita memintanya baik-baik pada dia?” tanya Alice.
“Maksudnya?”
“Kau lihat dia benar-benar menghindari ku kan Alice?” tanya Clara mengingatkan.
“Maksud ku, bilang pada nya untuk meminta waktunya lima menit saja. Dia cukup diam mendengarkan mu kemudian dia boleh pergi setelah itu. Dan satu hal lagi, kau bilang saja tidak akan mengganggunya lagi setelah itu,”tutur Alice.
“Bagaimana jika Rey sudah mendengarkan ku tapi dia masih belum berubah?” tanya Lisya tampak resah. Clara menyampaikan pertanyaan Lisya pada kedua temannya.
“Kita pikirkan itu nanti, ini hanya cara untuk memancingnya agar dia mau mendengarkan kita, kalau itu tidak berhasil, kita pikirkan rencana B,” jawab Alice lagi.
Mereka terdiam, serentak memikirkan rencana Alice.
“Kita coba saja Clara,” ucap Lisya kemudian disanggupi oleh Clara.
.
.
.
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar memenuhi kantin. Reyhan duduk dengan tiga orang temannya masih dengan santai menyantap makanan mereka yang hampir habis.
Ketenangan itu sirna saat Reyhan hampir saja tersedak kala seorang perempuan tiba-tiba saja datang menghampirinya.
Eros dan yang lainnya tersenyum penuh minat, melihat Clara dan Reyhan bergantian. Eros menoleh berpandangan dengan Aldio dan seorang teman lainnya.
“Boleh.”
“Tentu saja boleh.”
“Silahkan, sebentar lagi kami juga selesai,” jawab Eros tersenyum penuh makna menatap Reyhan.
Dengan sedikit kasar, Reyhan meletakkan gelas kosong yang telah habis ia minum, untuk menetralkan batuknya akibat ulah Clara. Ia memicing tak suka. Reyhan beranggapan, dengan memberinya ancaman wanita ini tidak akan berani mengganggunya lagi.
Namun ternyata salah, ia paham bahwa surat yang mengatasnamakan Lisya itu adalah surat yang wanita keras kepala ini buat.
“Katakan sekarang,” datar Reyhan mendecak kesal.
“Kau mau mereka mendengarkan semua nya?” ancam Clara tak kalah datar.
Lisya yang melihatnya hanya membekap mulut dengan kedua tangannya. Ia tahu bahwa Clara mencoba bertingkah sedatar mungkin, meskipun kini badannya tengah gemetaran yang mungkin dengan degup jantung yang tak mau tenang.
“Ayo pergi,” ucap Aldio kemudian beranjak pergi diikuti kedua teman lainnya.
Tidak pergi dengan damai, kawan-kawannya itu masih sempat memberi semangat dan guyonan pada Reyhan sebelum mereka benar-benar pergi.
Reyhan ingin menghentikan teman-temannya namun ia urungkan karena tampaknya akan sia-sia. Mereka hanya melihat Clara sebagai wanita yang sangat tertarik padanya, bukan dengan hal lain.
Tanpa dipersilahkan, dengan lancangnya Clara mendudukkan diri nya di kursi tepat di samping Reyhan. “Dengar… sekarang aku tidak akan mengatakan apapun, aku hanya ingin membuat kesepakatan dengan mu terlebih dahulu,” kata Clara biasa.
“Aku tidak akan memberikan kesepakatan apapun denganmu,” sinis Reyhan, terlihat sangat tidak suka melihat Clara.
“Kalau begitu aku akan mengganggumu sampai kau memberikan kesepakatan itu pada ku,” kata Clara berhasil membuat rahang Reyhan mengeras.
“Beri aku waktu sepuluh menit untuk bicara. Kau hanya perlu diam dan mendengarkan, setelah itu kau boleh pergi… dan aku tidak akan mengganggumu lagi,” ucap Clara memberi penekanan di akhir kalimat.
Hanya bergeming, Reyhan tidak menjawab ucapan Clara. Perasaannya hari ini benar-benar jengah, tidak ada kata tenang saat wanita ini muncul.
“Apa kata-kata mu bisa dipercaya?” tanya Reyhan tidak mempercayai Clara.
“Tentu.”
Sekali lagi Reyhan kembali terdiam, terlihat berpikir sesaat lalu berkata, “Lima menit. Hanya lima menit.”
“Baiklah lima menit. Ku tunggu kau sepulang sekolah di belakang gedung praktikum. Jika kau tidak memenuhi janji mu, aku akan terus mengganggumu,” ancam Clara dengan seringai tipisnya.
Ada apa dengan wanita ini, hanya dia saja yang berani mengancam Reyhan seperti ini.
“Kalau jaminannya adalah kau tidak akan mengusikku lagi, aku tidak akan lari,” dingin Reyhan menatap Clara tajam.
“Bagus.” Clara berdiri dari kursi lalu beranjak meninggalkan Reyhan.
Dengan tangan terkepal, Reyhan menatap kepergian Clara yang berjalan dengan angkuhnya.
.
.
Jam pulang sekolah tiba, Clara dan teman-temannya sudah bersiap-siap untuk pergi menuju belakang gedung praktikum.
“Kau pergilah, kami akan menunggu mu di sini,” kata Alice menyemangati Clara.
Kini mereka sedang berdiri di samping gedung praktikum. Clara dan Lisya akan menemui Reyhan, sedangkan kedua temannya akan berjaga-jaga menunggu di tempat ini jika sesuatu tidak diinginkan terjadi.
“Jangan sampai Reyhan melihat kalian,” kata Clara gugup. “Ini akan cepat selesai, bantu aku jika ada masalah,” tambah Clara yang diangguki Alice dan Dita.
Dengan jantung yang berdegup kencang dan tangan yang sudah mulai dingin, Clara berjalan menuju belakang gedung praktikum diikuti Lisya yang berjalan di sebelahnya.
“Clara… aku gugup,” ujar Lisya.
“Aku lebih gugup Lisya,” sanggah Clara. Langkah Clara terhenti saat mereka sudah sampai di belakang gedung. Reyhan belum datang, ia berharap pangeran es itu akan segera datang dan tugasnya akan selesai sampai disini.
“Lisya, dengar… aku tidak pandai berbicara, aku hanya bisa bicara langsung pada intinya,” kata Clara mengakui.
“Tidak masalah Clara, kau cukup sampaikan apa yang aku katakan, itu saja.”
Merasakan seseorang mendekat, tatapan Lisya beralih pada sosok Reyhan yang berjalan dengan menggendong ransel miliknya.
“Clara, bersiaplah… Rey sudah datang.”
Clara menelan ludahnya susah payah, tiba-tiba saja tenggorokan Clara menjadi kering dan sialnya Clara tidak membawa air untuk diminum.
Sosok rupawan itu sedang berjalan mendekat. Bukan dengan aura bersahabat.
Hanya menyampaikan pesan lima menit saja sudah mampu membuat Clara gugup setengah mati. Ia meremas rok abu-abunya untuk menenangkan rasa gugup dan degup jantungnya yang kini sudah meningkat.
"Cepat katakan!" suruh Reyhan begitu menginjakkan kaki satu meter di depan Clara.