You Saw Me?!

You Saw Me?!
Pilihan terakhir



Eps. 49


Ceklek


Pintu terbuka menampakkan seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya.


"Clara, ayo masuk. Paman sudah menunggu mu," ucap Leo ramah. Paman tampan ini berjalan masuk diikuti Clara di belakangnya.


Tidak berkata apapun, tidak ada senyuman di wajahnya. Pikiran Clara tiba-tiba kosong, ia hanya berjalan seperti robot dan duduk begitu saja di depan Leo.


Perasaan Clara tiba-tiba hambar. Ia tidak tahu seperti apa wajahnya kini, wanita ini hanya diam sedikit menunduk.


Sesekali melirik, menatap Leo yang terlihat tersenyum lembut namun menatap Clara penuh arti. Tatapan apa itu? Mata pamannya ini terlihat sedang menilai.


Samar-samar Clara mendengar suara Leo tapi ia tidak paham apa yang sedang diucapkan pamannya itu. Ia hanya menatap kosong wajah laki-laki dewasa di depannya. Wajah leo tampak buram tapi ia tahu dengan jelas itu adalah pamannya.


Clara kembali menunduk, dengan perasaan hambar dan tumpul, tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Ia bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba saja perasaannya seperti ini setelah bertemu dengan Leo.


Tidak lama, beberapa detik setelahnya pandangan Clara menjadi jelas, pikirannya kembali, dan perasaan hambar itu hilang.


Wanita berambut hitam itu mendongak, menatap Leo yang sedang berjongkok di hadapannya dengan senyuman lembut miliknya. Tangan kiri pamannya sedang bertengger lembut di pucuk kepala Clara, memberi kehangatan disana.


Entah ada angin apa, perasaan sedih yang begitu dalam merasuk begitu saja ke hati Clara. Wajahnya memanas, ia menahan sekuat tenaga agar tidak menangis dan sapuan lembut di pucuk kepalanya mengalahkan pertahanan Clara.


Air mata itu jatuh begitu deras, Clara menangis sejadi-jadi nya. Leo masih setia berjongkok di depan keponakannya ini.


Dengan kedua tangannya Clara menutupi wajahnya, membiarkannya menangis menumpahkan segala perasaan tidak nyaman yang selama ini ia pendam.


Satu jam berlalu. Clara mematikan kran air setelah membasuh mukanya agar lebih segar.


"Sudah tenang?" tanya Leo pada Clara yang baru saja mengambil duduk di depannya.


"Hmm," deham Clara.


Leo terkekeh kecil. "Kenapa kau menangis?"


Seumur hidup Clara tidak pernah menangis seperti ini di depan orang tuanya kecuali saat hantu jahat mencoba mengambil alih tubuhnya, tapi kali ini Clara menangis tanpa menahan apapun di depan paman yang tidak ada hubungan darah.


Leo adalah teman baik Harumi, namun pria ini telah menganggap Clara seperti keponakan sendiri.


Clara mengalihkan pandangannya merasa malu, semburat merah sedikit terlihat di pipinya.


"Aku juga tidak tahu Paman. Tiba-tiba saja aku ingin menangis saat Paman menyentuh kepalaku. Apa yang Paman lakukan pada ku?" tanya Clara curiga dengan bibir dimajukan satu senti.


Leo tertawa renyah menatap Clara membuat gadis kecil ini semakin malu. Ia tahu bahwa Leo bukanlah orang sembarangan, ia bahkan bisa menutup pintu masuk yang susah sekali Clara jaga.


"Paman hanya membuang sesuatu yang menempel pada mu."


Sedikit banyak Clara mengerti, mungkin ia tidak harus menceritakan semua pada Leo. Bukan karena Leo sudah mengerti segalanya, tapi Clara hanya takut dimarahi.


" Kenapa kau bermain-main dengan mereka?"


DEG


Tubuh Clara bergeming seketika. "A-aku tidak–" Mulut Clara tertutup rapat melihat wajah Leo.


Wajah tampan dengan senyum tipis dan mata tajam kini sedang menatap Clara. Berbeda dengan harumi yang tersenyum sangat lembut saat marah, senyuman Leo hanya terukir tipis namun tatapan mata itu begitu mengintimidasi.


Clara menunduk takut. Aura macam apa yang ia rasakan saat ini. "Ma-maaf Paman."


"Tidak perlu meminta maaf pada ku. Semua sudah terjadi. Aku hanya khawatir kau terbawa terlalu dalam."


Clara meremas celananya erat. Leo yang sedang bad mood lebih menyeramkan dari Mamanya. Kemana paman dengan senyuman lembut tadi?


Deg deg deg.


Oh Tuhan. Habislah aku.


"Tenanglah Sayang."


Clara tersentak. Ia memberanikan diri menatap Leo. Raut wajahnya masih tidak berubah, tapi ia tahu pamannya tidak semenakutkan itu.


"Dengar. Perasaan mu hanyalah ilusi. Jangan ikuti itu. Kau menangis seperti itu karena semua sentuhan yang kau lakukan."


JLEB


Hati Clara seolah tertusuk benda tajam. Tapi tidak berdarah. Benar, Leo seolah tahu semuanya.


"Perasaan yang kau rasakan itu adalah palsu, ingat itu baik-baik. Memang berat melawannya tapi kau harus tetap sadar. Jika kau terbawa, selesailah semua. Alihkan pada hal lain. Jika kau menemui kesulitan, datanglah pada ku."


"Apa ada cara untuk menutupnya Paman?"


"Ada. Tapi tidak akan semudah seperti saat kau kecil dulu. Ada efek yang tidak begitu nyaman, kau harus istirahat setelahnya. Jadi, persiapkan dirimu. Saat kau sudah siap, datanglah pada ku. Lebih cepat lebih baik." 


Leo menatap Clara sekilas kemudian kembali berbicara. "Kau akan kehilangan kontrol emosi mu jika kau terus terlibat terlalu dalam. Apa kau sadar amarahmu tidak stabil akhir-akhir ini? Amarahmu bisa saja tidak terkendali, kau akan sulit mengambil keputusan dengan kepala dingin. Dan kau akan sering terbawa perasaan. Jadi alihkan semuanya, cari kesibukan."


Clara menunduk. Mencerna apa yang Leo jelaskan. Benar. Satu-satunya jalan adalah menutupnya. Dan semua akan kembali normal.


"Clara, lawan perasaan itu. Itu adalah pertarungan mu."


.


.


.


"Jadi kau akan menutupnya?" tanya Lisya. Hantu ini tampak sedih, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Clara dengan ponsel yang sudah menempel di telinga nya. Ia menatap Lisya bingung.


"Ah, tidak apa-apa. Aku ikut senang akhirnya dengan begini semua akan kembali normal untuk mu. Maaf ya sudah membuatmu kesulitan seperti ini," jawab Lisya dengan senyum yang terlihat dipaksakan di mata Clara.


Gadis ini hanya diam duduk dibangku taman, menatap ke arah Lisya yang terlihat tidak senang mendengar berita itu.


"Aku…," ucap Lisya ragu. "Aku hanya sedih. Kaulah satu-satunya teman yang bisa aku ajak bicara. Bahkan… saat aku hidup pun, aku tidak memiliki teman sepertimu. Kaulah satu-satunya teman yang mau bersama ku apa adanya."


GYUT


Sesuatu berdenyut sakit di hati Clara. Kenapa Lisya terlihat sangat sedih? Mungkin ini yang Reyhan maksud waktu itu, Lisya hanya punya Reyhan dan tidak ada yang benar-benar berteman dengannya.


"Lisya, apa kau berniat tinggal lama disini?"


Lisya tidak menjawab. Ia menatap Clara dengan raut wajah yang rumit. Detik berikutnya, hantu cantik ini tersenyum sendu.


"Tidak Clara. Aku sudah katakan pada Rey, waktu ku tidak akan lama. Aku hanya ingin menemaninya sebentar. Aku ingin dia bahagia dengan hidupnya."


Lisya menunduk, menatap kosong pada rumput di depannya. "Semakin lama bersama Rey, aku merasa dia semakin menderita. Dia bahkan tidak menceritakan masalahnya padaku, aku tidak mau melihatnya seperti itu. Ah maaf, aku tiba-tiba curhat pada mu," ucap Lisya tertawa kecil.


"Terima kasih untuk segalanya Clara. Aku tidak menyangka bertemu dengan mu bisa sangat berkesan bagi ku. Maaf jika aku dan Rey membawa begitu banyak masalah pada mu. Setelah ini, jangan lupa hubungi Rey jika kau butuh bantuan."


Mendengar kalimat Lisya membuat Clara terdiam. Melihat raut wajah Lisya, ia berharap teman hantunya akan menyelesaikan urusannya dengan baik setelah ini. Namun ada sesuatu yang sedikit Clara pikirkan.


Tidak ingin berpikir lebih rumit, Clara tersenyum ringan. "Tentu."