
Eps. 50
"Apa kau akan terus pura-pura tidak melihat ku?" tanya Arion dengan wajah biasa namun terlihat sedih.
Melihat hantu tampan itu sedih, Clara sekuat tenaga menahan diri agar tidak bicara dengannya. Rasa sakit, kasihan, dan rasa suka Clara pada laki-laki di depannya itu cukup mengganggu namun tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Aku tidak seharusnya memiliki perasaan seperti ini. Aku tidak mau ini semakin aneh, aku harus memutuskan hubungan denganmu.
Clara berdiri dari bangkunya sedikit menggebrak meja, kemudian berjalan keluar kelas. Sejak bertemu Lisya dua hari yang lalu, sejak saat itu Arion sering muncul dan mencoba berbicara dengannya.
Arion tidak mengganggu ataupun memberikan aura yang tidak enak untuk Clara. Hanya saja, Leo memintanya untuk mengalihkan pikirannya dari perasaan itu.
Gigi Clara bergemeretak erat mencoba menahan diri agar tidak menatap dan berbicara pada hantu kesayangannya. Tunggu? Kesayangan? Menggeleng cepat, ia menyentuh dada dan meremas bajunya kuat, kenapa rasanya ia sedang mengalami putus cinta dari cinta terlarang?
Clara menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia memejamkan matanya dengan wajah menengadah.
Aku harus menenangkan pikiran ku. Ini bukan perasaan ku, ini hanya ilusi.
Kenapa rasanya begitu berat, gumam Clara dalam hati. Matanya mulai terbuka perlahan. Alisnya bertaut dengan pandangan nanar.
Aku ingin menangis tapi air mata ku tidak bisa keluar. Rasanya disini sakit sekali.
Tangannya masih mengepal erat meremas baju di depan dadanya.
.
.
"Kemana dia?" tanya Alice pada Dita yang berdiri di sampingnya.
Keduanya baru saja memasuki kelas dan melihat bangku Clara yang sudah kosong.
Dita menghela pelan. "Dia benar-benar terlihat kacau kali ini."
.
.
Setelah meneguk air mineralnya singkat, Clara meletakkan botol air mineral itu di atas meja. Saat ini ia sedang berada di kantin mencoba mencari ketenangan. Tidak lama, tubuh Clara sedikit tersentak saat Arion tiba-tiba duduk di hadapannya, menatapnya sendu.
Clara menghela kasar menatap hantu itu sekilas, kenapa Arion tidak mau menyerah? Dia bahkan terlihat sering muncul di hadapan Clara akhir-akhir ini.
Tidak ingin berlama-lama, Clara mencoba berdiri untuk pergi sekali lagi menghindari hantu tampan itu, namun kali ini tubuhnya tidak bisa digerakkan. Tidak ada rasa takut ataupun intimidasi yang ia rasakan hanya saja tubuhnya seperti tidak mau dikontrol.
"Apa kau membenci ku Clara? Apa kau tidak mau melihat dan berbicara padaku lagi?"
Tidak ada tanggapan, Clara juga tidak menatap ke arah Arion.
"Tatap aku, Sayang."
DEG
Alis Clara bertaut kemudian ia menutup matanya perlahan. Seolah terhipnotis, gadis manis ini menoleh perlahan dan membuka matanya menatap Arion.
Clara tersentak, matanya tiba-tiba memanas saat melihat wajah tampan itu tengah tersenyum lembut padanya. Rasa rindu yang mencekik tiba-tiba menyerang relung hatinya. Jika bisa, Clara ingin melompat dan memeluk makhluk di didepannya itu.
Tidak. Tidak Clara. Sadarkan dirimu. Dia bukan manusia, itu hanya tipu dayanya.
"Apa kau tidak merindukan ku, Sayang?" tanya nya lembut dengan senyum menawannya.
Alis Clara semakin bertaut, wajahnya mungkin sudah memerah saat ini, dengan hati gelisah dan bercampur aduk dengan perasaan yang seharusnya tidak ia rasakan. Ia bahkan tidak bisa berpaling dari menatap hantu di depannya, meskipun sebenarnya ia ingin.
"Kenapa kau menghindariku? Kau yang mengizinkan ku mencium mu, kenapa kau yang menjauhi ku? Kau menyakiti hatiku, Sayang."
Hentikan.
Perlahan Arion kembali mendekatkan wajahnya mengikis jarak dengan wajah Clara.
Deg Deg Deg Deg
Deg Deg Deg Deg
Pergi dari hadapan ku!
Deg Deg Deg Deg
Ku mohon…
"Aku bisa saja melakukan apapun pada mu, tapi jika kau tidak mengizinkannya, aku tidak akan melakukan apapun itu. Kau tahu kan aku menyukaimu? Aku sangat menginginkanmu, maka dari itu aku akan menjaga mu dari hal yang mengganggu mu," ucap hantu ini sensual.
Ribuan kupu-kupu kembali memenuhi perut Clara. Dadanya terasa sesak, ada rasa menyenangkan yang memeluknya erat tidak mau dilepaskan.
Clara ingin memejamkan matanya erat namun mata itu tidak mau mendengarkannya, ia malah semakin lekat menatap paras tampan itu dihadapannya.
"Jangan tutup pintu itu, aku mohon… jika kau menutupnya, kau tidak akan bisa melihatku lagi. Apa itu tidak mengganggumu, hmm??" ucap Arion. Tangannya sudah menyentuh lembut pipi Clara.
"Bagaimana jika kau merindukan ku nanti?"
Lisya menatap Clara dan Arion tidak jauh dari belakang Clara, ia hendak mendekat tapi Arion tiba-tiba menatap Lisya dengan tatapan tajamnya membuatnya sedikit tersentak.
Dengan kening yang mengernyit, Lisya menatap Arion tidak suka. Namun hantu cantik ini enggan untuk mendekat.
"Beristirahatlah, aku ingin melihatmu tersenyum seperti biasanya," ucap Arion kemudian menghilang begitu saja.
Clara tertunduk, tubuhnya terasa lemas saat itu. Jantungnya masih berdetak tidak normal dengan perasaan penuh yang tidak mau hilang dari dadanya.
Ucapan Leo beberapa hari lalu tiba-tiba berputar di benak Clara. Ia ingin memutar ingatan itu berkali-kali agar Clara bisa tersadar dari perasaan ilusi yang ia alami saat ini.
"Clara, apa kau baik-baik saja?"
Clara mengangkat wajahnya perlahan dengan wajah dinginnya. Melihat Lisya yang duduk di depannya, menatap khawatir.
Tidak membalas, Clara hanya mengangguk singkat. "Aku pergi dulu," pamit Clara lirih.
Lisya menatap punggung Clara yang berjalan perlahan meninggalkan kantin. Dia bukan seperti Clara yang biasanya. Gadis cantik ini menatapnya iba, ada rasa bersalah karena semua ini terjadi karena Clara telah membatu Lisya.
"Ah, apa yang harus aku lakukan," desah Lisya menghela panjang.
.
.
.
Clara duduk di kursi rumah makan yang sedikit jauh dari sekolahnya, ia memainkan minumannya mengaduknya perlahan. Makanan sudah tersedia di hadapannya belum tersentuh.
Berbeda dengan kafe di dekat sekolah yang dipenuhi oleh murid-murid sekolahnya, di rumah makan ini pengunjungnya cukup beragam, dan kali ini tidak akan ada gangguan dari fans fanatik Reyhan.
Entah ada apa, mereka juga tidak mengganggu Clara setelah kejadian di belakang laboratorium. Bahkan diantara mereka ada yang ketakutan saat melihat dan tidak sengaja berpapasan dengan Clara.
"Clara, maaf jalanan cukup padat hari ini," ucap laki-laki tampan yang baru saja datang, kemudian mengambil duduk di depan Clara. Ia terlihat terburu-buru saat berjalan menghampiri Clara.
Clara tersenyum kecil. "Santai saja, aku juga baru sampai. Mau pesan makan?" tanya Clara biasa cenderung datar.
Reyhan menggeleng. "Aku pesan minum saja," jawabnya kemudian mulai memesan minuman di konter.
"Clara, kenapa kau memanggil kami kesini?" tanya Lisya, menatap Clara prihatin.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" sahut Clara tersenyum kecil.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lisya lagi, dan hanya dijawab senyuman kecil oleh Clara.
Reyhan yang baru saja memesan sudah kembali duduk di hadapan Clara. "Hei, ada apa memanggil ku kesini?"
Clara menatap keduanya dengan tatapan yang tidak begitu berarti dan menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku ingin menawarkan bantuan ku. Aku bisa meminjamkan tubuhku jika kalian ingin berkomunikasi secara langsung," ucapnya tersenyum kecil. Hanya bibir Clara yang terlihat tersenyum, tidak dengan matanya.