You Saw Me?!

You Saw Me?!
Undangan



Eps. 107


Clara menatap ponsel yang memperlihatkan detail kontak milik Reyhan yang baru saja ia simpan. Dipandangnya benda kotak itu cukup lama dengan pandangan menerawang.


Gadis yang sedang duduk di atas kasur itu sedang menimbang apakah akan menghubungi Reyhan atau tidak.


Rasanya baru kemarin Clara melihat wajah Reyhan yang begitu terluka saat dirinya menolak perasaan pria itu. Clara ragu, apakah laki-laki itu masih mau berhubungan dengannya?


Clara terlonjak, dikejutkan oleh ponsel yang tiba-tiba saja berdering. Ia menyentuh dadanya menenangkan detak jantungnya, hampir saja ponsel itu jatuh.


"Ugh, Alice! Hampir saja jantungku copot!" gerutu Clara, menatap nama si penelpon.


"Iya, Alice?" tanya Clara menjawab panggilan jengah.


"Hei, sudah menghubungi Reyhan?"


"Emm… ya, sudah. Ah, maksudku belum. Aku akan menghubunginya. Nanti," jawab Clara sedikit terbata.


"Jangan keras kepala. Bagaimana kau bertemu dengannya tadi? Apa dia terlihat marah atau membencimu?"


Pertanyaan Alice berhasil membuat Clara berpikir. Ia ingat, jika Reyhan tidak memanggilnya duluan, mungkin Clara tidak akan bertemu dengan laki-laki itu siang tadi.


"Kau benar. Reyhan yang memanggilku duluan."


"Kalau begitu cepat ajak dia bertemu dan nyatakan perasaanmu. Sisanya berdoa saja setidaknya Reyhan tidak menolakmu dengan sangat menyakitkan."


"Alicee," rengek Clara.


"Aku bercanda. Kau jangan keras kepala, setidaknya kau sudah menyatakan perasaan mu. Minta maaf padanya. Setelah itu, apapun jawaban Reyhan, pikirkan itu nanti. Yang penting kau sudah berusaha."


Ucapan Alice benar. Clara tidak mau berharap terlalu banyak pada Reyhan. Ia akan sangat bersyukur jika Reyhan masih sendiri dan mau berkencan dengannya. Tapi jika tidak … Clara tersenyum miris, apa yang ia harapkan setelah membuat laki-laki itu sakit hati dan kecewa? Reyhan yang masih mau berbicara dengannya itu sudah cukup.


Clara melemparkan ponselnya di atas ranjang setelah selesai berbicara dengan Alice. Ada perasaan lain yang masih mengganggunya saat ini. Apakah Lisya benar-benar tidak keberatan jika Clara menyukai Reyhan?


Tidak mau ambil pusing, Clara merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidur dengan menutup tubuhnya dengan selimut.


.


.


.


Clara menatap lurus ke depan dengan bingung. Ia menatap hamparan rerumputan hijau sejauh mata memandang. Clara menyugar rambutnya ke belakang karena terkena angin.


Gadis yang sedang berdiri seorang diri ini kebingungan, ia berbalik untuk mencari seseorang. Clara memicingkan mata, menemukan seorang gadis yang mengenakan gaun putih, sedang tersenyum ke arahnya.


"Lisya?" gumam Clara tidak percaya. Clara tersenyum begitu lebar kemudian menghampiri wanita itu dan menyapanya bersemangat.


"Hei, bagaimana kabar mu? Kenapa kau ada disini?" tanya Clara tak sabar.


Lisya masih bergeming. Senyuman di wajah cantik itu tiba-tiba saja luntur kemudian berpaling ke arah lain, menatap begitu sedih. Clara penasaran lalu juga ikut berpaling ke arah tatapan Lisya. Ia terkejut melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di rerumputan dengan lutut tertekuk.


Bukan kah itu … Reyhan??


Tanpa disadari, Clara melangkahkan kakinya mendekat pada Reyhan. Hanya kurang dua meter lagi, Clara menghentikan langkah karena keraguan yang tiba-tiba muncul di hatinya.


Detik berikutnya, Clara tersentak saat Lisya mendorongnya perlahan hingga ia sangat dekat dengan Reyhan. Clara mencoba menolak tapi Lisya terus saja mendorong begitu kuat. Tubuh Clara sedikit tegang jika harus terlalu dekat dengan Reyhan.


Reyhan menoleh dan mendongak menatap Clara. Laki-laki itu tersenyum hingga matanya terlihat seperti tertutup.


Karena kebingungan, sekali lagi ia berbalik dan mendapati Lisya yang tersenyum begitu senang pada Clara. Setelahnya, Lisya melambaikan tangan dan menghilang perlahan.


Clara membuka mata tiba-tiba. Mimpi? Itu adalah mimpi yang hampir seperti nyata. Clara menarik tubuhnya duduk kemudian meminum air mineral yang ada di nakas sebelah tempat tidur.


Jam dinding masih menunjukkan pukul dua dini hari.


"Lisya … apa itu artinya … kau memang meminta ku untuk bersamanya?"


.


.


.


Clara duduk dengan gugup. Sedari tadi ia meremat kedua tangannya yang saling bertaut. Ia menatap es teh di hadapannya yang sudah sisa separuh, begitu gelisah menunggu Reyhan datang.


Pagi ini, Clara memberanikan diri untuk menghubungi Reyhan dan membuat janji bertemu dengannya. Setelah mendapat mimpi dari Lisya dan semangat dari Alice, Clara hanya ingin mencoba.


Clara sudah mempersiapkan untuk hal yang terburuk. Meskipun nanti Reyhan menolaknya, ia harus baik-baik saja.


"Maaf terlambat." Sebuah suara terdengar dari arah depan. Jantung Clara berdetak semakin menggila melihat Reyhan yang begitu tampan dengan kemeja polos dan celana jeans yang dikenakan.


"Apa kau lama menunggu?" tanya laki-laki itu lagi sudah mengambil duduk di depan Clara.


Clara menggeleng salah tingkah. "Oh, t-tidak. Hanya beberapa menit. A-ap kau tidak mau memesan?"


Reyhan melihat jam tangannya terlihat buru-buru. Melihat itu, Clara merasa bersalah dan cukup sakit hati karena Reyhan sepertinya terpaksa datang menemuinya.


"Oh tidak. Aku hanya punya sedikit waktu. Ada apa Clara?" tanya Reyhan setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Oh, kau bilang juga ingin mengatakan sesuatu pada ku?"


Reyhan mengangguk. "Ya. Nanti saja. Kau saja duluan."


"Oh … oke." Clara begitu gugup. Batinnya menyuruh hanya cepat minta maaf dan mengatakan yang sejujurnya, setelah itu segera pulang apapun jawaban Reyhan.


"Aku … aku minta maaf untuk kejadian empat tahun lalu … saat aku menolakmu–"


"Oh itu. Lupakan saja. Aku sudah melupakannya," potong Reyhan seolah tidak peduli.


DEG


Clara tidak sadar menahan nafas. Ah, belum juga menyatakan tapi rasanya seperti ditolak sebelum sempat mengatakan apapun. Clara mencoba tenang, ia mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.


Kedua tangannya meremas kuat pada celana jeans yang ia kenakan. Clara harus mengatakannya sekarang, atau tidak sama sekali.


"Aku … sebenarnya aku juga menyukaimu … sejak dulu … hingga saat ini," ungkapnya tertunduk.


"Maafkan aku jika dulu aku tidak mengerti perasaanmu dan melukaimu. Aku melarikan dari saat semua terasa sulit bagi ku. Maafkan aku, Rey," imbuhnya lagi.


Reyhan bergeming. Laki-laki itu tidak mengatakan kata apapun. Akhirnya Clara mendongak, dan yang cukup menyayat hatinya saat melihat raut wajah Reyhan seperti biasa-biasa saja.


"Jadi?"


"Ah … aku.. Aku hanya ingin mengatakan … aku masih menyukaimu. Dan … aku minta maaf pada mu. Ah, kau tidak perlu terbebani untuk menjawabnya," ucap Clara gelagapan di akhir kalimat.


Ah bodoh! Bodoh! Bodoh! Apa sih yang kukatakan?! Kenapa tidak seperti yang kuharapkan!


Reyhan menyandarkan punggungnya pada kursi dan mengangguk seolah mengerti.


"Baiklah. Clara, aku hanya ingin memberimu ini," ucap Reyhan tidak merespon apapun ungkapan hati Clara. Padahal gadis ini sudah gugup setengah mati tapi Reyhan tidak banyak merespon?


Clara menerima kertas tebal berwarna salem yang sangat rapi. Tubuhnya mematung seketika melihat benda itu di tangannya.


Kembali Clara menahan nafas. Ia mencoba mengambil nafas dalam namun rasanya begitu sulit. Dadanya sesak seolah pasokan oksigen di sekelilingnya telah menurun.


Tubuhnya sudah gemetaran menahan sakit yang sangat di dadanya. Ia bahkan tidak sadar mengeratkan rahang menahan sesak dan mungkin saja air matanya akan jatuh saat membaca tulisan di undangan itu.


Sebuah undangan indah bertuliskan 'The wedding.'