You Saw Me?!

You Saw Me?!
Jogging



Eps. 73


Setelah bosan dengan sosial media yang tidak begitu menarik baginya, Clara meletakkan alat berbentuk kotak itu di atas nakas.


Senyum Clara tersungging begitu lebar. Besok adalah hari minggu, ia akan libur olahraga besok. Sejak Leo menyuruhnya untuk menjaga kesehatannya, Clara sering menghabiskan waktu lima belas hingga tiga puluh menit untuk berlari singkat.


Entah itu di pagi hari sebelum berangkat sekolah, atau sore hari jika tidak ada kegiatan lain. Itupun jika tidak lelah atau sedang malas.


Terima kasih untuk itu, sekarang Clara sudah cukup kuat jika Lisya masuk untuk meminjam.


Gadis ini merebahkan tubuhnya di kasur dengan santai. "Horeei, besok libur," ujarnya riang dengan meregangkan kedua tangan nya.


Clara menoleh saat ponsel miliknya bergetar. Meraih benda itu di atas nakas dan membaca siapa yang menelponnya.


Reyhan?


"Halo?"


"Hai Clara … apa aku mengganggumu?" tanya Reyhan di seberang telpon.


"Tidak. Ada apa?"


"Apa kau ada acara besok pagi?"


"Sepertinya tidak ada, kenapa Rey?" jawab Clara setelah berpikir sejenak.


Clara terdiam, memikirkan apa yang baru saja ia ucapkan, sejak kapan dirinya nyaman memanggil laki-laki itu 'Rey'?


"Oh, baguslah. Apa kau mau jogging dengan ku besok pagi? Aku akan menjemputmu."


Ack!


Clara merutuki ucapannya sendiri. Jika tahu Reyhan akan mengajaknya, mungkin lebih baik ia mengatakan sudah ada janji sebelumnya. Clara menghela pelan. Sepertinya besok Lisya akan ikut. Meskipun besok tidak akan ada meminjam, setidaknya mereka bisa sedikit berkomunikasi.


"Baiklah. Kita ketemu di alun-alun kota ya," jawab Clara. Ia tidak mau dijemput lagi oleh laki-laki tampan itu. Hatinya tidak akan kuat.


"Kenapa tidak mau dijemput?"


"Agar Mamaku tidak bertanya yang aneh-aneh." Clara mendengar kekehan kecil di balik panggilan.


"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu jam lima pagi."


"Oke."


"Good night."


DEG


Laki-laki sinting! Bisakah dia memperlakukan ku lebih formal?!


"Malam Reyhan."


Clara memijat pelipisnya singkat setelah melempar ponsel di tangannya ke sembarang arah diatas kasur.


"Siapa yang tidak salah paham jika dia terus memperlakukan ku seperti itu? Apa Lisya tidak keberatan dia seperti itu?" monolog Clara.


"Ah sudahlah."


Clara berjalan untuk mematikan saklar. Ia merebahkan tubuhnya cepat dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, kecuali wajahnya.


Mungkin semua perempuan single memang gampang sekali salah paham. Makanya mereka selalu tidak suka pada ku saat Reyhan bersikap baik pada ku.


Baiklah. Sebentar lagi akan selesai. Semoga setelah ini … Reyhan dan Lisya akan baik-baik saja. 


Begitu juga dengan ku … semoga aku akan baik-baik saja.


Bersamaan dengan harapannya, Clara mulai menutup matanya perlahan. Di luar jendela, Arion yang sedang bersandar pada tembok dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, sedang menatap lurus ke depan dengan tatapan dinginnya.


"Mungkin kesabaran ku memang setipis kertas."


.


.


.


Selesai dengan sepatunya, Clara membuka pintu rumah dan berjalan menuju sepeda gunungnya.


"Tumben olahraga sepagi ini. Biasanya agak siangan?" tanya Harumi yang sedang menyirami bunga-bunganya.


"Iya Ma. Aku mau ke alun-alun. Aku berangkat ya Ma."


"Hati-hati, Sayang."


Clara bersepeda dengan kecepatan biasa. Ia menikmati segarnya udara pagi dan sepinya kendaran bermotor.


Setengah perjalanan menuju alun-alun, seseorang tiba-tiba mengiringinya bersepeda.


"Hai, Clara."


Clara menoleh, melihat Reyhan sedang mengayuh sepeda gunung di sampingnya. Suasana masih sedikit gelap, tapi penampilan laki-laki ini begitu menyilaukan di mata Clara.


Lihatlah dia yang hanya mengenakan kaos berwarna maroon dengan celana coklat susu selutut. Dengan sepatu olahraga putih dan tas kecil di punggungnya.


Lisya yang ikut berbonceng di depan Reyhan juga tersenyum menatap Clara.


"Hai kalian," sapa Clara tersenyum kecil.


"Apa Lisya juga ikut?" tanya Reyhan sedikit terkejut dengan jawaban Clara.


Lisya dan Clara terkekeh kecil. "Apa kau lupa, dia selalu di sampingmu."


"Begitukah?"


Clara dan Lisya mengangguk serempak. Mungkin Reyhan tidak merasa berat meskipun Lisya sedang duduk di stang depan sepedanya. Dan yang membuat Clara tersenyum, Lisya selalu mengubah penampilannya dimanapun mereka bersama.


Kini Lisya sedang mengenakan kaos pink pendek dengan celana kain selutut juga dengan sepatu putih berbalut pink yang terlihat cantik.


"Kau suka warna pink, Lisya?"


"Betul!"


"Dengan penampilan seperti itu, kau harus berlari dengan kami. Jangan coba-coba melayang, itu tidak adil."


Lisya tertawa Renyah di telinga Clara, sedangkan Reyhan tampak diam mengamati. Hantu cantik ini bahkan mengikat rambutnya seperti ekor kuda.


Clara begitu menikmati suasana pagi ini, namun tiba-tiba perasaan sedih muncul di hati Clara. Jika Lisya masih hidup, mungkin mereka akan bisa berteman baik.


"Aku akan lari menemani mu, Clara."


"Oke."


"Clara …," panggil Reyhan. Clara menoleh, namun Reyhan hanya menatap lurus kedepan.


"Seperti apa penampilan Lisya?"


Clara terdiam. Masih mengayuh sepeda itu dengan perlahan. "Apa kau pernah jogging pagi bersama Lisya?"


"Pernah."


"Seperti apa dia?"


Reyhan tampak berpikir sebelum menjawab. "Tubuhnya kecil. Dia sangat lucu dengan kaos dan celana pendeknya."


"Benar. Sekarang dia mengikat rambutnya ke belakang. Cantik seperti biasanya." Ucapan Clara membuat Reyhan tersenyum sendu sedangkan Lisya menatap gadis yang bersepeda itu penuh arti.


"Dia duduk di stang sepeda mu sekarang."


.


.


.


Ini alasan kenapa aku tidak suka olahraga di hari libur.


"Rame ya," ucap Reyhan.


"Iya. Kira-kira apa disini ada teman sekolah kita?" tanya Clara malas.


Memang sangat menyebalkan jika ada mereka disini. Karena apapun yang ia lakukan dengan Reyhan akan menjadi bahan pembicaraan ataupun bullyan untuk Clara. Meskipun mereka tidak akan berani membuli Clara di depan Reyhan.


"Kita ke taman sebelah yuk, disana tidak seramai di sini," ajak Clara.


"Ayok."


Sesampainya di taman sekitar dua ratus meter dari alun-alun, mereka memarkirkan sepeda dan mulai pemanasan.


Perlahan mereka berjalan mengitari taman, berjalan cepat dan mulai berlari kecil. Beberapa hari ini Clara sudah cukup kuat untuk berlari kecil, namun setelah dua putaran gadis ini sudah seperti kehabisan nafas. Berbeda dengan Reyhan yang tampak biasa berlari sedangkan Lisya tidak lelah sama sekali.


"Stamina mu jelek sekali, pantas saja cepat lelah saat aku meminjam tubuh mu," ejek Lisya yang berlari mundur di hadapan Clara.


"Berisik!" Clara memicingkan matanya menatap Lisya jengkel membuat hantu itu tertawa terbahak bahak.


"Apa kau mau istirahat dulu?" tanya Reyhan. Laki-laki blondie ini terlihat maklum dengan kondisi Clara.


Uugh memalukan sekali. Lari segini saja sudah benar-benar lelah.


Hosh hosh hosh


"Tidak hosh masalah kan hosh … kita sambil berjalan," ucap Clara sambil terengah. Ia memilih berjalan kaki, tidak sanggup lagi berlari.


"Aku tidak masalah. Aku hanya ingin menemani mu berlari," ucap Reyhan santai. Tidak terlalu ngos ngosan.


Ucapan itu lagi.


"Hei, aku juga ingin menemani mu lo," ucap Lisya yang masih bersemangat berlari di tempat.


Clara hanya memutar bola matanya malas.


Hantu sih bebas.