You Saw Me?!

You Saw Me?!
Bosan



Eps. 83


"Aaaah." Clara menghela panjang dengan mendongakkan kepalanya menyentuh kasur.


Sudah tiga jam tiga gadis ini menonton film bersama di rumah Dita. Clara dan Alice mulai bosan.


"Aku bosan," ungkap Alice.


"Aku lapar," sahut Clara.


"Sebentar lagi ini selesai," jawab Dita menyayangkan. Hanya Dita yang masih semangat.


Tidak memperdulikan ocehan Dita, Alice berdiri dan berjalan keluar dari kamar, mengajak Clara untuk makan keluar.


"Ayo Clara makan."


"Ikuut," seru Clara berjalan mengekori Alice.


"Iiiih kalian, sabar donk sedikit lagi selesai!" omel Dita. Mau tidak mau ia mematikan TV dan berlari mengikuti keduanya.


"Masih sore begini mau makan dimana? Sebentar lagi ada lebih banyak pilihan makanan. Tunggulah satu atau dua jam lagi," ucap Dita melihat Alice dan Clara sudah bersiap menaiki motor.


"Kami sudah lapar, Dita."


"Kau mau ikut atau tidak? Kami mau makan mie ayam, nanti malam bisa makan lagi," tanya Alice.


"Iya deh ikut."


Sudah beberapa hari ini Clara bermain dengan kedua temannya. Nonton film, makan, keluar jalan, belanja dan segala hal yang biasa mereka lakukan. Tapi entah kenapa semua terasa ada yang kurang.


Karena sudah lapar, mereka makan di warung makan yang tidak jauh dari rumah Dita.


"Kau kenapa?" tanya Alice kemudian memasukkan mie ke dalam mulutnya.


"Kangen Reyhan tuh," cibir Dita.


Clara hanya memutar bola matanya malas. Ia memakan mie yang sudah terhidang di hadapannya.


Yang ditanya hanya mengedikkan bahu singkat. "Entah … rasanya ada sesuatu yang kurang," jawab Clara.


"Tentu saja kurang, biasanya pangeran tampan itu selalu menemani mu, sering chat, ketemu, tapi sekarang sudah tidak," goda Dita lagi yang sudah terkekeh geli.


"Iiish! Berisik!"


Sudah sejak saat itu Dita suka sekali menggoda dan menjodoh-jodohkan Clara dengan Reyhan. Dengan alasan Reyhan yang dulu perhatian dan Clara merasa kehilangan perhatian laki-laki tampan itu.


Herannya, Dita hanya melakukan itu jika mereka hanya bertiga jauh dari teman-teman sekolahnya. Jika sedang di sekolah, teman cerewetnya itu hampir tidak pernah menyinggung hal itu.


"Ngomong-ngomong, apa pintu itu sudah kau tutup?" tanya Alice lagi.


Oh Tuhan, kenapa manusia yang satu ini selalu bertanya langsung pada intinya. Clara menggeleng singkat.


" Belum. Aku masih menunggu tubuhku agar lebih siap. Paman Leo bilang, menutup pintu  akan memakan energi cukup besar. Dan … ugh aku masih belum siap dimarahi karena kerasukan lagi," ungkap Clara sedikit mengeluh.


"Kasihan sekali teman kita," ucap Dita mengelus pundak Clara. Gadis berambut pendek itu kemudian terkekeh kecil sedangkan Alice hanya tersenyum biasa.


"Tenang saja, kau bilang paman Leo orang baik."


.


.


.


Apa di sekolah memang begitu membosankan seperti ini? Clara terdiam dengan tangan menopang dagunya, menatap guru yang sedang menjelaskan di papan tulis.


Rasanya, sebelum bertemu Lisya dan Reyhan, kehidupan sekolahnya yang dulu tidak membosankan seperti ini. Lalu sekarang?


Lagi, Clara menghela lelah. Ia melewati hari ini dengan malas. Waktu berjalan terasa begitu lambat tidak seperti biasanya. Sekilas ia melirik para hantu yang masih berjalan tidak tentu arah, atau hanya sekedar duduk dan menatap tanpa mengganggu.


Clara meraih ranselnya dan berjalan ke pintu keluar. Di luar masih ramai anak-anak yang antri karena bel pulang baru saja berbunyi. Tapi … ada yang aneh. Sebagian dari mereka kembali menoleh dan menatap Clara dengan tatapan aneh.


"Ada apa?" tanya Dita penasaran.


"Entah."


Sesampainya di luar kelas, Clara mengerti kenapa perhatian hampir semua murid yang lewat teralih pada Clara. Mereka bergiliran menatap Clara begitu berminat.


"Hai Clara," sapa laki-laki ini tersenyum begitu manis.


Sempat terpaku sesaat, mata Clara mengerjap beberapa kali ketika merasakan angin segar dan kebosanannya hilang begitu saja.


"Oh, Rey … hai, sedang apa disini?" tanya Clara menormalkan ekspresinya.


Hampir semua orang yang lewat kini melihat kearah keduanya. Alice dan Dita tersenyum saling melirik kemudian pamit untuk pergi terlebih dahulu.


"Apa kau ada waktu sekarang?" tanya Reyhan tersenyum ramah.


"Sekarang?" Clara sedikit tidak percaya. Laki-laki tampan ini hanya mengangguk singkat.


Clara cukup penasaran, kenapa Reyhan tiba-tiba datang dan mengajaknya pergi? Pada akhirnya gadis ini mengangguk ragu. Ada sesuatu yang seolah menyuruh Clara untuk menerima ajakan itu. Ia tidak mau selalu badmood karena bosan.


*


Reyhan mendorong pintu kafe itu perlahan diikuti Clara yang berjalan di belakangnya. Mereka memilih kafe di dekat sekolah karena lokasinya cukup dekat.


Keduanya menoleh mencari meja yang masih kosong. Entah kenapa hari ini kafe masih cukup sepi.


"Kita duduk disana," tunjuk Reyhan pada meja pojokan di sebelah jendela.


Clara mengangguk. Ia berjalan ke meja yang ditunjuk setelah menitipkan pesanannya pada Reyhan.


Tidak butuh waktu lama, laki-laki tampan itu datang dengan membawa nampan pesanan mereka.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Reyhan yang sudah duduk di hadapannya. Laki-laki ini tersenyum kecil terlihat ramah.


"Baik. Bagaimana dengan mu?"


"Seperti yang kau lihat. Aku baik."


Hening. Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Hanya dua minggu tidak berkomunikasi sudah membuat mereka secanggung ini. Namun beberapa saat setelahnya, Reyhan tertawa kecil.


"Kenapa rasanya sangat canggung saat tidak ada Lisya disini," ucapnya tiba-tiba.


Clara menarik bibirnya memaksakan untuk tersenyum. Ia ingin membicarakan tentang Lisya tapi khawatir Reyhan akan terluka. Tidak disangka laki-laki di hadapannya yang membawa topik itu terlebih dahulu.


Gadis ini menarik ujung sedotan di es teh miliknya, lalu menyeruputnya pelan. Ia menoleh ke luar, melihat suasana sore yang sedikit mendung.


"Aku merindukannya," lirih Reyhan membuat Clara menoleh cepat.


Senyuman itu kini hilang di wajah tampannya. Laki-laki berparas tampan ini menunduk memandangi minumannya. Air mukanya terlihat sedih dengan pandangan menerawang.


"Aku juga merindukannya, sangat merindukannya," ucap Clara. Reyhan mendongak menatap Clara dengan raut wajah yang tidak berubah.


Clara tersenyum kecil. "Kau tahu, kami bertemu dalam waktu yang singkat. Tapi aku merasa sangat kehilangan."


Clara menyandarkan punggungnya pada kursi dan kembali menolehkan kepalanya keluar jendela. "Hanya dia yang merasakan apa yang kurasakan. Saat Lisya di tubuhku, aku juga bisa merasakan perasaannya saat meminjam. Tanpa perlu bercerita, dia sudah paham segalanya."


Rasa kehilangan itu perlahan sudah memudar di hati Clara, namun menceritakannya kembali ternyata membuat Clara merasakan perasaan itu lagi.


"Aku sangat merindukannya," ucap Clara tersenyum sendu.


Menyebalkan. Mood ku benar-benar kacau sekarang.


"Hei … mari kita kenang Lisya dengan bahagia. Dia tidak akan suka jika kita seperti ini," ucap Reyhan. Senyumannya kini begitu tulus dan manis.


Bisa terlihat jelas laki-laki ini mencoba untuk merelakan kekasihnya itu. Clara menghela pelan dan tersenyum. Benar, Lisya akan sedih jika mereka terus seperti itu.


"Kau benar." Clara tersenyum.