You Saw Me?!

You Saw Me?!
Berjumpa kembali



Eps. 60


Harumi membuka kulkas untuk mengambil bahan masakan untuk makanan besok pagi. Seperti biasa, harumi akan mempersiapkan semua makanan malam ini agar besok tinggal memasaknya. Atau dia akan memasak malam ini untuk makanan porsi besar dan tinggal di hangatkan esok paginya.


Setelah selesai mengeluarkan semua bahan, Harumi cukup terkejut melihat bak cuci piring yang masih bertumpuk. Biasanya bak itu selalu bersih karena Clara yang mencuci piring kotornya, atau setidaknya tinggal beberapa saja jika Clara benar-benar lelah.


Dan beberapa hari ini, cucian piring itu masih menumpuk seolah tak tersentuh.


"Ma, sudah pulang?" suara Ryo tiba-tiba sudah berdiri di belakang Mamanya.


Harumi berbalik. "Ryo, kau belum tidur?"


"Ah, aku hanya ingin minum terus kembali tidur," ucap lelaki kecil bersurai coklat ini. Ia berjalan mengambil air di dispenser.


Harumi mulai mencuci piring gelas yang sudah bertumpuk hanya dalam sehari. "Apa kakak mu sibuk akhir-akhir ini?" tanyanya lagi tanpa menoleh pada anak bungsunya.


Ryo sudah duduk di meja makan, gelas di tangannya masih terisi air hingga setengah. "Ya, kakak sibuk sekali. Kerjaannya hanya diam di kamar," jawab Ryo kemudian kembali meneguk minumannya.


Seketika Harumi menghentikan aktivitasnya dan menoleh, menatap anak laki-lakinya itu. "Apa kakakmu sakit?"


Ryo mengedikkan kedua bahunya. "Yang aku lihat, sepulang sekolah kakak hanya diam dikamarnya. Turun saat sore untuk makan lalu membawa air satu botol besar untuk dibawa ke kamarnya. Setelah itu kakak hanya turun saat makan malam," jelas Ryo panjang lebar dengan gerakan tangan sesuai dengan yang ia ceritakan.


"Hem … Ryo, apa kau besok mau bawa bekal?"


"Boleh, Ma."


"Baiklah. Besok Mama buatkan. Sekarang tidurlah, sudah malam."


Ryo hanya mengangguk singkat lalu kembali ke kamarnya. Harumi yang masih sibuk dengan cucian piring, memutuskan untuk memasak malam ini.


Berbeda dari tangannya yang sibuk, pikirannya juga sedang memikirkan anak sulungnya yang tiba-tiba terasa aneh. Biasanya Clara akan meminta obat padanya jika putrinya itu sedang sakit. Clara juga akan menceritakan masalah yang biasanya dialami.


Menghela berat, Harumi diam dengan tangan bertumpu pada meja dapur.


Sepertinya aku berpikir berlebihan. Mungkin Clara sedang puber.


*


Meja makan sudah penuh dengan makanan, satu per satu semua sudah berkumpul disana. Nasi dan lauk yang lengkap dengan sayur buah segar. Namun dengan lauk yang lebih banyak dari biasanya.


"Wah, ada acara apa ini?" tanya Ezra dengan senyum mengembang.


Clara dan Ryo ikut tersenyum melihat begitu banyaknya makanan di meja, seraya duduk di kursi mereka.


"Untuk perbaikan gizi anak-anak, Sayang," ucap Harumi pada suami tersayangnya itu.


Ezra terkekeh kecil, Ryo tampak semangat mengambil apa yang tersedia disana. Memang Harumi jarang memasak semewah itu, biasanya ia akan memasak hal simpel yang disukai keluarga kecilnya.


Namun, kali ini ia mau memastikan anaknya yang sedang pubertas memiliki gizi yang baik.


Berbeda dengan Papa dan Adiknya, Clara merasa sedikit terganggu karena khawatir Mamanya akan tahu kondisinya saat ini, tapi ia mencoba bersikap senormal mungkin.


"Clara, makanlah yang banyak. Ryo bilang, akhir-akhir ini kau banyak di kamar. Apa kau sakit?"


Tubuh Clara menegang seketika, namun ia harus lebih tenang. Mamanya sangat sensitif pada bahasa tubuh anaknya.


Dasar Ryo mulut ember!!


"Ya Ma, aku sedikit lelah. Tapi sekarang sudah lebih baik."


"Apa kau ada masalah?" tanya Harumi lagi.


"Tidak Ma."


"Makanlah yang banyak Sayang, kau terlihat kurusan," sambung Ezra.


"Benarkah?" tanya Clara berbinar.


"Ya, senang sekali dia dibilang kurus," cibir Ryo membuat Papa dan Mamanya terkekeh kecil sedangkan Clara mendelik tidak menyeramkan.


.


.


Beberapa hari ini, Clara tidak menemui Lisya dan Reyhan. Sejak kedatangan Reyhan ke dalam kelas Clara, semakin banyak anak-anak yang mengganggu atau hanya sekedar bertanya karena penasaran.


Mungkin fans fanatik Reyhan tidak menyerangnya kali ini, tapi mereka masih sering mencibir, mengolok-olok, merendahkan dan mengejek, mengatakan Clara adalah jal*** yang merayu Pangeran Es mereka.


Ah … aku berharap ini segera berakhir.


"Mungkin akan lebih baik kalau aku menghubunginya untuk bertemu hari ini," gumam Clara yang sedang berjalan sendirian di koridor kelas yang masih sepi.


"Sudah baikan?" tanya seseorang di samping Clara.


"Iya, aku–" tubuh Clara dengan cepat menghindari sumber suara saat itu juga, ia menepikan tubuhnya pada tembok.


Dengan tubuh gemetar dan detak jantung yang merindukan lelaki di depannya. Wajah Clara juga memanas saat itu, ia mengontrol sekuat tenaga agar semburat itu tidak terlihat terlalu banyak.


"Apa kau merindukan ku, Clara?" tanya Arion dengan senyum manisnya.


DEG! GYUT


Ada rasa sakit dan rindu mendengar panggilan itu. Clara ingin mengalihkan tatapannya yang terasa haus ingin terus melihat hantu tampan itu, tapi hatinya berkata lain, ia enggan untuk mengalihkan pandangannya.


Kenapa dia memanggil ku Clara? Biasanya dia memanggilku Sayang! Aaahh apa yang kupikirkan! Tidak peduli apa yang dia ucapkan untuk memanggilku, dia–


"Kenapa diam … Sayang?"


DEG DEG DEG


Sial! Panggilan itu mampu membuat Clara meleleh, ia kembali merasakan perasaan kupu-kupu yang sudah lama tidak diberikan Arion. Wajah Clara bahkan sudah memerah tanpa bisa dikontrol. Ia bahkan tidak peduli dengan beberapa orang yang mulai berlalu lalang, menatapnya aneh.


Sementara Clara sibuk berkutat dengan pikiran dan perasaannya, ia tidak sadar bahwa Arion sudah mendekat dan mengikis jarak diantara keduanya.


"Hei …," suara Arion yang rendah dan berat terdengar sangat dekat di depan Clara. "Tatap aku."


Bukannya menatap, Clara malah melakukan hal sebaliknya. Ia menutup matanya erat. Clara takut jika ia menatap laki-laki di hadapannya, Clara akan terhanyut oleh perasaannya.


"Clara," panggil Arion lagi. Sementara Clara semakin menutup matanya erat.


Astaga! Berhentilah memanggil nama ku!!


"Clara …."


"Hei Clara!"


Clara tersentak, ia membuka mata sekaligus menepis tangan yang baru saja menyentuh lengannya. Namun apa yang ia lihat di depannya semakin membuatnya tidak mengerti.


"Re-Reyhan? Tap-tapi?? Dimana–"


Clara menoleh, menyapu pandangannya pada seluruh tempat yang bisa ia lihat di hadapannya.


Nafasnya mulai memburu, ia mencari hantu laki-laki itu dengan gusar. Bayangan murid-murid yang mulai menatap Clara penuh minat, terlihat buram di mata Clara. Begitu juga Reyhan yang ada di hadapannya pun tidak begitu ia indahkan.


Dimana? Dimana dia?!


Entah kenapa Clara merasa gelisah bercampur aduk dengan perasaan lain. Ia mulai tidak tenang. Panggilan Reyhan yang sedari tadi memanggil namanya bahkan terdengar samar di telinga Clara.


Ada apa dengan ku? Kenapa perasaan ku benar-benar kacau!


Saat semua semakin menyesakkan, fokus Clara tiba-tiba kembali saat Reyhan menangkup wajah Clara, menatap wajah gadis itu lekat.


"Hei … tenanglah … lihat aku, jangan mencari apapun. Cukup lihat aku," suara rendah Reyhan yang begitu tenang dan lembut membuat hati Clara mulai tenang.


Clara terpaku. Seperti perintahnya, mata Clara menatap lurus pada mata laki-laki most wanted sekolah ini. Degup jantung Clara mulai tenang, nafasnya mulai teratur. Kedua tangannya meremat kuat pergelangan tangan Reyhan yang sedang menangkup wajahnya.


"Tenang, oke?" suara Reyhan lagi.