
Eps. 67
Clara menautkan alis, melirik Lisya yang tengah mengedikkan bahunya singkat seolah tidak tahu menahu tentang perlakuan Reyhan kali ini.
"Apa–"
"Kau jangan minum ini," potong Reyhan menarik es teh milik Clara dan menggantinya dengan air mineral botol miliknya.
"Kenapa?" tanya Clara keheranan.
"Banyak minum manis tidak baik bagi kesehatan. Kau harus makan sayur dan buah lebih banyak."
"Tapi–"
"Teh ini aku yang minum."
"Bukankah 'dia' juga menginginkanmu hidup sehat?" cibir Clara. Ia tersenyum remeh menatap Reyhan. Jika itu dulu, mungkin Clara tidak akan berani melakukan itu.
"Aku jarang sekali minum manis, tapi sepertinya kau hampir setiap hari minum minuman manis," ucapnya singkat lalu meneguk teh milik Clara.
Reyhan mengernyit, menatap teh yang terasa tidak begitu manis.
"Aku tidak terlalu suka manis, jadi aku memesannya dengan sedikit gula."
Reyhan hanya mengangguk mengerti dan meletakkan es teh itu disampingnya.
Setelah menghela pelan, Clara mulai memakan baksonya perlahan. Hening beberapa saat, setelah cukup lama hanya terdengar dentingan sendok dan suara murid lain yang sedang bicara, Pangeran Es ini akhirnya membuka suara.
"Kau sakit apa?" tanyanya dengan ekspresi biasa.
"Hanya demam biasa, dan … sedikit kelelahan," jawab Clara terdengar ragu.
Reyhan menatap lurus ke arah gadis yang sedang makan di hadapannya. Ia meletakkan sendoknya diatas piring dan kembali bertanya, "Apa itu ada hubungannya dengan 'meminjam'?"
"Aku hanya kelelahan. Karena aku memaksakan diri untuk masuk sekolah dengan kondisi tubuhku yang sedang sakit, makanya aku pingsan," jelas Clara. Ia mencoba merangkai kata-kata itu serapi mungkin.
Ucapan Clara tidak sepenuhnya bohong, karena pada awalnya ia juga berpikir mungkin dirinya pingsan akibat terlalu memaksakan diri masuk sekolah saat sedang sakit. Namun, semua mulai masuk akal saat Leo menjelaskannya.
"Dia juga bilang, kau pasti kelelahan makanya kau bisa pingsan. Setelah ini, kami berpikir bagaimana caranya agar kau bisa lebih sehat kedepannya," ucap Reyhan santai kemudian melanjutkan makannya.
Clara diam menatap Reyhan biasa, lalu melirik dengan tatapan malas menatap Lisya yang sedang mengalihkan pandangannya, berpura-pura tidak sadar bahwa Clara sedang menatapnya.
Aah… sudah ku duga. Ini semua pasti Lisya yang mengatakannya.
"Makanlah. Jika kau tidak bisa memakan dua salad ini, bawa pulang dua-duanya," ucap Reyhan memberi saran.
"Baiklah. Terima kasih," jawab Clara sudah pasrah tidak ingin berdebat lagi.
Mungkin Lisya sudah tahu jika meminjam akan sangat menguras tenaga. Ia pasti sudah menceritakannya pada Reyhan. Dan lihatlah sekarang, Reyhan yang sangat perhatian dengan kesehatan Clara.
"Hei," sapa Lisya yang sudah memangku dagu dengan kedua tangannya tepat di sebelah kiri Clara. "Reyhan sudah perhatian padamu, jangan marah," kata Lisya menyambung ucapannya.
Sekilas Clara melirik Lisya lalu melirik Reyhan yang sedang fokus dengan makananya. "Aku tidak marah. Hanya saja belum terbiasanya dengan itu. Lagi pula lihat tatapan mereka disekeliling kita, rasanya tatapan itu bisa saja melukai ku," bisik Clara. Ia mulai makan dengan perasaan yang tidak nyaman.
"Kau benar, terkadang aku juga tidak terbiasa kalau mood ku sedang kacau. Tapi biarlah mereka seperti itu, mereka juga tidak akan menyakitimu sekarang," ucap Lisya. Kini hantu cantik ini sudah duduk diatas bangku.
Clara mengangguk pelan. Ia masih fokus dengan makanan di mulutnya, namun detik berikutnya gadis ini menoleh cepat pada Lisya.
"Heem?? Apa?" tanya Lisya, merasa tidak nyaman dengan tatapan Clara.
"Clara, ada apa?" tanya Reyhan yang juga ikut penasaran.
Clara menatap laki-laki di hadapannya, pastinya lelaki itu tahu jika Clara sedang berinteraksi dengan kekasihnya.
"Sebentar, aku ada telpon dari dia," ucap Clara bohong, namun ia menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.
"Maksudmu, kenapa mereka tidak akan menyakitimu lagi?" tanya hantu ini mencoba mengklarifikasi ucapan Clara.
"Benar. Apa kau pelaku nya?"
Lisya tampak kelabakan mendengar pertanyaan Clara dengan wajah tak bersahabat. "A-ah haha, kau benar! Tentu saja aku yang melakukannya. Aku juga bisa balas dendam atas apa yang mereka lakukan dulu padaku. Apa … kau tidak suka?" tanya Lisya ragu.
Clara terkekeh kecil membuat Lisya termangu sesaat. "Tentu saja tidak. Terima kasih padamu karena membuatnya sedikit lebih damai," ucap Clara tulus.
"A-ah… sama-sama."
Clara heran melihat ekspresi Lisya yang tampak tidak senang atau merasa bersalah? Atau apa? Bukankah Clara sedang berterima kasih karena melindunginya?
Tidak sengaja Clara menoleh pada Reyhan. Wajah pria di hadapannya tampak bertanya-tanya namun seperti biasa, laki-laki ini enggan untuk bertanya.
"Aku hanya teringat saat kau dan dia datang menyelamatkan ku di belakang gedung lab saat itu," ucap Clara tersenyum kecil.
"Oh … kami tidak melakukan apa-apa. Hanya membawa mu ke UKS agar kau bisa istirahat," jawab Reyhan dengan wajah biasa.
"Ya . Terima kasih untuk itu." Clara tersenyum lepas.
Gadis ini merasa tidak masalah jika harus membantu mereka hingga selesai. Karena Lisya dan Reyhan masih berusaha menjaganya dari Arion dan beberapa wanita gila fans fanatiknya Reyhan. Yah, meskipun semuanya terjadi karena mereka berdua. Setidaknya mereka mau bertanggung jawab.
"Clara, apa kau ada waktu hari minggu ini?" tanya Lisya.
"Maaf aku ada jadwal jogging dari paman ku."
"Benarkah? Bagaimana kalau kita jogging bersama? Sudah lama aku tidak olahraga di luar ruangan," ucap Reyhan.
"Bukankah kau masih bisa bermain basket atau bola, atau apapun dengan teman-temanmu di sekolah?" tanya Clara.
"Mereka yang melihat akan berisik."
"Itu selalu terjadi, para wanita itu akan berkumpul saat Rey bermain dengan teman-teman yang lainnya di sekolah ini," sambung Lisya.
"Oh …begitu."
"Tapi jika kau keberatan, aku tidak akan memaksamu," tambah Reyhan merasa tidak enak.
"Oh tidak. Tidak seperti itu. Ayo kita lari pagi bersama."
"Ayo."
"Benar Clara. Kau harus sehat, karena setelah ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Lisya.
.
.
.
Reyhan beranjak dari UKS setelah menutup pintu UKS dengan perlahan. Ia masih terdiam. Ada perasaan bersalah yang kini menelusup dan berbisik di hatinya bahwa lelaki blondie ini kenyumbang keadaan Clara yang menjadi seperti ini.
Setelah selesai meminjam, Clara terlihat begitu pucat dan lemah. Jika pun karena gadis itu yang memang sakit sebelumnya, hal meminjam itu pasti juga ikut andil dalam keadaan Clara saat ini.
"Oh Tuhan, kenapa ini begitu rumit," lirih Reyhan dengan kepala menengadah keatas.
Pangeran Es ini menghela pelan, sesaat kemudian ia merasakan sentuhan di punggungnya seolah ada yang sedang memeluknya.
Reyhan terdiam menikmati perasaan tenang saat ia tahu bahwa Lisya pasti sedang memeluknya.
"Kita tidak memaksanya kan, Sayang? Setidaknya kita pernah menolaknya baik-baik."
Hening. Reyhan sempat terenyuh saat tidak ada seorangpun disana. Kadang ia ragu, apakah ia sedang bicara dengan Lisya saat itu atau tidak. Karena tak ada seorangpun saat ini disisi Reyhan.