You Saw Me?!

You Saw Me?!
Seperti orang lain



Eps. 96


"Tentang ciuman kemarin," Reyhan bisa melihat ekspresi wajah Clara yang berubah, hanya sepersekian detik. Setelah itu dia kembali menetralkan ekspresinya.


"Maafkan aku … seharusnya aku meminta izin padamu terlebih dahulu," kata Reyhan melanjutkan ucapannya.


"Apa kau menyesalinya?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku melakukannya karena aku memang menyukaimu, Clara."


Laki-laki blonde ini menatap Clara lekat. Wanita di hadapannya hanya diam tidak menjawab.


"Aku bukan laki-laki yang gampang menyukai seseorang, Clara. Aku sudah mempertimbangkan ini sejak lama, sebelum melakukan itu pada mu."


Reyhan mencoba meyakinkan Clara tentang perasaannya, namun sikap gadis berambut lurus itu sungguh di luar dugaan.


Beberapa saat setelahnya, Clara tersenyum culas juga mendengus kecil. "Coba pikirkan lagi. Kau tidak mungkin menyukaiku. Kau hanya menyukai Lisya yang terlihat di dalam diriku," ucap Clara santai kemudian meneguk kembali minumannya.


Terlalu santai untuk anak perempuan yang waktu itu terlihat frustasi setelah berciuman.


"Kenapa kau bilang begitu?"


"Sudah jelas. Kau dekat dan suka pada ku saat Lisya sudah pergi. Bukankah itu alasanmu nyaman bersama ku? Karena kau menang sering bersama Lisya dengan tubuh ini."


Lagi, Reyhan menatap Clara curiga dengan alis yang bertaut. Wanita di hadapannya itu mengatakan semuanya seolah itu bukan apa-apa. Sikapnya yang berbeda terlihat seperti orang lain.


"Aku mengerti. Mungkin kau sulit mempercayai ku. Jadi, berikan aku kesempatan untuk menunjukkannya padamu," ucap Reyhan kini dengan nada yang lebih tenang. Ia meminum jusnya perlahan, kemudian menatap Clara dengan senyuman termanisnya.


Reyhan yakin, dengan perlakuan lembut seperti biasanya, Clara akan luluh. Gadis itu sudah menyukai Reyhan. Jadi Reyhan sangat yakin jika Clara akan melunak dan memberinya kesempatan. Setidaknya untuk membuktikan.


Clara yang terlihat marah, kini melipat kedua tangannya di depan dada menatap Reyhan tidak suka.


"Beri aku alasan kenapa aku harus memberimu kesempatan?" tanya Clara tak ramah.


Tunggu sebentar. Apa Clara pernah bersikap seperti ini sebelumnya padanya?


Reyhan terdiam menatap Clara bingung. Hatinya ragu, kenapa sikap gadis itu berubah dalam sehari?


Clara berdiri dari duduknya, minumannya sudah habis. "Jika kau tidak bisa memberiku alasan, aku akan pergi. Oh iya, lupakan semuanya. Anggap semua tidak pernah terjadi dan kita berteman seperti biasanya, oke?"


Reyhan masih diam saat Clara sudah beranjak meninggalkan bangku itu. Gadis itu baru saja pergi. Benar-benar tidak masuk akal!


Lihatlah cara bicaranya yang tanpa beban seolah perasaan kemarin itu hanya hal kecil baginya.


Semuanya terdengar aneh. Selama Reyhan bersama Clara, gadis itu tidak pernah bersikap seperti ini padanya. Bahkan saat Lisya pergi pun, dia masih bersikap baik, dan terlalu manis saat salah tingkah.


Tidak. Ada sesuatu yang salah. Aku harus melakukan sesuatu.


Pangeran es ini berdiri dari duduknya untuk mengejar Clara, tidak peduli dengan rasa ingin tahu murid yang duduk tidak jauh dari mereka.


Untung saja Clara masih tidak terlalu jauh. Reyhan berlari untuk mempercepat langkahnya dan memanggil gadis itu.


"Clara!"


Clara menoleh, wajahnya masih datar seperti sebelumnya.


"Ada apa lagi?" tanyanya tak berminat. Para wanita yang menyukai Reyhan akan sangat suka saat laki-laki blonde ini memanggil nama mereka. Seharusnya Clara juga begitu, kan?


Meskipun rasanya begitu canggung, Reyhan mencoba tersenyum lembut pada gadis itu. Ah, beginikah rasanya di tolak.


"Um … Hei, apa kau marah pada ku?"


"Tidak."


"Atau kau merasa tidak nyaman di dekat ku?"


Clara memutar bola matanya malas. Dan kembali mengatakan tidak dengan ketusnya. Tidak pernah sebelumnya Clara bersikap seperti itu padanya. Reyhan cukup yakin.


Jadi, ia akan mencoba sesuatu yang mungkin akan menguatkan kecurigaannya.


"Hei … apa kau baik-baik saja?"


"Tentu. Bahkan aku tidak pernah merasa sebaik ini. Jika kau sudah selesai, aku pergi," ucapnya tak berminat.


Sempat terkejut mendengar ucapan Clara, namun Reyhan harus menemukan sesuatu. Ia tersenyum begitu lembut, kini ia bahkan menatap Clara sensual dan menggerakkan tangannya mencoba menyentuh pucuk kepala gadis itu.


PLAK


"Berhenti melakukan kontak fisik berlebihan! Selama ini aku hanya diam melihatmu menyentuhnya berlebihan. Berhentilah mulai sekarang atau kau akan menyesal!" marah Clara kemudian berbalik meninggalkan Reyhan.


Reyhan mengusap tangannya yang ditepis oleh Clara. Wanita itu menepisnya cukup kuat lebih dari sebelumnya.


Wanita yang seharusnya menatap Reyhan dengan pandangan suka, selalu tersipu dengan sikap lembut Reyhan. Sekarang … gadis itu bersikap begitu dingin dan menatap Reyhan tajam meskipun dengan jelas Reyhan menunjukkan sikap yang lebih intim dari biasanya.


"Ternyata benar. Ada sesuatu yang salah. Aku harus mencari tahu."


.


.


.


"Aku juga merasakan ada yang salah dengan Clara. Dia tidak biasanya seperti ini," ucap Alice datar, seperti biasanya.


Reyhan kembali ke kantin namun kali ini menemui kedua teman Clara.


"Benar. Dia lebih suka menyendiri dan tidak banyak bicara. Beberapa hari sebelumnya dia sudah aneh, tapi sejak hari ini dia benar-benar berubah menjadi lebih seperti Alice," sambung Dita panjang lebar.


Alice hanya melirik jengah pada Dita, membuat siswi berambut dora itu nyengir kuda.


"Tadi kulihat kau bersama Clara, apa kalian bertengkar?"


"Tidak. Hanya ada sedikit kesalahpahaman."


"Benarkah? Tumben Clara tidak cerita pada kami," ucap Dita bingung.


"Jika kau memberitahu kami, mungkin kami bisa membantu," tawar Alice.


.


.


.


"Aah, hausnya," guma Ryo. Ia mengunci ponselnya dan berjalan turun menuju dapur.


Laki-laki kecil ini membuka kulkas dan meminum air dingin disana. Belum puas, ia membuka freezer dan menemukan es krim milik kakaknya.


Ryo menyeringai kecil dan mengambil es krim itu cepat dan memakannya. Ia menoleh dan membeku di tempat begitu melihat Clara yang sudah melihatnya dengan tatapan datar.


Mereka berpandangan beberapa detik.


Kali ini ia akan dimarahi habis-habisan karena kembali mengambil es krim milik Clara. Ryo sudah siap menerima omelan seperti biasanya, namun ia merasa bingung saat Clara hanya melewatinya dan berlalu, berjalan menaiki tangga ke arah kamarnya.


"Eh?" gumam Ryo masih kebingungan, mengikuti arah berlalunya Clara.


"Eeeh???? Kak? Kakak tidak marah?" tanya Ryo berteriak pada Clara yang sudah di lantai dua.


"Gak."


"Wow … apa dia kesurupan? Sudah beberapa hari ini Kakak jarang mengomel," monolog Ryo.


Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja Ryo merasa asing saat bertatapan dengan Clara tadi.


Biasanya kakak perempuannya itu akan selalu mengomel padanya jika ia berani menyentuh es krim milik Clara. Kakak satu-satunya itu lebih suka memberi Ryo uang agar membeli snack di toko.


"Tapi … mata itu–"


"Ryo, ada apa?" tanya Harumi. Ibu nya meletakkan kantong besar belanjaan di atas meja.


"Ma …apa Mama tidak merasa ada yang aneh dengan Kak Clara?"


"Ssssttttt! Pelankan suaramu," bisik Harumi. Ibu paruh baya ini berjalan tidak membuat suara dan mendongak, melihat apakah Clara sudah di kamarnya atau belum.


"Apa kau juga merasakannya?"


Ryo mengangguk. "Kakak memang tidak marah-marah lagi, tapi aku tidak suka tatapan mata itu," ujar Ryo.