You Saw Me?!

You Saw Me?!
Ancaman



Eps. 84


"Ku dengar mereka terus mengganggumu?" tanya Reyhan.


"Siapa? Fans mu?" Tidak menjawab, Clara malah balik bertanya. Ia kemudian terkekeh kecil. Ternyata rumor itu juga sampai di telinga Reyhan.


Reyhan tersenyum ringan. "Apa mereka membuli mu?"


"Tidak. Hanya seperti biasa, mereka mengejek dan menghina ku."


Belum membully. Fans Reyhan hanya mengejek, mencibir, sesekali mereka sengaja menyenggol Clara sedikit lebih keras hingga membuat tubuhnya sedikit limbung. Mungkin itu bisa di sebut bully.


"Jika mereka menyakitimu, datanglah pada ku. Aku akan melindungimu."


"Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri." Clara menyeruput minumannya perlahan.


Laki-laki blondie ini mendengus dan tersenyum kecil. "Kau sama saja seperti Lisya."


"Benarkah?"


Clara tidak menyadari, berbicara dengan Reyhan terasa begitu nyaman. Hingga waktu tidak terasa sudah menjelang sore.


"Clara, ibuku memintaku untuk pulang. Apa kau ingin ku antar?" tanya Reyhan setelah menatap ponselnya beberapa saat lalu.


"Kau bisa pulang duluan. Aku akan disini sebentar lagi."


"Apa kau yakin?" tanya Reyhan ragu. Gadis yang mengenakan jaket kebesaran ini tersenyum dan mengangguk kecil.


"Baiklah."


Reyhan berdiri dan pergi setelah berpamitan. Sedangkan Clara masih memainkan sedotannya dengan senyum kecil yang tercetak di wajahnya.


Ada rasa menyenangkan yang ia rasakan sekarang. Kebosanan yang hampir membunuhnya beberapa hari sebelum ini juga sirna begitu saja.


Sesaat kemudian, dengan senyum yang masih melekat di wajahnya, Clara tidak sengaja mendongak.


Senyuman itu sirna begitu saja digantikan dengan tatapan horor pada laki-laki yang sudah duduk di hadapannya.


Se-sejak kapan?!


"Sudah lama ya, Sayang? Apa kau merindukan ku?"


Wajah Clara mengeras, menatap hantu tampan di hadapannya dengan tatapan tidak suka. Begitu menatap wajah hantu ini, Clara merasakan terpaan angin hangat yang membuat tubuhnya tergelitik.


Hatinya seolah meleleh, dengan ribuan kupu-kupu yang kembali mendesak dadanya. Perasaan yang sempat hilang kini kembali ia rasakan.


Sial!


Clara menggigit bibir bawahnya saat ia merasakan pipinya memanas. Hantu itu tidak boleh mengerti situasinya. Ia mengernyitkan alisnya, berusaha keras  agar bisa menghilangkan perasaan itu, namun gagal.


Gadis ini mengambil nafas dalam dan menghembuskannya samar. Ia mencoba tidak peduli pada laki-laki yang menatapnya begitu berminat.


"Berhenti menatapku seperti itu," ucap Clara dengan wajah berpaling.


"Jangan lawan apa yang kau rasakan," titahnya menekan. Laki-laki itu tersenyum miring menatap lekat Clara seolah ingin memakan gadis itu hidup-hidup.


Jangan menatapku seperti itu, sial!


Ini alasan ku ingin menutup pintu itu. Aku harus  segera menemui paman Leo.


"Jangan dilawan, nikmati saja perasaan itu, Sayang. Kau tahu kan aku sangat menyukaimu?"


Deg Deg Deg


Perasaan begitu menyenangkan saat Arion mengatakan hal yang ingin Clara dengar. Namun hati Clara semakin sedih karena hal itu tidaklah benar.


"Clara …."


"Kumohon, hentikan! Sebenarnya apa maumu?" geram Clara. Ia sebisa mungkin menahan ekspresi dan suaranya, melirik Arion dengan tatapan tidak suka meskipun hatinya mengatakan sebaliknya.


Clara tidak mau dikatakan gila karena orang lain melihatnya bicara seorang diri.


Arion terkekeh begitu renyah. Wajah tampannya tersenyum sayu, menopang dagunya pada pegangan kursi, menatap Clara dengan sedikit tersipu.


Arg menyebalkan! apa-apaan tatapannya itu.


"Aku tahu caranya bersenang-senang jika kau mau menerima ku," ucapnya santai.


Clara memijat pangkal hidungnya yang terasa tertekan. "Sudah kukatakan berulang kali, kita berbeda! Kumohon, jangan memperkeruh suasana," lirihnya seolah bermonolog.


"Itu karena aku benar-benar menginginkanmu."


"Bisakah kau jangan mempersulit keadaan ku?"


"Apa kau merasa kesulitan karena tidak bisa menolak perasaanmu pada ku?" sergah Arion dengan tatapan sama.


"Itu bukan perasaan ku!" marah Clara tertahan. Ia hampir kelepasan. Beberapa orang disekitarnya mulai melirik Clara dengan tatapan aneh.


"Apa salahnya menerima kalau kau menyukai–"


"Aku akan menutup pintu itu," ucap Clara dengan nafas tertahan. Ia menatap gelas miliknya dengan ekspresi tidak peduli.


Aku memang senang melihatnya menghampiri ku. Bahagia saat dia mengatakan menyukai ku, aku bahkan ingin menyentuhnya lebih dari yang ku bayangkan. Tapi aku tahu, itu bukan perasaan ku.


Mati-matian Clara mengingatkan diri bahwa itu bukan perasaannya, meski sesekali ia masih terbawa suasana.


Misalkan saja itu memang perasaan yang sesungguhnya, hubungan mereka hanya akan membawa kesengsaraan.


Tidak merespon cukup lama. Arion manatap Clara begitu kecewa. "Apa kau benar-benar ingin mendorongku menjauh? Apa kau yakin bisa melupakan ku?"


"Benar. Aku akan melupakanmu."


Aku harus melupakan perasaan ini.


Kini Arion menyandarkan punggungnya pada kursi dengan kedua tangan menyilang di depan dada. "Jika kau masih keras kepala. Tidak masalah, lakukan saja. Tapi aku pastikan, akan hancurkan laki-laki bernama Reyhan itu," ucapnya dingin penuh penekanan dengan menatap Clara datar.


"Ap–apa?! Kenapa kau bawa-bawa Reyhan?"


"Ck! Sebenarnya aku tidak mau. Tapi aku ingin kau terus bisa melihat ku. Apa aku salah jika menginginkan orang yang kusukai bisa terus memperhatikan ku?" ucap Arion dengan wajah sendu menatap Clara.


"Kalau begitu, aku akan menjauhi Reyhan."


"Lakukan saja. Aku masih akan tetap menghancurkannya jika kau berani menutup pintu yang bisa menghubungkan mu dengan ku," balas Arion dingin dan datar.


Wajah Clara mengeras menatap Arion tak suka. Ia pergi bergegas meninggalkan tempat itu.


Arion tersenyum miring dengan senyuman jahatnya, kemudian tertawa cukup keras setelahnya.


"Aku pasti akan mendapatkanmu, Sayang."


.


.


.


"Apa kau ingat saat Clara menawarkan dirinya untuk 'meminjam' di cafe waktu itu?" tanya Lisya. Reyhan hanya terdiam menatap Lisya, menunggu kalimat berikutnya.


"Saat Clara pergi ke kamar mandi, Arion datang mengancamku. Dia bahkan hampir mencelakai ku," lanjut Lisya bercerita.


"Hah? Beraninya, Hantu brengsek!" hardik Reyhan menggeram marah. Ia tidak terima kekasihnya diperlakukan seperti itu, dan hal yang paling menjengkelkan adalah saat ia tidak bisa melindungi Lisya dari hantu jahat itu.


"Tenanglah Rey, semua baik-baik saja," ujar Lisya tersenyum teduh, cukup menenangkan amarah Reyhan.


"Baiklah."


"Kejadian Clara yang mencekik mu tadi sore, aku juga yakin Arion di balik semuanya."


"Kenapa kau begitu yakin?"


"Selama ada Arion, tidak ada satu hantu pun yang berani menyentuh Clara. Dan tiba-tiba saja hari ini hantu lain bahkan bisa merasuki tubuh Clara, apa itu tidak aneh? Aku yakin Arion sudah mengizinkannya untuk masuk," jelas Lisya.


Reyhan menghela pelan. "Lalu, kenapa kau menceritakan ini pada ku?"


"Aku tidak mau Arion mengganggumu," jawab Lisya khawatir. Tangannya bergerak membelai wajah Reyhan dan menangkupnya. "Dia akan menghancurkan siapapun yang berani mendekati dan menyentuh Clara, aku khawatir Rey," ungkap Lisya begitu sedih.


Reyhan menyentuh kedua tangan Lisya yang berada di wajahnya. Memikirkan perkataan kekasihnya itu begitu dalam. Ia tidak bisa melihat hantu, lalu bagaimana ia akan melawan?