You Saw Me?!

You Saw Me?!
Perasaan sesak



Eps. 41


"Mencari ku?" tanya Arion menatap Clara penuh perhatian, "jangan khawatir, aku selalu di dekatmu."


Hanya bergeming. Clara melirik Arion dengan wajah tak suka, namun ia tidak bisa mengontrol sedikit semburat merah di pipinya.


Perlahan Clara menoleh mengalihkan pandangan nya. Jika ia bisa bersikap acuh seperti biasanya, mungkin hantu tampan itu akan pergi. Clara tidak suka laki-laki itu mengaduk-aduk perasaannya menjadi roller coaster seperti ini. Mood yang naik turun.


Namun detik berikutnya. Tubuh Clara menegang saat ia merasakan sapuan lembut di pucuk kepalanya. Dan ucapan Arion berikutnya membuat bola mata Clara membulat sempurna.


"Aku merindukan mu," suara lembut Arion.


Clara merinding dari kaki hingga ke kepala. Jantung Clara berdetak seolah mau melompat dari tempatnya. Ia memegangi dadanya, menarik nafas dalam mencoba menormalkan degup jantungnya.


Wajahnya memanas, lebih dari biasanya. Sinting! Kenapa hantu itu senang sekali membuat perasaan Clara bercampur aduk.


"Clara, kenapa wajahmu merah begitu?"


"Apa kau sakit?"


Brak


Seketika Clara berdiri, sedikit salah tingkah. "Aku beli minum dulu," ucapnya lalu pergi meninggalkan kelas.


Arion tidak mengejar. Ia hanya menatap ke arah berlalunya Clara dengan senyum tipis tercetak di bibirnya.


.


.


"Apa semua semakin memburuk?" tanya Alice.


Mereka bertiga tengah berjalan bersisian melewati lautan murid menuju tempat parkir.


"Tidak. Semua mulai membaik. Aku hanya sedikit merasa tidak nyaman," jawab Clara jujur.


"Apa kau akan baik-baik saja?" tanya Dita menyambung pembicaraan.


"Ku harap begitu."


Tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya nanti. Mungkin semua akan lebih baik, atau bisa saja lebih buruk. Clara hanya berharap semua akan baik-baik saja.


"Apa tidak ada jalan keluar?" tanya Dita lagi.


"Hemm… Mungkin ada," kata Clara terdengar asal.


"Mungkin? Kau juga tidak yakin?"


"Kenapa kau tidak memberi tau tante Harumi?" usul Alice.


Sebuah usulan yang membuat Clara menghela berat. Memberi tahu Mamanya adalah pilihan terakhir yang bisa Clara pilih. Tidak akan baik jika Mamanya tahu apa yang ia alami.


"Aku takut Mama marah."


"Apa kau tidak lelah terus seperti ini, hm?" tanya Alice lagi.


"Mungkin Mamamu akan marah di awal, tapi aku yakin, tante akan melindungi mu dan mencari jalan keluar terbaik untuk mu."


Mendengar ucapan Alice, Clara menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan kedua temannya.


"Alice benar Clara. Kau harus cerita ke Mamamu," kata Dita menimpali.


Sekali lagi, Clara menghela berat. Hanya mereka berdua yang tahu bagaimana Clara bertahan saat seperti ini. "Begitu ya?"


Rasanya pilihan itu terlalu berat, ia menunduk memikirkan apa yang akan terjadi jika Mamanya tahu Clara bisa melihat hantu dan beberapa kali merasakan hal yang hampir sama seperti kala ia SD.


Saat itu Harumi sangat mengkhawatirkan Clara, dan kali ini terjadi lagi karena kecerobohan Clara? Ah, sepertinya ia harus berpikir seribu kali untuk memberi tahu Mamanya.


"Aku tidak bisa melihatmu bertingkah aneh seperti ini. Kau  juga terlihat tidak nyaman dan gampang terkejut," ujar Alice dengan nada prihatin.


"Aku butuh pembiasaan Alice. Sekarang semuanya sudah lebih baik, tidak ada lagi yang terasa mengancamku, jadi semua akan baik-baik saja," jelas Clara mencoba meyakinkan Alice bahwa Clara bisa mengatasinya.


Alice menghela pelan lalu memegang kedua pundak Clara. "Cepatlah terbiasa, mari cari jalan keluar, kau sudah semakin aneh," kata Alice, sedangkan Dita hanya mengangguk dan tersenyum pada Clara.


Clara tersenyum, ia bersyukur berteman dengan Alice dan Dita. Mereka bahkan tidak menjauh saat situasinya seperti ini. Mereka justru memberi dukungan agar Clara menemukan jalan keluar terbaik.


"Terima kasih," ujar Clara tersenyum lembut.


"Ayo pulang," ajak Alice yang kini berjalan di depan Dita dan Clara.


Mereka berjalan mengikuti lorong lalu berbelok menuju lapangan parkir. Di arah yang berlawanan ada segerombolan anak laki-laki yang juga berjalan menuju tempat parkir.


Salah satu laki-laki itu menoleh dan tersenyum menatap Clara. Entah kenapa Clara menghentikan langkahnya dan tersenyum canggung pada laki-laki itu.


Tidak hanya Clara, Alice dan Dita juga menghentikan langkah mereka saat melihat interaksi Clara dan Reyhan.


Reyhan dan Clara menghentikan langkah serempak. Alice bertatapan dengan Dita sekilas, begitu juga dengan teman-teman Reyhan yang terlihat bingung dengan aura canggung saat ini.


Apa ada sesuatu diantara mereka?


"Rey, kami duluan," ucap Aldio kemudian berjalan meninggalkan Reyhan. Teman-teman Reyhan yang lain juga berpamitan dan pergi bersama Aldio.


"Sampai jumpa Clara," pamit Alice.


Clara hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada Alice dan Dita yang sudah pergi menjauh.


Setelahnya, Clara mengalihkan pandangannya menatap Reyhan dan Lisya yang ada di depannya dengan tatapan canggung. Ia bahkan mengalihkan pandangannya beberapa kali saat Reyhan hanya tersenyum dan menatap Clara dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jadi Lisya masih di sini? Kenapa tiba-tiba canggung begini?!


"H-hai," kata Clara mencoba memecah keheningan. Mereka bahkan mengabaikan tatapan penuh minat orang-orang yang sedang berlalu lalang, keluar masuk tempat parkir. Sebagian anak perempuan menatap Clara tajam penuh iri dan kebencian.


Suasana parkir masih ramai karena bel pulang sekolah baru saja berbunyi.


"Hai," suara Reyhan masih tersenyum menatap Clara.


Sedangkan Lisya hanya tersenyum terlihat canggung, sesekali mengalihkan pandangannya sedikit menunduk atau melihat ke arah lain.


"Lisya, kau masih di sini?" tanya Clara. Detik berikutnya Clara terkesiap begitu melihat respon Lisya yang semakin canggung. "Ah ma-maaf, bukan maksud ku untuk--"


"Tidak apa Clara, sebenarnya aku--"


"Aku yang meminta Lisya untuk berada di sini," ucap Reyhan yang tidak sadar memotong perkataan Lisya.


"Ah... umm... iya," Clara mencoba mengembangan senyumannya. Meskipun terlihat jelas senyuman itu tampak hambar.


Sebenarnya ada apa dengan mereka? kenapa mereka menatapku seperti itu?


Lisya terdiam, begitu juga dengan Clara. Ia tidak menyangka setelah beberapa minggu mengira Lisya sudah pergi, suasana menjadi canggung begitu melihat Lisya kembali. Clara bahkan tidak tahu kenapa mereka bersikap seperti itu.


"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Reyhan.


"Eh??" heran Lisya secepat kilat menoleh pada Reyhan sedangkan Clara hanya terdiam menatap Reyhan dan Lisya yang tampak semakin aneh.


"Boleh," jawab Clara ragu.


"Tidak di sini. Apa malam ini kau ada waktu? sekalian saja aku mentraktirmu makan."


"Tidak perlu mentraktirku makan, jika ingin membicarakan sesuatu, silahkan saja" ucap Clara tersenyum ringan.


Reyhan tampak berpikir. "Bagaimana kalau ku traktir kau es krim?"


"Aku tidak begitu suka es krim," sahut Clara.


"Wah... sayang sekali, padahal aku sangat menyukai es krim," kata Lisya. Clara hanya tersenyum menanggapinya.


"Kalau begitu aku traktir kau pancake atau apapun yang kau suka. Ada sebuah cafe yang cukup bagus, mereka menjual makanan enak."


"Ah tidak--"


"Aku memaksa Clara. Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihku pada mu, aku belum berterima kasih dengan benar pada mu," ucap Reyhan.


"Terima saja Clara, aku juga belum berterima kasih dengan benar pada mu," sahut Lisya.


Clara menghela pelan dan tersenyum. "Baiklah, jika kalian memaksa."


"Bagus. Malam ini ku tunggu di alun-alun, atau... apa kau ingin ku jemput?"


"Oh tidak perlu, aku bisa membawa motor ke alun-alun," jawab Clara cepat. Clara melambaikan kedua tangannya di depan Reyhan untuk menolaknya halus.


"Baiklah kalau begitu. Ku tunggu nanti malam," kata Reyhan kemudian pamit pergi.


"Sampai jumpa Clara," pamit Lisya melambaikan tangan, kemudian pergi mengikuti Reyhan.


.


.


.


Malam ini udara cukup dingin. Namun suasana di alun-alun sangat nyaman dengan lampu kota yang berderet menambah kesan cantik pusat kota ini.


Setelah memarkirkan motornya, Clara melewati deretan pedagang kaki lima yang berjejer rapi di pinggir jalan. Berjalan melewati pengunjung yang cukup ramai malam ini.


Clara menolehkan pandangannya saat mendengar suara Reyhan dan Lisya yang memanggilnya.


"Sudah lama?" tanya Reyhan berjalan perlahan mendekati Clara.


"Hai Clara," sapa Lisya.


Clara terdiam sesaat melihat Reyhan yang tampak berkilau malam ini. Reyhan hanya mengenakan jeans dengan kaos berwarna gelap dibalut jaket kain tebal, dihiasi jam tangan di pergelangan tangan kiri nya.


Pakaian Reyhan sangatlah biasa, namun Reyhan tampak berkilau di mata Clara. Penerangan remang-remang di alun-alun membuat kesan Reyhan semakin rupawan.


Mungkin karena Clara yang terbiasa melihat Reyhan dengan pakaian seragam dan kini pangeran es itu mengenakan pakaian yang berbeda. 


"A-aku baru saja sampai," jawab Clara terdengar kaku.


Lisya terdiam melihat Clara yang salah tingkah, namun detik berikutnya Lisya menarik bibirnya untuk tersenyum. "Kau terpana melihat Reyhan ku kan?"