You Saw Me?!

You Saw Me?!
Ketahuan!



Eps. 22


“Apa kau sudah gila? Kau tahu aku sudah tidak mengikuti Reyhan sejak kejadian di perpus waktu itu?!” cicit Clara namun masih berbisik pada Lisya yang sedang berdiri menatap lurus ke depan. Sedangkan Clara sedang bersembunyi di balik tembok.


Clara menyerah berargumen dengan Lisya.


Hantu cantik yang kini bersikap dingin dengan mimik wajah tidak bersahabat, bahkan lebih tidak ramah dibandingkan saat dia berkunjung ke rumah Clara waktu itu.


Merasa aneh, Clara mengikuti saja keinginan Lisya. Kali ini saja.


Saat ini Clara sedang mengikuti Reyhan dan wanita cantik berbadan mungil nan imut itu, menuju gedung belakang sekolah. Gedung praktikum yang saat ini tidak digunakan karena sedang jam istirahat.


Reyhan dan wanita kecil itu sedang berdiri tidak jauh dari tembok. Pohon-pohon kecil dan rerumputan yang cukup terawat tidak membuat kesan seram di daerah ini. Namun tempat ini tidak begitu diminati karena tidak disediakan tempat untuk duduk. Daerah ini hanya didatangi saat para murid memerlukan spesimen untuk praktikum biologi.


Takut-takut Reyhan sadar sedang diikuti, Clara meningkatkan kewaspadaannya.


Bukanlah Lisya bisa mengikuti mereka tanpa ketahuan? Kenapa dia harus menga--


“Wanita itu ingin menyatakan perasaannya pada Reyhan,” suara Lisya terdengar marah namun masih dengan intonasi tenang.


Lisya menatap Reyhan dan wanita disebelahnya tajam. Tidak pernah Clara melihat raut wajah Lisya yang seperti ini sebelumnya.


Terlihat amarah, sedih, geram entah apalagi seolah emosi itu bercampur. Clara merasa tidak nyaman karena aura itu sedikit Clara rasakan keluar di sekitar Lisya.


Bagaimana tidak, mungkin ini bukan pertama kalinya bagi Lisya melihat wanita yang berbondong-bondong menyatakan perasaannya pada Reyhan.


Clara termangu melihat perubahan ekspresi di wajah Lisya. Wajah marah Lisya berubah dan muncul seringai tipis. Karena penasaran apa yang teman hantunya ini lihat, Clara menoleh kembali memperhatikan Reyhan.


Lisya dan Clara berdiri tidak begitu jauh dari Reyhan. Mereka masih bisa mendengar percakapan mereka.


“Kak Reyhan… sebenarnya… aku… aku menyukai Kakak,” kata wanita ini gugup. “Apa Kakak… m-mau menjadi pacar ku?” lanjut wanita ini kemudian sedikit menunduk.


“Maaf. Aku tidak berniat untuk pacaran,” jawab Reyhan singkat membuat wanita itu mendongak seketika.


“Kak… tolong pikirkan baik-baik. Bukankah Kakak sudah menolak begitu banyak perempuan? Apakah aku tidak secantik kak Lisy--”


“Aku bilang aku sedang tidak ingin berpacaran. Apa kau mengerti?” potong Reyhan memberi penekanan pada setiap ucapannya.


Wanita cantik itu tersentak, terlihat jelas wanita ini meneteskan air mata. Beberapa detik kemudian, ia pergi berlari meninggalkan Reyhan seorang diri.


Reyhan masih terdiam di tempatnya semula, tidak menatap kepergian gadis itu.


Setelah adegan dramatis itu selesai, Clara menarik tubuhnya kembali untuk bersembunyi di balik tembok.


“Hal ini sudah sering terjadi,” kata Lisya tersenyum, “dan aku sangat senang karena Rey menolak semua gadis itu, hahaha,” tambah Lisya tertawa senang.


Clara mengernyitkan keningnya. Setelah tawanya mereda, Lisya kini melirik Clara dengan senyum miring yang tercetak di bibirnya.


"Jadi kau hanya ingin menunjukkan ini pada ku?"


“Mungkin kau melihat ku seperti wanita jahat… apa kau tahu? semua ini sudah terjadi bahkan saat aku masih hidup,” ungkap Lisya kini tersenyum sendu.


“Orang-orang itu bahkan terus mengincar Rey meskipun Rey dengan jelas menolak mereka. Mereka sudah tahu jika Rey sudah memiliki ku sebagai kekasihnya, tapi sepertinya mereka tidak peduli.” Lisya terdiam sejenak sedikit menunduk.


“Mereka bahkan tidak segan mendatangi ku dan meminta ku untuk menjauhi Rey.”


Clara paham rasa sakit itu. Sesama wanita, ia mengerti bagaimana rasanya melihat kekasih yang ia sayangi terus menerus mencoba direbut oleh orang lain tepat di hadapannya.


“Apa mereka senior?” tanya Clara.


“Benar. Waktu kita kelas dua, banyak senior yang mendekati Rey dan mereka mendatangi ku untuk membuatku menyerah pada Rey. Tapi aku tidak takut, aku akan terus bersama Rey." Lisya menggantung kalimatnya sejenak, tersenyum getir, "dan sekarang, mereka lebih leluasa mendekati Rey saat aku sudah tiada.”


Tidak tahu harus berkata apa, Clara hanya bisa menatap Lisya iba. Mendengar ungkapan hantu berambut gelombang itu membuat hati Clara seolah teriris.


“Aku menyesali perubahan Rey yang sangat drastis. Namun aku sedikit senang dengan cara Rey memperlakukan senior-senior itu.


Sejak saat itu, mereka berhenti mendatangi Rey. Aku pikir semua akan selesai saat senior itu lulus," curhat Lisya tersenyum miris.


Kali ini Lisya menoleh pada Clara. “Aku memang bahagia melihat Reyhan bisa menghalau semua wanita menyebalkan itu, tapi bukan berarti aku tidak menginginkan dia memiliki kekasih lagi.


Apa kau pikir aku tidak akan sakit hati? Tentu saja aku sakit. Aku hanya menginginkan gadis yang benar-benar menyukai Rey ku apa adanya. Oleh karena itu, Clara… aku ingin Rey kembali menjadi Reyhan yang dulu ku--”


Lisya terkesiap tiba-tiba dan membekap mulutnya dengan kedua tangan, Lisya mengernyit seolah panik dengan menatap lurus kedepan seperti sedang melihat sesuatu.


Perasaan Clara tiba-tiba tidak nyaman. Ia melihat Lisya kembali memberi isyarat berantakan yang susah ia mengerti.


Clara menelan ludah susah payah, apa yang Lisya lihat?


Clara menoleh perlahan saat merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Seolah deja vu, Clara mendongak menatap Reyhan horor dengan mulut setengah terbuka.


Benar. Reyhan telah berdiri di hadapannya, menatap Clara dingin dan tajam.


Mati aku!


“A-a… H-hai…,” ucap Clara takut-takut.


“Claraaaa!! maaf! Aku tidak melihat kehadiran Rey,” seru Lisya mulai panik melihat Clara dan Reyhan bergantian.


Clara menundukkan wajahnya, ia mengalihkan pandangannya ke mana pun selain Reyhan. Rasanya saat bersama Lisya, irama jantung Clara terlalu sering berdetak menggila, tubuh Clara gemetaran. Setitik peluh mulai berjalan di pelipis Clara. Ketahuan sedang membuntuti Reyhan seolah kesalahan terbesar yang Clara perbuat.


Clara mengatur nafasnya perlahan, ia tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Isi kepalanya hanya sebuah ruang hampa yang tidak bisa membantu sama sekali.


Clara mundur teratur hingga tubuhnya menyentuh tembok yang terlihat kusam. Sedangkan Reyhan mulai berjalan santai mendekati Clara.


Tanpa pikir panjang Clara mencoba menghentakkan tubuhnya untuk berlari meninggalkan Reyhan. Namun usahanya sia-sia, Reyhan menarik tangan Clara, lalu melemparkan Clara kasar pada dinding, merapatkan tubuh Clara dan mengurungnya dengan kedua tangan di dinding.


Argh! Pekik Clara saat punggungnya membentur dinding.


“Reyhan!!” pekik Lisya.


“Mau kemana kau!” dingin Reyhan. Reyhan mendekatkan wajahnya mengikis jarak dengan Clara, menatap tajam dengan tatapan penuh amarah. “Mau lari kemana hah?” dingin Reyhan.


Clara yang berada dalam kurungan Reyhan, hanya bisa terdiam tidak berani menatap. Ia meringis pelan, masih menahan rasa sakit di punggungnya akibat benturan dengan dinding.


“Kau benar-benar mengganggu pemandangan ku, kau selalu ada dimanapun aku berada, membuat ku benar-benar risih, dasar penguntit!” tajam Reyhan dengan penekanan pada kalimatnya.


Clara mendongak menatap Reyhan dengan tatapan tak terima. “Apa?”


Clara menyentak tangan Reyhan, melepaskan kurungan Reyhan dengan kasar. Sedangkan manusia tampan ini menegakkan tubuhnya dan tersenyum sinis.


“Apa maksudmu?” tanya Clara mengernyitkan keningnya tidak mengerti, dengan nada bingung.


Reyhan menatap Clara datar. “Aku tidak mau membuang-buang waktu ku…,” Reyhan mendengus, menatap Clara tidak ramah, “Katakan! Kenapa kau selalu mengikuti ku? Apa kau menguntit ku?” tanya Reyhan dingin.


“Hah? Sejak kapan aku mengikutimu? Aku tidak--”


“Jangan banyak omong!” potong Reyhan membuat Lisya dan Clara terdiam.


Rahang Reyhan mengeras, kemudian tersenyum remeh. “Apa yang kau inginkan dari ku? Apa kau juga ingin mengatakan cinta mu pada ku? Bukankah kau sudah melihatnya pada anak perempuan tadi?”


“Jangan salah paham, aku tidak menyukaimu!” balas Clara ketus.


“Oh… tidak menyukai ku?” cibir Reyhan menaikkan sebelah alisnya.


Jelas Reyhan tidak percaya ucapan Clara.


“Sejak kau menabrak ku waktu itu, sejak saat itu kau terus mengikutiku. Kau tersenyum seolah mengenal ku, melambaikan tangan seolah kita sudah dekat. Dan kau juga selalu berada di sekitarku! Apa itu bukan penguntit?!” marah Reyhan.


“Kapan aku--”


Perkataan Clara terhenti kala melihat Lisya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Apa?” tanya Reyhan geram.