You Saw Me?!

You Saw Me?!
Teman curhat



Eps. 15


“Bagaimana luka mu?” tanya Lisya masih berdiri di samping ranjang.


"Hanya luka ringan," jawab Clara seadanya.


Hening, tidak ada pembicaraan sama sekali setelahnya. Menyentuh tangannya yang diperban rapi, rasanya situasi ini benar-benar canggung.


Clara dengan jelas masih bisa merasakan Lisya yang setia berdiri di belakangnya. Rasanya ia ingin pergi saja dari tempat ini, tapi Clara lebih berharap Lisya yang segera pergi dari UKS.


“Aku tidak bermaksud menyakiti mu,” suara Lisya tiba-tiba.


Clara sedikit tersentak. Namun, ia masih terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.


“Aku hanya ingin menutup pintunya, tapi aku tidak menyangka pintunya tertutup terlalu keras,” ungkap Lisya menjelaskan.


"Bukan karena kau marah pada ku?” tuduh Clara datar terdengar dingin.


Lisya tidak langsung menjawab, dia masih terdiam. Tidak peduli pada jawaban hantu berambut bergelombang ini, Clara memilih memejamkan matanya.


“Aku tidak marah pada mu Clara. Untuk apa aku marah, kau tidak memiliki salah apapun pada ku. Aku hanya… sedikit kecewa,” kata Lisya sedikit memberi jeda di akhir kalimatnya.


“Tapi aku benar-benar tidak berniat mencelakai mu, itu semua hanya kecelakan. Percayalah!” tambah Lisya mencoba meyakinkan Clara.


Clara menghela pelan sembari tersenyum kecut, masih beruntung tangannya hanya sedikit mendapatkan luka gores. Bagaimana jika pecahan kaca itu malah melukai Clara lebih jauh lagi?


Tapi semua bukan salah Lisya. Clara menggeleng pelan, seandainya saja ia tidak terbawa perasaan dan berdiri terlalu lama menatap keduanya iba, semuanya tidak akan pernah terjadi.


"Aku hanya takut, kau terluka parah karena ulahku, makanya aku kemari untuk minta maaf," lirih Lisya. Dapat Clara tanggap nada bersalah dalam suaranya.


Tidak ada tanggapan. Keduanya kembali terdiam hingga akhirnya Lisya kembali membuka suara.


“Rasanya… aku sudah mulai putus asa,” gumam Lisya, kini ia menunduk menatap lantai yang terlihat lebih menarik.


“Saat aku menyadari bahwa aku sudah tiada, aku benar-benar kacau. Aku marah! Sedih! Aku ketakutan,” suara Lisya terdengar dramatis dan sirat keputusasaan.


“Aku masih ingat saat seorang dokter menyatakan bahwa aku telah tiada, aku benar-benar tidak mempercayainya. Melihat tubuh ku yang sudah ditutupi kain...” Lisya menghentikan kalimatnya seolah tak sanggup melanjutkannya lagi. Lisya tersenyum getir.


Clara menyentuh bahunya, memeluk tubuhnya sendiri. Ternyata mendengar cerita dari hantu yang mengalaminya, menambah rasa iba pada cerita menyedihkan dari kisah tragis yang berusaha ia hiraukan.


“Rasanya begitu cepat, terlalu tiba-tiba. Masih banyak yang belum aku lakukan, aku tidak menyangka hari itu adalah hari terakhir aku hidup,” Lisya kembali memberi jeda pada kalimatnya yang suaranya kini terdengar sedikit bergetar.


Suasana UKS terasa semakin dingin bagi Clara, keheningan yang terjadi membuatnya terlalu fokus pada suasana hati yang Lisya tunjukkan. 


“Melihat kenyataan yang sulit untuk diterima, keluarga ku yang begitu bersedih saat melihat tubuhku sudah tak bergerak, aku mencoba untuk menerimanya. Tapi… aku tidak bisa tenang saat melihat Reyhan berubah,” sambung Lisya.


“Setelah penantian panjang, ku pikir aku akan mendapatkan jawabannya saat aku bertemu dengan mu,” ucap Lisya tersenyum hambar. “Aku benar-benar bahagia tapi… ternyata aku salah.”


Clara mematung di tempat ia berbaring, sedikit banyak nya ia mengerti apa alasan Lisya begitu antusias saat bertemu dengannya.


Hantu yang begitu setia mengikutinya dengan senyum yang tidak pernah hilang, pengharapan besar untuk bisa berkomunikasi dengan kekasihnya.


Clara berdecak lirih, ia menutup matanya dengan gigi bergemeretak. Bukannya ia tidak mau membantu, hanya saja efeknya akan sangat tidak baik bagi Clara.


Mungkin Lisya akan menyelesaikan masalahnya tapi bagaimana dengan nasibnya?


Lisya tersenyum sendu melihat Clara masih berbaring membelakanginya seolah dia benar-benar tidak mendengar cerita Lisya. Clara bahkan tidak merespon.


"Tapi… sudahlah, menceritakannya pada mu tidak akan mengubah apapun. Kau juga tidak bisa berbuat apa-apa,” lirih Lisya mendesah pelan. “Sekali lagi aku minta maaf, selamat tinggal,” pamit Lisya kemudian berbalik hendak meninggalkan Clara.


Masih beberapa langkah, langkah Lisya terhenti begitu mendengar suara Clara.


“Tu-tunggu!” cegah Clara.


Tampak terkejut, dengan ragu Lisya membalikkan badannya, ia menemukan Clara sudah duduk di atas ranjang dan menatap Lisya.


“Apa?”


Clara melirik, mengalihkan pandangannya dari Lisya seraya tersenyum kaku. Ia merutuki dirinya telah menahan Lisya untuk pergi.


Menelan ludah susah payah, ia mulai mengusap bahunya perlahan.


“Umm… mungkin aku tidak bisa meminjamkan tubuh ku pada mu, tapi kalau kau mau, aku masih bisa mendengarkan semua ceritamu,” usul Clara sedikit canggung.


“Itu hanya akan membuang-buang waktu,” kata Lisya menatap Clara dengan wajah biasa.


“Bukankah kau selalu sendiri sejak saat itu? Apa kau tidak ingin menceritakan semua perasaan mu pada seseorang yang bisa mendengarmu?” tanya Clara mantap.


Biarlah, hanya mendengarkan ceritanya tidak membahayakan bagi Clara. Cukup tidak meminjamkan tubuhnya pada hantu manapun, ia akan aman.


Lisya terdiam, ia terlihat mulai mempertimbangkan perkataan Clara.


“Bukankah tidak ada yang mengerti bagaimana perasaanmu saat kau meninggal? Aku bisa menjadi pendengar yang baik, mendengarkan segala keluh kesah mu,” usul Clara lagi.


Dengan ini Clara mungkin bisa membayar rasa bersalahnya telah menolak untuk membantu Lisya.


Lisya bergerak mendekati ranjang dan duduk di sana. “Jadi, sekarang kau mau menjadi teman ku?” tanya Lisya.


“Mu-mungkin… asal kau tidak memaksa ku untuk meminjamkan tubuh ku pada mu,” jawab Clara mengalihkan pandangannya dari tatapan Lisya, ia kembali mengusap bahunya pelan.


Asalkan Lisya tidak mengambil alih tubuhnya secara paksa, mungkin mereka bisa saja berteman sampai Lisya mendapatkan orang yang tepat untuk membantunya.


Lisya sedikit menunduk, tampak memikirkan apa yang Clara ucapkan.


“Mungkin aku bisa mengurangi sedikit beban di hatimu, jika kau mau menceritakan semuanya pada ku,” tambah Clara.


Lisya menoleh menatap Clara dengan ragu. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu dengan pilu.


“Clara? Apa kau sedang berbicara dengan seseorang?” tanya Bu Ely tiba-tiba, membuat Clara terkesiap.


“Ah… i-iya Bu, saya sedang menghubungi orang tua saya,” jawab Clara mencoba menormalkan suaranya. Ia terkejut bukan main. Bagaimana bisa Clara melupakan keberadaan Bu Ely yang masih berada di ruangan yang sama.


Clara mengalihkan pandangannya pada Lisya yang kini sedang tertawa lepas, menertawakan Clara yang hampir saja ketahuan.


“Kasihan sekali, kau harus menjaga volume suara mu agar tidak ketahuan, hihi,” tambahnya tersenyum geli.


Clara mendengus kesal dan mengernyitkan keningnya. Baru saja Lisya terlihat sedih dan seolah akan menangis, tapi coba lihat saat ini, dia tertawa begitu lepas tanpa beban. Apa dia memang tipe yang angin-anginan?


“Hmm… meskipun aku tidak tahu ini akan berguna atau tidak, tapi hal ini patut di coba,” kata Lisya setelah menormalkan tawanya.


Clara beringsut pelan dan duduk bersila di atas ranjang, menghadap Lisya.


"Mau melanjutkan cerita mu?" tanya Clara kini mulai menunjukkan senyumnya. 


Lisya tersenyum meremehkan."Aku penasaran, kau mau menjadi pendengar ku atau kau penasaran dengan cerita kematian ku?" cibir Lisya. 


Clara menghela pelan, memutar bola matanya malas. "Kau terlalu banyak berpikir," desis Clara. Lisya terkekeh kecil.


Lisya menghela pelan sebelum memulai ceritanya. “Hari itu, aku sedang menunggu Reyhan pulang dari kelas bimbingannya.”


“Aku terlalu bersemangat karena kami sudah tiga hari tidak bertemu. Maaf saja, tidak bertemu tiga hari dengannya benar-benar membuat ku merindukannya,” cicit Lisya membela diri.


“Iya, iya aku mengerti.” Clara kembali  memutar bola matanya malas.


“Aku berangkat terlalu awal karena sudah tidak sabar menemuinya, hasilnya tentu saja Reyhan masih belum selesai di kelas bimbingannya. Untuk mengisi waktu, aku membeli jajanan di seberang jalan dan memakannya di tempat,” lanjut Lisya.


“Saat aku hampir menghabiskan makanan ku, aku mendengar Reyhan memanggil nama ku. Kau tahu Clara? Saat melihatnya melambaikan tangannya pada ku dari seberang jalan, rasanya benar-benar membuat ku seperti di atas awan. Melihat wajah cerianya, antusiasnya saat melihatku, bahkan saat itu dia sudah membawakan es krim untuk ku,” sambung Lisya dengan senyum riangnya.


“Aku segera pergi menghampirinya, rasanya aku ingin segera melompat dan memeluknya saat itu juga. Tapi aku tidak segila itu, aku masih memperhatikan jalan, menyeberang dengan benar. Aku benar-benar menyebrang saat aku yakin kendaraan masih jauh melintas. Dan kau tahu, jalanan itu adalah jalan satu arah. Satu arus."


Setelahnya, Lisya tampak terdiam. Seolah sedang berpikir menerawang tentang kejadian masa itu. Sesekali tersenyum getir dan menghela berat.


Lisya kembali melanjutkan ceritanya, menerawang ke masa itu. Melihat kendaraan yang terlihat cukup jauh, Lisya mulai melangkahkan kakinya untuk menyebrang ke tempat Reyhan berdiri.


Lisya berlari kecil agar ia cepat sampai ke sisi seberang. Namun, hanya beberapa langkah lagi saat tiba-tiba ada pengendara motor yang melawan arus hampir saja menabrak Lisya.


TIIIN TIN


Lisya mundur beberapa langkah untuk menghindari motor yang melawan arus itu, namun tidak disangka, sebuah mobil dari arah sebenarnya melintas cukup cepat. Lisya sudah tidak bisa mengelak lagi, tubuhnya terpaku melihat mobil sudah menabrak tubuhnya.


TIIIIIIIN


CRIIIIIIT DUAK


KYAAAAAA