You Saw Me?!

You Saw Me?!
Apa mau mu?



Eps. 10


Clara menghela berat dan kembali meletakkan punggungnya pada punggung sofa. Mengingat hantu itu sedikit membuat Clara kesal. “Untuk apa dia melakukan itu, aku benar-benar tidak nyaman. Dia terus saja mengagetkanku, itu tidak baik buat jantung! ” desis Clara mendengus kesal.


Leo tersenyum simpul lalu kembali menyeruput teh nya. “Apa yang kau rasakan saat bertemu dengannya? Apa kau merasakan aura intimidasi seperti yang kau rasakan saat bertemu dengan hantu jahat?”


Clara tampak terkejut dan kembali berpikir, sepertinya ia melupakan hal itu. “Tidak, Paman.”


Leo menatap Clara lembut dan terkekeh pelan. “Kau hanya bereaksi berlebihan padanya.”


Kini Clara benar-benar kehabisan kata-kata, ia membuka mulutnya sesaat namun kembali menutupnya. Clara menghela pelan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, sepertinya apa yang dikatakan Leo benar.


“Hahahaha, apa kau baru saja menyadarinya?” cibir Leo.


“Oh ayolah Paman, bisakah Paman berhenti menertawakan ku? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan hantu, aku pasti tidak tenang kalau tiba-tiba saja ada hantu yang muncul dan kembali mengganggu ku,” kata Clara membela diri.


“Dan melupakan pesan ku waktu itu,” sambung Leo.


“Ah... bu-bukan begitu Paman, aku hanya sedikit terkejut, dan… sedikit trauma,” ujar Clara sedikit menunduk. Ia tidak mau mengingat lagi kejadian mengerikan yang pernah ia rasakan saat kecil dulu.


“Aku tahu Clara, tapi jika kau bereaksi berlebihan seperti ini, kau tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Bisa jadi akan ada hantu lain yang akan muncul di hadapan mu. Bukankah Paman sudah katakan untuk menjaga pikiran mu agar tetap fokus?”


Clara menunduk. “Maaf, Paman.”


“Untuk apa minta maaf, hahaha. Setidaknya sekarang kau sudah sadar. Jangan sampai kau terbawa perasaan. Ingat pesan ku baik-baik,” kata Leo tersenyum lembut.


“Bisa jadi dia masih memiliki urusan yang belum selesai, jika kau bisa membantunya mungkin dia akan pergi dengan tenang,” sambung Leo lagi.


Clara terdiam menatap Leo lekat sebelum akhirnya Clara kembali menunduk. “Clara?”


“Aku hanya takut, dia hanya menginginkan tubuhku, ” jawab Clara cepat di detik yang sama saat Leo memanggilnya.


Leo terdiam, masih menunggu Clara untuk melanjutkan kalimatnya. Kini Clara tampak cemas sebelum akhirnya kembali bercerita. 


“Membuat ku mengingat rasa sakit saat salah satu di antara mereka mencoba mengambil tubuh ku, rasanya benar-benar tidak nyaman Paman, rasanya benar-benar sakit. Kesadaran ku--"


”Clara!” bentak Leo membuat Clara terdiam dan menatap Leo.


Leo tersenyum tenang. “Bukankah sudah ku katakan jangan terbawa perasaan. Semua sudah berlalu, jangan diingat lagi. Lupakan. Semua hal buruk yang pernah kau rasakan, lupakan. Bukankah dia tidak melakukan hal buruk pada mu?” tanya Leo, Clara masih terdiam.


“Aku mengerti, rasanya pasti tidak nyaman. Tapi saat kau terlarut dalam pikiranmu, tekanan, amarah dan hal yang membuatmu tidak fokus. Itu akan membuat pintu yang Paman tutup akan kembali terbuka, dengan begitu bukan hanya dia, banyak hantu jahat yang akan kembali mengincar mu,” jelas Leo.


Clara tertunduk diam. Dia tidak pernah berpikir akan bisa melihat hal seperti itu lagi.


“Clara, lihat Paman,” suruh Leo, Clara mendongakkan kepalanya menatap Leo sendu.


Leo tersenyum manis. “Percayalah, dia hanya ingin sedikit mengerjai mu, jika kau tidak mendapat aura intimidasi dari nya, itu artinya dia tidak memiliki niat jahat pada mu. Kau harus tetap tenang, menghadapi nya dengan biasa saja.


Acuhkan, abaikan jika kau bisa, benar-benar mengabaikannya 100%. Namun jika kau mau berbicara padanya sekalipun, itu tidak akan ada masalah saat kau benar-benar percaya kalau kau tidak akan terbawa perasaan,” jelas Leo panjang lebar.


“Apa aku masih boleh berbicara dengannya?” tanya Clara.


“Boleh, asalkan kau tahu dia siapa, dan kau harus bisa mengontrol emosi mu. Jangan terbawa perasaan,” jelas Leo singkat, terus mengulang kalimatnya.


Clara mengangguk. “Aku akan mengabaikannya Paman, tapi jika dia mulai menyebalkan, mungkin aku perlu sedikit berbicara dengannya.”


“Percaya diri sekali,” cibir Leo kembali menyeruput teh miliknya.


“Sebenarnya Paman mau menyemangati ku atau tidak sih!” kesal Clara, Leo terbahak cukup keras.


“Paman, bisakah Paman tidak mengatakan pada Mama kalau aku berkunjung ke sini?” pinta Clara.


“Bisa, lalu apa jaminannya?” goda Leo.


“Paman!!!”


“Hahaha, tenang saja Sayang, Paman akan merahasiakannya. Satu lagi Clara, entah sudah berapa kali Paman katakan, hantu itu mungkin tidak berbahaya, tapi kau harus tetap tenang dan jangan terbawa perasaan, agar tidak berdampak buruk untuk mu selanjutnya,” kata Leo memperingati.


Melihat Leo yang cukup serius, Clara mengangguk paham.


Clara tersenyum, mungkin jika Clara tidak berkunjung waktu itu, Clara tidak akan bisa setenang ini.


.


.


Clara melewatinya begitu saja. Clara baru kembali dari toilet dan Lisya sudah menunggunya disana.


Setelah beberapa hari absen, kini Lisya kembali muncul di hadapan Clara.


Aku pikir semua sudah berakhir, ternyata di--


"Akh!!" teriak Clara saat Lisya menyentuh pundaknya.


Clara menjauh seketika seraya memegangi pundak yang Lisya sentuh sebelumnya. Ia melotot menatap Lisya jengah, ternyata dia belum menyerah.


Lisya tersenyum menang. "Ternyata itu satu-satunya cara agar kau merespon ku?"


Clara hendak menjawab tapi ia urungkan, dengan tidak peduli, membuang muka dan berjalan menjauhi Lisya.


Sejak saat itu, Lisya terus mencoba menyentuh Clara. Respon Clara yang kadang terlalu terkejut cukup mengundang perhatian dan juga membuat sangat tidak nyaman bagi Clara.


Lisya duduk dengan menggerakkan kakinya ke depan dan kebelakang, melihat Clara yang sedang kesal padanya.


"Salah mu sendiri, kenapa tidak merespon ku," ejek Lisya.


"Aku sudah sering menceritakan padamu tentang Reyhan kan? Sebenarnya aku ingin minta bantuanmu untuk menyampaikan pesan ku padanya," ucap Lisya.


Tidak ada jawaban. Clara hanya memakan cemilannya dengan ganas.


"Hei, mau ya?" tanya Lisya lagi.


Lisya mulai kesal, ia mengulurkan tangannya sengaja ingin menyentuh Clara. Namun kali imi berbeda, Clara menjauh dan menatap Lisya tajam.


Clara berdiri cukup dramatis kemudian pergi meninggalkan Alice dan Dita yang tampak terkejut.


"Hei mau kemana?" teriak Dita.


"Beli minum," jawab Clara.


"Titip satu," sambung Dita lagi.


Alice hanya menggeleng tak habis pikir.


.


.


Clara meneguk air mineral dinginnya mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila karena kelakuan Lisya. Lisya sudah berlebihan, Clara tidak suka disentuh, apalagi oleh hantu.


Clara bersyukur bel masuk belum berbunyi, sehingga Clara masih bisa membeli air di kantin tanpa harus antri.


“Dia benar-benar sudah gila!” kesal Clara.


Clara tidak habis pikir, bagaimana bisa hantu itu kembali mendekati Clara setelah diacuhkan seperti itu. Apa dia hanya ingin bermain-main? Itu terlalu berlebihan.


“Sial!!” umpat Clara kembali meneguk air minumnya.


“Sedang apa di sini?” suara Lisya, muncul dengan senyuman khas nya. Senyuman tanpa dosa.


Clara meletakkan botol air mineralnya cukup keras, lalu menatap Lisya tajam.


“Cepat katakan, apa mau mu?” tajam Clara.


“Hei, tidak perlu marah. Sudah ku bilang aku hanya ingin meminta bantuan mu," jawab Lisya santai.


Clara terdiam. Mencoba menenangkan emosinya. "Katakan."


"Bolehkah aku meminjam tubuh mu?"