
Eps. 35
Berjalan dengan gontai, Clara membuka pintu kamar kemudian masuk ke dalamnya. Setelah bersusah payah mencoba bertahan selama perjalanan pulang akhirnya Clara sampai di rumahnya. Tubuhnya seolah ditarik ke bawah, kakinya juga terasa berat untuk digerakkan.
Beruntung ia bisa sampai di rumah dengan selamat. Clara lalu merebahkan diri di atas ranjang. Tubuhnya benar-benar terasa berat dengan tenaga yang terkuras habis. Ia bahkan harus menghabiskan satu liter air untuk menghilangkan rasa hausnya.
Belum berapa menit menempelkan tubuhnya pada kasur, sekarang ia sudah harus bangun karena ingin ke kamar mandi. Bagaimana tidak, ia sudah minum air sebanyak itu dalam waktu tiga jam.
Setidaknya Clara harus istirahat sejenak, sebelum menghadapi Mama nya besok pagi. Ya, kali ini dia aman karena Mamanya sedang bekerja.
"Kenapa aku harus terbawa suasana?! Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!!" sesal Clara mengacak dan memukuli bantalnya asal.
Setelah dirasa cukup melampiaskan kekesalannya, Clara terdiam dan menghela berat. “Tapi aku tidak tahan melihat mereka begitu menderita,” lirih Clara ketika mengingat Reyhan dan Lisya yang tampak frustasi hingga menangis bersama.
Clara mengeluh dan mengacak rambutnya frustasi.
"Aaarrggh! Semoga aku akan baik-baik saja,” keluh Clara dengan wajah lelahnya, tidak butuh waktu lama baginya untuk terlelap dan pergi ke alam mimpi.
Pagi hari tiba, Clara sudah siap ke sekolah dengan seragam lengkapnya. Ia turun ke lantai satu dan bergabung dengan keluarganya untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi," sapa Clara.
"Selamat pa-- Clara, apa semalam kau menangis?” tanya Harumi dengan intonasi yang berubah serius dan penuh penekanan.
Clara sempat tegang, tapi ia berusaha sesantai mungkin agar Mamanya tidak khawatir ataupun curiga.
“Bukan semalam Ma, kemarin sepulang sekolah aku, Alice dan Dita menyaksikan drakor bersama. Kami menangis bersama karena filmnya benar-benar menyentuh,” jelas Clara sedikit mendramatisir.
“Dasar cengeng,” cibir Ryo.
“Jangan ikut campur kau Ryo!” kesal Clara.
“Sudah-sudah selesaikan makan kalian,” ucap Ezra, Papa Clara, mencoba menyudahi kebisingan di meja makan.
Clara menghela samar, jika saja Alice tidak memberikan ide tentang menangis bersama, mungkin Clara akan mengaku pada mamanya.
Hari-hari berlalu seperti biasanya. Beberapa hari ini, Clara sudah tidak melihat keberadaan Lisya lagi. Apa Lisya sudah pergi dengan tenang? Bagaimana dengan Reyhan? Dia masih dingin seperti biasanya, namun hanya dingin pada anak perempuan yang terlihat menyukai dan mencoba mendekatinya.
Pangeran es menyeramkan itu sudah lebih ramah dan mulai berteman lebih luas. Mereka akan sedikit bertegur sapa jika tidak sengaja berpapasan. Dita bahkan bersorak kegirangan, tidak menyangka akan mendapat perlakuan ramah dari pangeran es idola kaum hawa itu.
Namun, saat semua terasa lebih tenang, ada suatu hal yang membuat Clara harus belajar bersikap lebih tenang dari biasanya.
Terkadang Clara ingin merutuki sikapnya waktu itu. Karena kecerobohannya meminjamkan tubuhnya pada Lisya, Clara kembali merasakan sesuatu yang terkadang terasa tidak nyaman baginya.
Clara dapat melihat hantu lain selain Lisya. Parah!
Seperti hantu tampan yang ada di depannya kali ini.
“Selamat pagi Clara! bagaimana kabar mu hari ini?” tanya hantu tampan di depannya dengan senyum tampan andalannya.
Dia adalah hantu laki-laki yang terlihat seperti manusia biasa, sama seperti Lisya. Dengan badan yang cukup tinggi, tubuh atletis yang bagus dan wajah yang sangat tampan. Seperti pangeran tampan idaman.
Andai dia hidup, mungkin dia akan menjadi saingan terberat bagi Reyhan.
Pakaiannya sudah seperti oppa korea. Dia berjalan seperti manusia, terkadang melayang seperti yang sering Lisya lakukan.
Dua hari ini, dia, yang Clara tidak ketahui namanya, tiba-tiba muncul dan terus saja mengikutinya. Namun Clara hanya membiarkan seolah tidak melihatnya.
Gadis berambut sebahu ini melewati saja hantu tampan yang kini sedang berdiri di depannya. Namun hantu itu tiba-tiba saja terbang dan berjalan beriringan dengan Clara.
“Apa kau tidak lelah berpura-pura tidak melihat ku?” tanyanya.
Clara masih bergeming, enggan menoleh sedikitpun, ia berjalan menuju kelasnya tidak memperdulikan hantu tampan ini.
“Jangan membuat ku gemas Clara, kau terlalu menggemaskan jika bersusah payah mengabaikan ku seperti itu,” kata hantu ini dengan senyum gemasnya. Dia lalu mencoba menyentuh pipi Clara.
“Akhirnya kau menatap ku… huhuhu,” ujarnya, sedikit menyeramkan di telinga Clara.
“Apa mau mu?!” ketus Clara bergumam pelan. Tidak menatapnya, ia mengalihkan pandangannya lalu kembali berjalan menuju kelasnya. Ia tidak mau dianggap gila oleh orang sekitarnya karena sudah berbicara seorang diri.
“Aku hanya ingin berteman dengan mu,” jawabnya dengan senyum lembut sangat manis.
Alasan klasik semua hantu!
“Aku tidak percaya pada hantu.”
“Oh? kau tidak percaya pada hantu setelah kau membiarkan hantu cantik itu meminjam tubuh mu?”
Clara terdiam, menghentikan langkahnya seketika. Namun detik berikutnya, ia kembali melanjutkan langkahnya tanpa menanggapi perkataan hantu rupawan itu.
Ternyata dia sudah tahu!
“Oh ayolah Sayang, aku hanya ingin berteman dengan mu,” ucap hantu ini kembali mengikuti Clara.
“Apa kau tahu? tubuh manis mu ini akan mengundang banyak hantu yang ingin mengambil tubuh mu?” bisik hantu ini sangat dekat di telinga Clara.
Clara bergidik ngeri mendengar bisikan di telinganya. Setelah memperhatikan suasana sekitar yang cukup sepi, ia menghentikan langkahnya sekali lagi, lalu menoleh. “Sebenarnya apa mau mu? Apa kau juga hantu yang ingin mengambil tubuhku?” geram Clara.
Hantu ini melongo sebentar lalu terkekeh kecil. “Kenapa marah begitu? sudah ku katakan, aku hanya ingin berteman dengan mu. Aku akan melindungi mu. Bukankah kau senang melihat hantu tampan di sisi mu?” tanya nya percaya diri.
Clara tersenyum miring. “Hantu sepertimu seharusnya bisa menirukan wajah seseorang yang jauh lebih tampan dari ini, bukan?” cibir Clara.
Ucapan Clara berhasil membuat hantu laki-laki ini terbahak keras. “Jadi… kau tidak suka melihat ‘wajah’ tampan ku? Apa aku perlu mengubah wajah ku menjadi lebih tampan atau… kau lebih menyukai wajah seram ku?” tanya hantu ini sedikit menyeringai.
DEG
Menelan ludah susah payah, Clara tidak sadar memundurkan langkahnya. Ia tahu bermain-main dengan hantu tidaklah baik, apalagi hantu dengan aura yang lebih kuat dari Lisya.
“Hahaha, apa kau takut?” tanya hantu ini lagi. Dia memiringkan sedikit wajahnya tersenyum sangat manis. Membuat wajah Clara sedikit memerah.
Tidak ada laki-laki tampan yang mengejar Clara seperti ini sebelumnya. Hanya laki-laki di depannya ini. Benar-benar tampan, tapi kenapa harus hantu?
Tidak bisa dipungkiri, wajah tampan hantu itu sebenarnya adalah tipe kesukaan Clara.
“Kau tahu? Ini memang wajah asli ku, tapi aku sedikit membuatnya lebih menawan. Perkenalkan, nama ku Arion,” kata Arion akhirnya memperkenalkan diri.
“Hmm… pemilihan nama yang bagus,” sindir Clara tidak percaya.
“Kau benar-benar menguji kesabaran ku Sayang. Arion memang nama asli ku. Kenapa kau tidak mempercayaiku tapi begitu mempercayai Lisya?” tanya Arion.
Clara menghela pelan. “Anggap saja itu namamu. Jadi A-ri-on, hantu tampan dan baik hati, tolong jangan mengganggu ku, oke?” final Clara lalu pergi meninggalkan Arion.
“Hahaha, Clara ingatlah, kau akan membutuhkan ku untuk melindungi mu,” seru Arion dari kejauhan.
“Bau tubuhmu benar-benar manis,” gumam Arion menyeringai menyeramkan saat Clara sudah tak lagi bersamanya.
Clara berjalan cepat dan bergegas memasuki kelasnya. Memang benar yang Arion katakan, akhir-akhir ini Clara sering merasakan hal yang tidak nyaman di sekitarnya, namun ia harus tetap tenang seperti yang dikatakan Leo. Meskipun semua tidak terasa seperti dulu, Clara tetap harus waspada.
“Clara, ada apa?” tanya Dita melihat Clara yang tampak tegang.
“Apa kau baik-baik saja?” tambah Alice yang sudah memutar tubuhnya ke belakang.
Clara mengangguk dan tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
Benar… aku harus baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja jika aku tidak memperdulikan mereka. Mereka hanya ingin membuat ku merasa takut dan tidak nyaman.
Apa aku harus berkonsultasi dengan paman Leo? Tapi bagaimana jika paman Leo memarahi ku atau malah menceritakannya pada Mama?