
Eps. 7
“Clara… banyak di antara mereka yang menyukai tubuh mu, mereka akan terus mengganggu mu agar kau kehilangan fokus, stress, tertekan dan sulit mengendalikan emosi. Dan disaat itulah mereka akan masuk ke dalam tubuh mu,” jelas Leo membuat Clara terdiam menatap Leo sedikit khawatir.
Leo tersenyum, “Tapi jangan khawatir, semuanya sudah selesai. Kau tidak akan melihat atau merasakan mereka lagi,” jelas Leo.
Clara mengangguk antusias, Harumi tersenyum lega.
“Ingat pesan Paman, jaga pikiranmu jangan sampai kau termenung atau melamun. Cobalah memiliki teman, dan jika suatu saat kau melihat mereka atau mendengar sesuatu, jangan hiraukan mereka. Mereka hanya suka mengganggu mu, hahaha,” tambah Leo.
“Apakah itu artinya Clara masih bisa melihat lagi?” tanya Harumi.
“Jangan khawatir, aku hanya memberinya nasehat,” ucap Leo santai sambil menyeruput teh miliknya.
“Tenanglah Sayang, jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan pada Mama, Oke?”
“Baik Ma,” jawab Clara.
Sejak saat itu, aku sudah tidak bisa melihat hantu lagi, juga tidak merasakan hal aneh lagi. Aku hanya fokus bermain dengan teman-teman ku dan mencari kesibukan. Mama hanya berpesan, jangan pernah menceritakan hal ini pada siapapun karena belum tentu mereka akan mempercayainya.
“Mama jangan khawatir… aku hanya terkejut. Terakhir kali aku melihat mereka saat aku duduk di bangku SD. Dan sekarang, saat aku sudah kelas tiga SMA, aku bisa melihat mereka lagi. Aku belum terbiasa.”
“Kau tidak harus terbiasa Sayang, bagaimana perasaan mu sekarang?” tanya Harumi tampak tenang.
“Aku baik-baik saja Ma, hantu yang muncul bukan hantu yang seperti dulu,” jawab Clara.
“Lalu hantu seperti apa?”
“Hmm… seperti manusia, dan auranya tidak mengintimidasi seperti yang dulu. Aku akan baik-baik saja Ma,” ujar Clara mencoba menenangkan hati Mamanya.
“Baiklah kalau begitu, jika ada sesuatu yang mulai terasa mengganggu mu, segeralah hubungi paman Leo, apa Mama perlu menemani mu?”
Clara menggeleng. “Tidak perlu Ma, jika aku ingin bertanya sesuatu aku bisa menghubungi paman Leo secara langsung. Lagi pula, paman Leo bilang cukup mengacuhkan mereka, semua akan baik-baik saja,” jelas Clara.
“Hmmm… baiklah kalau begitu. Mama berangkat dulu, kau tunggulah Ryo dan hati-hati saat berangkat sekolah,” pamit Harumi mengacak puncak kepala Clara.
“Baik Ma.” Clara tersenyum melihat Mamanya berlalu.
Clara menghela pelan menatap kedepan begitu lama. “Paman Leo,” gumam Clara dengan pandangan menerawang.
.
.
.
Clara berjalan menghampiri Dita dan Alice yang juga baru sampai di tempat parkir sama seperti Clara.
”Dita, Alice, baru sampai?” sapa Clara.
“Hmm... hei, apa PR biologi kalian sudah selesai?” tanya Dita.
“Eh? Bukankah itu hanya tugas merangkum?” tanya Clara.
“Entahlah, bab itu belum dijelaskan sama sekali oleh bu Lucy, bisa jadi beliau hanya ingin kita membacanya,” ujar Alice santai.
“Tapi apa kau merangkumnya Alice?” tanya Dita.
Alice hanya mengangguk santai.
"Aaaaah pantas saja kau terlihat santai,” rengek Dita, sedangkan Clara hanya menghela pelan.
“Bisakah kalian tidak berdiri di tengah jalan?” suara berat seorang laki-laki menghentikan pembicaraan mereka.
Clara dan yang lainnya menoleh, mendapatkan Rey yang tengah melihat datar ke arah mereka.
Clara terkesiap sekilas, namun Clara kembali dengan wajah datar sedatar mungkin. Bahkan mengacuhkan seseorang dibelakang Rey.
“Oh… maaf,” ucap Dita lalu memberi jalan. Beberapa murid lain juga terlihat berlalu lalang di parkiran menuju kelas masing-masing.
Tempat parkir memang cukup luas, hanya saja jarak antara motor yang cukup untuk dua orang berjalan berpapasan.
Rey melihat Clara yang sedang 'terlihat' tidak mau menatapnya, Rey memicingkan matanya sesaat lalu berlalu meninggalkan tempat parkir.
“Sayang sekali, si tampan itu sekarang begitu dingin,” kata Dita.
“Hmm...” deham Alice singkat.
Mereka mulai berjalan menuju kelas dengan Clara yang masih sedikit terdiam.
"Hei, apa kau ada masalah dengan Reyhan?" tanya Alice datar.
Clara menoleh, tidak menanggapi pertanyaan Alice hanya menatap Alice dengan bingung.
"Reyhan?" tanya Clara membuka suara.
"Apa kau bermasalah dengan nya? Kenapa kau pergi setelah mendorongnya beberapa waktu lalu?" tanya Alice menimpali.
Jadi namanya Reyhan.
Clara memalingkan wajahnya kembali menatap kedepan. "Tidak. Aku tidak bermasalah dengannya."
"Tapi kau melihatnya begitu takut waktu itu," sambung Dita dengan nada antusiasnya.
"Benarkah? Aku tidak ingat," sangkal Clara.
"Oooh hoho jangan-jangan kau tertarik padanya ya? Clara tertarik pada pangeran es tampan hahaha," goda Clara.
Tidak hanya Clara yang merasa aneh, Alice pun juga mengernyit menatap Dita. Bagaimana mungkin orang yang ketakutan melihat seseorang bisa tertarik pada orang itu.
"Mungkin saja itu cara mu untuk mencari perhatiannya kan? Ya kan?? Semua wanita yang tertarik padanya melakukan hal yang kadang tidak masuk akal. Ada yang pura-pura sakit lalu terjatuh di depan Reyhan, ada yang pura-pura berteman dan masih banyak lagi," seru Dita begitu bersemangat.
Clara hanya menggeleng kecil, namun ucapan Alice berikutnya membuat Clara tidak habis pikir.
"Jadi bisa begitu," gumam Alice seraya mengusap dagunya. "Benar begitu kah Clara?"
"Astaga. Itu tidak masuk akal. Ayo ke kelas, sebentar lagi bel," bantah Clara kemudian meninggalkan keduanya.
.
.
.
Bel jam istirahat sudah berbunyi, Clara dan teman-temannya sudah di kantin untuk mencari meja.
“Mau duduk sebelah mana?” tanya Dita.
Mereka mulai mengedarkan pandangan mencari meja.
Kantin masih sepi, jadi mereka masih bisa memilih meja.
“Sebelah sana,” tunjuk Alice.
“Ayo cepat kesana,” suruh Dita.
Clara menghentikan langkahnya saat melihat Reyhan dan yang lainnya, lebih tepatnya Lisya yang duduk di sebelah meja kosong yang mereka tuju.
Clara mengedarkan pandangan dengan cepat untuk menemukan meja lain yang bisa mereka tempati.
“Dita, duduk di sini saja,” ajak Clara menempati meja lain yang cukup jauh dari Reyhan.
“Kenapa harus di sana?” tanya Dita yang sudah duduk di meja sebelah Reyhan.
Clara hanya melambaikan tangannya memanggil Dita, dan Alice yang masih berdiri di depan Dita.
“Ayo Dita, “ ajak Alice.
Mendengar suara Dita yang cukup nyaring membuat Lisya dan Reyhan menoleh.
Reyhan kembali memalingkan wajahnya setelah melihat sekilas drama yang Clara dan teman-temannya lakukan. Sedangkan Lisya hanya tersenyum miring dan mulai berjalan mendekat pada Clara.
“Dasar perempuan, memilih meja saja heboh sekali,” cibir Eros, lelaki jangkung sedikit berisi yang duduk di depan Reyhan.
“Bukankah para wanita akan berebut untuk duduk di tempat yang tidak jauh dengan mu Rey?” tanya teman Reyhan yang lain.
“Abaikan mereka,” datar Reyhan kembali menyantap makanannya.
"Eh, bukankah itu anak perempuan yang lari saat melihat mu kemarin?" tanya Eros penasaran.
"Aku tidak ingat," datar Reyhan.
“Kau ini kenapa sih? Apa bedanya duduk di sini dan di sana?” kesal Dita.
“Sudah jangan cerewet,” sungut Clara mulai menyeruput minumannya.
Alice dengan tenang menikmati makanan yang tersaji di hadapannya tidak memperdulikan perdebatan sepele kedua sahabatnya.
"Halo," sapa Lisya dengan senyum sejuta watt nya.
Clara tersedak, sedikit menyemburkan air yang diminumnya dan mulai terbatuk.
Uhuk uhuk uhuk.
"Hei, pelan-pelan saja minumnya," ujar Dita seraya menepuk-nepuk pelan punggung Clara.
"Apa kau tidak mau kabur lagi?" cibir Lisya yang sudah duduk di kursi kosong di sebelah Clara.