You Saw Me?!

You Saw Me?!
Tidak Masuk Akal!



Eps. 37


"Hei, kenapa terkejut begitu?" tanya Dita cemberut, memijat tangannya yang Clara tepis.


"Tentu saja terkejut, kau mengagetkanku! ayo keluar!" jawab Clara cepat, kemudian menarik tangan Dita keluar.


"Hei, pelan-pelan jalannya," keluh Dita yang diseret tiba-tiba oleh Clara.


Sial! aku benar-benar tidak terbiasa! umpat Clara berjalan cepat menuju kelasnya.


Bel pulang sekolah yang di tunggu-tunggu sudah berbunyi, Clara, Alice dan Dita berjalan melewati koridor yang penuh sesak dengan murid lainnya.


Selain lautan manusia yang membuat jalan ini terasa penuh, Clara juga melihat beberapa hantu di antara keramaian. Sebagian dari mereka hanya melintas begitu saja, sebagian lagi ada yang diam memperhatikan dengan tatapan kosong pada murid yang sedang bicara. Bahkan ada hantu yang hanya diam berdiri di depan pintu kelas.


Clara hanya perlu menutup matanya seolah mereka tidak terlihat agar mereka tidak menyadari kalau Clara bisa melihat mereka. Meskipun begitu, tetap saja rasanya tidak nyaman.


Seorang hantu laki-laki sedang menatap Clara dari kejauhan. Sialnya, Clara menyadari tatapan tidak nyaman itu dan ia harus berjalan melewati hantu itu. Tatapan hantu itu mengikuti pergerakan Clara, dari jauh hingga Clara melewatinya.


Setelah melewati tipe hantu yang hanya menatap itu, Clara menghela pelan. Ia merasa beruntung karena mereka tidak mengganggu, hanya sekedar menatap intens.


"Kau bisa melihat ku kan?"


Suara seseorang di depannya membuat Clara sempat menghentikan langkah, namun hanya sesaat. Detik berikutnya Clara kembali melanjutkan langkah tidak memperdulikan pemilik suara itu. 


"Jangan berpura-pura tidak melihat ku," suara hantu laki-laki yang tiba-tiba sudah menyamai langkah Clara.


Clara mencoba menormalkan tubuhnya yang sedikit terkesiap, dan terus berjalan. Seorang hantu yang tampak seperti manusia biasa, ia berseragam sama seperti Lisya. Hanya saja wajahnya lebih pucat dan terlihat jelas dia adalah hantu.


"Aku butuh bantuanmu," ucap hantu ini datar.


.


.


.


Jari Clara mengutak atik ponselnya malas. Ia membuka dan menutup kontak pamannya, sedang berpikir apakah ia harus menghubunginya atau tidak.


Semakin hari, hantu yang bermunculan semakin mengganggu. Bukan hanya melintas atau menatap, mereka mulai mencoba menyentuh Clara.


Jika Clara menceritakannya pada Alice dan Dita, ia yakin kedua temannya akan ketakutan.


Seperti saat ini, Clara sedang duduk di perpustakaan yang cukup ramai. Bukan hanya ramai karena murid, tapi juga karena hantu yang terkadang berlalu lalang.


Clara berdiri dan berjalan untuk mencari buku yang ia perlukan, di sebuah rak dengan beberapa siswi di sana. Setidaknya ia tidak sendiri. Saat sedang asik mencari, tiba-tiba Clara merasakan sesuatu yang familiar. Detak jantung Clara tiba-tiba berpacu lebih cepat entah karena apa. Ia juga merasakan semakin sulit untuk bernafas. Merasa aura di sekitarnya sangat tidak nyaman, Clara akhirnya menoleh dan mendapatkan dirinya hanya seorang diri disana.


Sejak kapan semua orang pergi?


Ini tidak baik. Jika terlalu lama sendiri, ia khawatir akan ada hal yang tidak diinginkan. Clara memilih kembali ke tempatnya, duduk di meja depan. Namun saat akan beranjak pergi, ia kembali membeku di tempat, seorang hantu wanita dengan baju lusuh dan wajah menyeramkan tengah menyeringai di depannya.


Aura hantu itu sama seperti yang pernah ia rasakan kala SD dulu. Tubuh Clara bergetar begitu hebat, seolah tubuhnya mengingat kejadian waktu silam. Air mata Clara mulai jatuh seraya hantu itu bergerak mendekat.


Tubuh Clara tak bisa digerakkan, sementara hantu itu semakin menyeringai dan mendekati Clara. Hanya hari ini, Clara ingin berteriak dan menangis. Adakah orang yang bisa membantunya?


Suasana perpustakaan tiba-tiba sunyi senyap seolah tak ada seorangpun disana. Sesekali ia melihat hantu itu terkikik menyeramkan. Dengan air mata yang kini turun lebih deras, hantu menyeramkan itu mengulurkan tangan untuk meraih Clara.


Clara tidak mau, namun pikirannya sudah kosong. Ia hanya ingin berteriak kali ini.


Namun, pergerakan hantu itu tiba-tiba berhenti. Dia terdiam beberapa detik lalu pergi setelahnya.


Clara berbalik dengan cepat, mendapati Arion dengan senyum lembutnya disana. Baru kali ini Clara merasa bahagia saat hantu tampan itu hadir menemuinya.


Arion!


Melihat senyum Arion yang sudah lama tidak ia lihat, tidak terasa air mata Clara kini malah mengalir semakin deras. Perasaan takut dan mencekik yang ia rasakan tadi telah digantikan dengan perasaan hangat entah karena apa.


Dengan sisa tenaganya, Clara mencoba melangkahkan kakinya untuk mendekati hantu rupawan itu. Namun, mata Clara terbelalak saat tiba-tiba saja Arion mendekap Clara, memeluknya erat, memberikan aura tenang dan hangat untuknya.


"Tenanglah, ada aku disini," ucap Arion lembut.


Setelah mendengar perkataan Arion, ia memejamkan matanya erat. Bukannya tenang, Clara malah menangis sejadi-jadinya dalam diam. Seolah beban yang ia rasakan beberapa minggu ini telah diangkat begitu saja. Ketakutan, khawatir, terkejut, aura intimidasi yang terus berulang-ulang. Dan ia tidak bisa menceritakannya pada siapapun.


Tidak ada yang bisa Clara jadikan teman untuk bercerita. Tapi Arion, seolah tahu segalanya dan tanpa Clara berceritapun Arion seolah telah mengetahuinya.


Tidak lama, Clara terbelalak dan menarik tubuhnya menjauhi Arion.


"Ka-kau, bisa menyentuhku?" tanya Clara tak percaya. Di wajahnya bahkan masih ada sisa air mata yang mengalir.


Apakah Arion baru saja memeluknya?


Arion menghela pelan dan tersenyum lembut. "Mana mungkin aku bisa memelukmu? Aku hanya mendekat dan memberikan ketenangan pada mu."


Bergerak selangkah, Arion mengikis jarak diantara mereka. "Bukan kah kau yang berniat memeluk ku, Clara?" tanya Arion dengan senyum menawannya.


.


.


.


Kantin sudah cukup sepi karena sebentar lagi bel jam masuk akan berbunyi. Clara cukup lama duduk di kursi depan kantin meminum air mineral di tangannya.


Pikiran Clara sedari tadi terus mereka ulang adegan saat Arion memeluknya. Tidak masuk akal! Clara dengan jelas merasakan dekapan yang Arion berikan. Begitu hangat dan menenangkan.


Clara terkesiap dengan apa yang ia pikirkan. Sedikit semburat murah juga tampak di pipinya.


Astaga apa yang kupikirkan! Bagaimana mungkin aku merasa bahagia hanya karena melihat Arion?! Aku bahkan berniat memeluknya!!


Astaga! Ingat Clara, dia hantu!! Hantu!!


Sekali lagi, dimanapun ia berada, Clara dapat melihat beberapa hantu yang masih berkeliaran. Tapi, ada yang berbeda kali ini? Tapi apa?


Beberapa minggu ini menjadi minggu terberat bagi Clara, apalagi kejadian di perpustakaan tadi. Tapi, luar biasanya setelah bertemu Arion, tidak ada perasaan takut yang tersisa sampai saat ini. Atau mungkin, apa karena Clara sudah dewasa? Makanya efeknya tidak seperti saat ia masih SD.


Clara menghela berat, ia meneguk air nya sekali lagi lalu menutup botol itu rapat. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menatap botol air itu lekat, ia belum bisa berpikir jernih saat ini.


Aku butuh teman untuk bercerita, tapi tidak mungkin Mama atau paman Leo. Apa mungkin aku bercerita pada Alice dan Dita ta--


Aargh!


Clara terperanjat saat tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya. Secepat kilat ia menepis tangan itu dan seketika berdiri, menoleh ke belakang.


"Re-Reyhan," gumam Clara menatap Reyhan merasa bersalah. "Ma-maaf kupikir siapa," kata Clara menyesal.


Reyhan tersenyum begitu manis. "Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf telah mengejutkan mu, boleh aku duduk di sebelahmu?" tanya Reyhan.


Clara mengangguk dan kembali duduk di kursi itu disusul Reyhan yang duduk di sebelahnya.