You Saw Me?!

You Saw Me?!
Nasehat



Eps. 9


Clara menarik tubuhnya duduk dengan mata masih terpejam, pagi ini Clara terbangun dengan rasa kantuk yang tidak mau pergi dari tubuhnya.


Clara memijakkan kaki nya pada lantai dan berjalan menuju kamar mandi di dalam kamarnya dengan mata masih setengah terpejam. Ia benar-benar masih mengantuk.


Clara berjalan menuju wastafel dan mulai mencuci wajahnya, siraman air segar cukup membuat Clara terbangun sepenuhnya. Ia menatap bayangannya di cermin, kantung matanya sedikit terlihat, kulit Clara juga tampak kusam, Clara terlihat sangat lelah.


“Karena hantu itu terus muncul di hadapan ku, aku sedikit tidak tenang. Ahh rasanya lelah sekali,” seru Clara memijat pundaknya ringan.


Setelah mandi dan mengenakan seragam, Clara turun untuk makan paginya. Clara meneguk habis minumannya 


lalu membereskan piring dan gelasnya, sebelum akhirnya beranjak untuk berangkat sekolah.


"Kapan dia mau berhenti menggangguku," omel Clara lalu melajukan sepedanya menuju sekolah yang tidak terlalu jauh.


.


.


Clara mengambil nafas dalam dan menghembuskannya kasar, ia tidak menyangka jika Lisya akan terus mengganggunya seperti itu.


Lisya selalu menceritakan tentang Reyhan ini dan itu, kadang hanya usil ngerjain Clara.


“Kau kenapa?” tanya Alice.


“Benar, kau kenapa? Tiba-tiba saja mood mu berubah seperti itu,” sahut Dita.


“Aaaah aku sudah lelah,” jawab Clara mendesar berat lalu meletakkan kepalanya di atas meja. Clara melipat kedua tangannya di atas meja dan menenggelamkan kepalanya disana.


"Lelah kenapa?" tanya Alice datar.


“Kau terlihat aneh akhir-akhir ini,” seru Dita.


“Sudah biarkan dia tidur,” ujar Alice tenang dan kembali pada ponselnya.


Clara mencoba memejamkan matanya untuk istirahat sebentar, namun ia urungkan dan membuka mata seketika saat mendengar sapaan seseorang yang paling tidak ingin ia dengar.


“Clara, selamat pagi?” suara seorang perempuan.


Clara tahu suara siapa itu tanpa harus melihatnya. Mencoba mengabaikannya, Clara masih mempertahankan posisinya tidak berniat mendongakkan kepala.


“Clara... hei, apa kau tertidur? Haloo,” ucap Lisya.


Clara memejamkan matanya erat-erat mencoba tidak menghiraukan apapun yang ia dengar dan rasakan, hingga suara itu hilang Clara mulai membuka matanya perlahan.


Clara kembali terperanjat dan duduk seketika saat melihat wajah Lisya yang tercetak diatas bangku tempat Clara menenggelamkan wajahnya.


"Selamat pagi, ku pikir kau sedang tidur," sapa Lisya tersenyum tanpa dosa.


Alice dan Dita yang juga kaget karena Clara yang tiba-tiba membuat keributan, menoleh serempak pada Clara.


"Hei, ada apa?" tanya Dita cemberut.


"Kau membuat ku kaget," timpal Alice tenang.


"Ah… tidak, hanya mimpi buruk," ucap Clara sekenanya.


"Baru tidur lima menit sudah bermimpi buruk? Kau benar-benar tidur?" tanya Dita tidak percaya.


Clara hanya mengangguk singkat.


Lisya mulai muncul dari dalam bangku, melewatinya layaknya hantu dan duduk disebelah Clara. Lisya duduk meskipun tidak ada kursi disana.


Lisya tersenyum manis menatap Clara yang masih tidak memperdulikannya.


Kapan hidupku bisa tenang! Hantu sialan!


.


.


.


Beberapa hari berlalu, seberapa keras pun Lisya mengganggu atau mengajak Clara bicara, kini sia-sia. Clara sudah bersikap seolah Lisya tidak ada.


Lisya sudah memunculkan wajahnya tiba-tiba di ponsel Clara, di meja Clara, bahkan ia telah membuat dirinya sedikit lebih seram tapi Clara masih enggan bergeming.


Lisya menghela lelah dan meletakkan kepalanya di atas meja Reyhan.


"Kau tahu Rey, ku pikir dia berbeda dengan yang lain. Mau berbicara dengan ku, bersikap biasa bahkan kita pernah berbagi cerita, tapi ternyata dia lebih parah," curhat Lisya tampak putus asa. Ia sedang duduk di bangku depan Reyhan, menghadap ke arah Reyhan.


Lisya tahu tindakannya sangat sia-sia berbicara dengan Reyhan, tapi hanya Reyhan satu-satunya yang ingin ia ajak bicara.


Lisya menundukkan kepalanya kemudian mulai mengeluarkan aura hitamnya.


Reyhan terkesiap saat tiba-tiba ia merasakan udara dingin yang membuat bulu kuduknya meremang. Reyhan mengusap belakang leher dan lengannya singkat untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya.


Disisi lain.


Haaatssyiiii


Clara mengusap hidungnya yg tiba-tiba gatal. Ia tengah berjalan melewati lorong kelas. Ia membentur sesuatu saat ia akan berbelok.


Eemm… perasaan ku tiba-tiba tidak nyaman.


JEDUG!


“AAAUUU aau auu,” seru Clara memegangi keningnya yang terbentur benda keras.


“Eh Clara? Apa kau baik-baik saja?” tanya seorang laki-laki jangkung kurus berambut ikal.


“Kau tidak melihat kami berjalan, Clara?” tanya seorang laki-laki yang lebih pendek berkulit putih.


Mereka sedang berjalan berdua membawa sebuah papan yang akan mereka letakkan di kantor guru.


“Aaahh maaf, maaf… kalian lanjutkan saja, daah,” pamit Clara pergi meninggalkan teman sekelasnya itu.


Clara kembali berjalan menuju kelasnya masih memegangi keningnya yang terasa sakit.


Syukurlah. Sepertinya Lisya sudah tidak menggangguku lagi. Semua berkat paman Leo.


Clara tersenyum senang mengingat saat beberapa waktu lalu berkunjung ke rumah pamannya.


“Clara…? wah, kau sudah besar ya. Ayo masuk,” suruh Leo antusias begitu melihat Clara sudah berdiri di depan rumahnya.


Clara tersenyum dan melangkahkan kakinya mengikuti Leo, berjalan menuju ruang tamu.


Setelah cukup frustasi menghadapi hantu cantik yang mengikutinya, Clara memutuskan untuk menemui pamannya seorang diri.


“Tumben sendirian? Di mana Mama mu?” tanya Leo yang sudah menyuguhkan teh pada Clara.


“Um… Mama sedang bekerja. Bibi May di mana, Paman?” tanya Clara.


“Bibimu sedang ada keperluan di luar. Ayo Clara diminum teh nya,” kata Leo mempersilahkan.


“Iya paman,” Clara meniup singkat teh di cangkir lalu menyeruputnya.


“Kau belum akrab dengan hantu cantik itu?” tanya Leo tiba-tiba.


UHUK UHUK UHUK.


Clara tidak habis pikir, Clara merasa terlalu sering tersedak akhir-akhir ini. Bisakah orang-orang berbicara saat Clara tidak minum atau makan sesuatu? 


Clara meletakkan cangkir teh nya dan mengambil tisu di depannya, untuk mengusap sisa teh di bibirnya. Clara menatap Leo lekat.


Leo tersenyum geli melihat Clara, sejak menutup pintu masuk gaib di tubuh Clara, Clara sering datang bermain ke rumah Leo, dengan atau tanpa ditemani oleh Harumi.


Sejak saat itu Leo dan Clara mulai dekat seperti ayah dan anak.


“Kenapa melihat ku seperti itu?” tanya Leo.


“Paman?? dari mana Paman tahu tentang--”


“Hantu??” tanya Leo tersenyum tenang.


“Paman! Aku serius! Atau jangan-jangan, Mama yang menceritakannya pada Paman?” tuduh Clara melihat Leo yang tertawa geli.


“Hahaha, tidak. Harumi tidak menghubungiku sama sekali. Jadi ada apa, Clara? Coba ceritakan pada ku,” suruh Leo.


Clara menyandarkan punggungnya pada kursi, sedangkan bibirnya maju beberapa senti, “Tanpa ku ceritakan Paman pasti sudah paham.”


“Aku tidak akan paham kalau kau tidak menceritakannya dengan jelas,” tukas Leo.


Clara menghela pelan. “Baiklah, jadi begini paman,” Clara mulai menceritakan awal mula saat ia bertemu Lisya hingga saat hantu itu lebih sering mengganggu Clara.


Clara cukup menceritakannya dengan antusias dan serius, namun tidak terduga, respon Leo cukup membuat Clara sebal. 


“Hahahaha,” tawa Leo cukup keras membuat Clara semakin mengerucutkan bibirnya.


“Paman!!”


“Hahaha, maaf, maaf.“ Leo menghentikan tawanya sambil mengusap sedikit air mata yang ikut keluar di sudut matanya.


“Dia hanya ingin mencari perhatian mu,” jelas Leo.


“Aku sudah mengabaikannya Paman, bagaimana caranya agar dia tidak menggangguku lagi,” curhat Clara. Ia benar-benar frustasi.


Clara menghela berat dan kembali meletakkan punggungnya pada sofa. Mengingat hantu itu sedikit membuat Clara kesal. “Untuk apa dia melakukan itu, aku benar-benar tidak nyaman. Dia terus saja mengagetkanku, itu tidak baik buat jantung! ” desis Clara mendengus kesal.


Leo tersenyum simpul lalu kembali menyeruput teh nya. “Apa yang kau rasakan saat bertemu dengannya? Apa kau merasakan aura intimidasi seperti yang kau rasakan saat bertemu dengan hantu jahat?”


Clara terdiam.