You Saw Me?!

You Saw Me?!
Rasa bersalah



Eps. 68


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Reyhan yang berpura-pura mengirimkan voice pada nomor ponselnya sendiri melalui Whats chat.


Laki-laki ini menatap lekat pada ponsel yang seolah mengetikkan dirinya sendiri disana. Ia tersenyum, setelah merasa buruk saat di UKS, Reyhan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Setelah sampai di kelas, ia ingin tahu apa pendapat Lisya tentang Clara yang seperti ini. Rasanya ia ingin sekali seolah-olah melakukan panggilan seperti yang Clara lakukan. Tapi sayang, Reyhan tidak akan mendengar apapun yang Lisya katakan kecuali kekasih hantunya itu mengetik atau menulis jawaban untuknya.


Laki-laki bermata coklat ini tampak termangu membaca apa yang Lisya ketik. Kekasihnya itu menjelaskan, proses meminjam memang banyak menguras tenaga dan perasaan.


Disamping tenaga yang terkuras habis, perasaan mereka akan sedikit berbaur tidak terkontrol, juga karena hilangnya ingatan saat hantu yang mengambil alih tubuhnya.


Jika pemilik tubuh tidak memiliki kekuatan fisik yang cukup, juga mental yang bagus, mungkin akan ada hal yang tidak begitu baik padanya. Apalagi Clara juga punya masalah dengan hantu yang bernama Arion.


Itu artinya, dia menerima segalanya hanya untuk membantu kami. Tapi dia mengatakan, ini juga cukup baik untuk mengalihkan perhatiannya.


"Aku merasa bersalah," lirih Reyhan.


"Jangan merasa terbebani, Sayang. Aku cukup mengenal Clara meski kami tidak lama bertemu. Dia wanita kuat, semua akan baik-baik saja. Sekarang, bantu dia untuk hidup lebih bugar, lebih sehat."


Reyhan tersenyum. Benar kata Lisya, saat ada jalan keluar untuk masalah ini, ia akan lakukan yang terbaik.


"Baiklah."


.


.


Saat bel jam istirahat sekolah berbunyi, Clara cukup terkejut melihat Lisya dan Reyhan yang sudah menunggunya di depan kelas.


Seharusnya mereka selalu membuat janji sebelum bertemu. Dan lihatlah mereka yang membuat sedikit kegaduhan di kelas dan beberapa orang yang lewat di depan kelas Clara.


Hampir semuanya berbisik karena mereka hanya melihat Reyhan yang berdiri disana seorang diri.


Laki-laki itu berdiri dengan susu kotak di tangannya. Tidak melakukan apa-apa saja sudah begitu tampan. Menatap dingin saja sudah banyak yang meleleh di tatapnya. Apalagi seperti sekarang saat Pangeran Es ini tersenyum ramah hanya pada Clara, semakin membuat bisik-bisik itu terdengar lebih jelas.


Hal baiknya, Clara sudah terbiasa dengan itu semua. Sudah tidak terkejut jika beberapa orang masih membandingkan dirinya dengan Lisya atau mempertanyakan apa yang Clara lakukan membuat Pangeran es itu hanya tersenyum kepadanya.


"Kenapa tidak menghubungi ku? Lebih baik kita bertemu di kantin," ucap Clara saat sudah berdiri di depan Reyhan.


Saat mereka bertemu, Alice dan Dita tidak akan mengganggu ketiganya karena mereka sudah paham jika ini berhubungan dengan meminjam atau menjadi penerjemah.


"Tidak masalah, aku datang sekalian menjemputmu untuk ke kantin bersama. Ini, minumlah," jawab Reyhan dengan senyum yang masih terlihat di wajahnya. Ia menyodorkan sekotak susu vanila itu pada Clara.


Clara menerimanya dengan enggan. Ingin sekali rasanya ia meminta Reyhan untuk menghentikan pemberian susu atau roti dan sejenisnya pada Clara. Namun dia dan kekasihnya pasti tidak akan mendengarkan. Jadi Clara memilih untuk menerimanya saja dengan ikhlas.


"Terima kasih. Kau juga harus meminumnya agar kau juga lebih sehat."


"Tentu, aku selalu meminumnya sebelum berangkat sekolah," ucap Reyhan yang sudah berjalan mengikuti Clara menuju kantin.


Di kantin, Reyhan dan Lisya meminta Clara untuk mengikutinya saja karena saat ini Reyhan yang akan memesan untuk Clara. Nasi goreng ekstra sayur dan air mineral untuk keduanya.


Setelah makanan mereka sudah terhidang di meja, Reyhan juga memesan telur rebus tambahan disana.


"Tunggu dulu kalian. Aku bisa memilih menu makanku sendiri, aku juga bisa menjaga kesehatan ku sendiri. Jangan perlakukan aku seperti orang sakit," ucap Clara kesal.


"Apa ini membuatmu tidak nyaman? aku tidak memperlakukanmu seperti orang sakit, aku hanya ingin membalas kebaikanmu selama ini. Apa kau sangat keberatan dengan ini?" tanya Reyhan merasa tidak enak.


Clara menghela pelan. Ia tidak bisa menerima kebaikan keduanya, itu terasa terlalu berlebihan. Reyhan dan Lisya yang sangat perhatian untuk kesehatan Clara saat ini, membuatnya sedikit tidak nyaman.


Dan saat Clara ingin menolaknya, ia sekali lagi merasa sungkan karena Reyhan berpikir Clara tidak suka dengan perlakuan itu.


"Ah tidak tidak. Maksudku, jangan terlalu membebani kalian. Aku bisa menjaga diri ku dengan baik. Dan … emm … berhentilah memberiku susu kotak atau makanan sehat lainnya, Mama ku sudah mengaturnya sendiri dirumah ku."


Reyhan tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu makanlah."


"Aku tidak ingin kau sakit lagi karena aku. Jadi, makanlah itu. Telur rebus bagus untuk menambah protein, kau tahu kan Clara?" tanya Lisya bersemangat.


"Hem… ya aku tahu. Terima kasih."


Clara tidak sengaja menatap Reyhan yang sedang menatapnya penuh minat. Gadis ini mendengus dan tertawa kecil saat melihat Reyhan seperti anak anjing yang sedang penasaran.


"Dia bilang telur rebus baik untuk menambah protein. Jadi kau juga harus makan bersama ku."


"Baiklah," ucapnya tersenyum kecil.


"Ya. Suka menambah kalimat ku," ucap Lisya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Clara hanya terkekeh kecil.


"Hei, ayo kita ke pantai," ajak Lisya.


"Hm? Pantai?"


Reyhan menatap Clara yang tiba-tiba saja menatapnya dengan bertanya tentang pantai. Ia mengerti dan hanya tersenyum kecil.


"Ya pantai. Setelah kau membaik, mari kita ke pantai. Sudah lama aku tidak kesana. Jika kau mengizinkan, aku akan meminjam disana," ucap Lisya.


"Hm–"


"Apa dia sudah mengatakannya?" tanya Reyhan.


"Ya. Dia baru saja mengatakannya."


"Apa kau mau? Kami berencana akan menginap disana selama tiga hari dua malam. Aku juga mengajak Aldio dan Eros," jelas Reyhan.


"Pantai ya …."


Clara masih menunduk memikirkan tawaran itu. Pantai dan gunung adalah hal yang paling tidak ia sukai, karena disana banyak sekali hantu yang berkeliaran. Apalagi hantu jahat.


Tapi mungkin dengan adanya Lisya, Clara akan baik-baik saja seperti saat ini.


"Clara … apa kau tidak mau?" tanya Lisya. Hantu cantik ini memandang Clara khawatir jika gadis ini tidak menyetujuinya.


Clara menoleh, menatap lurus pada Lisya dan tersenyum. "Tentu, aku ikut," ucap Clara kini sudah menatap Reyhan.


"Tapi bolehkah aku mengajak Alice dan Dita?"


"Tentu," jawab Reyhan.


.


.


.


Clara menatap seorang laki-laki yang tengah membelai pipinya lembut penuh kasih sayang. Laki-laki yang wajahnya tidak terlihat begitu jelas bagi Clara, namun perasaannya yakin bahwa dia adalah Arion.


Laki-laki itu tersenyum. Clara yang sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang meraih tangan itu dan menggenggam tangan erat, ia tempelkan tangan lelaki ini di pipinya dan menikmati hangatnya tangan itu.


Detik berikutnya, Clara tersentak dan tersadar dari tidurnya. Lelaki itu hilang, tinggal perasaan nyaman itu saja yang enggan pergi.


"Cuma mimpi," monolog Clara kecewa.


Anehnya, Clara begitu menikmati perasaan itu. Ia bergumam namanya dan memeluk erat guling di sampingnya seolah itu adalah laki-lakinya.


Arion.


Diluar jendela Clara. Arion tengah tersenyum lembut menatap gadis itu rindu.


"Aku juga merindukanmu, Sayang."