You Saw Me?!

You Saw Me?!
Pancake dan es krim



Eps. 42


"Hah?" seru Clara tidak mengerti perkataan Lisya.


"Ada apa?" tanya Reyhan tidak paham situasi sebenarnya. Ia tengah melihat Clara yang sedang menatap ke arah lain.


Dengan senyum tipis, Lisya mengikis jarak dengan Clara lalu bertanya tepat di wajah Clara. "Kau tertarik pada Rey ku kan?"


Alis Clara mengerut, ia sedikit memundurkan tubuhnya dan menatap Lisya menyelidik. Senyuman di wajah itu bukan senyuman marah atau tidak suka, tapi kenapa hantu cantik itu menanyakan hal ini pada Clara?


Clara ingat, Lisya memang tidak menyukai gadis-gadis yang mencoba menyatakan perasaannya pada Reyhan.


Jangan-jangan dia--


Menghela pelan Clara mulai menjawab, "Jangan salah paham, aku tidak seperti itu."


Mendengar pengakuan Clara, Lisya menegakkan punggungnya dan melipat tangannya di depan dada. "Apa kau yakin tidak menyukai nya?" tanya Lisya lagi.


"Ahh, tidak tidak. Kau tenang saja. Ayo berangkat," kata Clara mengajak Reyhan.


Seolah mengerti, Reyhan hanya mengangguki dan tidak bertanya tentang apa yang gadis-gadis ini bicarakan.


Ketiga nya berjalan bersisian menuju cafe. Bagi Clara mungkin mereka berjalan bertiga, tapi tidak dengan tatapan orang disekitarnya. Sebagian gadis-gadis mencuri pandang pada Reyhan yang memang lebih terlihat luar biasa dengan pakaian bebas.


"Aku tidak masalah meski kau tertarik pada Rey," kata Lisya. Ia sudah berjalan mundur beberapa langkah di depan Clara.


Belum sempat Clara menanggapi ucapan Lisya, Reyhan juga bertanya pada Clara.


"Apa kau tidak pernah makan di daerah ini?" tanya Reyhan.


Lagi, ia tidak sadar sudah memotong pembicaraan Lisya. Karena memang hanya Clara yang bisa mendengar Lisya.


"Pernah, tapi aku belum pernah makan di cafe dekat sini," jawab Clara.


"Kau tidak akan menyesal telah ikut bersama kami Clara. Cafenya memang kecil, tapi makanannya benar-benar enak. Pancake, es krim, dan dessert lainnya benar-benar enak. Ada juga makanan berat, rasanya juga enak," jelas Lisya tampak antusias.


Clara terkekeh kecil seraya menatap ke depan. "Ya ya ya, terima kasih sudah mengajak."


"Apa kau berbicara dengan Lisya?" tanya Reyhan dengan senyum lembutnya. Ya, semua akan iri melihat cara Reyhan memperlakukannya. Semua orang akan salah paham.


Clara tersenyum tipis. Ada rasa spesial terbesit di hatinya. Meski ia tahu perlakuan Reyhan adalah ungkapan terima kasih atas bantuan sudah menyelesaikan kesalahpahamannya dengan kekasihnya, Clara tetap merasa bangga.


"Ya, dia sangat antusias."


Reyhan menoleh, penasaran dimana Lisya berada. Clara yang tidak sengaja melihat, paham apa yang sedang laki-laki ini cari.


"Dia tepat di depan ku Rey, sedang menoleh ke arahmu. Oiya, dia tersenyum sangat lebar," ucap Clara sedikit berbisik pada Reyhan.


"Hey, tidak usah mendeskripsikan begitu. Senyuman ku tidak lebar," sungut Lisya.


Clara terbahak meskipun Reyhan tidak merespon ucapannya. Sedangkan laki-laki tampan ini hanya tersenyum sembari menunduk singkat, melihat betapa lancarnya mereka berkomunikasi.


"Aku iri pada mu," lirih Reyhan.


"Iya?" tanya Clara setelah menetralkan tawanya.


"Kita sudah sampai," kata Reyhan menunjuk cafe dengan kepalanya.


Mereka memasuki cafe bernuansa vintage, sangat nyaman dengan penerangan cukup yang tidak begitu terang, namun tidak remang-remang.


Mereka berjalan ke arah meja persegi yang berisi empat meja, lalu memesan makanan mereka.


"Apa cukup hanya sebuah pancake?" tanya Reyhan.


"Cukup," jawab Clara.


Clara sebenarnya ingin memesan lebih banyak, tapi tidak mungkin saat Reyhan yang membayar semuanya. Mungkin di lain hari ia akan mengajak kedua teman baiknya untuk mampir di kafe ini lagi.


Tidak berapa lama pancake dan es krim besar sudah tersedia di meja mereka. Mata Clara dan Lisya membulat menatap es krim di gelas besar yang berada di depan Reyhan.


"Kau bilang tidak sukan es krim, tapi kau melihat es krim itu seperti segera ingin menerkamnya," cibir Lisya, menatap Clara mengejek.


Clara menormalkan ekspresi dan mengela kasar. "Aku bilang tidak begitu suka, tapi aku masih bisa memakan es krim cantik seperti itu," ujar Clara dengan mata berbinar menatap es krim. "Es krim nya cantik sekali."


"Bilang saja kau suka es krim," Cibir Lisya membuat Clara sedikit mengerucutkan bibirnya.


Reyhan melongo saat mendengar komentar Clara yang terkesan tiba-tiba, sedari tadi Reyhan hanya diam namun Clara terus berbicara seolah menanggapi pembicaraan.


"Apa kau mau mencicipinya?" tanya Reyhan.


"Oh tidak tidak, aku sudah cukup dengan pancake ini, pancake nya juga cantik. Sepertinya rasanya juga enak," kata Clara menolaknya halus.


Clara menyendok pancake lalu mulai memakannya. Ia terdiam beberapa waktu, lalu tersenyum merekah begitu merasakan lembut dan manisnya pancake di dalam mulutnya.


"Enak?" tanya Reyhan.


"Pasti enak kan Clara? aku juga suka pancake di sini," sambung Lisya.


Clara tersenyum takjub dengan mulut yang masih penuh dengan pancake. Ia mengangguk antusias menanggapi pertanyaan Reyhan dan Lisya.


"Kau bisa memesan es krim jika kau mau," suruh Reyhan ramah.


"Oh tidak perlu, ini saja sudah cukup." Clara merasa beruntung. Karena selain Lisya, ia juga melihat senyum Reyhan yang begitu ramah.


Ia menyendokkan pancake ke dalam mulutnya dengan senyum merekah. Selain makanan manis ini yang memang sangat enak, dalam hati Clara tertawa jahat. Pasti banyak wanita-wanita yang iri padanya saat ini.


"Lisya sangat suka pancake dan es krim ini, jadi ku pikir kau juga akan suka," ucap Reyhan dengan senyum ringan.


Akhir-akhir ini, senyum Reyhan yang dulu sangat mahal, kini ia tebar begitu banyak.


"Benar sekali, aku sangat suka makanan di sini, kau harus mencicipinya satu persatu," kata Lisya lalu menggeser menu di meja.


Reyhan dan Clara terkesiap, seketika mereka sigap memegangi menu yang Lisya geser.


"Lisya!!! jangan menggeser barang seenaknya!" gumam Clara panik.


Reyhan dan Clara menoleh dengan hati-hati khawatir akan ada orang yang melihatnya. Sedangkan pelakunya hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, tersenyum tanpa dosa.


Tidak ada pembahasan yang begitu bermakna malam itu, Reyhan dan Lisya hanya berbincang-bincang biasa benar-benar menunjukkan rasa terima kasihnya pada Clara.


"Apa kau yakin tidak ingin ku antar?" tanya Reyhan sekali lagi saat mereka sudah sampai di tempat parkir alun-alun.


"Benar Clara, lebih baik Reyhan mengantarmu pulang," sahut Lisya.


Clara tersenyum kecil. "Tidak perlu, aku sudah sangat berterima kasih dengan makanannya, itu benar-benar enak. Lagi pula ini belum begitu larut, aku bisa pulang sendiri."


"Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah. Aku pulang dulu," pamit Reyhan lalu pergi meninggalkan Clara.


"Dah Clara... hati-hati di jalan," pamit Lisya melambaikan tangannya dengan senyum ceria yang mengembang.


Wanita berambut lurus ini tersenyum dan melambai singkat pada Lisya. Tapi, senyuman di bibirnya perlahan menghilang saat Reyhan dan Lisya sudah menghilang dari pandangannya. Clara menghela pelan.


Sebenarnya aku tidak sanggup melihat mereka. Bukankah jika terus bersama lebih lama, mereka berdua akan sulit untuk saling melupakan? mereka akan semakin terluka.


Aku bahkan tidak berani hanya untuk memperingati mereka. Kisah mereka terlalu menyakitkan, dan luar biasanya mereka masih bisa tersenyum seperti itu.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" suara seorang laki-laki yang mungkin sudah lama tidak ia dengar, membuat hati Clara berdesir.


Ah… tanpa menoleh pun, ia tahu siapa pemilik suara itu. Clara menghela samar. Ia ingin sekali tidak menoleh, tapi hatinya berkata lain.


Clara menoleh pada laki-laki pemilik suara itu yang terlihat duduk di atas motornya. Ia mati-matian menahan ekspresi wajahnya. Hatinya juga tak kalah bergemuruh membuatnya terasa penuh.


Tidak memperdulikan pertanyaan Arion, ia hanya berjalan dan berdiri tepat di depan motornya. Bagaimana cara berkomunikasi dengan hantu itu sedangkan banyak orang yang berlalu lalang.


Seperti sebuah bohlam yang menyala di atas kepala Clara, ia mengambil handphonenya kemudian pura-pura membuat panggilan, menempelkan telponnya di telinga.


"Minggir, aku mau pulang," lirih Clara menatap Arion datar.


Arion yang menatap Clara terdiam, hanya beberapa detik, setelahnya Arion tertawa terbahak hingga dia harus mengusap air matanya.


"Astaga Sayang, kau harus pura-pura membuat panggilan telepon seperti itu? Hahaha, kau lucu sekali," ejek nya.


"Berisik! Cepat pergi!" geram Clara masih menahan intonasinya.


"Hahaha, iya iya. Maaf," kata Arion dengan tawa yang tersisa. Ia berdiri dan membiarkan Clara mengambil motornya.


Clara melajukan motornya pelan membelah jalanan kota. Bukannya tidak tahu, ia hanya tidak peduli pada Arion yang sedang santainya duduk boncengan pada Clara.


Arion tersenyum begitu menikmati Clara yang berusaha keras mencoba bersikap tenang dengan semburat tipis di wajahnya.


"Jangan macam-macam. Kau boleh duduk di sana tapi jangan coba-coba menyentuhku," ucap Clara datar membuat Arion terkekeh kecil.


"Baiklah Sayang," jawab Arion tersenyum girang.