You Saw Me?!

You Saw Me?!
Apa salah ku?



Eps. 21


“Jadi… bagaimana?” tanya Lisya ragu.


Taman sekolah cukup sepi hari ini, kebanyakan murid akan berada di kantin di jam-jam ini.


Clara menyandarkan punggungnya pada bangku taman, ia menengadahkan wajah dengan mata tertutup, mencoba menikmati sejuknya taman di bawah pohon rindang.


Duduk disini akan membuat Clara lebih leluasa berbicara dengan Lisya.


Lisya memang bisa mendengar setiap gumaman ataupun bahasa pikiran yang memang ditujukan untuk Lisya, namun itu melelahkan, Clara lebih suka berbicara dengan bebas.


“Sebelumnya aku punya ide, tapi--”


“Tentang pendekatan itu?” potong Lisya.


Clara menoleh,“Dari mana kau tahu?” tanya Clara seraya mendudukkan tubuhnya.


“Hm… untuk apa melakukan pendekatan jika kau hanya ingin menyampaikan pesan?” tanya Lisya lagi.


Clara mendesah lelah lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke posisi semula. “Itu dia yang ku maksud. Itu tidak akan berguna.”


Menyampaikan pesan hanya butuh sedikit waktu dan perhatian dari orang itu, tapi jika Reyhan… 


Hening sesaat. Clara duduk terdiam begitu juga dengan Lisya. Suasana hening itu pecah hingga akhirnya Lisya kembali bersuara.


“Oh iya… aku lupa mengatakannya… jam istirahat ini Rey akan pergi ke perpustakaan, mungkin setelah dari kantin. Kenapa tidak kau datangi saja dan katakan secara langsung,” kata Lisya memberikan saran.


“Aku juga berpikir seperti itu, tapi aku masih mengumpulkan keberanian ku.” Clara menjawab perkataan Lisya dengan mata tertutup, masih merebahkan tubuhnya pada bangku taman.


“Oh ayolah Clara, Rey tidak semenyeramkan itu…,” hibur Lisya, ia sudah duduk di samping Clara.


"Ini tidak akan lama, minta saja waktunya lima menit," ucap Lisya lagi.


Tidak ada tanggapan. Clara hanya diam dengan keraguan menatap Lisya. Ia menghela pelan, dapat ia lihat di balik senyuman Lisya, masih ada keraguan disana.


Clara menarik tubuhnya untuk duduk. “Aku lapar, aku akan membeli makan sebentar, setelah itu kita akan pergi ke perpustakaan,” final Clara. Lisya tersenyum senang.


Memang ini bukan pilihan, membantu menyampaikan pesan pada si pangeran kutub seharusnya tidak semenakutkan itu. Cukup datang menemuinya, bertahan dengan tatapan dinginnya, kemudian sampaikan apa yang Lisya katakan. Selesai. Clara berjalan ke kantin untuk mengisi energi terlebih dahulu.


“Tidak mau masuk?” tanya Lisya. Clara tengah berdiri di depan pintu perpustakaan mencoba mengumpulkan keberaniannya.


“Iya,” kata Clara mantap.


Clara melangkahkah kakinya masuk ke dalam perpustakaan. Indra di tubuhnya di sambut udara dingin dengan aroma buku-buku lama.


Suasana perpustakaan memang sangat tenang, banyak murid yang tengah membaca atau sedang mengerjakan tugas tanpa membuat kebisingan yang bermakna.


Kali ini bukan bapak-bapak paruh baya yang sedang berjaga, beruntung karena penjaga perpustakan saat ini adalah teman seangkatan Clara. Meskipun bukan teman sekelas, setidaknya Clara mengenalnya.


“Pril, apa kau melihat Reyhan masuk ke dalam perpus?” tanya Clara saat sudah berdiri di depan meja April, penjaga perpustakaan.


“Reyhan ya?? sepertinya dia baru saja masuk. Coba saja kau cari di dalam,” jawab April dengan senyum curiganya.


Clara tidak mengindahkan, ia berterima kasih lalu pergi mencari Reyhan.


Sudah bukan rahasia umum jika anak perempuan yang mencari Reyhan, kebanyakan hanya ingin dekat dengan laki-laki tampan itu.


Lisya yang terlebih dahulu masuk dan terbang seenaknya akhirnya menemukan keberadaan Reyhan.


Bukan hal mudah bagi Clara saat ia mencoba melangkahkan kakinya perlahan mencoba mendekati Lisya.


Setelah melewati rak ke empat, Clara menolehkah kepalanya dan menemukan Reyhan sedang membaca buku tidak jauh dari tempatnya berdiri.


“Ayo sana!” suruh Lisya memberi semangat.


“Iya, sebentar. Sabar kenapa sih!” ucap Clara setengah risi.


Jantung Clara sudah mau melompat dari tempatnya. Berkali-kali Clara mengambil nafas dalam dan menghelanya pelan untuk menormalkam rasa gugup dan takutnya.


Bukan hanya Reyhan yang sedang berada di baris rak ini. Masih ada beberapa orang laki-laki dan perempuan yang tampak mencari dan membaca-baca buku tidak jauh dari Reyhan.


Langkah kaki Clara sudah bergerak mendekati Reyhan berirama dengan detak jantungnya yang semakin menggila. Namun, saat Clara sudah hampir mendekat pada Reyhan, langkahnya kembali berhenti.


“Kak Reyhan, bolehkan aku meminta bantuan untuk mengambil buku itu?” tanya seorang gadis berambut panjang. Wajahnya tampak cantik, bibirnya terlihat terpoles oleh lipgloss berwarna pink.


Seketika Clara berbalik dan mengambil asal buku yang ada di rak, di samping tubuh Clara. Berpura-pura membaca buku saat Reyhan sedang sibuk membantu anak perempuan yang sepertinya adalah adik kelas.


Clara mendengus kesal, Reyhan memang tidak banyak bicara pada gadis cantik yang meminta bantuan itu, tapi dia masih mengambilkan buku yang memang letaknya tidak mungkin diraih gadis mungil itu.


“Sedang apa kau?” tanya Lisya gemas.


“Apa kau lihat Reyhan sedang sibuk membantu wanita itu? Sebaiknya aku berpura-pura membaca buku dulu,” bisik Clara sangat pelan membuat Lisya memutar bola matanya malas.


“Baiklah, akan ku beri tahu saat dia sudah selesai,” ujar Lisya.


Clara masih pura-pura fokus membaca buku yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia baca. Clara mengambil buku itu asal.


Tidak butuh waktu lama, Lisya sudah memberi isyarat.


Tanpa pikir panjang, Clara meletakkan buku nya asal ke dalam rak, kemudian segera berbalik.


Clara hampir saja melompat saat mendapati Reyhan sudah berdiri satu langkah di depannya, menatap ke arah Clara jengah.


Oh sial! Lisya! Kenapa tidak memberitahuku kalau manusia dingin ini sudah sangat dekat! Sial! Sial! Sial! 


Tidak ada waktu lagi, kesempatan sudah di depan mata. Ditengah umpatan di dalam hatinya, Clara memberanikan diri mencoba berbicara pada Reyhan.


Clara akan membuka mulut untuk memulai pembicaraan namun mulutnya kembali terkatup saat melihat mata Reyhan yang menatapnya sangat dingin.


Clara kembali membeku di tempat, ia menunduk seketika dengan mata membulat sempurna, tidak sanggup melawan aura intimidasi Reyhan.


Lidahnya seolah kelu, mengeluarkan suara saja ia tidak bisa. Kekuatan yang ia kumpulkan sebelum memasuki perpustakaan, seolah menguap begitu saja.


Reyhan melewati Clara begitu saja saat Clara sudah tidak dapat mengeluarkan suaranya sama sekali.


“Clara! Clara!” panggil Lisya mencoba menyadarkan Clara. Lisya menoleh pada Reyhan yang sudah berjalan menjauh meninggalkan mereka berdua.


“Rey, sudah selesai?” tanya Aldio yang kini muncul di ujung rak.


“Ya.”


Aldio menoleh dan melihat Clara sedang berdiri tampak menunduk seorang diri. “Dia kenapa?”


“Jangan pedulikan dia,” kata Reyhan datar kemudian berlalu bersama Aldio yang sebelumnya hanya mengangguk mengerti.


Lisya berdiri di hadapan Clara. “Clara…?”


“Apa kau melihatnya?" tanya Clara. Ia mengangkat kepalanya menatap Lisya.


"Dia menatapku begitu dingin! Kenapa dia tidak sedingin itu pada wanita tadi tapi menatapku penuh kebencian? Apa aku sejelek itu? Aku juga tidak pernah mengganggunya sebelum ini!” kesal Clara mencoba menahan amarahnya.


Clara seolah ingin menangis. Ia masih sadar, tidak boleh membuat keributan di perpustakaan.


Lisya menghela berat, menatap Clara kasihan. “Aku… juga tidak tahu Clara… aku juga tidak paham, kau harus mencari tahu apa yang membuat Rey begitu tidak menyukaimu.”


Clara menggaruk kepalanya dengan gusar. “Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya selain karena mu,” kesal Clara.


.


.


Tidak terasa beberapa hari telah berlalu. Akhir-akhir ini Reyhan merasa terlalu sering melihat Clara berada disekitarnya membuatnya semakin risi.


Reyhan berjalan hendak menuju laboratorium, namun ia harus menghentikan langkahnya saat menemukan Clara sedang membaca mading yang tidak jauh dari hadapannya. Beberapa hari sebelumnya, Clara bahkan selalu muncul di manapun Reyhan berada. Di kantin, di perpus, di ruang guru, di taman sekolah, bahkan di mana Reyhan berdiri di sana pasti ada Clara.


“Rey, kenapa kau sangat tidak ramah pada wanita itu? Bukankah juga banyak wanita lain yang juga mendekati mu? Tidak hanya dia?” tanya Eros penasaran.


“Begitukah?” tanya Reyhan tampak tidak peduli.


“Hm… terlihat jelas kau sangat tidak menyukainya,” sahut Aldio, Eros terkekeh kecil.


"Menurut ku dia cukup cantik loh, meskipun bukan anak populer," tambah Eros.


"Benar, dia lumayan," sambung Aldio.


Reyhan tidak menyahuti percakapan teman-temannya, ia hanya kembali melanjutkan acara makannya.


Karena dari semua wanita yang mencoba mendekati ku, hanya dia yang sangat mengusikku.


Keesokan harinya saat jam istirahat. Lisya dan Clara berjalan melewati lapangan upacara sekolah, ketika mereka melihat seorang gadis kuncir kuda sedang berlari mendekati Reyhan yang sedang berdiri tampak menunggu wanita itu.


“Sedang apa mereka?” tanya Clara.


“Clara… ikuti mereka!” suruh Lisya saat melihat Reyhan berjalan mengikuti wanita kuncir kuda, yang tampak menggebu-gebu di depan Reyhan.


"Eh?? " heran Clara mendengar suara Lisya tiba-tiba berubah dingin.