You Saw Me?!

You Saw Me?!
Syarat dari Paman



Eps. 66


"Clara butuh istirahat yang cukup. Sementara obatnya itu saja dulu, untuk selanjutnya kita akan tunggu setelah hasil lab nya keluar," ucap seorang dokter perempuan muda yang berdiri bersama Harumi.


Di sebelah mereka, Clara sudah terbaring dengan botol infus yang sudah terhubung dengan selang pada tangan kirinya.


"Baik dokter. Maaf sudah merepotkan sampai harus datang ke rumah kami," ucap Harumi sungkan.


"Tidak masalah Kak," ucap dokter ini tersenyum lembut.


Harumi berjalan bersama dokter yang memang adalah rekan kerjanya di rumah sakit tempat ia bekerja, mengantarnya keluar rumah.


Clara menghela pelan. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan namanya infus, namun kali ini hanya sekedar panas ia sampai pingsan.


Setidaknya dengan begini, Clara akan istitahat dengan nyaman di rumahnya tanpa harus memikirkan apa-apa lagi.


Gadis yang terbaring lemah ini menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Tubuhnya sedikit tersentak begitu melihat siapa orang yang Harumi bawa kali ini.


"Halo, Sayang," sapa Leo dengan wajah putihnya, tersenyum lembut dengan mata hampir tertutup.


Clara menelan ludahnya susah payah. Bukannya segera sembuh, ia merasakan sakit kepala tiba-tiba.


Habislah aku!


"Ha-halo Paman," sapa Clara mencoba tersenyum senang. Mengabaikan perasaan gugupnya.


"Leo, akan ku ambilkan minuman dibawah. Kau tunggulah disini ya," ucap Harumi kemudian pergi.


Leo mengangguk, laki-laki ini mengambil duduk pada kursi yang ada di samping ranjang Clara.


Beberapa detik setelah Harumi menutup pintu, Clara mendudukkan tubuhnya seketika itu juga dan menyambar Leo dengan pertanyan.


"Paman tidak bercerita hal aneh pada Mama kan?" tanya Clara panik.


Leo yang sempat terkejut mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian terkekeh setelahnya. "Haha, tergantung. Kau mau jadi anak yang baik atau tidak."


Clara mendengus pelan, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.


"Akhirnya kau sakit kan?"


Tubuh Clara bergeming mendengar pertanyaan Leo yang terdengar aneh.


"Ma-maksud Paman?" tanya Clara khawatir, pura-pura tidak tahu.


Leo tersenyum kecil lalu menopang dagunya diatas kaki yang menyilang. "Jangan pura-pura tidak tahu Clara, kau tahu apa yang ku maksud."


Tidak bisakah pamannya yang satu ini pura-pura tidak tahu hanya sekali saja? Memang Leo tidak akan mengetahui segalanya. Namun, jika berhubungan dengan hal tentang hantu, dia akan tahu banyak.


Sekali lagi, Clara menghela pelan. Ia memilih mengaku dari pada harus menutup nutupi apa yang sudah ketahuan. "Aku tidak tahu kalau akan jadi seperti inu, Paman," ucapnya memelas.


"Sepertinya ada yang salah paham disini. Kenapa kau malah menggunakannya semau mu? sekarang pintunya semakin terbuka lebar."


Pertanyaan itu terdengar seperti deja vu, Clara menunduk dengan tangan yang meremat selimutnya erat.


"Aku hanya ingin membantunya, dan mengusir perasaan itu sebelum pintu ini ditutup, Paman," ucap Clara penuh pertimbangan.


"Kau bisa langsung menutupnya. Perasaan itu juga akan hilang setelah tiga bulan."


"Itu terlalu lama, perasaan itu sangat mengganggu ku. Aku tidak akan bisa," ucap Clara menatap Pamannya frustasi.


Leo menghela pelan. "Sudah ku katakan jangan terbawa suasana. Dan kau yang selalu berhubungan dengan mereka berdua, hanya akan membuatmu tidak bisa keluar dari lingkaran setan itu."


"Tapi–"


"Keras kepala!" potong Leo datar. Clara terdiam, mematung seketika. Tidak biasanya pamannya itu memotong ucapannya.


"Bandel!" Clara semakin terpaku seolah ada batu besar yang menghantam kepalanya.


"Tidak mau diberi tahu!" imbuh Leo lagi.


"Paman–"


"Apa lebih baik Paman beritahu Mamamu agar kau bisa menurut?" ucap Leo kini tersenyum miring.


Leo terkekeh pelan, tangannya bergerak mengacak puncak kepala keponakannya. "Karena kau yang selalu berkutat dengan mereka, akhirnya kau jadi seperti ini. Sebaiknya, kau harus mengakhirinya sekarang," suruh Leo.


"Ta-tapi Paman, aku sudah berjanji untuk membantunya. Dan hanya beberapa hari lagi semua akan selesai."


"Begitu ya. Tapi setelah itu, pintu itu akan susah untuk ditutup," ucap Leo menatap Clara tanpa ekspresi yang berarti.


Clara menatap Pamannya tidak percaya. Jika yang dikatakan itu benar, berarti usaha Clara selama ini akan menjadi sia-sia. Clara tertunduk sedih. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika terus akan bertemu dengan Arion.


"Tenanglah, tidak separah itu," kata Leo menghentikan Clara yang sedang berpikir keras. "Masih bisa ditutup kok," sambung Leo tersenyum manis.


Clara hanya diam menatap laki-laki dewasa di hadapannya dengan bibir yang berkedut. Sekarang ia tahu, semua ucapan itu hanya untuk menggodanya saja.


Sayang sekali orang yang mengatakan itu adalah Pamannya. Jika tidak, mungkin Clara sudah mengumpat hebat di hadapannya.


"Jadi, selesaikan semuanya dengan segera. Tapi ada syaratnya."


"Syarat?"


.


.


.


Clara berjalan perlahan memasuki halaman sekolahnya. Hanya dua hari Clara istirahat dengan infus di tangannya. Harumi membolehkannya masuk dengan syarat jika terjadi sesuatu, Clara harus izin pulang segera.


Ketika sedang berjalan di tengah lapangan, tiba-tiba saja Clara merengut kemudian terkekeh pelan mengingat perkataan pamannya kemarin.


"Kau tidak perlu lari 100x putaran atau push up dan sit up 100x, kau hanya perlu jogging setidaknya dua kali seminggu dan makanlah yang lebih sehat."


Clara tertegun melihat orang dewasa itu dengan wajah polos. "Maksudnya, Paman?"


"Hahaha kau tidak mengerti perkataan Paman? Sehatkan tubuhmu. Meminjamkan tubuhmu pada hantu itu butuh stamina lebih, dan pikiran yang lebih jernih.


Setidaknya, jangan sampai sakit lagi, dan segera selesaikan urusan mu. Jangan sampai Paman laporkan pada Mamamu."


Senyuman Clara mengembang, ia sekarang sudah lebih sehat dengan beberapa terapi yang Leo lakukan.


Benar dugaan Clara, rasa lelah yang berlebihan bukan karena tanpa alasan. Selain meminjam yang berjam-jam, ia masih melakukannya meski hanya sepuluh atau lima belas menit.


Clara pikir itu tidak masalah, tapi perasaan waspada yang selalu ia rasakan agar menjauh dari Arion, membuatnya semakin menguras tenaga dan pikiran.


Setelah memasuki kelasnya yang belum begitu ramah dengan murid, Clara berjalan dan duduk di bangkunya. Selang beberapa menit, Alice dan Dita datang dan langsung menyambut Clara yang sudah kembali masuk sekolah.


Ponsel Clara bergetar. Ia merogoh kantongnya dan menemukan nama Reyhan tertera di sana.


"Halo," sapa Clara setelah menjawab panggilan.


"Hei, ku dengar kau sudah masuk hari ini?" tanya laki-laki di seberang panggilan.


"Iya. Aku sudah sehat."


"Maaf belum sempat menjengukmu langsung ke rumahmu. Sebenarnya kami cukup khawatir dengan keadaanmu, terutama 'dia'."


Clara tersenyum ringan. "Tidak perlu kau pikirkan. Aku hanya istirahat selama dua hari. Memang tidak ada yang menjenguk, setidak aku bisa beristirahat dengan baik," ujar Clara.


"Begitukah?"


"Hemm… kalau kau mau, mari bertemu di kantin saat jam istirahat."


.


.


.


Clara hanya terdiam dengan wajah bingung menatap makanan dan minuman yang ada di mejanya kali ini. Disana, Reyhan sudah meletakkan sekotak susu UHT, sekotak salad sayur dan sekotak salad buah. Sedangkan Clara hanya memesan bakso dan es teh saat ini.


Astaga! Apa-apaan ini?