
Eps. 14
Keadaan sedikit gaduh setelah peristiwa pecahnya kaca di kelas dua belas IPA 1. Sebagian dari murid memilih menjauhi pintu untuk menghindari pecahan beling, sedangkan sebagian lainnya mencoba melihat tempat kejadian, memastikan ada yang terluka atau tidak.
“Ada apa?” tanya Reyhan penasaran, ia mulai berdiri dari duduknya.
“Ada apa sebenarnya?”
“Kau melihatnya? Pintunya menutup sendiri.”
“Apa mungkin angin?”
“Tidak tahu.”
“Aku terkejut.”
Perbincangan murid-murid tentang kejadian itu mulai memenuhi pendengaran Reyhan.
Sebagian orang berkerumun di dekat pintu, membuat Reyhan sedikit kesulitan untuk melihat situasi. Sebagian murid yang terjatuh mulai berdiri dan membantu satu sama lain.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya seorang perempuan berambut pendek, sedikit membungkuk menatap Clara yang sedang terduduk di lantai.
“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Clara. Clara belum benar-benar fokus, ia masih sedikit terkejut setelah kejadian itu.
“Bukan, maksud ku luka di tangan mu. Apa kau baik-baik saja?” tanya wanita ini lagi.
Sejenak, Clara terdiam lalu mengalihkan pandangannya pada kedua lengannya. Ia terkejut saat melihat lengannya berdarah cukup banyak akibat goresan beling.
“Ada apa ini?” tanya Pak Bambang, guru BK yang baru saja datang terlihat tergesa-gesa.
Beliau tampak kaget melihat kaca pintu yang sudah hancur dengan serpihan kaca yang sudah berkeping-keping.
“Tadi ada angin yang cukup kencang Pak, pintunya tertutup sangat keras, makanya kaca nya pecah,” jelas perempuan yang berbicara dengan Clara tadi.
“Hei, ayo ambil sapu,” kata seorang laki-laki di kelas Reyhan.
Pria ini terlihat mengatur semuanya, dan diikuti dengan baik oleh yang lainnya. Mungkin dia ketua kelasnya.
“Kalian bersihkan beling kecilnya, cari sampai ke bagian dalam, aku akan mengambil beling yang besar,” seru laki-laki tadi.
“Jangan! bersihkan semua dengan sapu, tanganmu bisa terluka,” cegah Pak Bambang.
“Oh, siap Pak,” jawab laki-laki berbadan tinggi besar itu.
Setelahnya, pak Bambang mengalihkan perhatiannya pada lengan Clara yang tampak berdarah dan bertanya, “Apa kau baik-baik saja?” Yang ditanya hanya mengangguk singkat.
“Tolong antarkan dia ke UKS,” suruh Pak Bambang pada wanita di sebelah Clara. Dengan segera dua orang wanita di samping Clara membawanya menuju UKS.
“Apa ada yang terluka lagi?” tanya Pak Bambang.
“Ada Pak, tapi hanya luka kecil,” seru murid lain menunjuk kedua orang teman laki-lakinya yang mengalami luka kecil.
“Semua yang terluka bawa ke UKS, meskipun luka kecil,” kata Pak Bambang mutlak.
“Siap pak!”
Disaat semua orang sedang sibuk membersihkan pecahan kaca, Lisya terdiam menatap apa yang telah ia perbuat, tidak lama, ia pergi menghilang setelahnya.
.
.
.
“Auu! Perih,” keluh Clara saat ibu Ely UKS mengoleskan betadine di lukanya.
Wajah Clara terus meringis, ia tidak sadar menggigit bibir bawahnya. Sesekali ia mengintip, melihat apa yang sedang dilakukan bu Ely pada tangannya.
“Tahan sedikit. Lukanya tidak dalam, tapi cukup panjang, jadi lebih baik ditutup dengan kasa agar tidak terkena debu. Untung saja tidak ada kaca yang tertancap,” ujar Bu Ely.
Tidak menanggapi komentar ibu cantik itu, Clara kembali meringis menahan perihnya luka di tangannya saat bu Ely mulai mengoleskan krim obat pada tangan Clara.
“Apa hanya kalian bertiga yang terluka?” tanya Bu Ely pada kedua murid laki-laki yang sudah menempelkan plester luka di tubuh mereka masing-masing.
Luka mereka tidak begitu serius, hanya ada beberapa lecet di tangan mereka.
“Iya Bu.”
“Apa kalian sudah selesai?” tanya Bu Ely lagi.
“Sudah bu,” jawab keduanya serempak.
“Baik Bu, kami permisi,” pamit kedua murid, teman sekelas Reyhan itu.
Setelah kedua murid tadi sudah menghilang di balik pintu, Bu Ely kembali melanjutkan membalut luka di kedua lengan Clara.
“Bisakah kau menceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya? Ibu sedikit tidak percaya, ada angin yang begitu kencang hingga memecahkan kaca pintu,” pinta Bu Ely, dengan nada curiga.
“Saya juga kurang tahu Bu, saya hanya lewat saat angin tiba-tiba saja berhembus begitu kencang,” kata Clara sedikit kaku. Clara tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya bahwa itu adalah ulah Lisya.
“Hmm... begitu kah?” tanya Bu Ely meneliti pada Clara, terlihat tidak percaya.
“Baiklah. Apa kau baik-baik saja? Apa ada luka lain selain di lengan mu?” tanya Bu Ely lagi.
Clara menggeleng lemah. “Tidak ada Bu, hanya saja kepala saya terasa sedikit berat,” curhat Clara.
Bu Ely mengangguk. “Itu karena kau terkejut. Istirahatlah dan minumlah obat ini,” kata Bu Ely memberikan obat pada Clara. Ia telah selesai membalut kedua tangan Clara.
Clara mengulurkan tangannya menerima obat pemberian Bu Ely dan berterima kasih setelahnya.
Bu Ely mengangguk singkat, “Sama-sama. Itu obat pereda nyeri, untuk mengurangi nyeri di luka mu. Sekarang istirahatlah. Kalau sudah baikan, baru kembali ke kelasmu,” perintah Bu Ely yang kemudian beranjak untuk membersihkan sisa sampah bekas pakai untuk membersihkan luka Clara.
“Baik.”
Setelah meneguk obat yang diberikan padanya, Clara berjalan menuju ranjang terdekat untuk istirahat. Lumayan untuk menenangkan hatinya sejenak.
Clara menutup tirai dan mulai naik ke ranjang. Ia masih mendengar Bu Ely sedang bergumam tentang kejadian aneh hari ini. Clara tersenyum kecut, tidak mungkin ia akan mengatakan kalau kejadian itu adalah ulah hantu. Mana mungkin Bu Ely akan percaya.
Clara mencoba memejamkan mata dengan posisi tubuh sudah berbaring. Beberapa menit kemudian, ia membalikkan posisi tidurnya menjadi miring ke arah kiri.
Meskipun mencoba terlelap, otak Clara masih memikirkan tentang kejadian di depan kelas Reyhan. Apakah benar Lisya yang melakukannya? Kalau bukan Lisya siapa lagi? Tidak mungkin ada angin yang bisa membuat pintu tertutup seperti itu kecuali dengan kekuatan Lisya.
Dan kejadian itu hanya terjadi di kelas Reyhan, kalau memang ada angin yang begitu keras, seharusnya semua kelas di deretan itu akan mengalami hal yang serupa.
Clara membolak balikkan tubuhnya mencoba tidur, namun ia masih saja terjaga. Merasa jengkel karena tak kunjung terlelap, Clara membuka mata. Ia terperanjat seketika kala melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapannya.
“Aaargh!” teriak Clara reflek.
Terdengar derap kaki mendekati ranjang, lalu membuka tirai dengan tergesa, menampakkan bu Ely yang terlihat khawatir. “Ada apa?”
Clara menarik tubuhnya untuk duduk. “Ah... um... saya tidak sengaja menekan lengan saya bu, rasanya sakit sekali,” ucap Clara sedikit canggung dan mencoba menarik bibirnya untuk tersenyum meskipun jantungnya tengah berdetak begitu cepat karena terkejut.
“Ku pikir terjadi sesuatu,” kata Bu Ely. Ia menghela berat lalu meninggalkan Clara setelah sebelumnya kembali menutup tirai.
“Maaf,” gumam Clara, sesaat sebelum Bu Ely pergi.
Clara menghela pelan, tidak tahu harus berkata apa pada wanita yang sedang berdiri di samping nya. Ia melirik Lisya dengan sudut matanya hanya beberapa detik. Sekali lagi, Clara menghela pelan karena suasananya terlalu canggung.
Hening, tidak ada percakapan sama sekali. Lisya hanya berdiri di samping ranjang sedangkan Clara mencoba menatap ke arah lain, selain ke arah Lisya.
“Ada apa?” suara Clara memecahkan keheningan.
Ia mencoba mengatur volume suaranya agar tidak terdengar oleh bu Ely yang berada sedikit jauh dari ranjang tempat Clara berbaring.
Ketakutan Clara melihat Lisya karena kejadian dirumahnya, sirna begitu saja begitu mengingat bagaimana Lisya melalui hidupnya dengan sulit.
Dia tahu sebenarnya hantu cantik ini bukanlah hantu jahat.
Lisya masih terdiam menatap ke arah balutan perban di kedua tangan Clara. “Sedang apa kau di depan kelas Reyhan?” tanya Lisya kini menatap Clara tak suka. Nada bicara Lisya juga menjadi lebih datar, tidak seperti biasanya.
Mendengar pertanyaan itu, Clara sedikit tersentak. Ia hanya ingin memastikan Lisya masih di sekolah ini atau tidak, tidak sengaja berlama-lama di depan kelas mereka karena melihat Lisya yang tampak begitu sedih.
Terkadang dia melihat Lisya berbicara sendiri seperti orang yang terbuang.
“Aku hanya tidak sengaja lewat,” jawab Clara dengan nada biasa.
“Oh… aku melihat mu cukup lama berdiri di sana. Untuk apa?” desak Lisya, tidak percaya.
Clara hanya diam, menatap Lisya tanpa ekspresi yang bermakna, lalu berbaring memunggungi Lisya. "Bukan urusan mu, aku mau tidur. Pergilah."
Lisya menatap punggung Clara yang sudah tertutup selimut. Yang ditatap seolah enggan untuk berbalik.
“Apa kau mencari ku?” tanya Lisya. Nada suaranya kini terdengar biasa, seolah sedikit berharap bagi Clara.
Clara memang merasa iba mendengar cerita memilukan yang dialami Lisya, setidaknya sedikit banyak ia paham apa yang mungkin disampaikan hantu ini pada kekasihnya.
Meskipun sebenarnya ini bukan urusannya dan tidak perlu ikut campur pada hal rumit di kemudian hari. Clara sangat sadar ia tidak perlu terlalu bersimpati.
Clara menutup matanya erat, kemudian menjawab, “Tidak."