
Eps. 54
Clara tersenyum menatap es krim yang disodorkan oleh seseorang di depannya. Ia menerimanya dengan senyum merekah. "Terima kasih, Arion."
Arion tersenyum, ia duduk di sebelah Clara dan menikmati es krim mereka dalam diam di bangku taman sembari melihat orang berlalu lalang dengan pasangan, orang tua dan anak-anak mereka.
Pagi ini begitu cerah. Taman kota ini sungguh ramai di hari libur.
Clara tidak pernah merasa sebahagia ini, sesekali ia melirik Arion yang sedang menikmati es krimnya dan menatap taman bermain di depannya. Arion sungguh tampan.
Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri taman, membeli camilan yang mereka sukai. Keduanya tampak sangat bahagia.
Arion mengangkat tangan Clara yang ada di genggamannya, lalu mencium punggung tangan Clara, menatap gadisnya sensual. "Apa kau senang?" tanya Arion menatap tepat di manik mata Clara.
Gadis manis ini hanya mengangguk antusias, dengan pipi sedikit merona.
Clara berjalan dengan kedua tangan memegangi crepes yang baru saja ia beli, berjalan dengan sedikit bersenandung menghampiri Arion yang menunggunya di kursi taman.
"Arion, aku sudah da–"
Clara mematung. Ia bahkan tidak dapat menyelesaikan kalimatnya setelah melihat pemandangan di depannya. Seorang gadis berambut gelombang yang sangat cantik sedang bergelayut manja di lengan Arion kemudian memeluknya erat.
"Apa yang kalian lakukan?!" marah Clara yang sudah berdiri tepat di samping Arion dan wanita cantik itu. Kedua tangannya meremas jajanan itu kuat.
Laki-laki tampan ini menatap Clara remeh dengan senyum miring tercetak di wajahnya. "Apa yang kau katakan? Bukankah sejak awal kau yang tidak menginginkan ku? Jadi aku sudah mendapatkan penggantimu," katanya tersenyum. Tangannya merangkul erat tubuh gadis cantik di sampingnya.
Clara hanya bisa diam, nafasnya sudah memburu menahan rasa yang teramat sakit di dadanya.
Mencoba bertahan sekuat tenaga tapi pertahanannya sudah runtuh, air mata itu lolos dengan derasnya dengan isakan yang tidak bisa ditahan.
Gadis ini membuka mata seketika dan menatap langit-langit kamarnya. Ia masih menangis sesegukan, rasa nyeri di hatinya bahkan masih ia rasakan. Dengan kasar Clara menghapus air matanya cepat.
"Sial! Mimpi apa itu barusan?! Ke-hiks, kenapa rasa sakitnya masih ada?!"
Clara berbalik dan menutupi wajahnya yang sedang menangis dengan guling, memeluk benda itu seolah yang dipeluk adalah lelaki yang ada di mimpinya.
Arion … Arion … aku ingin melihatnya … Arion.
.
.
.
Dengan gontai Clara berjalan menuju meja makan dengan ransel di punggungnya. Wajahnya benar-benar kusut, kantung mata panda bahkan sedikit terlihat di wajahnya.
Ck! Kenapa aku malah merindukan Arion? Perasaan dari mimpi itu masih terasa sangat jelas. Aku ingin marah, tapi aku merindukannya. Seolah kami memang berpacaran.
Tidak. Ini aneh. Lisya juga bilang ini bukan perasaan ku. Jadi aku–
"Sayang, kenapa bengong?" tanya Harumi.
Clara mendongak mendapatkan ketiga anggota keluarganya bersamaan menatapnya penasaran.
"Oh … ah, aku benar-benar ngantuk Ma. Semalam aku susah tidur setelah mimpi buruk," jawab Clara tersenyum kecil.
"Benarkah?"
Setelah sedikit pertanyaan kecil dari Harumi, Clara mulai memasukkan makanan yang ada di hadapannya meskipun tidak berselera. Ia tidak mau membuat Mamanya curiga.
Keluarga Clara cenderung tenang saat makan, sesekali ia melirik, memperhatikan interaksi singkat mereka di meja makan. Clara tidak mau membuat mereka khawatir.
Memang benar. Cara mengalihkan pikiranku yang paling ekstrem adalah meminjamkan tubuhku pada Lisya. Semoga keputusanku ini benar.
Clara ingin meminta Lisya agar segera menyelesaikan urusannya tapi ia tidak setega itu. Dua minggu terakhir ini adalah dua minggu krusial untuk bertemu dan berpisah selamanya.
Gadis kecil ini meremat botol air itu kuat dengan tangan gemetar.
Arion. Arion. Aku merindukannya. Aku ingin melihatnya.
"Clara."
Seketika Clara mendongak, menatap hantu di depannya dengan penuh harap.
"Jangan memanggilnya," ucap Lisya menatap Clara tegas.
Clara menghela pelan. Kemudian dengan kasar merebahkan punggungnya pada kursi. "Bagaimana kau tahu?"
"Apa kau tidak sadar kau sudah bergumam berkali-kali menyebut namanya?"
Sekali lagi, Clara mendecak dan mendengus pelan. "Itu yang ingin aku bicarakan dengan mu."
Tanpa basa basi ia meletakkan ponselnya ke telinga, Clara menceritakan tentang mimpinya dengan Arion, perasaan di mimpi yang tertinggal dan mengganggu sampai saat ini.
"Clara … kau sadar kan itu bukan perasaan mu?" tanya Lisya prihatin.
Pandangan Clara menerawang pada langit yang sangat terik. "Aku tahu. Itu sangat mengganggu. Aku tidak pernah menyukai seseorang sampai terasa menyakitkan seperti ini. Dan sialnya, dia bukan manusia."
Lisya bergerak dan duduk disebelah Clara. Duduk bersama menatap apa di depan mereka. "Aku tidak bisa banyak membantu, yang aku bisa hanya selalu mengingatkanmu bahwa perasaanmu hanya ilusi."
Lisya mendesah dan kembali berbicara. "Ah, kenapa kau tidak menyukai Rey saja?"
"Kau benar, kenapa aku tidak menyukai– hah?" Seketika Clara menegakkan punggungnya, menatap Lisya tidak habis pikir.
"Kau gila," sungut Clara, ia kembali menyandarkan punggungnya pada bangku.
Lisya terkekeh kecil. "Memangnya kenapa? Bukankah dia tampan? Kau tahu dia punya banyak fans karena ketenarannya kan? Siapa yang tidak mau pada cowok tampan most wanted di sekolah kita?"
"Bersama anak populer hanya akan mendatangkan banyak masalah. Bukankah kau pernah merasakannya?" sarkas Clara.
"Hei, tidak seburuk itu," bantah Lisya.
"Setelah semuanya selesai, aku akan pergi keluar kota untuk kuliah. Jadi aku tidak akan berhubungan dengannya lagi."
Tidak ada percakapan setelah itu. Keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Namun beberapa detik setelahnya keheningan kembali pecah oleh suara Clara.
"Heem … akhir-akhir ini aku jarang melihat hantu-hantu itu mendekati ku," ucap Clara. Pandangannya melihat hantu hitam putih yang berlalu lalang jauh di sekitar mereka.
"Ya. Aku meminta mereka agar tidak mendekati mu," sahut Lisya.
.
.
.
Hari ini kantin terasa lebih ramai dengan suara bisikan dari manusia yang sedang makan di sana. Hampir semua mata tertuju ke meja tempat Clara duduk. Rasa penasaran, gunjingan, tuduhan, bisik-bisik itu samar-samar ia dengar.
Benar saja, prediksi Clara selalu tepat. Berhubungan dengan manusia populer itu sangat merepotkan. Ia sedang duduk berdua dengan Reyhan di pojok kantin dengan makan yang sudah tersedia di depan mereka.
Begitu yang mereka lihat. Padahal masih ada orang ketika yang duduk disebelah Clara yang jelas tidak terlihat.
Clara menghela pelan. Setidaknya kedua teman baiknya mengerti apa yang sedang Clara lakukan.
Dan diantara bisikan tidak mengenakkan itu, pangeran es di depannya malah tersenyum sangat manis menatap Clara dengan wajah tampannya.
Bagaimana cara memberi tahu nya, agar manusia rupawan itu tidak tersenyum seperti itu pada ku? Apalagi ini di sekolah!