You Saw Me?!

You Saw Me?!
Apa yang sedang terjadi?!



Eps. 47


"Aku juga tidak tahu, saat bertabrakan dengan mu, aku tidak sadar Lisya itu adalah hantu."


Suasana kafe terasa lebih sunyi saat ini, Reyhan yang tidak banyak merespon, kini bergerak meletakkan kedua tangannya diatas meja. Tangannya saling bertaut di depan wajahnya dengan siku yang menopang di atas meja.


"Lalu… kenapa kau mau membantunya? Maksud ku… dia bilang kalau kau menolak begitu keras saat dia ingin meminjam tubuhmu. Dia juga terkejut saat tiba-tiba kau mengizinkannya masuk begitu saja."


Clara hanya menatap Reyhan lekat. Dari nada bicaranya, ia tahu bahwa pangeran es di depannya bukan hanya sekedar penasaran dengan jawaban pertanyaan itu.


"Jangan tanyakan itu pada ku. Mungkin karena kasihan atau simpati, aku juga tidak tahu."


"Begitu ya," ucap Reyhan kemudian kembali tersenyum lembut. "Lalu, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja setelah dia meminjam tubuhmu?"


Clara mendengus pelan dengan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Aku sedikit menyesal meminjamkan tubuh ku pada Lisya. Tapi semuanya baik-baik saja saat ini, aku cukup bersyukur. Setidaknya aku bisa menutup lubang itu untuk yang terakhir kalinya.


"Aku tidak baik-baik saja. Aku benar-benar akan menutup lubang itu, jadi hantu apapun itu aku tidak akan melihatnya lagi."


Wajah laki-laki di depannya tidak bisa Clara baca. Apakah dia terkejut? Penasaran? Atau apa? Tapi bukan hal penting mengetahui apa yang sedang dia pikirkan, bagi Clara semua sudah selesai.


"Jadi, apa yang membuatmu hanya ingin berbicara berdua dengan ku?" tanya Clara sembari meraih sedotan di jus buah nya, kemudian menyeruputnya lama.


Laki-laki ini tersenyum kecil. Kemudian meraih minumannya. "Aku hanya penasaran kenapa kau membantu kami saat efeknya tidak menyenangkan untuk mu. Tapi, mendengar jawabanmu sepertinya aku cukup mengerti. Aku hanya ingin berterima kasih dan aku harap, kedepannya tidak akan ada sesuatu yang terjadi pada mu."


"Apa maksud mu?"


"Perempuan itu. Sebagai balas budi, aku akan memastikan mereka tidak akan mengganggumu. Jadi, jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, jangan ragu mengatakannya pada ku, oke?" ucap Reyhan dengan senyum tampan seperti biasanya.


Seperti ada sesuatu yang salah, apakah pembicaraan ini tidak boleh didengar oleh Lisya? Kenapa dia meminta Lisya menjauh hanya karena ingin berterima kasih? Clara yakin, ada sesuatu yang lain.


Raut wajah Reyhan yang sedikit lebih dingin dari biasanya,  air mukanya yang terlihat sedih meskipun tidak terlihat banyak. 


Apa dia kesepian? Ah, itu bukan urusan ku.


Clara tersenyum ringan. Perutnya sudah kenyang, minumannya pun sudah tandas. "Kau tenang saja. Terima kasih untuk traktirannya, kau tidak perlu memikirkan tentang itu, aku bisa mengurusnya sendiri. Kau tenang saja," balas Clara tersenyum tulus.


Wanita-wanita itu mungkin mengganggu Clara, tapi ia tidak takut. Clara tidak punya hubungan apapun dengan Reyhan, kesalah pahaman mereka masih bisa ia atasi. Lagi pula, setelah ini Clara tidak akan bertemu dengan Reyhan lagi.


.


.


Selesai mencuci tangannya, Clara mematikan kran lalu mengeringkan tangannya dengan tissue. Ia menghela pelan, bersyukur tidak ada fans fanatik Reyhan yang mungkin akan mengganggu nya jika bertemu di toilet perempuan seperti ini.


Setelah percakapan tadi, Clara meminta izin untuk ke toilet sebelum mereka pulang. Selesai dengan urusannya, Clara melangkahkan kakinya lalu berbelok untuk keluar.


Tubuh Clara tiba-tiba berjengit  saat melihat orang yang sudah berdiri di hadapannya. Ia bahkan sempat memundurkan tubuhnya hingga membentur dinding karena terkejut. Dengan alis mengernyit, Clara menatap laki-laki itu horor.


"Apa yang kau lakukan disini? Ini toilet perempuan dasar kau mesum!" bisik Clara dengan nada jengah.


Laki-laki itu terkikik kecil dengan wajah manisnya. Menatap Clara lucu.


Wajah Clara seketika memerah dengan sedikit membuang muka. Rasa aneh itu masih mengusik Clara saat menatap laki-laki tampan ini.


Namun tidak lama, setelah memastikan tidak ada orang Clara mencoba menatap tajam laki-laki dihadapannya.


"Hei, kau tidak mengintip ku kan, Arion?" tanya Clara jengkel menahan malu. Ia bahkan tidak sadar sudah sedikit salah tingkah.


"Aku hanya menunggu mu disini agar mereka tidak mengganggumu, kau tahu kan perempuan itu lebih ganas dari ku?" goda Arion.


Clara tersenyum remeh. "Kau bicara seolah mereka bisa melihat mu."


"Dari pada hal itu," Arion bergerak mengikis jarak dengan Clara, membuat wanita itu kembali menempelkan punggungnya pada tembok. "Sepertinya kencan mu hari ini cukup menyenangkan. Kapan kau akan pergi berkencan dengan ku?"


"Kami tidak berkencan. Dia hanya ingin berterima kasih pada ku."


"Aku tahu," balas Arion tersenyum tenang.


Sudah berapa kali Clara menghela hari ini. Hantu tampan di depannya ini benar-benar membuat Clara lelah. Lihatlah, apa-apaan senyumannya itu. Senyuman itu lebih manis dari senyuman Reyhan.


Oh Tuhan, apa yang kupikirkan!


Clara memijat pangkal hidungnya pelan. Harus diapakan hantu di depannya ini. Dia memang tidak mengganggu, tapi ada hal dari nya yang cukup mengganggu pikiran Clara.


"Hei, ayo kencan dengan ku?" tanyanya dengan wajah sangat dekat dengan wajah Clara.


Sudah tidak ada ruang untuk mundur lagi, bahu Clara sudah menempel pada tembok. Gadis dengan wajah memerah ini hanya sedikit memalingkan wajahnya dari Arion.


Pada akhirnya Clara sadar, apa yang ia lakukan adalah hal konyol. Menghindari Arion seolah hantu tampan itu bisa menyentuhnya. Paling parah, Arion hanya akan mengambil alih tubuh Clara.


Clara menoleh mantap, menatap lurus tepat di manik mata laki-laki yang wajahnya hanya berjarak sepuluh senti di depan Clara. "Apa kau lupa, kau sudah mengikuti ku hampir setiap hari! Anggap saja itu seperti kencan."


Tersenyum sangat sensual, Arion semakin mendekatkan wajahnya pada Clara. "Benarkah?" tanyanya dengan nada dalam dan berat.


Keberanian Clara kembali ciut. Ia hanya mengernyitkan pandangannya dengan mulut yang terkatup rapat.


Wajah Clara terasa panas, dengan degup jantung yang kembali menggila. Kupu-kupu terbang itu kembali ia rasakan menggelitik perutnya.


Hening beberapa saat, Clara memutuskan pandangannya karena tidak sanggup menatap wajah Arion yang tersenyum sensual seolah ingin mencium Clara.


"Kau menggemaskan sekali, melihatmu yang seperti ini membuatku ingin menciummu."


Mata Clara membulat seketika, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia menoleh perlahan menatap Arion dengan tatapan remeh. Hantu ini benar-benar tidak bisa berpikir.


"Cium saja jika kau bisa," ucap Clara remeh, menatap Arion dengan tatapan menantang.


Arion tersenyum samar. "Jadi kau mengizinkan ku?"


"Tentu jika kau mau," jawab Clara tidak ada keraguan.


Senyuman dibibir Arion semakin mengembang. Detik itu juga ia mencium bibir Clara, membuat Clara tersentak dengan mata membulat sempurna.


Perlahan ia ******* bibir Clara pelan, membuat wanita ini hanya terdiam dengan tubuh sedikit gemetar. Arion semakin hangat mencium bibir Clara. Kedua tangannya bahkan telah mengatup wajah gadis ini rapat.


Saat Arion hendak mencium Clara lebih dalam, tiba-tiba saja gadis ini tersentak dan mendorong tubuh Arion dengan kedua tangannya.


Wajah Clara memerah, dengan sedikit air mata yang keluar dari sudut matanya. Ia menutup bibir dengan punggung tangannya, menatap Arion tidak percaya.


Satu hal yang Clara lupakan, Arion pernah memeluk Clara di perpustakaan waktu itu.


Apa… apa yang--


Hati Clara benar-benar kacau, perasaan gugup, takut, sakit dan berbunga semua bercampur menjadi satu.


Tanpa berucap apapun Clara berlari keluar dengan panik, saat hampir keluar kafe langkah Clara terhenti mendadak, hampir bertabrakan dengan Reyhan.


"Clara, ada apa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Reyhan khawatir.


Clara hanya menatap Reyhan nanar lalu berlari setelahnya, meninggalkan Reyhan tanpa kata-kata apapun.


"Clara, apa mungkin--?!"


Setelah melihat punggung Clara yang berlari sambil menangis, Reyhan kemudian berlari di arah yang berlawanan. Ia melihat ke arah toilet wanita. Tidak ada orang disana.


"Apa Clara di bully disini? Tapi disini tidak ada siapa-siapa?" gumam Reyhan.


Tidak lama berdiri disana. Reyhan melangkahkan kakinya pergi, tidak melihat Arion yang berdiri dengan wajah datar disana.