
Eps. 108
"Kenapa tidak dibuka?" tanya Reyhan dengan wajah biasa.
Clara masih tertunduk. Instingnya menyuruh tubuhnya untuk berdiri dan segera pergi dari sana tapi tubuh itu enggan bergerak.
Rasanya air mata itu sudah mendobrak ingin keluar tapi Clara menahannya mati-matian.
"Clara?" panggil Reyhan lagi.
"Ah, biar ku buka dirumah," ucapnya buru-buru mencari tas dan hendak berkemas.
"Tidak boleh. Kau harus membacanya disini," titah Reyhan tanpa bantahan.
Clara terdiam dari aktivitasnya. Detak jantungnya yang begitu kencang sepertinya terdengar hingga ke telinga Clara sendiri. Kenapa Reyhan begitu jahat? Apakah dia mau balas dendam?
Lagi, Clara mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan agar hatinya lebih tenang. Sekilas, ia menatap Reyhan nanar.
Kepalanya sudah sangat berat, wajahnya terasa memanas. Tapi Clara tidak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan menangis di hadapan Reyhan. Bukankah dari awal ia sudah siap dengan apapun respon yang Reyhan berikan?
"Clara … hei? Dengar, itu adalah contoh undangan. Aku sudah mencari yang terbaik, dan aku membuatnya sesuai dengan harapan ku dan pasangan ku. Jadi … aku hanya ingin meminta pendapatmu," jelasnya panjang lebar.
Clara mengangguk dengan enggan. Ia ingin menolak tapi Clara tidak bisa. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf agar Clara tidak merasa bersalah setelah ini.
Kepalanya terasa semakin berat dan sulit untuk berpikir, bahkan hanya untuk bernafas saja terasa sulit. Clara meraih gelas minumannya kemudian meminum air itu cepat hingga tandas.
Clara memaksakan diri melihat undangan berwarna salem itu. Design minimal yang elegan, warna yang ia sukai. Sial!
Semakin lama semakin sakit saat ia lihat tidak ada tanggal. Clara ingin sekali menertawakan dirinya sendiri, sekarang Reyhan meminta masukannya untuk acara pernikahan dengan pasangannya? Kejam sekali. Ya, Clara juga kejam di awal. Sekarang mereka impas.
Clara membalik undangan itu, membaca nama lengkap Reyhan. Reyhan Dwi Putra. Tangan kirinya masih menutup nama wanita pasangan Reyhan. Ia ingin merobek saja undangan itu, tapi kewarasannya mengatakan jangan.
Tidak terasa air mata Clara mengalir begitu saja. Padahal ia sudah menahan sekuat tenaga tapi air mata itu jatuh juga.
Mata Clara membulat sempurna saat membaca nama pengantin wanita itu. Sepertinya ia kenal nama itu? Clara mencoba mencerna tapi pikirannya tiba-tiba kosong. Tunggu–
Aulia Clara Ramadani.
Setelah sempat eror beberapa detik, Clara mendongak cepat menatap Reyhan dengan wajah heran dan bingung. Air matanya bahkan kini mengalir sangat deras. Dada yang begitu sakit kini malah berubah menjadi kebingungan dan berharap apa yang dipikirkannya adalah benar.
"R-Rey??" tanya Clara dengan wajah yang sudah kacau dengan air mata.
Laki-laki itu tersenyum begitu lembut. Berbeda dengan wajah datar cenderung dingin di awal. Wajah laki-laki itu saat ini seperti wajah Reyhan saat laki-laki itu begitu mencintainya.
"Benar. Itu kamu. Apa kau ingin menghabiskan hidup mu bersama dengan ku?"
Tidak menjawab. Air mata Clara mengalir sangat deras kali ini. Menatap Reyhan tidak percaya.
Cukup lama Clara menangis. Ia membekap mulut dengan kedua tangannya agar tidak menimbulkan suara. Menangis tersedu-sedu.
Sudah empat tahun lebih Clara menahan perasaan itu, menenggelamkan dirinya dalam kesibukan dan keterpurukan.
Reyhan menyentuh pundak Clara yang bergetar. Lalu memeluk gadis itu erat.
Clara mengangkat kepala dan memeluk Reyhan yang sudah pindah disisinya dengan erat, tidak menyangka laki-laki itu mau menunggunya dan melamarnya seperti ini.
"Clara … sayang … sudah, berhentilah," ucap Reyhan pada Clara yang masih memeluknya erat, tidak nyaman karena Clara sudah lima belas menit menangis tidak berhenti.
Reyhan melirik ke sekitar, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Sudah tidak sabar, akhirnya Reyhan menarik gadis itu, membawa semua barang bawaan mereka dan memasukkan Clara ke mobil di kursi penumpang.
Reyhan duduk disamping Clara, membiarkan wanita itu menangis sepuasnya. Laki-laki ini duduk dengan santai, menghadap ke depan menunggu Clara dengan sabar.
Sudah tiga puluh menit gadis itu masih menangis. Sempat berhenti lalu kembali menangis setelah melihat Reyhan.
"Hei, kemarilah," suruh Reyhan. Clara langsung melompat dan memeluk laki-laki itu erat, kembali menangis.
"Astaga, haha," ejek Reyhan tertawa tidak percaya dengan sikap Clara.
Sejam setelahnya, Clara terdiam dalam pelukan Reyhan.
"Apa sudah tenang?" tanya Reyhan.
"Kau jahat!"
"Maaf. Aku juga menderita empat tahun ini."
Reyhan memeluk wanita itu erat. Menyudahi pembicaran mereka. Lihatlah mata yang merah membengkak itu.
"Jadi … apa kau mau menikah dengan ku?"
"Aku mau!"
"Tidak mau memikirkannya dulu?"
"Berhenti menggodaku!"
Reyhan tertawa cukup keras. Namun, ia tersentak, saat Clara tiba-tiba bangkit dan duduk dipangkuannya menghadap Reyhan.
"Kau jahat!" ucapnya lalu memeluk Reyhan erat, menenggelamkan kepalanya pada perpotongan leher Reyhan.
Reyhan terdiam. Laki-laki itu tersenyum kecil dan mengelus punggung Clara lembut.
"Hei, tenanglah … aku tidak akan pergi kemana-mana."
"Aku merindukanmu," lirih Clara.
"Aku juga."
"Aku mencintai mu."
"Aku lebih mencintaimu."
Clara terdiam, menangkup wajah tampan itu. Rasanya seperti mimpi. Wajah yang rasanya sulit dijangkau kini berada dalam tangkupan kedua tangannya. Menatap Clara dengan senyuman lembut itu.
Reyhan meraih wajah Clara dan menempelkan keningnya ke kening Clara. "Maaf membuatmu menangis seperti ini. Aku hanya ingin tahu bagaimana responmu jika setelah empat tahun, aku malah bersama dengan orang lain."
"Aku mungkin akan sendiri hingga luka yang kau buat sudah pulih."
"Tapi sayangnya aku tidak tertarik dengan yang lain."
Reyhan menatap wajah Clara yang sudah memerah. Tangannya masih di pipi Clara sedangkan kedua tangan Clara menggenggam tangan Reyhan di pipinya.
Keduanya berpandangan, mengikis jarak perlahan hingga akhirnya Reyhan mencium bibir gadis itu lembut, memberi lum*tan kecil di sana.
Perjuangan Reyhan dan kesabarannya selama ini membuahkan hasil. Ia begitu kesal saat Clara menolaknya di hari kelulusan empat tahun yang lalu.
"Rey … maafkan aku," ucapnya terakhir lalu meninggalkan Reyhan pergi.
Reyhan begitu marah. Hatinya sakit. Kenapa gadis itu begitu keras kepala?! Lisya sudah merestui mereka bahkan mencoba menjodohkan Clara dengannya tapi gadis itu malah pergi melarikan diri. Reyhan berbalik dan kembali dengan langkah panjang.
Setelah itu, hari-hari di sekolah begitu membosankan. Ia juga masih marah pada Clara namun ucapan Leo masih terus terngiang di pikirannya.
"Dia butuh waktu untuk menyadarinya. Dia merasakan perasaan kekasih mu terlalu dalam sehingga dia mencampur adukkan perasaannya sendiri dengan perasaan itu.
Karena itu dia merasa bersalah pada Lisya. Clara tidak mau mengecewakannya. Clara juga menepis perasaan Lisya yang sudah menerimanya dan menginginkannya untuk bersama mu."
Leo meletakkan cangkir tehnya. "Mereka terlalu dalam berbagi perasaan dalam satu tubuh, sehingga dia menyalah artikan perasaan cintanya yang begitu besar padamu sebagai perasaan Lisya."
"Lalu berapa lama aku harus menunggu, Paman?"
"Aku tidak tahu … bisa sebentar, bisa juga lama. Mungkin bertahun-tahun."
Reyhan mengaduk minuman di mejanya, memikirkan perkataan Leo. Dia duduk sendirian di kantin karena sedang tidak ingin diganggu siapapun.
"Apakah aku akan sanggup menunggu?" monolognya lirih.
"Boleh aku duduk disini?"
Reyhan mendongak menatap sumber suara. Dia adalah teman Clara. "Boleh."
"Ehem … hei, … langsung pada intinya. Apa kau benar-benar menyukai Clara? Jika kau mau bersabar, aku bisa membantumu," ucap Alice memberi tawaran dengan wajah datarnya.