You Saw Me?!

You Saw Me?!
Tertipu



Eps. 76


Selesai dengan makan pagi, mereka istirahat sejenak menikmati indahnya pantai dengan angin yang masih sejuk.


Berbeda dengan Reyhan dan Clara yang begitu bersenang-senang bermain air berdua saja di pantai. Saling melempar air, berpegangan tangan, berpelukan, terlihat begitu bahagia di mata yang lainnya.


Setidaknya itu yang mereka lihat, kecuali Dita dan Alice. Kedua teman Clara ini tertegun tidak percaya dengan Lisya yang bersikap sangat berbeda dari biasanya. Hantu itu bahkan begitu lepas menggunakan tubuh Clara saat ini.


"Aku bingung. Terkadang mereka terlihat begitu canggung, dan sejak kejadian di kantin waktu itu mereka benar-benar terlihat seperti orang pacaran," ucap Eros yang dapat didengar dengan jelas oleh teman-teman lainnya.


"Benar. Di kelas lain juga banyak sekali rumor tentang mereka. Ada yang mengatakan bahwa mereka sering keluar untuk pacaran saat di luar sekolah," sambung Icha. Teman sekelas Eros dan yang lainnya.


"Betul, mereka jadi trending topik," sambung Mia yang juga teman sekelas mereka.


"Hei, kalian teman baik Clara kan? Sejak kapan mereka pacaran?" tanya Icha penasaran.


Kedua yang ditanya sempat tersentak, namun mereka mencoba bersikap senormal mungkin.


"Entahlah … Clara tidak mengatakan apapun pada kami. Ya kan Alice?" senggol Dita meminta bantuan.


"Ya. Itu urusan pribadi mereka," ucap Alice santai.


Seolah terpukul telak, mereka semua terdiam. Tidak salah Dita meminta bantuan Alice, temannya yang hanya bicara seadanya dan terkesan dingin ini terdengar tidak ramah di telinga orang yang baru saja mengenalnya.


Semua terdiam. Tampak canggung dan tidak ada yang bertanya tentang Clara lagi. Mereka menikmati saja duduk di kursi santai di pinggir pantai, menikmati sejuk dan indahnya pemandangan disana.


Lisya dan Reyhan yang tidak peduli dengan pendapat orang lain, dengan bahagia menikmati kebersamaan mereka, berpelukan dan bergandengan. Keduanya kembali saat matahari mulai terik dengan tangan yang tidak pernah lepas dari tautannya.


"Sayang … biarkan Clara istirahat dulu. Dia bilang, sore nanti dia akan mengizinkan ku untuk meminjam lagi setelah dia istirahat," ucap Lisya.


Reyhan tersenyum dan mengangguk singkat. Tangannya bergerak menangkup wajah Lisya dan mengecup pucuk kepalanya singkat.


Lisya tersenyum, dan setelahnya ia memejamkan mata singkat. Saat mata itu terbuka lagi, raut wajahnya berubah seketika.


Seperti biasa,wajah itu masih terlihat bingung namun sebentar. Clara mendongak dan menatap Reyhan yang masih khawatir padanya.


"Aku haus," ucap Clara polos.


Reyhan tertawa renyah lalu menarik tangan gadis itu untuk kembali ke penginapan.


"Emm … Reyhan, bisakah kau lepaskan tangan ku?" tanya Clara ragu.


Reyhan yang sadar bahwa itu adalah Clara, perlahan melepas tautan tangan itu. "Oh … maaf," ucapnya dengan senyum canggung.


"Tidak masalah."


"Baiklah. Ayo, ikut dengan ku. Kita makan siang."


Clara duduk bersama dengan sepuluh orang lainnya di meja yang berisi banyak makanan dan minuman. Ia begitu mengantuk sampai tidak berselera untuk makan.


Gadis ini masih terdiam saat Reyhan yang duduk di samping kirinya mengambilkan makan di piringnya. Clara menunduk, menatap makanan itu menerawang.


"Hei Clara," sapa Lisya. Hantu ini duduk manis di sebelah kanannya. Clara tersenyum kecut melirik Lisya dengan matanya, berkatnya yang begitu semangat kini ia harus merasakan lelah lebih dari sebelumnya.


"Maafkan aku," ucap Lisya menangkupkan kedua tangannya di depan Clara merasa bersalah.


"Aku tidak sadar waktu dan tiba-tiba saja sudah jam makan siang," sambung Lisya memberi alasan.


Clara hanya mengangguk kecil. Mau bagaimanapun juga ia tidak bisa memarahi Lisya, perempuan bersurai hitam ini tidak sampai hati menegurnya karena ini adalah waktu terakhirnya.


"Setidaknya aku masih bisa bertahan, itu tidak masalah," gumam Clara.


"Terima kasih Clara," ucap Lisya girang.


"Kenapa?" tanya Reyhan yang samar-samar mendengar gadis di sebelahnya bergumam. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Clara.


"Um … Rey… ini terlalu banyak," kata Clara menunjuk piring yang sudah penuh dengan nasi lauk dan sayur.


"Kau butuh banyak tenaga," bantah Reyhan dengan nada lembut.


"Benar, kau harus habiskan itu, Clara," sergah Lisya.


"Ini tidak akan habis," rengek Clara.


Reyhan dan Lisya terkesiap. Clara tidak pernah seperti ini sebelumnya.


"Apa ini cukup?" tanya Reyhan lagi, yang hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Clara.


"Baiklah, makanlah. Setelah itu istirahat," suruh Reyhan lembut terdengar sangat perhatian di telinga yang lain.


Lisya sedikit tertegun melihat Reyhan yang sangat perhatian pada Clara. Sedangkan teman-teman lainnya sudah jengah dengan sikap romantis keduanya. Meskipun awalnya bukan Clara yang bermesraan dengan Reyhan. 


"Hei, apa kau baik-baik saja?" tanya Lisya khawatir melihat Clara yang tidak bersemangat.


"Aku lelah. Aku ingin segera tidur," bisik Clara hampir tidak terdengar oleh siapapun kecuali Reyhan yang mendengarnya samar.


Clara memakan makanan itu dengan sedikit cepat. Ia tidak peduli dengan rasanya karena matanya sudah terlelap sesekali.


Setelah makan siang tubuh Clara mulai terasa berat. Matanya mengantuk tidak tertahankan. Mungkin itu adalah efek dari meminjam yang lebih lama dari tiga puluh menit. Apalagi Lisya sempat bermain air di pantai. Itu pasti sangat melelahkan.


Tidak lama, Clara merasakan tepukan di pipi membuatnya terbangun. Ternyata secara tidak sadar gadis ini tidur di bahu Reyhan. Teman laki-laki di depannya hanya mencibir dan menggoda Reyhan sedangkan teman perempuannya tampak iri pada Clara. Hanya Alice dan Dita yang terlihat khawatir.


"Hei, ayo tidur di kamar mu. Aku antar ya," ujar Reyhan menawarkan diri.


Clara menegakkan bahunya. Sejak kapan ia tertidur? Dengan cepat ia berdiri dan bergegas pergi ke kamarnya.


Astaga. Sejak kapan aku tertidur? Ugh ini memalukan.


"Aku pergi duluan ya teman-teman," ucapnya dan pergi terburu-buru.


"Aku akan menemaninya," sambung Alice yang sudah berdiri dan mengejar Clara.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan. Dia pasti sangat lelah," gumam Lisya. Pandangannya masih mengikuti arah perginya Clara.


Sedangkan Reyhan masih terdiam. Menatap punggung Clara dengan raut wajah khawatir.


"Tenang saja, dia hanya butuh istirahat," ungkap Dita agar Reyhan tidak begitu khawatir.  "Aku duluan teman-teman."


*


"Alice … Jangan ganggu aku, jangan bangunkan aku kecuali waktunya sudah sore untuk barbeque. Atau saatnya makan malam," lirih Clara dengan suara lemah, terdengar sangat lelah. Gadis ini kemudian merebahkan tubuhnya begitu saja ke ranjang.


"Wah, langsung tidur saja dia," ucap Dita.


Alice menoleh, melihat Dita yang sudah masuk dan menutup pintu kamar mereka.


"Pasti lelah sekali harus berbagi tubuh dengan Lisya. Setidaknya sekarang dia sudah sedikit lebih kuat," ujar Alice. Dilihatnya Clara yang sudah tidur terlelap di ranjang singlenya.


Clara membuka mata perlahan, tubuhnya sudah tidak begitu mengantuk namun masih terasa berat. Ia memalingkan wajahnya, tidak ada seorangpun di kamar itu.


"Kemana semua orang?"


Clara mengucek matanya perlahan lalu menarik tubuhnya untuk duduk. Saat hendak menapakkan kakinya pada lantai, Clara berjengit melihat Lisya yang tiba berdiri tidak jauh di depannya.


"Lisya! Jangan mengagetkan ku!" omel Clara.


Tidak ada jawaban. Hantu itu hanya bergeming.


"Hei … ada apa? Kenapa muram begitu?" tanya Clara, khawatir pada keadaan Lisya.


Lisya masih diam. Namun sesaat kemudian, hantu itu mengulurkan tangannya pada Clara.


Teman hantunya itu terlihat biasa siang tadi, lalu kenapa sekarang tiba-tiba terdiam seperti itu?


Clara menghela pelan. "Astaga Lisya, aku masih lelah. Bagaimana jika nanti malam saja?"


Hantu itu tidak menjawab lagi. Tangannya masih terulur pada Clara.


Lagi, Clara menghela lelah. Tubuhnya masih berat tapi sudah lebih baik dari pada siang tadi. Melihat Lisya yang murung dan sepertinya ingin sekali meminjam, Clara menyerah karena kasihan.


Mungkin sebentar saja tidak masalah.


"Baiklah. Tapi sebentar saja," ucap Clara lalu mulai mengulurkan tangannya.


Hantu itu mulai bergerak meraih tangan Clara. Tidak seperti biasanya, hati Clara mulai ragu. Dan benar saja, saat hantu itu mulai masuk, Clara dapat melihat seringai menyeramkan di wajahnya.


Namun sia-sia. Semua sudah terlambat karena hantu itu sudah mulai masuk ke tubuhnya.


"Ka-kau! Kau bukan– Aarg!!"