
Eps. 45
Clara bertopang dagu pada meja, menatap hantu yang bergantian berlalu lalang di dalam dan luar kelasnya. Ada juga hantu yang diam saja tidak mengerjakan apa-apa.
Sudah jarang sekali hantu yang berbicara dengannya, mungkin karena Clara mengabaikan mereka. Meski sesekali masih ada, tapi mereka tidak keras kepala seperti sebelumnya.
Clara mengernyitkan mata tidak suka, dengan bibir yang melengkung ke bawah. Wajah datar yang tadi ia tampakkan berubah menjadi wajah jengah. Hantu laki-laki tampan itu sedang menatapnya dengan senyuman manisnya.
Memang benar hantu lain sudah tidak begitu mengganggu, tapi hantu ini sangat sangat mengganggu. Bukan dalam hal mengejutkan atau apa, tapi justru membuat perasaan Clara sesak dan berdebar dengan aneh.
"Berhenti menatapku! Menyebalkan!" gumam Clara seolah berbisik.
"Aku suka sekali melihat wajahmu," balas Arion dengan senyum manis di wajah polosnya.
"Ck!"
Bagaimana Clara tidak suka ditatap, jantungnya sedari tadi berdetak tidak nyaman. Sesekali merasakan ada ribuan kupu-kupu yang terbang dari perutnya.
Gadis muda ini bukannya tidak tahu ini perasaan apa. Akhir-akhir ini dia terus berpikir, kenapa dia sering salah tingkah saat Arion di sisinya, atau saat Arion sangat dekat dengannya, perasaan, debaran dan perasaan meleleh yang kadang dirasakan.
Clara sedang jatuh cinta? Pada hantu?
Hanya beberapa detik Clara tertawa hambar. BIG NO.
Clara merasa, mungkin dirinya sudah tidak waras karena dia belum pernah pacaran sebelumnya.
Dengan situasi kacau setelah kembali berurusan dengan hantu, trauma masa kecil yang kembali mencuat, gangguan yang membuat frustasi dan tidak ada satu orang pun yang mengerti kondisi terpuruknya saat itu. Muncullah Arion yang seolah paham dan mengerti perasaan Clara hingga titik ini.
Bagaimana mungkin Clara tidak merasa aman dan tersenyum pada dia yang selalu ada saat Clara sudah merasa berada di tepi jurang? Menariknya kembali ke tempat yang aman.
Hanya satu hal yang salah. Dia adalah hantu.
Clara memijat pangkal hidungnya perlahan untuk meredakan pening di kepalanya. Ini tidak benar, perasaan sesaat yang salah arti ini harus segera dihentikan.
Clara berdiri, kemudian melangkah pergi keluar kelas.
"Mau kemana Sayang?"
Tubuh Clara menegang beberapa waktu namun ia hiraukan. Ia berjalan saja keluar kelas menyusuri koridor. Tidak tahu akan kemana, Clara hanya mengikuti kemana langkah kaki membawanya.
Menjauh sejauh mungkin dari pandanganmu!
"Kau tidak akan bisa lari dari ku," ucap Arion yang sudah di sampingnya.
Langkah Clara terhenti saat itu juga, ia menyapu pemandangan di sekitarnya, banyak sekali murid yang berlalu lalang disana.
Segera Clara merogoh saku roknya dan melakukan panggilan palsunya.
"Katakan padaku, apa maumu?" ucap Clara pelan namun penuh penekanan. Matanya menatap tajam pada Arion.
"Ayo berkencan dengan ku!"
.
.
.
Reyhan menyandarkan punggungnya di bangku taman kemudian menekan tombol voice di chat messenger miliknya.
"Sayang, aku penasaran. Apa Clara membantu kita setelah tahu kalau kau adalah kekasih ku? Bisa jadi dia sama saja dengan perempuan lainnya yang mencoba mendekati ku." Reyhan tidak mengirimnya melainkan membuang pesan suara itu.
Kini wajahnya beralih pada apa yang tertulis di layar ponselnya. Lisya membalas pertanyaan Reyhan disana.
'Dia sulit di dekati, meski tahu kau adalah kekasih ku.'
Hm… jadi begitu.
'Iya Sayang. Dia anak yang baik.'
Hari ini sangat terik, namun suasana angin masih terasa dingin. Reyhan menyandarkan kepalanya pada bangku, menengadah dengan mata terpejam menikmati angin segar di sekitarnya.
Dia berpesan agar Aldio dan yang lainnya tidak mengikutinya kali ini. Mengabaikan fakta bahwa beberapa pasang mata di sekitar taman terus mencuri pandang padanya. Gadis-gadis itu berlalu lalang menatap dan berbisik dengan senyum gemas di bibir mereka.
Kenapa rasanya jadi seperti ini. Susah sekali berkomunikasi dengan Lisya. Lisya juga tidak bisa menulis terlalu panjang. Aah kenapa aku jadi semakin serakah, seharusnya aku belajar merelakan Lisya agar dia bisa kembali dengan tenang.
Selama beberapa saat akhirnya Reyhan kembali menegakkan punggungnya. "Sayang, bolehkah aku meminta saran pada Clara? Kau bilang dia baik. Tapi… aku ingin hanya berdua dengannya. Apa kau keberatan?"
'Tentu tidak Sayang.'
"Baiklah, aku akan mencarinya dulu."
.
.
.
Clara meletakkan kepalanya di atas meja kantin. Di sebelahnya sudah ada air mineral dingin yang tinggal separuh. Untuk menenangkan dirinya, ia tidak bisa pergi ke perpustakaan atau ke tempat sepi lainnya, karena Arion akan mudah datang padanya.
Saat ini ia sedang di kantin. Meski suasana tidak begitu ramai, setidaknya suasananya lebih hidup daripada tempat-tempat lainnya.
Aku sudah terlalu terbawa suasana. Arion yang sangat ramah, periang, selalu tersenyum disaat aku butuh seseorang. Auranya yang tidak seperti hantu benar-benar membuat ku lupa diri.
Apa yang harus kulakukan? aku tidak bisa membiarkannya begitu saja! Aku harus memutuskan perasaan gila ini. Kalau paman Leo tahu, dia pasti memarahi ku.
Kalau mama tahu… aah tidak tidak, aku ha--
"Clara?"
Yang dipanggil sedikit terperanjat dan seketika mendongak, menatap pemilik suara yang sudah duduk di depannya. Untung saja itu bukan suara hantu tampan itu. Terlalu lama sendiri membuat Clara sedikit frustasi.
"Hai."
"Sedang apa disini?" tanya Reyhan.
"Tidak ada."
"Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu. Apa kau mengganggu mu?" tanya laki-laki ini lagi merasa bersalah.
Clara tersenyum canggung dan menggerakkan tangannya mengisyaratkan dia tidak masalah. Sendirian akan lebih membuatnya sakit kepala.
"Oh tidak tidak. Aku hanya ingin beli minum dan duduk sebentar disini. Kau sendirian?" tanya Clara yang hanya diangguki oleh laki-laki berambut blondie ini.
Wanita berambut coklat ini menoleh, melihat ke sekitar tampak mencari seseorang. "Mana dia? Tumben tidak bersamanya?"
Reyhan seolah mengerti, menarik bibirnya untuk tersenyum kemudian menjawab, "Oh, dia tidak ikut bersama ku." Hening beberapa saat. Keduanya hanya diam dengan sedikit canggung.
"Sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Jadi, aku sengaja meminta Lisya agar tidak ikut denganku," suara Reyhan langsung pada intinya.
Tidak menjawab, wanita manis ini hanya diam menatap Pangeran Es di depannya yang terlihat berbeda dari biasanya. Dia tidak banyak tersenyum, senyuman yang sedari tadi ia berikan juga tidak semanis dan seceria biasanya.
Laki-laki ini terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Clara menelan ludahnya susah payah. Ia merasakan firasat yang tidak enak. Apa yang mungkin akan dikatakan Reyhan dengan tidak ada Lisya disisinya?
Clara bahkan melupakan tatapan tajam yang sedari tadi diarahkan kepadanya oleh wanita penggemar laki-laki ini.
"Apa kau tidak keberatan jika bicara berdua saja dengan ku?"
"Tentu, aku tidak tidak keberatan."
Reyhan tersenyum. "Tidak disini. Pulang sekolah nanti, ikutlah dengan ku ke cafe di dekat sekolah, aku akan mentraktirmu makan."