You Saw Me?!

You Saw Me?!
Kebenaran



Eps. 51


"Clara, kenapa tiba-tiba?" tanya Lisya tak suka.


"Kau sudah tahu aku akan menutup pintu itu kan? Jadi sekalian saja aku membantu kalian, setelah itu aku benar-benar akan menutupnya," ucap Clara sedikit tidak berekspresi menatap lurus pada Lisya yang tengah berdiri di belakang Reyhan.


Reyhan yang mendengarnya hanya menatap Clara dingin. Kehangatan yang baru saja pangeran es ini tunjukan kini sudah hilang mendengar pernyataan Clara yang terdengar hanya seperti pengumuman.


"Bukankah ini juga menguntungkan untuk kalian, kalian bisa memanfaatkan komunikasi kalian dengan lebih baik."


"Lalu bagaimana dengan mu? Dulu kau menolak hingga menghindari ku, dan sekarang kau menawarkannya seolah itu bukan apa-apa," sanggah Lisya.


"Sudah ku bilang, aku akan menutup pintu itu setelah membantu kalian, semuanya akan terkendali," jawab Clara lagi dengan tatapan sedikit kosong.


Lisya mengepalkan kedua tangannya membentuk tinju, tidak tahu kenapa melihat Clara yang seperti ini membuat Lisya emosi.


Hantu cantik ini menahan amarahnya dan nafasnya yang sudah mulai memburu.


"Apa ini karna Arion?" tanya Lisya menyelidik.


Clara bergeming. Mengalihkan pandangannya dari Lisya. Ia bahkan lupa sudah mengabaikan Reyhan yang sedari tadi menatapnya dingin.


"Clara, kau–"


"Kenapa tidak kau tutup saja pintu itu sekarang? Kau tidak perlu bersikap pamrih dengan alasan membantu kami. Kami tidak butuh itu," ucap Reyhan tidak sadar telah memotong perkataan Lisya.


"Rey! Diamlah, kau tidak tahu situasinya!" kata Lisya. Tentu saja Reyhan tidak mendengarnya.


Clara sedikit tersentak dengan ucapan Reyhan. Ia tahu mungkin saja Reyhan tersinggung dengan sikapnya, bisa dilihat dari perubahan ekspresi pangeran es itu. Saat ini Clara tidak berani menatap keduanya, ia tertunduk murung.


"Aku ke kamar mandi dulu," kata Reyhan terdengar datar kemudian pergi begitu saja.


"Clara." Lisya mendekati Clara yang masih enggan mengangkat kepalanya. Lisya duduk di kursi di samping wanita ini.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


Tidak ada jawaban dari Clara, membuat Lisya menghela pelan. "Apa kau menyukai Arion?"


Seketika Clara menoleh dengan tatapan rumit. Tapi tidak lama, ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Sudah kuduga. Dengar, dia bukanlah hantu seperti ku, sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya," peringat Lisya.


"Aku tahu."


Clara mengambil ponselnya kemudian meletakkan telinganya seolah sedang melakukan panggilan.


"Maaf kan aku. Aku hanya sedikit frustasi."


"Tidak masalah. Aku mengerti. Kau tidak boleh menyukai hantu seperti itu."


"Aku tahu. Aku juga tahu tentang masalah kalian. Aku membaca catatan kecil milik Reyhan tempat kalian berkomunikasi. Dan aku juga tahu dia ingin sekali berbicara langsung denganmu sekali lagi. Aku tahu rasanya, aku paham." Pikiran Clara kembali mengingat saat ia membaca catatan kecil Reyhan.


"Aku ingin menutup pintu masuk di tubuhku. Aku ingin menyelesaikan kegilaan ini, dan perasaan ini rasanya benar-benar menyiksa. Setelah ini aku tidak akan bisa melihat hantu apapun termasuk kau Lisya," ucap Clara memandang Lisya sendu.


"Jadi, untuk terakhir kalinya aku ingin membantumu. Membantu kalian, aku juga ingin menjauh dari Arion. Setidaknya aku ingin menghilangkan perasaan ini sebelum aku benar-benar menutupnya, jadi ini situasi yang sama-sama menguntungkan bagi kita."


"Jadi begitu?"suara Reyhan tiba-tiba sudah berada di samping Clara. Lisya dan Clara terkejut bersamaan.


Reyhan duduk dan meminum minuman yang ada di depannya. "Aku tahu ini berat untuk mu, makanya aku tidak ingin membebani mu. Tapi jika ini juga membantu mu, aku setuju. Tapi, kenapa harus membantu kami? Bukankah akan lebih baik jika langsung menutup nya?" tanya Reyhan setelah meletakkan minumannya kembali.


"Aku belum siap. Aku ingin menyingkirkan perasaan ini, jadi aku tidak boleh sendiri."


"Tapi hanya Lisya yang bisa melihat Arion, dan kami bisa berkomunikasi."


Clara melirik Lisya di sampingnya. "Dan aku ingin berpamitan dengan benar saat Lisya sudah menyelesaikan masalahnya," gumam Clara sangat pelan.


"Apa?" Reyhan tidak mendengar ucapan Clara.


"Aku hanya bosan mendengar Lisya terus mengeluh tentang kekasihnya yang terlihat murung," cibir Clara melirik Lisya dengan tersenyum tipis.


"Hei, kenapa kau katakan di depan Rey!"


"Apa?" Mata Reyhan menatap Clara bingung.


Melihat keduanya yang saling menutupi, Clara terkekeh kecil. "Bukankah kalian sering berkomunikasi, kenapa kalian berdua tidak berkomunikasi dengan benar?"


"Aku tidak mau menjadi orang egosi karena memanfaatkanmu untuk keperluan pribadi ku. Lisya juga tidak ingin merepotkanmu lagi."


Clara tersenyum. "Asal kau tidak masalah dengan ku. Karena setelah ini, yang kau dengar adalah suara ku, dan yang kau lihat adalah wajahku, apa itu tidak masalah bagimu, Reyhan?" tanya Clara. Ia menatap Reyhan sebentar lalu menatap Lisya setelahnya seolah Clara menanyakan hal yang sama pada teman halusnya ini.


"Aku tidak keberatan," jawab keduanya serempak. Clara kembali terkekeh. Kompak sekali.


"Aku akan menutup pintu itu dalam sepuluh hari kedepan, jadi mohon kerjasamanya. Aku tidak mau sendiri. Jadi kalian bisa datang pada ku dan bicarakan apapun, anggap saja aku hanya translator."


Clara menatap kedua orang didepannya yang sedang menatapnya bingung. Ia menghela pelan, gadis ini sangat yakin kalau keduanya masih belum mengerti.


"Jadi, sisa waktu hanya sepuluh hari untuk bisa berbicara dengan mu, Lisya."


"Baiklah. Mari kita bersenang-senang."


"Lalu apa maksudmu dengan translator?" tanya Reyhan masih belum paham.


Lisya dan Clara menoleh bersamaan menatap Reyhan. "Kau ingat saat aku bicara denganmu untuk menyampaikan pesan Lisya? Kau bicara langsung dengannya dan aku akan mengatakan langsung apa yang dia katakan. Anggap saja aku penghubung kalian." Reyhan mengangguk.


"Ada hal lain yang ingin kau sampaikan? Aku ingin kau senyaman mungkin saat membantu kami," tambah Reyhan.


Clara bergeming masih mencoba memikirkannya. Ia menarik piring nasi gorengnya yang terlihat menggiurkan saat ini, kemudian memakannya lahap.


Lisya tersenyum melihat Clara yang sudah mulai terlihat seperti biasanya.


"Semoga tujuan kita sama-sama tercapai setelah ini. Clara, terima kasih banyak," ujar Lisya tiba-tiba.


"Hm… Lisya…apa kau tidak bisa melindungi ku agar Arion tidak mendekati ku?" tanya Clara dengan pandangan berharap.


Gadis ini tidak menatap Lisya langsung, ia hanya meliriknya sekilas. Hantu cantik ini menatap Clara dengan tatapan rumit, kemudian tertunduk setelahnya.


"Siapa Arion?" tanya Reyhan penasaran.


Seketika perasaan Clara kembali berkabut. Ia melanjutkan makannya dengan lahap, segera menghabiskan nasi gorengnya.


"Lisya akan menjelaskannya pada mu nanti."


.


.


Lisya menatap lantai yang terlihat sangat bersih memikirkan apa yang Clara minta. Apakah dia bisa memenuhi permintaan temannya itu? Clara sedang pergi ke kamar mandi, Reyhan dan Lisya sedang menunggunya di meja itu.


Tidak lama, Lisya terperanjat merasakan aura tidak nyaman yang datang mendekatinya. Ia mendongak cepat, mendapatkan Arion dengan tatapan dingin dan aura hitam di sekelilingnya manatap Lisya nyalang.


Wajah Lisya memucat, aura hitam yang mengelilingi Arion kini berpindah pada Lisya. Hantu wanita ini seperti tercekik. Ia meronta, kedua tangannya memegangi lehernya dan terangkat ke atas oleh kabut hitam itu. Sedangkan Arion hanya menatap tajam dan dingin pada Lisya.