You Saw Me?!

You Saw Me?!
Mimpi, siapa kau?



Eps. 91


Clara bergeming dengan tangan terkepal, ia tertunduk begitu marah dengan alis yang bertaut.


Gadis ini mengeratkan rahang, tidak disangka kebahagiaan yang ia rasakan tadi seolah menguap begitu saja. Ia merasakan seseorang yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya sangat dekat berdiri tepat di belakangnya. Suara laki-laki itu bahkan terdengar sangat dekat di telinga Clara.


Arion. Kenapa dia datang di waktu yang sungguh sangat tepat.


"Apa kau pikir dia memperlakukanmu seperti itu karena dia menyukaimu?"


"Apa kau juga yakin, bahwa perasaan mu yang sekarang bukan perasaan Lisya? Kau tidak tahu kan bagaimana mereka berkencan saat mereka meminjam tubuhmu, hm?"


Clara merasakan nafasnya lebih berat saat menariknya, ia menahan rasa sakit di dada yang sangat tidak menyenangkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa rasa suka itu terbesit di hati Clara, dan sekali lagi Arion mengingatkan situasinya.


"Bukankah dia mendekatimu saat Lisya sudah pergi? Dia bahkan menolakmu saat pertama kali kau mencoba mendekatinya untuk membantu Lisya," ucap Arion terus memprovokasi. Hantu tampan ini perlahan bergerak mengikis jarak pada punggung Clara.


"Sayang–"


"Diam!" geram Clara tertahan. Masih tertunduk.


Arion masih diam, namun hanya beberapa saat. Tidak menunggu lama hingga akhirnya hantu berambut gelombang itu kembali bersuara.


"Lihatlah Reyhan yang menjadi dingin pada semua perempuan saat Lisya pergi?"


"Kau tahu hanya aku yang selalu ada untuk mu … Aku akan melindungimu dari apapun," ucapnya sensual tepat berbisik di telinga Clara.


"Diamlah … Arion," lirih Clara kini mulai menyerah membuat Arion menyunggingkan senyum miringnya.


"Kau menyukainya karena perasaan sisa dari Lisya. Itu palsu!"


"Berhenti mengajari ku tentang perasaan ku. Perasaan ku pada mu juga palsu!"


"Benarkah? Kalau begitu, berbaliklah dan tatap aku. Katakan perasaanmu padaku itu palsu."


Gadis kecil itu tidak bergerak se inchi pun sedari tadi. Dia masih betah tertunduk menatap buku-buku yang terlihat lebih menarik.


"Kenapa diam?" imbuh Arion. Ia dapat melihat kedua kepalan tangan Clara kini sudah terlepas. Arion menang.


Perlahan hantu laki-laki ini merebahkan kepalanya pada Clara dengan hati-hati. Sesaat ia merasakan tubuh Clara yang tersentak.


Arion masih menunggu respon dari Clara dan diluar dugaan gadis yang terlihat putus asa itu hanya terdiam menerima Arion tanpa penolakan berarti.


Senyum teduh Arion muncul di wajah tampannya, kini ia bisa merebahkan kepalanya penuh pada pundak Clara tanpa ada penolakan sedikit pun. Arion sudah menang telak. Sedikit lagi, hanya perlu sedikit langkah lagi.


"Benar. Kau hanya menyukaiku sejak awal. Dan yang Reyhan suka adalah Lisya. Selamanya." Arion menikmati aroma tubuh Clara yang sudah lama ia rindukan.


Perlahan kini tangannya bergerak melingkari pinggang gadis di hadapannya.


"Tetaplah bersama ku. Aku bisa memberikan apapun yang kau inginkan."


.


.


.


Clara terus menerjemahkan apa yang Lisya ucapkan. Namun, seolah Lisya yang sedang berkomunikasi dengan Reyhan, sesekali pangeran es itu terkekeh kecil mendengar apa yang Lisya ucapkan. Begitu dengan Lisya yang tersenyum dan berbicara begitu bahagia.


Dunia seolah milik mereka berdua, yang lain hanyalah pajangan. Clara melihat perasaan cinta mereka yang begitu besar, meski Reyhan hanya berkomunikasi tanpa melihat sosok Lisya. Laki-laki itu begitu percaya pada keberadaan Lisya.


Mimpi Clara buyar saat seseorang mengguncang tubuhnya perlahan. Dengan wajah yang masih mengantuk, ia mendongak melihat si pelaku.


"Hei, guru sudah di depan," ucap Dita berbisik.


Dengan mata setengah terpejam, Clara menarik tubuhnya duduk bersandar pada kursi. Siang ini ia benar-benar malas untuk belajar. Kepalanya yang sedikit terasa berat, dengan hati yang masih terasa berkecamuk, mimpi barusan hanya menambah rasa bersalah dan rasa sakit di dada Clara.


Lisya … kenapa saat kau pergi, kau meninggalkan perasaan yang menyiksaku.


*


Clara menyandarkan tubuhnya pada bangku di taman. Ia memilih duduk seorang diri tidak memperdulikan jika ada fans fanatik Reyhan yang mungkin saja datang mengusiknya.


Gadis dengan rambut diikat satu ke belakang ini sedang menyeruput teh dan menikmati suasana sejuk angin yang sesekali membelai rambutnya. Entah kenapa saat ini ia lebih suka sendirian.


Jika dulu Lisya akan muncul dan menemaninya, saat ini ia tidak menginginkan siapapun disini terutama Reyhan dan Arion.


Kepala Clara sedang berdenyut saat ini. Beberapa hari belakangan ini ia terus saja bermimpi tentang seseorang yang begitu dekat dengan hatinya namun ia melupakan wajah orang itu saat ia terbagun.


Clara menutup mata, mencoba mengingat senyuman terakhir yang ia lihat di bibir laki-laki itu. Ada denyutan aneh bercampur dengan nyeri membuat Clara menggigit bibirnya pelan. Rasanya benar-benar tidak nyaman.


*


Clara berjalan menyusuri taman kecil yang dihiasi pohon berdiameter kecil dengan tinggi sekitar dua hingga empat meter.


Bunga yang ada disana tidak begitu indah namun cukup terawat. Saat berjalan beberapa langkah, Clara melihat seorang laki-laki sedang duduk di atas kolam, menatap kedepan seperti menerawang.


Tidak begitu lama Clara menatap laki-laki itu, akhirnya dia menoleh dan tersenyum sangat manis pada Clara.


DEG


Clara terpaku. Senyuman indah mengembang di bibir ranum itu berhasil menyihir hati Clara. Seperti sebuah senyuman yang telah lama Clara rindukan.


"Clara? Sedang apa disana? Kemarilah," ucap pria manis itu masih duduk di tempatnya.


Kaki Clara seolah tersihir dan berjalan sedikit berlari menghampiri laki-laki itu, ia begitu bersemangat dan tanpa disuruh senyuman Clara mengembang begitu lebar.


" ****," panggil Clara.


Laki-laki itu berdiri dan menarik tangan Clara untuk berjalan bersamanya. Senyuman merekah di wajah manisnya tidak pernah sirna, dengan genggaman di tangan Clara yang terasa begitu melindungi, Clara mengikuti laki-laki itu.


Mata Clara terbuka begitu saja. Ia menoleh pada jam dinding yang masih menunjukkan jam empat pagi.


"Mimpi… mimpi laki-laki itu lagi," gumam Clara sangat kecewa. Hal terakhir yang ia lihat adalah senyuman teduh yang begitu Clara sukai.


Hampir setiap hari Clara memimpikan laki-laki yang akhirnya ia lupakan wajah manisnya itu. Yang bisa Clara ingat hanyalah senyuman manis di bibir ranum itu.


Air mata Clara mengalir begitu deras saat rasa rindu di hatinya menyerang dengan agresif. Sudah hampir seminggu, pria itu muncul dalam mimpi Clara. Malam ini ia sempat memanggil namanya, tapi siapa? Kenapa Clara tidak bisa ingat?


Clara memeluk erat gulingnya dan menangis dalam diam. Hatinya sangat merindukan laki-laki yang wajah dan namanya saja ia tidak tahu. Dan itu sangat menyiksa baginya.


"Hiks … aku merindukannya," gumamnya diselingi isakan pilu.


Tanpa Clara ketahui, di luar jendela kamarnya, Arion sedang berdiri bersandar dengan wajah yang tidak memberikan ekspresi yang bermakna. Hantu tampan ini hanya diam dengan wajah cenderung datar, menatap lurus ke depan.


.


.


.


"Kepala ku sakit," gumam Clara. Ia berjalan keluar tempat parkir sekolah dengan tangan kanannya memijat kepalanya ringan.


Mimpi yang bertubi-tubi cukup mempengaruhi kesehatan Clara dan juga pikirannya.


Berjalan dengan menahan perasaan rindu dan terus bertanya-tanya siapa laki-laki dalam mimpi itu.


"Clara, apa kau baik-baik saja?"


Clara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pemilik suara itu.


Reyhan …


"Apa kau sakit?"


"Ah tidak. Aku hanya sedikit kurang tidur."


Clara menatap Reyhan dengan mata sayu, apakah pria ini yang Clara rindukan?


Apakah itu kau?