You Saw Me?!

You Saw Me?!
Aura hitam



Eps. 12


"Sedang apa kau di sini?" sinis Clara dengan salah satu tangan bertumpu pada meja belajar di belakangnya.


Clara lebih waspada dengan Lisya yang bersikap tidak seperti biasanya. Wanita yang Clara liat sangat gampang sekali tersenyum, kini memiliki senyum yang berbeda.


Lisya tersenyum miring menatap Clara. "Wah wah, sambutan mu dingin sekali. Seharusnya kau menyambut tamu dengan ramah," sindir Lisya.


"Pergi dari sini," kata Clara datar, ia menatap Lisya tidak suka. 


Lisya masih tersenyum miring dengan mata yang sedikit mengernyit. "Kamarmu nyaman juga," ucap Lisya tidak memperdulikan pendapat Clara. Dia mulai melayang perlahanmengelilingi kamar Clara. 


"Rasanya nyaman sekali berada di kamar mu," tambah Lisya terkekeh kecil.


Lisya menoleh, memperhatikan Clara yang masih terdiam dan menatapnya tak suka.  "Hei, santailah sedikit. Aku hanya ingin berkunjung dan sedikit berbicara denganmu. "


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," dingin Clara.


Lisya terkekeh kecil. "Apa kau masih belum mau membantu ku? " tanya Lisya dengan sikap seolah tak peduli respon yang akan Clara berikan.


"Sudah berapa kali ku katakan, aku tidak bisa membantumu!"


"Kenapa?"


Clara hanya diam, ia merasa tidak perlu lagi menjawab pertanyaan Lisya, karena semua pertanyaannya selalu sama. 


"Apa meminjamkan tubuhmu satu jam saja begitu merepotkan? kau bahkan tidak perlu melakukan apapun."


Keras kepala sekali! batin Clara.


"Jika kau tidak mengijinkannya satu jam, tiga puluh menit saja sudah cukup. Apa masih merepotkan bagi mu?" tanya Lisya lagi dengan raut wajah yang mulai berubah. 


Clara tidak menjawab, hanya menatap Lisya tepat di manik matanya dengan rahang yang menegas.


"Apakah kau tahu, efek samping yang akan ku terima saat kau sudah mengambil alih tubuh ku, meskipun hanya lima menit?" suara Clara kini lebih dingin dari sebelumnya.


Clara mengernyitkan dahinya, menatap Lisya tidak habis pikir. Semuanya sama saja, egois.


Lisya tidak merespon, dan memalingkan wajah setelahnya.


Clara tertawa hambar, merasa miris. Dari bahasa tubuhnya, Lisya pasti sudah tahu apa resiko bagi Clara setelah meminjamkan tubuhnya pada Lisya. 


Bagaimana bisa, dia masih saja dengan keras kepalanya memaksa Clara untuk meminjamkan tubuhnya, setelah tahu apa efek sampingnya?


Mereka benar-benar egois. Marah Clara di dalam hati.


"Kau sudah mengetahuinya, bukan? jadi pergilah. Semoga kau menemukan orang yang bisa membantu mu," ucap Clara lalu mulai melangkahkan kakinya menuju ranjang.


Lisya terdiam dan tertunduk. Aura hitam mulai keluar dari tubuh Lisya dan mulai memenuhi ruangan.


"Kau memang tidak bisa diajak bicara baik-baik," suara Lisya yang penuh intimidasi dan penekanan.


Clara mematung, langkahnya terhenti tiba-tiba saat merasakan aura familiar yang tidak pernah Clara suka. Ia mencoba menggerakkan kaki dan tubuhnya untuk menoleh namun sia-sia. 


"Bukankah aku sudah cukup bersikap baik pada mu?" kata Lisya masih berdiri di belakang Clara.


Udara didalam ruangan mulai terasa dingin, tubuh Clara seolah terkunci dengan suasana ruang terasa penuh sesak menghimpit tubuh Clara.


Clara mulai merasakan tubuhnya gemetaran, detak jantung Clara meningkat dengan butiran peluh yang turun dari pelipisnya, ia panik ketakutan.


Clara menelan ludah susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering. Pasokan oksigen di sekitar Clara juga terasa sedikit menipis, ia mencoba mengambil nafas namun nafasnya masih terasa berat.


Sial! Aura ini! umpat Clara dalam hati.


Lisya mendekati Clara perlahan dengan aura intimidasi yang lebih berat, kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Clara. Tubuh Clara masih membelakangi Lisya.


"Dan sepertinya, aku harus mengambil alih tubuh mu secara paksa. Benar begitu kan, Clara?" bisik Lisya di telinga Clara. 


Clara terbelalak, hatinya mulai gemetar dengan air mata yang mulai jatuh di sudut mata Clara.


"Apa kau tahu, apa yang akan terjadi jika aku mengambil alih tubuh mu secara paksa?" tanya Lisya dengan nada jahatnya. 


Tubuh Clara semakin gemetar, air mata Clara mulai mengalir semakin deras. Clara sudah tidak bisa memikirkan apapun di kepalanya. Perasaan takut, sakit dan trauma bernostalgia menjadi satu. 


Tubuh Clara terasa semakin lemas namun Clara masih bisa bertahan.


.


.


Ryo membuka pintu rumah dan menutupnya kembali setelah ia berada di dalam. Ia baru saja dari luar dengan membawa dua bungkus nasi goreng untuk makan malam dengan kakaknya. 


"Untung saja di penjual nasi gorengnya masih sepi," gumam Ryo berjalan ke arah dapur.


Ryo sedikit tersentak saat merasakan aura yang tidak nyaman dari lantai dua. Ryo menengadahkan kepalanya mencoba melihat situasi. 


"Ah… Kakak!" seru Ryo merasa khawatir sesuatu telah terjadi pada Clara.


Dengan tergesa-gesa Ryo berlari menaiki tangga ke lantai dua menuju kamar Clara, meninggalkan makan malam yang ia letakkan di meja. 


Lisya masih menyeringai jahat, hingga beberapa detik setelahnya seringai di bibir Lisya perlahan menghilang. Aura hitam yang menyelimuti seluruh kamar Clara juga menghilang.


Clara akhirnya dapat menggerakkan tubuhnya. Clara terjatuh, terduduk di lantai dengan tubuh yang masih gemetaran dan air mata yang masih mengalir, masih tanpa isakan. 


Mata Clara masih membulat sempurna dengan nafas yang sedikit memberat. Efek aura yang Lisya berikan masih terasa bagi Clara membuatnya belum bisa berpikir sepenuhnya.


Pikiran Clara masih kosong. Sedangkan Lisya masih berdiri di depan Clara, menatap Clara datar. 


"Saat pertama kali bertemu dengan mu, ku pikir aku sudah menemukan orang yang tepat," Lisya menjeda kalimatnya sesaat. 


"Orang yang bisa berbicara dengan normal pada ku, tidak takut pada ku, bahkan orang itu sangat ramah saat menyapa ku," sambung Lisya getir, tersenyum miris.


DUK DUK DUK


"Kak! Kakak! sedang apa di dalam? buka pintunya!" suara Ryo dari luar kamar mengetuk pintu dengan kuat sembari mencoba membuka pintu. 


Lisya menoleh pada pintu kamar lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Clara. Sepertinya Clara masih belum sadar dengan bunyi keras yang Ryo buat. 


"Maaf ya Clara, sudah membuatmu takut.  sepertinya aku sudah putus asa," lirih Lisya.


"Reyhan terlalu banyak menderita, makanya aku berusaha keras ingin menyampaikan pesan ku agar dia berhenti hidup seperti itu. Tapi ternyata... aku belum mendapatkan orang yang tepat."


Lisya tersenyum kecil, menatap Clara sendu.


"Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggumu lagi, terima kasih telah mau berteman dengan ku meski hanya beberapa hari," suara Lisya, kemudian beranjak meninggalkan Clara. 


Saat mendapatkan sedikit kesadarannya, Clara mengangkat kepalanya melihat punggung Lisya yang perlahan menghilang.


BRAK! 


Ryo masuk setelah berhasil membuka pintu. Clara menoleh pada Ryo dengan wajah yang penuh air mata.


"Ryo," lirih Clara sebelum akhirnya jatuh pingsan.


Ryo terkejut dan berlari menghampiri Clara. "Kakak!!" teriak Ryo kemudian merangkul Clara, mencoba membangunkannya.