You Saw Me?!

You Saw Me?!
Ketenangan sesaat



Eps. 88


Sesekali Reyhan melihat Clara yang diusili dan dikerjai oleh gadis-gadis yang mengaku fansnya. Ia juga melihat Clara yang terkadang melawan dan sesekali meladeni pertengkaran kecil. Dan banyak hal lain yang gadis itu hadapi.


Berbeda dengan Lisya yang biasanya bermain halus. Clara akan langsung membalas saat itu juga jika dirasa perlu.


Reyhan baru akan melintas saat melihat Clara yang sedang terpaku di tempat. Sedikit penasaran, ia melihat apa yang ditatap gadis itu. Mengetahui apa yang membuat Clara terdiam, Reyhan tersenyum sinis, mereka tidak ada puasnya.


Reyhan menyentuh pundak Clara hendak menyapa namun gadis itu tersentak, kaget bukan main. Dan itu terlihat lucu dimata Reyhan.


Sekilas, geng gadis yang tadi berjalan mendekat tiba-tiba sudah berbelok menjauh. Reyhan tersenyum miring, baguslah mereka cukup sadar diri untuk tidak mengganggu saat Reyhan disekitar Clara.


Setidaknya, Clara harus tetap di sekitarku hingga kami lulus SMA, jadi dia akan tetap aman. 


Laki-laki bermanik coklat terang ini melihat-lihat tumpukan buku yang rapi, yang ada di hadapannya. Ia sudah di toko buku bersama Clara.


Awalnya ia ingin menjemput Clara, tapi gadis itu menolak karena posisi toko ada di pertengahan rumah mereka. Reyhan akan bolak balik jika harus menjemput Clara.


Setelah selesai dengan urusannya di toko buku, Reyhan menarik Clara untuk makan sesuatu sebelum pulang.


"Aku melihat anak-anak itu masih mengganggu mu," ucap Reyhan kemudian memakan nasi goreng miliknya.


Clara menghentikan aktivitas makannya, menatap Reyhan sekilas. "Oh … sekarang sudah aman."


"Apa kau mau ku antar jemput? Kau akan lebih aman jika bersama ku," ucap Reyhan menawarkan diri, masih sibuk dengan makanannya. Ia mendongak setelah satu suapan, menatap Clara yang tampak mematung.


Suasana di foodcourt tidak begitu ramai. Tidak begitu banyak suara dentingan dan kebisingan saat ini.


Reyhan sedikit memiringkan kepala menatap Clara dengan isyarat bertanya, gadis bersurai hitam itu tampak terpaku membuat Reyhan tersenyum samar.


"Ah, tidak perlu. Mereka tidak akan mengganggu ku di luar sekolah," ucap Clara sedikit terkesiap di awal.


Luar biasa. Setelah jelas terkesiap, gadis itu dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi lebih tenang. Tipe wanita yang pandai menyimpan perasaannya. Berbeda dengan Lisya yang akan langsung tersenyum lebar menerima tawaran itu.


Laki-laki blonde ini tersenyum dengan mata sedikit menyipit, ia tahu Clara salah tingkah. Dan ia yakin, Clara mulai memikirkan Reyhan kali ini.


Reyhan mengangguk kecil mengiyakan saja ucapan Clara. Ada perasaan tak biasa yang ia rasakan saat ini. Ia juga sedang menahan tawa melihat Clara yang terlihat lucu saat menyembunyikan perasaannya.


Sama seperti di depan toilet saat gadis bersurai hitam itu terpaku dan salah tingkah begitu Reyhan mengacak puncak kepalanya. Ia cukup terhibur dengan itu.


Clara terlihat lebih santai saat ini. Biasanya dia akan sedikit tersentak dan dengan waspada menyapu pandanganya di sekitarnya seolah mencari sesuatu.


Aku yakin sepertinya dia sedang mencari Arion. Tapi aku tidak begitu mengerti kenapa dia terlihat khawatir.


"Hei … ujian semakin dekat, apa kau mau belajar bersama dengan ku?"


.


.


.


Arion tersenyum menikmati tingkah Clara yang selalu waspada mencari keberadaannya. Dimanapun Reyhan muncul, Clara akan selalu mengingat Arion.


Sebenarnya, Arion memang selalu mengawasi Clara, namun ia sengaja tidak memunculkan diri nya agar gadis yang ia incar akan terus sadar dengan keberadaannya dan secara tidak langsung akan mencari dimana ia akan muncul.


Namun, ternyata hal itu tidak bertahan lama. Hanya dalam hitungan minggu, laki-laki pengganggu itu, berhasil mengalihkan perhatian Clara.


Sedikit demi sedikit Clara sudah mulai tenang saat Reyhan bersamanya, tidak waspada lagi dan tidak mencari-cari keberadaan Arion lagi. Semakin hari mereka semakin akrab. Terkadang Arion harus melihat mereka keluar hanya untuk mencari camilan dan berbincang begitu akrab. Gadis itu juga mulai menunjukkan senyuman manisnya lagi. Arion sangat marah melihat mereka yang mulai sering bertemu dan bersama di sekolah.


Hantu tampan ini begitu geram ketika Reyhan dengan beraninya menyentuh dan mengacak puncak kepala Clara. Dengan rahang menegas dan tatapan dingin ia mulai bergerak hendak menginterupsi namun langkah itu terhenti.


Reyhan, dekat dengan Clara karena kekasih pria itu sempat meminjam tubuh Clara dan berinteraksi dengan Reyhan disana. Arion menyadari bahwa Clara memiliki perasaan pada Reyhan yang tidak disadari gadis itu.


Parahnya, Clara terus menganggap bahwa perasaannya adalah perasaan Lisya yang tertinggal. Dan dengan bodohnya Clara percaya begitu saja jika Arion bisa membuat Reyhan celaka.


Arion bisa saja membuat Reyhan terganggu tapi tidak sampai ke level mencelakai. Karena laki-laki itu tumpul pada aura milik Arion.


Arion tersenyum culas kemudian menyeringai kecil. "Aku akan memanfaatkan perasaan gadisku, untuk menjauhkanmu dengan laki-laki pengganggu itu."


Hantu bermanik hazel itu melihat ke sekitar, masih banyak yang tidak suka dengan keberadaan Clara yang terus menempel dengan Reyhan. Jika dulu Arion akan mengusir dan menjaga Clara dari geng ja**ng itu, sekarang hantu tampan itu sudah lepas tangan.


Arion ingin memberi pelajaran pada Clara, jika dia terus bersama Reyhan, dia akan menerima perlakuan yang tidak baik dari wanita-wanita yang begitu terobsesi pada laki-laki sok itu.


Dan mulai detik itu, Arion membiarkan saja gadis-gadis itu membuli dan mengganggu miliknya. Biasanya ia akan menghantui siapapun yang mengusik Clara, sekarang ia hanya akan melihatnya dari kejauhan.


Selama itu masih dalam batas normal, Arion akan diam. Namun jika wanita-wanita gila itu mulai lupa batasan, Arion juga akan turun tangan untuk memberi batas itu.


"Teruslah kalian mendekat. Teruslah mencintainya, Clara. Dengan begitu … hanya sedikit percikan api yang ku buat, kau akan terluka sangat dalam. Dan kau akan menjadi milikku seutuhnya, Sayang," gumam Arion menyeringai menyeramkan.


"Teruslah mendekat hingga saat aku mengacaukan perasaan mu, kau tidak akan bisa bangkit lagi hanya untuk melihatnya lagi, hahaha."


.


.


.


Clara menopang kepalanya yang mulai terasa memanas. Ia menatap buku dengan pulpen yang dimainkan di tangannya. Suasana perpus yang memang tenang dengan udara sejuk di dalamnya membuatnya semakin mengantuk.


Sudah dua hari ia belajar bersama dengan Reyhan untuk ujian. Ia sudah mengajak Alice dan Dita tapi mereka bilang tidak ingin mengangganggu kedekatannya dengan Reyhan.


Kedekatan apaan. Berdua dengannya hanya membuatku mengantuk. Apalagi Reyhan tipe anak yang rajin. Ia tidak mau berhenti jika belajar masih sangat sedikit.


Dengan mata yang sedikit mengantuk, ia mendongak menatap Reyhan yang masih semangat belajar dengan wajah yang masih bersinar.


Ugh apa-apaan wajah itu.


Namun, sesaat setelahnya, rasa kantuk Clara menghilang begitu saja. Saat sesosok laki-laki berambut coklat gelombang sekilas tampak di matanya.


Apa itu barusan? Apa itu … Arion?


Tubuh Clara kembali menegang. Ia mengucek matanya cepat kemudian melihat ke arah itu lagi. Tidak ada siapa-siapa disana membuat Clara menghela lega.


Sepertinya aku terlalu mengantuk.