You Saw Me?!

You Saw Me?!
Nyeri di hati



Eps. 63


"Apa terlihat seperti itu?" tanya Lisya dengan senyum canggung.


"Ya. Kalian–"


"Hei, Apa kalian mau jalan lagi?" tanya Aldio menginterupsi. Ia menyentuh pundak Eros, kemudian memberikan isyarat agar tidak membuat keduanya tidak nyaman.


"Lisya, apa kau mau pergi ke tempat lain?" bisik Reyhan di telinga Lisya tidak memperdulikan respon kedua temannya.


"Rey … bisakah kita jalan dengan mereka sebentar? Aku juga sudah lama tidak bersama mereka," jawab Lisya juga berbisik.


Sebenarnya Lisya juga berteman baik dengan keduanya. Mereka sangat akrab. Kemanapun Lisya dengan Reyhan pergi, Eros dan Aldio cukup sering ikut dengan mereka.


Reyhan menghela pelan dan tersenyum lembut. "Boleh."


Setelahnya, mereka berempat bergabung dengan tiga orang teman laki-laki yang lain. Ya, semua laki-laki. Jarang sekali anak perempuan yang bisa dekat dengan Lisya saat ia masih hidup.


Setelah cukup puas berkeliling dan mencoba hampir semua makanan yang mereka suka, Lisya dan Reyhan pamit dan kencan berdua.


"Perasaan ku saja … atau memang Clara mengingatkan ku pada Lisya," gumam Aldio.


"Aha!! Ternyata bukan aku saja yang merasakannya, kau pun sama!" sahut eros sedikit heboh.


"Ssst! Berisik!"


*


"Apa kau senang?" tanya Reyhan pada gadis yang sedang menyeruput minuman di sampingnya.


Mereka sedang duduk berdua di bangku yang cukup sepi di sekitar alun-alun, untuk menghindari keramaian. Cahaya lampu kota, cukup membuat suasana malam terasa semakin dingin.


Lisya meraih tangan Reyhan untuk di genggam. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada pundak Reyhan. "Aku selalu senang bersamamu."


Hening. Reyhan merasakan Lisya yang semakin erat memeluk lengannya dan menenggelamkan wajahnya di sana.


Hati Reyhan tiba-tiba terasa nyeri. Ia mengerti mengapa kekasihnya seperti ini. Hari ini adalah meminjam yang kedua, setelah ini Clara akan beristirahat beberapa hari kemudian meminjam yang terakhir, setelah itu … Reyhan tidak mau memikirkan kelanjutannya.


Perlahan laki-laki ini mengelus lembut bahu kekasihnya. Elusan lembut dan teratur membuat Lisya memeluknya lebih erat.


"Rey …"


"Hmm …"


"Sepertinya kita tidak berjodoh ya," ucap Lisya tiba-tiba.


Hanya bergeming, Reyhan menghentikan gerakan mengelus bahu Lisya, dengan pandangan menerawang pada rumput luas di hadapannya.


"Kau tahu? Aku yakin di surga sana akan ada penggantimu. Dia juga pasti lebih tampan darimu haha," ujar Lisya terkekeh kecil.


Reyhan yang mendengarnya tiba-tiba saja tersenyum kecil, dan mengacak puncak kepala Lisya.


"Benar … aku doakan kau mendapat kekasih yang tampan di surga sana. Dan kau akan selalu bahagia."


Reyhan dan Lisya terdiam. Saat itu juga Pangeran Es ini menarik tangan Lisya untuk pergi menjauh dari tempat itu, dibalik pohon besar dan tidak ada yang melihat.


Seketika Reyhan melu*at bibir Lisya lembut seolah sedang menyentuh benda rapuh. Mereka menangis dalam diam, hati Reyhan rasanya hancur untuk yang kesekian kalinya. Ucapannya tadi hanya untuk membantu dirinya agar bisa ikhlas dan menerima kepergian kekasihnya untuk selamamya. Dan juga agar Lisya bisa pergi dengan tenang kali ini.


Ciuman itu tidak lama, saat ini Reyhan sudah memeluk kekasihnya erat.


"Aku menerima tawaran Clara bukan untuk menyakitimu Rey … tapi aku ingin menikmati setiap waktu terakhir ku bersama mu," ucap Lisya kemudian menangkup wajah Reyhan lembut.


"Mungkin kita tidak berjodoh, tapi aku tidak pernah menyesali semua waktu yang ku habiskan bersama mu. Jangan sedih oke? Aku masih disini dan meminta pada Clara untuk berkomunikasi dengan mu agar aku bisa pergi saat melihat mu bahagia, bukan seperti ini," sambung Lisya panjang lebar.


Reyhan kembali meloloskan air matanya dalam diam saat Lisya menyentuhkan keningnya pada kening Reyhan. "Aku mencintai mu. Dan aku ingin kau bahagia. Hidup mu masih panjang, Syang. Jadi, mari kita nikmati ini sampai akhir oke?" pinta Lisya dengan senyum sendu diwajahnya.


"Jangan tersenyum seperti itu," ucap Reyhan mengelus pelan pipi Lisya.


Rasa sakit itu semakin memeluk hati Reyhan erat. Ia tahu bahwa Lisya mengatakan semuanya agar Reyhan bisa merelakan kepergian Lisya dan terus menjalani hidup kedepannya. Tapi rasa sakit itu terlalu nyata.


Reyhan yakin ia akan menjalani hidup dengan baik namun setelah luka dihatinya sudah tak sesakit ini.


Dengan cepat Reyhan menyambar bibir Lisya sekali lagi, menciumnya pilu.


"Hei, kau tahu Clara tidak mengizinkan kita berciuman, kan?" tanya Lisya mengalihkan pembicaraan.


"Aku akan meminta maaf padanya jika ada kesempatan," ujar Reyhan tersenyum kecil.


*


"Sudah jam segini," ucap Lisya yang baru saja melihat jam di pergelangan tangannya.


Mereka berdua sudah duduk, kembali ke bangku taman yang tadi mereka duduki.


Reyhan menggenggam tangan Lisya erat. Waktu tidak terasa begitu cepat berlalu. Rasanya ia tidak mau Lisya keluar dari tubuh itu. Laki-laki ini menghela pelan karena ini sudah lima jam mereka meminjam, dan ini sudah malam.


"Tidak masalah Sayang, setelah ini masih ada kesempatan lagi," ucap Lisya lagi.


Reyhan mengangguk dan melepasnya genggamannya pada Lisya. Detik berikutnya Lisya memejamkan matanya, dan saat terbuka tubuh itu kembali pada pemiliknya.


Clara membuka mata perlahan, ia meringis pelan begitu merasanya nyeri di dadanya yang terasa menyesakkan.


Apa yang terjadi tadi? Apa rasa nyeri dan sakit ini yang Lisya rasakan? Bukankah mereka datang kesini untuk berkencan?


"Clara, apa kau baik-baik saja?" tanya Reyhan.


"Clara, ada apa?" tanya Lisya bersamaan dengan Reyhan, saat mereka berdua mendengar Clara meringis pelan.


"Oh… tidak. Aku tidak apa-apa," jawabnya singkat.


"Bagaimana kulinernya? Enak?" tanya Clara penasaran. Sebenarnya Clara juga suka kuliner seperti ini, mungkin ia akan memesan beberapa makanan untuk dibungkus dan dimakan dirumahnya.


"Enak."


"Lumayan."


"Hmm … baiklah, sepertinya sudah malam. Ayo pulang," ajak Clara yang sudah memeriksa jam di pergelangan tangannya.


Gadis ini bediri kemudian akan melangkah ke arah festifal berada. Namun, tubuhnya limbung tiba-tiba, ia mencoba mempertahankan posisinya namun tidak bisa. Tubuh Clara jatuh kehilangan keseimbangan.


Ugh pasti akan sakit.


Tidak ada rasa sakit, membuat Clara membuka matanya penasaran. Untung Reyhan berhasil menangkap tubuhnya, jika tidak ia benar-benar akan merasakan sakit.


"Kau baik-baik saja?" tanya Reyhan kemudian membantu Clara berdiri.


"Iya. Aku baik-baik saja. Terima kasih Rey," ucap Clara tulus.


Hanya beberapa detik setelahnya saat Clara mengaduh dan menyentuh kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.


"Hei, apa kau yakin baik-baik saja?" tanya Lisya.


Ah sepertinya dari tadi mereka menanyakan apa aku baik-baik saja atau tidak.


"Clara, ada yang sakit?" tanya Reyhan ikut sedikit kebingungan.


"Ah ya…kepala ku hanya sedikit sakit."


"Duduklah dulu," suruh Reyhan.


Clara mendudukkan tubuhnya kembali pada bangku, kemudian mendongak saat Reyhan menyodorkan air mineral. "Minumlah dulu."


"Terima kasih."


"Lebih baik aku mengantar mu pulang. Sekarang sudah jam 9 malam," kata Reyhan memberi saran.


"Benar Clara. Kami khawatir kau tidak baik-baik saja," sambung Lisya terlihat khawatir.


Clara tersenyum tipis. "Ya. Baiklah. Sepertinya aku tidak bisa menolaknya kali ini. Kepala kubenar-benar sakit."


"Apa kau bisa berdiri?" tanya Reyhan yang sudah berdiri terlebih dahulu kemudian mencoba membantu Clara untuk berdiri.


"Aku bisa kok. Tenang saja."


Sesampainya dirumah. Clara berjalan perlahan memasuki rumah dan berpegangan erat saat menaiki tangga. Entah kenapa kepalanya benar-benar sakit berdenyut.


Setelah menutup pintu kamar, tubuh Clara terasa lemas seolah kehahisan energi, ia perlahan menopangkan tubuhnya pada kasur kemudian gelap setelahnya.