You Saw Me?!

You Saw Me?!
Bertemu kembali



Eps. 31


“Lakukan apapun yang kau inginkan dari ku!" bentak Reyhan kini mulai tertunduk dan menangis.


Reyhan sudah tidak banyak melawan, ia mulai berjongkok dengan dengan kedua tangan masih dipegangi Alice dan Dita.


Dengan lemah dan putus asa Reyhan berkata, “Lakukan saja… aku pantas mendapatkannya,” lirih Reyhan dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Clara membeku di tempat, melihat adegan aneh di depannya membuat otak Clara blank.


Pangeran kutub yang begitu dingin dan angkuh, dengan segala kelebihan yang dimilikinya, popularitas dan segalanya yang tampak begitu sempurna, kini menangis dengan pilu di hadapan hantu kekasihnya.


Lisya menangis sejadi-jadinya melihat Reyhan yang kacau. “Rey…,” serunya kemudian mengalihkan pandangan pada Clara, “Clara! Kenapa kau diam saja, lakukan sesuatu! Katakan padanya untuk tidak menyalahkan dirinya, aku hanya ingin dia melupakan kejadian itu, katakan aku masih mencintainya!” ucap Lisya frustasi di depan Clara yang masih bergeming.


Alice dan Dita juga tidak mengeluarkan suara sedikit pun, melihat Reyhan yang tidak pernah seperti ini sebelumnya, dan Clara yang sedari tadi diam dengan tatapan kosong, membuat keduanya ikut terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa.


Menatap kosong pada Lisya, Clara masih bergeming. Ia mencoba mengatakan sesuatu tapi tidak bisa.


Kenapa… kenapa suara ku tidak bisa keluar?


“Clara!! kenapa kau diam saja!!” bentak Lisya pada Clara yang masih mematung di tempat. Lisya juga sudah kacau melihat Reyhan yang kini seolah tantrum.


“Clara…,” lirih Dita menatap Clara yang tampak terdiam dengan tatapan kosong. Kedua teman Clara masih tidak mengerti situasi yang sebenarnya. Alice hanya menatap Clara bingung, namun tangannya masih setia memegangi Reyhan.


Tidak ada jawaban dari Clara, Lisya beralih mendekati Reyhan dan mencoba berkomunikasi dengannya meskipun semua hanya sia-sia.


Lidah Clara benar-benar kelu, Clara tertunduk, pikiran Clara tidak bisa mengolah informasi apapun. Clara mengangkat wajahnya, melihat Reyhan sedang tertunduk menangis lirih dengan putus asa. Lisya yang di sebelahnya mencoba berkomunikasi dengannya tampaknya juga gagal, Reyhan tidak bisa mendengarnya.


Kini Lisya sudah menyerah, ia terduduk di depan Reyhan ikut menangis sangat pilu bersama kekasihnya. Hantu cantik ini menutup wajah dengan kedua tangannya. Clara bisa melihat pundak Lisya yang bergerak karena menangis.


Keadaan yang penuh tangis membuat Alice dan Dita sudah melepaskan tangan Reyhan.


Drama di depannya membuat kepala Clara semakin panas. Reyhan pangeran es yang terlihat begitu kuat kini menangis pilu putus asa, begitu juga dengan kawan hantunya yang menangis sesegukan. Mengharapkan tentang kehidupan damai bebas dari rasa bersalah dan putus asa. Kedua pasangan itu tampak sakit karena tidak bisa berkomunikasi.


Apa yang harus aku lakukan?


Nafas Clara mulai meningkat seiring rasa frustasi yang ia rasakan. Ia meremat rambutnya yang mulai terasa sakit, matanya menutup kuat. Kisah tentang kematian Lisya, dan Reyhan yang tidak semangat hidup karena salah paham, kenapa Clara harus ikut campur di hal yang merepotkan seperti ini.


Tiba-tiba, mata Clara terbuka seolah menemukan ide. Ia mengangkat wajahnya menatap sendu pada dua orang yang masih menangis pilu.


Detik berikutnya bibir Clara terangkat membentuk senyuman kecil, menatap Lisya. Kini ia tahu apa yang harus dilakukan.


“Lisya…,” panggil Clara lembut membuat Lisya menghentikan tangisannya dan mendongak menatap Clara.


Kedua teman Clara terpaku melihat Clara tersenyum sangat lembut dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan. Ia mengangguk menandakan sebuah isyarat yang hanya diketahui oleh Lisya. Perlahan, Clara mengulurkan tangannya mencoba memanggil Lisya.


Seolah mengerti, Lisya yang sempat terdiam kembali menangis lebih keras seraya terbang melompat meraih uluran tangan Clara, meninggalkan Reyhan yang masih menangis tertunduk.


Saat tangan Lisya dan Clara bersentuhan, Clara menutup matanya perlahan. Seolah ada cahaya yang berpendar, Lisya mulai masuk dan menyatu dengan tubuh Clara. kemudian Lisya bisa memasuki tubuh Clara.


Tubuh Clara masih bergeming dengan mata tertutup. Perlahan luruh dan bersimpuh ke tanah.


Lisya membuka mata perlahan. Ia mengangkat kedua tangan, menggerakkannya perlahan memperhatikan lekat telapak dan punggung tangannya.


Lisya tersenyum. Ia sudah masuk di tubuh Clara.


“Rey…,” suara Lisya lembut memanggil Reyhan.


Seketika Reyhan tersentak, mendongakkan wajahnya cepat untuk melihat orang yang memanggilnya. Tangisannya terhenti, suara itu tampak tak asing.


“Sayang…,” ucap Lisya lagi.


Ucapan yang sudah lama tidak Reyhan dengar, berhasil meloloskan kembali air mata yang telah Reyhan tahan. “Li-Lisya… kau kah itu?” tanya Reyhan tidak percaya dengan penglihatannya. Tubuh itu masih milik Clara, namun Reyhan merasakan keberadaan Lisya dengan melihat cara bicara, dan bahasa tubuh itu.


Lisya tersenyum lembut memberikan senyuman Lisya seperti biasanya.


Alice dan Dita mematung di tempat. Ada apa dengan Clara yang tiba-tiba seperti berubah menjadi orang lain? Mereka terkesiap melihat Reyhan yang berlari dan memeluk tubuh Clara sangat erat.


Lelaki berambut blondie ini memeluk Lisya erat. Air matanya mengalir cukup deras dengan suara tangisan yang terdengar pilu diiringi dengan isakan tangis.


“Aku merindukanmu… aku sangat merindukanmu,” lirih Reyhan sesegukan, semakin mengeratkan pelukannya.


Lisya dengan tubuh Clara yang ia gunakan, membalas pelukan Reyhan. Ia tersenyum sendu dengan air mata yang tak kalah deras mengalir di pipinya. Dengan lembut dan teratur mengusap punggung laki-laki tampan ini, untuk meredakan tangisan.


“Apa kau tidak membenci ku?” tanya Reyhan membenamkan kepalanya di perpotongan leher Lisya.


“Aku hanya bisa merindukanmu, aku tidak pernah membencimu sedikitpun Sayang…,” jawab Lisya lembut penuh kasih sayang.


Reyhan melepaskan pelukan Lisya lalu menangkup wajah gadis di depannya dengan kedua tangannya. Ia mencium bibir Lisya, melu**tnya pelan dengan air mata yang masih mengalir. Dengan mata tertutup, Lisya membalas ciuman yang Reyhan berikan, tidak memperdulikan dua orang yang melotot melihat mereka.


Dengan kening mengernyit, Reyhan menumpahkan semua rindunya lewat ciuman itu, menikmatinya setelah sekian lama menahan rindu dan pedihnya kehilangan orang yang dicintainya.


Reyhan melepaskan ciumannya, menatap Lisya lekat dengan tatapan sendu. Ia menghapus air mata Lisya dengan ibu jarinya, dengan senyuman penuh arti.


Sepertinya baru kemarin Reyhan merasakan sakitnya melihat tubuh Lisya yang sudah terbaring kaku berlumuran darah. Ia kembali menarik tubuh Lisya untuk ia peluk, sedangkan ingatannya kembali memutar kejadian di hari Lisya mengalami kecelakaan.


Reyhan menatap papan tulis, memperhatikan kelas tambahan dengan malas, sesekali pandangannya akan teralih melihat jam dinding di depannya. Sepuluh menit lagi kelas akan berakhir. Ia ingin segera keluar ruangan karena ia tahu Lisya sudah menunggu di luar.


Reyhan bergegas keluar kelas saat guru pembimbing menyatakan kelas sudah usai. Dengan berjalan setengah berlari melewati gerbang, ia menghentikan langkahnya begitu melihat penjual es krim kesukaan Lisya yang sedang membuka stand di pinggir jalan. Laki-laki jangkung ini membuka pesan untuk mengetahui dimana kekasihnya saat ini, sebelumnya Reyhan sudah memesan dua es krim.


Reyhan mendongakkan kepalanya mencari keberadaan Lisya, ia tersenyum saat menemukan Lisya terlihat duduk menikmati makanannya tidak jauh dari tempat Reyhan berdiri.


Dengan segera Reyhan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, memberikan beberapa lembar uang untuk es krim lalu membawa dua es krim di tangannya untuk bertemu dengan Lisya.


Dia pasti senang aku membawa es krim.


Reyhan berjalan di atas trotoar dengan senyum mengembang dan dua es krim di tangannya, menuju tempat Lisya makan. Kini Reyhan sudah berdiri di pinggir jalan, menatap Lisya yang sedang makan di seberang.


Tinggal menyebrang saja mereka akan bertemu. Namun, Reyhan mengurungkan niatnya, ia bahkan tidak jadi melangkah untuk menyebrang.


“Jika aku memanggilnya, Lisya pasti akan menyebrang menghampiriku dengan senyum cerianya,” gumam Reyhan.


Senyumannya mengembang sangat lebar hanya dengan membayangkan wajah antusias Lisya ketika melihatnya. Lisya selalu menampakkan senyum terbaiknya saat mereka bersama, senyuman khas yang selalu Reyhan suka.


Hanya dua hari tidak bertemu membuat laki-laki rupawan ini ingin mencari perhatian kekasihnya. Senyuman riang Lisya benar-benar membuat Reyhan bahagia.


Antusiasnya saat sedang bersama ku membuat ku merasa sangat spesial… benar-benar membuat ku merasa sangat istimewa.


“Lisya!” panggil Reyhan. Lisya menoleh lalu tersenyum begitu antusias. Wanita kecil itu berdiri dan bergegas membayar. Entah dia sudah selesai makan atau tidak.


Hati Reyhan menghangat, ia tersenyum sangat lebar. Sesuai dengan harapannya, Lisya memberikan senyuman terbaiknya, dan dengan riangnya akan menyebrang menghampiri Reyhan.


Rasanya tidak sabar menunggu Lisya untuk menyebrang. Reyhan melambaikan tangan dengan menunjukkan es krim di tangannya, berharap Lisya akan sangat senang melihatnya.


Senyuman di bibir Reyhan tak pernah pudar saat Lisya membalas lambaiannya lalu mulai menyeberang dengan hati-hati menghampiri Reyhan. Ia benar-benar tidak sabar menunggu Lisya sampai di tempatnya berdiri.


Namun tidak lama, senyuman di wajah Reyhan menghilang, ia terbelalak saat melihat Lisya tertabrak mobil setelah berusaha menghindari pengendara yang melawan arus. Tepat di depan matanya.