
Eps. 90
Ujian berlalu begitu cepat. Clara memfokuskan pikirannya pada tugasnya untuk belajar. Ia hanya mengulang apa yang ia pelajari bersama Reyhan, datang ujian tepat waktu dan langsung pulang setelahnya.
Tidak ada lagi waktu belajar bersama dengan Reyhan, dan entah kenapa fans Reyhan sepertinya juga fokus pada ujian mereka, atau mungkin juga karena Clara yang hampir tidak ada waktu sendiri di sekolah.
Sesekali Clara juga ikut teman-temannya makan atau jajan camilan ringan, dan pergi ke toko buku untuk istirahat sejenak dari belajar.
Hari ini adalah hari terakhir ujian, lima menit lagi bel berbunyi dan Clara sudah selesai mengerjakan soal ujiannya. Beban berat seolah terangkat dari pundak Clara saat bel sudah berbunyi, karena ujian semester awal akhirnya usai hari ini.
Clara masih berbincang-bincang dengan Alice dan Dita di depan kelas, menikmati menit terakhir di sekolah karena besok adalah hari libur.
"Clara," panggil seseorang membuat ketiganya menoleh.
"Oh, Ha-hai," jawab Clara canggung dan tersenyum kecil saat melihat siapa yang memanggil. Sedangkan Alice dan Dita tersenyum cenderung menyeringai dengan mata sedikit menyipit.
"Clara, apa besok kau ada waktu?" tanya Reyhan dengan senyuman manis dan pandangan begitu berminat menatap Clara.
"Aku free besok, kenapa?"
"Oh baguslah, mau menemaniku ke toko buku?" tanya Reyhan.
"Boleh. Apa Alice, Dita boleh i–"
"Yah mau ikut tapi besok sudah ada janji sama Bunda," potong Dita sedikit mendramatisir.
Tidak ada tanggapan, Clara, Dita dan Reyhan hanya terdiam menatap Alice bersamaan.
"Apa?" tanya Alice datar tidak berminat.
"Jangan ajak aku, besok hari libur setelah ujian. Aku mau tidur seharian," sambung Alice mengedikkan bahunya singkat.
Clara berbalik menatap Reyhan sedikit ragu. Sedangkan laki-laki itu sedang menatap Clara dengan kepala sedikit miring. Senyum kecil itu pun juga tidak luntur dari bibir Reyhan.
Gadis bersurai hitam lurus ini tersenyum dan mengedikkan bahu singkat. "Pukul berapa besok?"
"Besok ku jemput jam sepuluh pagi ya. Kita nonton dulu."
"Ah, baiklah."
"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Reyhan kemudian pamit pada ketiganya.
Clara melambaikan tangannya singkat lalu terdiam memikirkan apa yang baru saja laki-laki itu katakan. "Nonton?" gumamnya sedikit tercengang.
"Ciyeee besok kencan," goda Dita. Alice hanya tertawa terbahak.
"Kalian sengaja tidak ikut?" omel Clara melipat kedua tangan di depan dada. Kedua temannya tertawa semakin menjadi.
Oh baguslah, kedua temannya memang sengaja tidak ikut karena tahu hal ini akan terjadi. Sebenarnya Clara ingin menolak, tapi saat melihat wajah Reyhan, rasanya ia sungkan untuk menolak tawaran itu.
Ah, biarlah. Besok saatnya refreshing.
.
.
.
"Ayo makan siang. Mau makan apa?" tanya Reyhan terdengar perhatian.
"Samakan saja dengan mu."
"Oke."
Setelah turun dari mobil, Reyhan mengajak berkeliling dan makan siang sebelum waktu nonton.
Mereka makan dengan tenang, tidak ada percakapan. Namun sesekali Reyhan hanya bertanya hal-hal ringan seperti bagaimana ujian Clara dan hal remeh temeh lainnya.
Reyhan menarik tangan Clara agar mengikutinya, sesekali mencarikan jalan agar Clara tidak berdesakan.
"Mau minum sesuatu? Atau popcorn?" tanya Reyhan setelah mereka berdiri di depan stand minuman.
"Ah, tidak usah. Kita baru saja makan," tolak Clara halus.
"Ah, aku akan memesan popcorn untuk berdua dan minuman untuk mu, tunggu disini oke?" ucap Reyhan lagi.
Tidak bisa menolak. Clara bahkan belum mengangguk ataupun menolak, tapi laki-laki itu sudah pergi untuk mengantri.
Clara menghela pelan. Lalu untuk apa Reyhan bertanya jika ujung-ujungnya dia akan membelikan untuknya.
Banyak pasang mata yang sering kali melirik Reyhan penuh minat. Hanya dengan pakaian kaos biasa dengan balutan jaket, sudah membuatnya begitu bersinar apalagi jika Reyhan berpakaian lebih menarik.
Tapi ada apa dengan Reyhan hari ini? Tindakannya sedari tadi benar-benar berbeda dari biasanya. Dengan perhatian seperti itu, bukan hanya Clara, orang yang melihat pun juga akan salah paham.
"Ayo masuk," ajak Reyhan dengan snack di kedua tangannya. Dan senyuman manis itu masih ia tunjukan pada Clara.
Clara mengalihkan pandangannya. Itu tidak adil jika pangeran es itu terus saja tersenyum seperti itu.
Aku baru mengerti, kenapa mereka begitu tergila-gila pada Reyhan.
Clara masih fokus dengan film action di hadapannya saat ia merasakan ruangan besar ini terasa begitu dingin. Sesekali ia menggosokkan kedua tangannya untuk mencari kehangatan. Padahal ia mengenakan blouse lengan panjang dengan celana jeans panjang.
Saat akan mengambil popcorn, tangan Clara tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Reyhan, membuatnya sedikit tersentak. Clara terlalu sadar dengan kehadiran Reyhan belakangan ini.
"Hei, tanganmu dingin sekali. Apa kau kedinginan?" tanyanya khawatir.
Clara mengangguk. "Entah lah, kenapa ruangan ini begitu dingin," jawab Clara.
Tubuh Clara kembali menegang saat tiba-tiba saja Reyhan sudah memakaikan jaket jeans miliknya pada tubuh Clara.
"Pakailah jaketku, agar kau lebih hangat."
Gadis ini masih mematung, sangat penasaran kenapa Reyhan memberinya jaket.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Tanganmu dingin sekali, kau pasti kedinginan," jawabnya lalu mengacak singkat pucuk kepala Clara, tidak lupa dengan senyuman manisnya yang begitu menawan.
Clara mengalihkan pandangannya meskipun sempat terpaku karena perlakuan Reyhan. Sedangkan yang ditatap sudah fokus melihat layar lebar di hadapan mereka.
Bagaimana ini? Perlakuan seperti ini? Clara dapat merasakan wajahnya yang mulai memanas. Mungkin sekarang sudah memerah.
Clara menyandarkan punggungnya pada kursi dan dengan sadar mencium aroma jaket Reyhan yang tercium bau khas Reyhan.
Entah kenapa bau itu begitu menenangkan bagi Clara. Selama film berlangsung, gadis ini sudah tidak bisa fokus. Pikirannya hanya ada Reyhan, detak jantungnya juga mulai meningkat dengan ribuan kupu-kupu yang menggelitik perut dan dadanya.
Saat film usai, Reyhan meraih tangan Clara, menggenggam dan menuntunnya untuk keluar dari bioskop. Mereka tidak langsung pulang, Reyhan mengajak Clara untuk melihat-lihat di toko buku dua lantai di bawah tempat mereka sekarang.
Entah sadar atau tidak, genggaman tangan Reyhan masih tidak lepas hingga mereka sampai di toko buku.
Clara hanya mampu diam, menyembunyikan sebagian wajahnya pada jaket Reyhan yang kebesaran pada tubuh kecilnya. Dengan semburat merah di wajahnya, Clara menatap tangan Reyhan yang terus menggandeng tangannya.
Sejak menjemputnya pagi tadi, Reyhan memperlakukan Clara lebih dari biasanya. Laki-laki rupawan itu sudah membuat hati Clara berbunga-bunga sedari tadi.
Clara menatap buku yang tersusun rapi di rak dengan senyuman yang tak mau hilang. Pikirannya pun kini telah dipenuhi oleh Reyhan. Wajahnya semakin memerah begitu mengingat perlakuan pria blonde itu. Menggandeng tangannya, perlakuan luar biasanya hari ini.
Clara hanya berdiri di sembarang rak, menunggu Reyhan yang sedang berkeliling mencari buku.
"Apa kau pikir dia menyukaimu?"
DEG
Suara itu. Mata Clara terbuka sempurna mengenali suara siapa itu.